Bab 4-Aturan Baru

1372 Kata
Pagi datang tanpa kompromi. Cahaya matahari baru saja menyentuh halaman mansion ketika seluruh anggota keluarga telah berkumpul di ruang tengah. Suasana terasa kaku, seolah udara pun menahan napas. Elarys berdiri di samping Elenora, sementara Caelum dan Ezra berada di seberang mereka. Ezra memilih diam, berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya, wajahnya datar namun sorot matanya penuh tekanan. Alaric duduk di kursi utama. Wibawanya memenuhi ruangan bahkan sebelum ia berbicara. “Aturan baru mulai hari ini,” ucap Caelum lebih dulu, suaranya dingin dan terkendali. “Dan ini bukan untuk diperdebatkan.” Elarys mengangkat dagunya. “Aku mendengarkan.” Caelum melangkah satu langkah ke depan. “Pertama. Kau tidak boleh keluar mansion tanpa pengawalan. Siapa pun yang menemanimu harus seizin kami.” Ezra tidak berkata apa-apa. Namun rahangnya mengeras, jelas menahan sesuatu yang ingin ia sampaikan. “Tidak ada lagi keluar malam,” lanjut Caelum. “Apa pun alasannya.” Elenora tampak ingin menyela, namun Alaric lebih dulu angkat suara. “Kedua,” kata Alaric tegas. “Jadwal harianmu akan ditentukan. Sekolah, latihan, dan waktu istirahat. Tidak ada perubahan tanpa persetujuan kami.” Elarys mengepalkan jemarinya. “Itu terlalu mengekang.” Alaric menatapnya lurus. “Itu tanggung jawab kami sebagai orang tua.” Caelum menambahkan tanpa emosi, “Ketiga. Tidak ada komunikasi dengan pihak luar tanpa sepengetahuan kami. Ponselmu akan diawasi.” Dada Elarys terasa sesak. “Jadi sekarang aku diawasi setiap saat?” “Kami menyebutnya perlindungan,” jawab Caelum singkat. Elarys menoleh ke arah Ezra. Kakaknya yang satu itu tetap diam, tidak membela, tidak menyanggah. Namun tatapan mereka bertemu sesaat—dan Elarys tahu, diamnya Ezra bukan berarti setuju. Elenora akhirnya melangkah maju. “Aturan ini dibuat karena kami mencintaimu,” ucapnya lembut. “Tapi Mommy juga ingin kalian ingat, cinta tidak seharusnya melukai.” Caelum menatap Elarys lama. “Ikuti aturan ini,” katanya pelan namun mengandung ancaman. “Jangan membuat kami mengulang kesalahan yang sama.” Elarys menarik napas panjang. Tidak ada kemarahan yang ia tunjukkan, hanya kelelahan. “Baik,” ucapnya akhirnya. “Aku akan menurut.” Ia berbalik meninggalkan ruangan, langkahnya tenang meski hatinya bergejolak. Di belakangnya, Ezra masih berdiri membisu. Dan di balik keheningan itu, satu hal menjadi jelas Aturan baru telah ditetapkan. Dan tidak semua orang di ruangan itu benar-benar sepakat dengannya. Elarys melangkah menyusuri lorong panjang mansion, langkahnya bergema pelan di antara dinding-dinding tinggi yang terasa semakin menekan. Setiap pintu yang ia lewati seakan menjadi pengingat bahwa mulai hari ini, ruang geraknya tidak lagi miliknya sendiri. Ia berhenti sejenak, menempelkan telapak tangannya ke d**a, merasakan detak jantungnya yang tidak beraturan. Di belakangnya, dari kejauhan, Ezra masih berdiri di ruang tengah. Tatapannya mengikuti punggung Elarys hingga sosok itu menghilang di tikungan lorong. Ia menghembuskan napas berat, lalu perlahan mengepalkan tangannya. Untuk pertama kalinya, diam terasa lebih menyakitkan daripada berteriak. Sementara itu, Caelum menoleh pada Alaric. “Ini perlu,” ucapnya singkat, seolah meyakinkan dirinya sendiri. Alaric mengangguk pelan. “Perlindungan selalu menuntut pengorbanan.” Namun jauh di dalam mansion, Elarys melanjutkan langkahnya menuju kamar. Di balik wajah tenangnya, pikirannya mulai menyusun satu pertanyaan berbahaya jika perlindungan berubah menjadi kurungan, sampai kapan seseorang bisa bertahan tanpa kehilangan dirinya sendiri? Elarys menutup pintu kamarnya perlahan, lalu bersandar di sana sejenak. Ia menghembuskan napas panjang, matanya menatap langit-langit tanpa benar-benar fokus. Bibirnya bergerak pelan, bergumam seolah hanya dinding yang menjadi pendengarnya. “Besok… aku masuk sekolah lagi.” Ia melangkah ke arah meja belajar, menatap seragam yang sudah tergantung rapi—seragam kelas tiga SMA. Libur panjang itu terasa seperti jarak yang aneh; terlalu lama untuk sekadar beristirahat, namun terlalu singkat untuk melupakan semua yang telah terjadi. “Kenaikan kelas,” gumamnya lagi, nyaris tak bersuara. “Harusnya menyenangkan, kan?” Tangannya menyentuh kain seragam itu, jemarinya sedikit gemetar. Sekolah seharusnya menjadi tempat bernapas, tempat ia bisa merasa normal. Tapi dengan aturan baru yang dibuat pagi ini, Elarys tahu—bahkan di luar mansion pun, bayang-bayang pengawasan akan tetap mengikutinya. Ia duduk di tepi ranjang, menatap jendela yang tertutup. “Semoga besok tidak seberat hari ini.” Namun jauh di lubuk hatinya, Elarys sadar hari pertama masuk kelas tiga SMA bukan hanya tentang pelajaran baru, melainkan tentang seberapa kuat ia bisa bertahan di bawah aturan yang semakin mengekang. ** Hari merambat menuju siang, dan suara lonceng makan siang menggema pelan di dalam mansion. Elarys melangkah menuju ruang makan dengan perasaan yang masih menggantung sejak pagi. Meja panjang itu telah tertata rapi, aroma masakan hangat memenuhi ruangan, namun suasananya jauh dari kata nyaman. Alaric sudah duduk di kursi utama, membaca sesuatu di tabletnya. Caelum berada di sisi kanan, sikapnya tegap dan dingin seperti biasa. Ezra duduk di seberang, diam, hanya sesekali melirik piringnya tanpa benar-benar menyentuh makanan. Elenora tersenyum tipis saat Elarys datang. “Duduklah, sayang.” Elarys menarik kursi dan duduk perlahan. Suara peralatan makan mulai terdengar, tapi percakapan tak kunjung muncul. Keheningan di meja itu terasa lebih berat daripada teguran apa pun. Elarys menunduk, menyendok sup tanpa selera. Ia bisa merasakan tatapan Caelum sesekali jatuh padanya, tajam namun penuh kekhawatiran yang disembunyikan. Sementara Ezra tetap diam, seolah memilih menelan semua pikirannya sendiri. Di tengah makan siang yang sunyi itu, Elarys menyadari satu hal aturan baru bukan hanya mengikat langkahnya, tetapi juga membungkam suara-suara di meja keluarga mereka. Begitu Elarys benar-benar duduk, ia menarik napas dalam-dalam. Sendok yang tadi ia pegang diletakkannya perlahan, seolah sedang mengumpulkan keberanian. Pandangannya terarah ke ujung meja, pada sosok Alaric. “Daddy,” ucapnya akhirnya, memecah keheningan. “Besok aku sudah mulai sekolah kembali.” Kalimat itu menggantung di udara. Seketika, ruang makan jatuh dalam hening yang pekat. Suara alat makan berhenti. Bahkan langkah pelayan di kejauhan seolah menghilang. Alaric mengangkat pandangannya dari tablet, matanya menatap Elarys dengan sorot yang sulit dibaca. Caelum berhenti mengunyah, rahangnya mengeras. Tatapannya langsung tertuju pada Elarys, tajam namun penuh perhitungan. Ezra tetap diam, tapi jari-jarinya yang menggenggam sendok menegang pelan. Elenora menoleh cepat ke arah Elarys, ada kekhawatiran di wajahnya, seakan menyadari satu hal—topik ini tidak akan sesederhana kelihatannya. Hening itu berlangsung beberapa detik terlalu lama. Dan Elarys tahu, dengan satu kalimat sederhana barusan, ia telah membuka pintu menuju pembicaraan yang tak bisa lagi dihindari. Alaric meletakkan tabletnya ke atas meja dengan gerakan pelan, namun cukup untuk menarik seluruh perhatian. Tatapannya tetap tertuju pada Elarys, tenang tapi penuh otoritas. “Sekolahmu sudah kami siapkan,” ucapnya akhirnya. “Pengawalan akan ikut sejak kau keluar kamar hingga kau kembali ke mansion.” Elarys sedikit mengernyit. “Daddy, itu berlebihan.” “Tidak,” sahut Caelum dingin tanpa menoleh. “Itu bagian dari aturan.” Elenora menarik napas, berusaha menengahi. “Caelum, biarkan Daddy menyelesaikan.” Alaric mengangguk tipis. “Kau akan dijemput dan diantar oleh orang kami. Tidak ada pulang sendiri. Tidak ada mampir ke mana pun.” Elarys mengepalkan jemarinya di bawah meja. “Bagaimana dengan teman-temanku?” “Kau pergi ke sekolah untuk belajar, bukan bersosialisasi,” jawab Caelum tegas. Ezra masih diam. Namun pandangannya terangkat, menatap Elarys sejenak. Di balik kebisuannya, ada penyesalan yang tidak terucap. Elarys menelan ludah. “Aku hanya ingin sekolah seperti biasa.” Alaric menatap putrinya lama. “Untuk saat ini, ‘biasa’ bukan pilihan.” Kata-kata itu menutup pembicaraan. Dan di meja makan siang itu, Elarys akhirnya mengerti hari pertamanya kembali ke sekolah tidak akan pernah lagi terasa normal. Elarys menunduk, sendok di tangannya bergetar pelan sebelum akhirnya ia letakkan kembali ke piring. Nafsu makannya menghilang begitu saja. Ia tidak membantah lagi, bukan karena setuju, melainkan karena tahu setiap kata tambahan hanya akan mempersempit ruang bernapasnya. “Baik,” ucapnya singkat, hampir tak terdengar. Caelum kembali menyentuh makanannya, seolah keputusan itu sudah final sejak awal. Alaric mengangkat tabletnya lagi, menandakan percakapan telah selesai. Ezra masih membisu, tatapannya kini tertuju ke jendela besar di sisi ruangan, seakan mencari sesuatu di luar sana. Elenora memperhatikan Elarys dengan cermat. Tangannya bergerak pelan, menyentuh pergelangan tangan putrinya di bawah meja. Sentuhan itu hangat, menenangkan, namun juga penuh permintaan maaf yang tak terucap. Elarys membalasnya dengan senyum tipis. Senyum yang tidak benar-benar sampai ke matanya. Makan siang pun berlanjut dalam diam, dengan perasaan yang sama-sama berat di setiap hati. Dan di balik kepatuhan yang ia tunjukkan, Elarys mulai memahami perjuangan terbesarnya bukan melawan aturan, melainkan bertahan tanpa kehilangan dirinya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN