Malam turun perlahan di atas mansion Valenor. Langit gelap membentang tanpa bintang, seolah menyimpan rahasia yang belum siap terungkap.
Elarys duduk di tepi ranjang kamarnya, punggungnya masih terasa nyeri meski sudah dibalut pereda sakit. Namun rasa sakit itu kalah oleh gelisah yang mengganggu pikirannya sejak sore.
Keputusan tentang aturan baru akan berlaku besok.
Dan entah mengapa, hal itu membuat dadanya terasa semakin sesak.
Elarys bangkit pelan, menyampirkan jaket tipis, lalu membuka pintu kamarnya dengan hati-hati. Lorong mansion sunyi. Lampu-lampu redup menyala temaram, menciptakan bayangan panjang di dinding.
Ia tahu ke mana harus pergi.
Ezra berada di balkon sisi barat, tempat favoritnya ketika pikirannya sedang kacau. Benar saja, sosok kakak keduanya terlihat bersandar di pagar besi, rokok tak menyala tergenggam di antara jari-jarinya.
“Elarys?” Ezra menoleh, terkejut. “Kenapa belum tidur?”
Elarys mendekat, berhenti di sampingnya. “Aku tidak bisa.”
Ezra mengamati wajah adiknya. “Punggungmu masih sakit?”
“Sedikit,” jawab Elarys jujur. Lalu ia menarik napas dalam-dalam. “Ezra… temani aku keluar.”
Ezra membeku. “Keluar?”
“Hanya sebentar,” lanjut Elarys cepat, seolah takut ditolak. “Naik mobil. Tidak ramai. Tidak berbahaya. Aku hanya… ingin udara malam.”
Ezra menatapnya lama. Malam membuat sorot matanya tampak lebih gelap. “Caelum akan membunuhku.”
“Aku yang minta,” kata Elarys lembut. “Bukan latihan. Bukan pelarian. Aku hanya ingin bicara… denganmu.”
Keheningan tercipta di antara mereka. Ezra memalingkan wajah, menatap kota dari kejauhan. Tangannya mengepal, lalu mengendur.
“Ini ide buruk,” gumamnya.
Elarys tersenyum kecil. “Tapi kau tetap akan mengajakku, kan?”
Ezra mendengus pelan. “Kau benar-benar tahu cara memanfaatkan kelemahanku.”
Beberapa menit kemudian, mobil hitam meluncur keluar dari gerbang belakang mansion. Tanpa pengawal. Tanpa izin.
Ezra menyetir dengan satu tangan, sementara Elarys menatap jalanan malam dari balik jendela. Lampu-lampu kota berlalu cepat, membawa perasaan yang sulit ia jelaskan.
“Kau marah padaku?” tanya Elarys tiba-tiba.
Ezra terdiam sejenak. “Aku marah pada diriku sendiri.”
Elarys menoleh. “Aku tidak membencimu.”
Ezra menghela napas berat. “Itu yang membuatku takut.”
Mobil melaju semakin jauh dari mansion.
Dan tanpa mereka sadari, langkah kecil ini akan menjadi pelanggaran pertama dari aturan yang bahkan belum sempat diterapkan.
Mobil hitam itu baru saja berhenti di pinggir jalan yang sepi ketika ponsel Ezra bergetar keras. Satu getaran. Lalu kedua. Nama di layar membuat rahangnya mengeras.
Caelum.
Ezra tidak langsung mengangkatnya.
“Elarys…” suaranya rendah, tegang. “Kita ketahuan.”
Elarys membeku. “Bagaimana bisa—”
Belum sempat kalimatnya selesai, ponsel Elarys ikut bergetar. Nama yang sama tertera di layar. Jantungnya seolah jatuh ke perut.
Caelum tidak bertanya.
Ia tahu.
Lampu jauh di belakang mereka tiba-tiba menyala terang, dua sorot lampu mobil menyapu jalan gelap seperti mata pemangsa. Mobil itu berhenti tepat di belakang mereka. Mesin dimatikan. Pintu terbuka.
Caelum turun dengan langkah tenang—terlalu tenang.
Ezra menghembuskan napas pelan, lalu membuka pintu mobil. “Aku yang bertanggung jawab,” katanya lirih pada Elarys.
Namun sebelum Ezra sempat melangkah jauh, Caelum sudah berdiri di samping pintu Elarys. Tangannya menahan pintu saat Elarys mencoba keluar.
“Masuk,” ucap Caelum dingin, matanya menatap Elarys langsung. Bukan marah lebih berbahaya dari itu.
Elarys menelan ludah. “Caelum, aku yang—”
“Kau tahu aturannya belum berlaku,” potong Caelum pelan. “Dan kau sudah melanggarnya.”
Ezra mendekat cepat. “Jangan bicara seperti itu padanya.”
Caelum menoleh perlahan. Tatapannya menusuk Ezra tajam.
“Kau membawa dia keluar. Tanpa izin. Tanpa pengawal. Setelah apa yang terjadi siang ini.”
Keheningan mencekik.
“Aku hanya ingin bicara,” ujar Elarys akhirnya, suaranya bergetar tapi tegas. “Aku tidak kabur. Aku tidak lari.”
Caelum menatapnya lama. Sangat lama. Lalu ia berdiri tegak.
“Masuk mobil. Sekarang.”
Nada itu bukan perintah biasa. Itu keputusan.
Ezra mengepalkan tangan. “Caelum—”
“Masuk,” ulang Caelum dingin, tanpa menoleh lagi.
Elarys menurut. Pintu tertutup pelan di belakangnya, namun suara itu terdengar seperti hukuman.
Saat mobil kembali melaju menuju mansion, tidak ada satu pun yang bicara.
Di balik keheningan itu, satu hal menjadi jelas . Aturan baru belum diumumkan. Namun konsekuensinya sudah dimulai.
Mobil melaju membelah malam dalam keheningan yang menekan. Tidak ada musik. Tidak ada percakapan. Hanya suara mesin dan detak jantung Elarys yang terasa terlalu keras di telinganya sendiri.
Elarys duduk di kursi belakang, punggungnya menempel kaku pada sandaran. Setiap guncangan kecil di jalan membuat memarnya berdenyut, namun rasa sakit itu kalah oleh tatapan Caelum yang ia rasakan melalui kaca spion. Tatapan itu dingin, penuh kendali—dan jelas menahan amarah.
Ezra menyetir dengan rahang mengeras. Tangannya mencengkeram setir lebih kuat dari biasanya.
“Kau tidak perlu datang sejauh ini,” ucapnya akhirnya, memecah keheningan. “Aku bisa membawanya pulang sendiri.”
Caelum tidak langsung menjawab.
“Kau sudah membuat satu keputusan buruk malam ini,” katanya datar. “Aku tidak akan membiarkanmu membuat yang kedua.”
Elarys menunduk, jemarinya saling bertaut.
“Ini salahku,” katanya pelan. “Aku yang meminta Ezra.”
Caelum menghela napas tipis, hampir tak terdengar.
“Kau tidak seharusnya berada di posisi harus meminta.”
Mobil berhenti di halaman mansion. Gerbang besi menutup di belakang mereka dengan suara berat, seolah mengunci apa pun yang tersisa dari kebebasan malam itu. Begitu mesin dimatikan, Caelum turun lebih dulu.
Pintu belakang dibuka. Caelum berdiri di sana, menatap Elarys. “Turun.”
Elarys menurut. Begitu kakinya menginjak lantai, Caelum langsung berkata,
“Besok pagi. Aturan baru mulai berlaku.”
Ezra berbalik cepat. “Caelum—”
“Tidak,” potong Caelum tegas. “Tidak ada pengecualian. Tidak ada kompromi.”
Elarys mengangkat wajahnya. “Apa aturannya?”
Caelum menatapnya lurus. “Kau akan tahu besok.”
Ia berbalik lebih dulu, meninggalkan mereka berdua di halaman yang kini terasa jauh lebih sempit. Ezra menatap punggung Caelum, lalu menoleh pada Elarys.
“Maaf,” ucapnya lirih.
Elarys menggeleng pelan. “Aku tidak menyesal.”
Namun saat ia melangkah masuk ke dalam mansion, perasaan berat menekan dadanya.
Ia tahu aturan baru bukan lagi tentang perlindungan. Melainkan tentang seberapa jauh kebebasan akan ditarik… sebelum benar-benar hilang.
Elarys berjalan menaiki tangga dengan langkah pelan. Setiap anak tangga terasa lebih berat dari biasanya. Di ujung lorong, pintu kamarnya sudah terbuka—lampu menyala, menandakan seseorang telah lebih dulu masuk.
Elenora berdiri di dalam, menyilangkan tangan di d**a. Wajahnya tidak marah, justru dipenuhi kekecewaan yang membuat d**a Elarys terasa sesak.
“Mommy…” Elarys berhenti di ambang pintu.
“Masuk,” ucap Elenora lembut, tapi tegas.
Elarys menurut. Begitu pintu tertutup, Elenora mendekat dan menatap putrinya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tangannya terangkat, menyentuh bahu Elarys dengan hati-hati.
“Kau membuat Mommy khawatir.”
“Aku tahu,” jawab Elarys lirih. “Maaf.”
Elenora menghela napas panjang.
“Bukan soal marah. Ini soal bahaya.” Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan pelan, “Caelum tidak akan tidur malam ini.”
Elarys mengangkat wajahnya. “Dia marah?”
“Dia takut,” koreksi Elenora. “Dan ketakutan Caelum selalu berubah menjadi aturan.”
Elarys menunduk. Punggungnya masih terasa nyeri, tapi kata-kata itu justru lebih menusuk.
“Aku tidak ingin mereka saling melukai karena aku.”
Elenora meraih wajah Elarys dengan kedua tangannya.
“Kau bukan penyebab kekacauan ini. Kau hanya ingin bernapas.”
Di luar kamar, langkah kaki terdengar berhenti tepat di depan pintu. Beberapa detik kemudian, pintu diketuk—satu kali.
“Masuk,” kata Elenora.
Caelum berdiri di ambang pintu. Wajahnya tenang, namun sorot matanya gelap. Tatapannya langsung tertuju pada Elarys.
“Kau tidak akan keluar kamar malam ini,” ucapnya dingin. “Besok, sebelum matahari terbit, semua akan berubah.”
Elarys menatapnya tanpa gentar, meski jantungnya berdebar keras.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “aku akan menunggu.”
Dan di balik ketenangan itu, tak satu pun dari mereka menyadari aturan baru yang akan lahir esok hari bukan hanya mengikat Elarys, tetapi juga akan menguji seberapa jauh cinta bisa berubah menjadi penjara.
Malam semakin larut, namun mansion itu tak pernah benar-benar terlelap. Elarys duduk di tepi ranjang, lututnya dipeluk erat, menatap jendela yang tertutup rapat. Cahaya bulan hanya mampu menembus sedikit celah tirai, meninggalkan bayangan tipis di dinding kamarnya.
Dari balik pintu, suara langkah kaki sesekali terdengar—penjagaan yang sengaja diperketat. Elarys tersenyum kecil, getir. Bahkan malam pun kini memiliki batasan.
Ia merebahkan tubuhnya perlahan, merasakan kembali denyut di punggungnya. Rasa sakit itu mengingatkannya pada satu hal: betapa cepat keputusan bisa berubah menjadi hukuman, dan betapa mudah kasih sayang menjelma menjadi belenggu.
Di kamar lain, Caelum berdiri di depan jendela, menatap halaman mansion dengan rahang mengeras. Di benaknya, satu pikiran terus berulang—ia tidak boleh kehilangan Elarys. Dengan cara apa pun.
Sementara itu, Ezra duduk sendirian di ruang kerja, kepalan tangannya terjatuh di atas meja. Untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri: apakah perlindungan mereka benar-benar masih melindungi?
Dan di tengah malam yang sunyi, di bawah atap mansion yang sama, tiga hati terjaga dengan ketakutan yang berbeda.
Aturan baru akan dimulai saat pagi datang. Dan tidak ada seorang pun yang tahu siapa yang akan paling terluka karenanya.