Bagas mendorong tubuh kurus Anita hingga tersungkur ke jalan setapak. Kendra, pria yang sedari tadi di belakang menyimak percakapan mereka ikut kaget dengan apa yang dilakukan oleh Bagas. Melihat ketidak adilan, mau tidak mau dia ikut turun tangan. Dia mendekat ke arah Bagas, menepuk d**a kiri lelaki itu dengan telapak tangannya.
"Hey, Bung. Dia itu perempuan. Nggak seharusnya kamu yang laki-laki memakainya sebagai lawan."
Bagas mengerutkan dahi melihat lelaki asing itu. Dia mendengkus, merasa pria itu ikut campur masalahnya.
"Kamu siapa?" tanya Bagas.
Kendra menaikkan sudut bibirnya. Dia sudah merasa tidak senang dengan sikap Bagas.
"Aku? Aku teman Anita," sahut Kendra, menoleh ke arah wanita yang berupaya berdiri dibantu oleh Delisa. Kendra jadi tahu nama Anita dari percakapan yang dia dengar tadi.
Anita menoleh cepat ke Kendra, kaget dengan ucapannya, tapi dia lebih memilih diam karena dia merasa pria itu hanya akan melindunginya.
"Oh, jadi kamu temennya? Temen apa pacar?" tanya Bagas.
"Kalo pacar, kenapa?" tanya Kendra, meraih tangan Anita dan menggenggamnya.
Kedua mata Kendra menatap nyalang pada Bagas. Bagas terhenyak melihatnya.
"Heh, dia itu belum bercerai denganku. Harusnya kalian tidak–"
Mendengar itu Anita langsung maju. Dia mendorong Bagas dengan sangat kesal.
"Apa pentingnya aku cerai denganmu atau nggak? Toh, hidup denganmu tidak seperti wajarnya pasangan yang menikah! Kalo kamu ingin cerai, sebentar lagi aku bakal menggugatmu bercerai," potong Anita, dengan tangan yang masih dia biarkan digenggam oleh Kendra.
"Oh, lebih cepat lebih baik. Dengan begitu, aku bisa bilang pada ibu bahwa kamu ingin bercerai dariku," sahut Bagas memutar kedua bola matanya, langsung meraih pundak Delisa dan melangkah meninggalkan Kendra dan Anita.
Setelah Bagas dan Delisa pergi, Anita melepaskan tangannya dari genggaman tangan Kendra.
"Makasih," ucapnya pelan.
"Hm, jadi lelaki itu suami kamu yang udah nikah lagi?" tanya Kendra.
Anita mendesah berat. Dia sudah tidak bisa menangis lagi. Tangisnya terasa sudah habis waktu itu. Waktu di mana hatinya masih sayang pada Bagas, tapi sekarang lama-lama perasaannya berubah menjadi kebencian.
"Iya. Dia bilang aku jelek, aku bukan wanita yang dia inginkan."
Kendra menyeringai menatap wajah Anita. Dia mengalihkan pandang ke sekitar dan berpikir sebentar.
"Kenapa bisa gitu?" tanya Kendra.
Anita menghela napas lagi. Dia malas untuk bercerita pada Kendra tentang apa yang awalnya terjadi sehingga dia bisa menikah dengan Bagas.
"Awalnya adalah kesalahanku, jadi aku harus menikah dengannya."
Anita melipat kedua tangannya di d**a. Menewarang ke depan, menyesali lagi semua perbuatannya.
"Jadi kamu hamil di luar nikah? Kamu tidur dengannya tidak sengaja? Apa sengaja?" tanya Kendra dengan sedikit tergelak.
Anita menggeram mendengar tebakan Kendra yang memang tepat sekali.
"Iya, kan?" tanya Kendra.
Lupa sudah apa masalah mereka tadi. Anita sekarang mendengkus dan merasa tambah kesal.
"Kamu kepengen balas dia?" tanya Kendra.
Anita menatap perlahan ke wajah Kendra. Balas perlakuan Bagas? Apa dia akan puas dengan itu?
"Balasnya gimana?" tanya Anita.
"Kamu cerai sama dia, terus kamu nikah sama aku," balas Kendra.
Kedua mata Anita terbelalak. Melotot ke arah Kendra, tapi kemudian meredup melihat wajah Kendra yang bersungguh-sungguh.
"Aku ... aku nggak ngerti," cicit Anita.
"Kamu nikah sama aku biar kita bisa balas perlakuan orang yang menyakiti kita," beber Kendra.
Anita makin mengerutkan dahi, tidak mengerti. Kendra berdeham, lalu melanjutkan pembicaraan.
"Gini, kamu kan posisinya disakiti, diselingkuhin kan? Kalo aku lihat tadi, itu tadi perempuan yang jadi istri kedua suami kamu, kan? Nah, posisiku juga lagi disakitin sama cewekku. Padahal, aku baru saja melamar dia, tapi keluarganya menolak karena dikiranya aku miskin. Kalo dia setia, aku masih akan mempertahankan, tapi dia malah pergi sama cowok lain. Gila emang, kalo orang itu tulus, malah suka jadi korban," sungut Kendra.
"Jadi?" tanya Anita menautkan kedua alisnya.
"Karena kita berdua sama-sama disakiti, ayo kita balas aja mereka dengan menikah."
Anita melotot mendengarnya.
"Itu bukan nyelesein masalah, malah nambah masalah," gerutu Anita.
"Oh, gitu menurutmu? Ya udah kalo gitu. Aku nggak akan bantu kamu memperlihatkan kalo kamu bisa lebih baik di mata suami kamu itu. Masa, dihina selama itu, mau diem aja?"
Kendra membenahi kacamatanya, lalu hendak beranjak dari tempat itu. Anita mencerna kalimat demi kalimat yang meluncur dari mulut Kendra.
Apa aku memang mau diam saja dihina seperti itu?
Anita mendesah. Dia membiarkan Kendra berjalan menjauhinya. Anita mulai membayangkan perlakuan Bagas padanya. Dia jadi penasaran dengan apa rencana Kendra. Anita menatap Kendra dari belakang. Lelaki itu memang tampan, bahkan lebih tampan dari suaminya.
Kesempatan satu kali atau tidak sama sekali. Anita tercenung sebentar dan kemudian ....
"Tunggu!" teriak Anita.
Kendra menyunggingkan senyum mendengar teriakan Anita. Dia kembali membenarkan posisi kacamatanya, lalu menoleh dan melihat Anita berlari terengah-engah ke arahnya. Kendra menunggunya dengan gurat senyum.
"Aku ... aku setuju!" seru Anita, membungkuk memegangi lututnya karena kecapekan berlari. Lalu, dia mengulurkan tangannya ke arah Kendra.
Kendra menaikkan kedua alisnya, menatap tangan Anita yang terulur padanya.
"Aku Anita, siapa nama kamu?" tanya Anita, meluruskan punggungnya, masih dengan tangan terulur kepada Kendra.
"Kendra. Kendra Bakti Wirabhuana."
Kendra menyambut uluran tangan Anita dengan senyumnya.
***
Delisa menatap Bagas dengan wajah agak marah. Mereka sudah ada di dalam mobil lagi.
"Kenapa kamu bersikap buruk sama Mbak Nita?" tanya Delisa.
"Nggak usah panggil dia 'mbak'. Aku nggak bersikap buruk. Aku udah nyariin dia, itu adalah sesuatu yang luar biasa. Udah ketemu, kan? Dia nggak akan minggat jauh-jauh dari ibunya."
Delisa mengalihkan pandangannya ke depan. Dia mendesah, melipat kedua tangan di depan d**a. Rasanya sangat bersalah pada Anita. Namun, Delisa sendiri tidak bisa berbuat apa-apa.
"Udah, biar dia di rumah ibunya dulu. Yang penting dia baik-baik aja. Nanti kita fokus ke bayi kita. Aku nggak sabar ingin lihat bayi kita, Sa. Dia adalah anak yang aku tunggu-tunggu."
Delisa masih menatap ke depan. Dia menghela napas. Pikirannya tentang Anita masih sangat mengganggu. Dia tidak enak pada Anita. Terlebih lagi, Tantri murka pada mereka karena Anita pergi dari rumah.
"Apa yang akan kita katakan pada Tante Tantri?" tanya Delisa, tidak memperdulikan ucapan Bagas tadi.
Bagas menghentikan mobilnya di lampu merah. Dia menoleh ke arah Delisa yang menatap ke depan. Bagas mengurai tangan Delisa yang terlipat lalu memegang tangan Delisa dengan erat.
"Kamu tenang aja soal ibu. Sa, aku minta kamu panggil beliau ibu karena dia sekarang menjadi ibu mertua kamu," harap Bagas.
Delisa hanya diam, lalu terdengar helaan napas dari mulutnya.
"Aku nggak bisa."