Bab 5 - Riweh

1031 Kata
Syarat Baca! Follow Akun ini dan Tap Love ceritanya! *** Ayana menghirup udara pagi yang masih bersih dan kaya akan oksigen. Tidak ada waktu baginya untuk berlarut di dalam kesedihan. Dia harus tetap melanjutkan hidupnya dan berpikir jernih, mengenai kelangsungan hidup si jabang bayi. Ayana selalu berdoa untuk kebaikan calon buah hatinya. Kemarin sebelum Hangyul pergi meninggalkannya masuk kedalam hutan, dia sempat berpesan, kalau sesuatu baik mungkin sedang menantinya. Ayana tentu mempercayakan hal tersebut. "Oi! Apa yang sedang Kak Ayana lamunkan?" Tanya Eunha begitu melihat Ayana duduk menatap sebuah gantungan bulan sabit di depannya. Ayana tersentak, kemudian menoleh dengan tatapan garang. "Urus saja pekerjaanmu, jangan urusi pekerjaanku." Euna menggerutu kemudian menurut. Jika Ayana menjawabnya dengan sedikit ketus, Eunha tau kalau Ayana sedang dalam mood yang tidak begitu baik. Apa yang menjadi alasan mood Ayana tidak baik, Eunha juga tidak tau. Yang jelas dia tidak ingin Ayana sampai menutup kedai rotinya, kalau sampai hal itu terjadi, Eunha tidak bisa membayangkan bagaimana harus bertindak dan hidup. "Pagi Eunha!" Mendengar suara Hangyul, Ayana langsung bangkit dengan wajah berseri. Eunha yang disapa merasa aneh, kemudian menatap ibu bosnya itu dengan aneh. "Hangyul, bagaimana? Apa sudah ada kabar baik?" Hangyul sempat terkejut melihat reaksi Ayana terhadap kedatangannya, namun dia tersenyum kecil dan melirik Eunha sekilas. "Heh anak kecil, mending sekarang lap kaca depan. Nenek Jung sepertinya menunggu roti hangat di luar." Eunha menyentak kan kakinya kesal mendengar ledekan Hangyul kepadanya. Maklum, Eunha sering sekali diledek oleh lelaki gagah itu. Setelah memastikan gadis itu sudah keluar dari ruangan. Giliran Ayana yang memborbardir Hangyul dengan banyak pertanyaan. Ayana sebenarnya sudah menanti kedatangan Hangyul dengan harap-harap cemas menanti ada harapan. Semoga calon buah hatinya bisa terselamatkan, hanya itu yang Ayana inginkan. "Tenanglah Ayana, jangan bertanya terlalu banyak. Akan aku sampaikan, ada dua berita yang satu buruk, dan satu berita baik. Berita apa yang ingin kamu dengar lebih dulu?" Ayana berdecak, "Kenapa kamu malah memberikan aku pilihan?" Hangyul mengendikan bahunya, "Di dalam hidup ini, kamu akan selalu dihadapkan dengan pilihan. Jadi aku ingin kamu memilihnya sendiri." Ayana menggigit bibirnya dengan cemas, "Baiklah! Aku akan memilih berita baik lebih dulu." "Baik, karena berita baiknya, kamu bisa mempertahankan bayimu. Dengan cara menjadi pelayan di kerajaan Seungwoo. Ah, berita buruknya, kemungkinan kamu harus menyembunyikan identitasmu dengan sangat hati-hati, karena indra penciuman Seungwoo selalu tajam dan jangan pernah berniat untuk membunuhnya, karena dia cepat mengetahui hal itu," ucap Hangyul panjang lebar. Ayana mengangguk paham, "Kapan aku bisa memulai tugasku?" Hangyul tampak berpikir, "Akan sangat sulit Ay, aku sedang meminta pada temanku untuk memberikan ramuan penghilang aroma." Ayana terdiam sejenak, wajahnya tampak berpikir. Kenapa dia harus membutuhkan ramuan penghilang aroma itu. "Untuk apa?" Tanya Ayana. Hangyul menghela nafas, "Kamu itu manusia Ay, dan serigala punya indra penciuman yang tajam. Kamu berdiri di jarak lima meter saja, kami sudah bisa merasakan keberadaanmu." Ayana tampak gusar, karena apa yang dikatakan Hangyul ada benarnya. Jadi dia tidak bisa sembarangan masuk kedalam hutan sebelum semuanya di persiapkan dengan matang. "Tapi gyul, aku takut," cicit Ayana pelan. Hangyul mengangguk paham, "Aku mengerti, tenang saja. Setiap tiga hari sekali, aku pastikan untuk mengunjungimu." Ayana tersenyum, setidaknya dia harus mengingat jasa Hangyul dan membalasnya suatu saat nanti. Hangyul memang teman yang bisa diandalkan. "Sekarang pikirkanlah, apa kedaimu akan tetap berjalan?" *** Ayana berjalan-jalan disekitar taman. Dia ditemani Hangyul dan juga Eunha yang ikut serta. Hangyul tentu tidak akan membiarkan Ayana berkeliaran sendiri, karena dia sudah bisa mengeluarkan aroma wangi, yang akan menggoda kaum serigala untuk melahap Ayana. Mungkin memang bukan serigala seperti Hangyul, melainkan serigala liar yang memang serigala tulen, bukan sekedar manusia serigala. Aroma itu dikeluarkan oleh si jabang bayi. Bahkan ketika anjing mengendus aroma itu, dia akan menggonggong dan mungkin saja mengejar Ayana. Entahlah, yang jelas Hangyul belum mengatakannya pada Ayana. "Kamu sepertinya harus banyak makan sayur mulai sekarang." Mendengar ucapan Hangyul, Ayana segera menggeleng. Dia tidak ingin memakan sayur ketika dia tau, kalau daging lebih menggoda daripada makanan berwarna hijau itu. Eunha tidak sengaja mendengar percakapan mereka. Sedikit keheranan, karena Hangyul yang begitu perhatian pada Ayana. "Kenapa kamu begitu perhatian dengan apa yang dimakan Kak Ayana?" Tanya Eunha. Hangyul berdehem pelan, sementara Ayana tersenyum kecil dan menarik tangan Eunha untuk pergi mendahului Hangyul. "Kak, jawab dulu dong. Aku butuh jawaban nih, apa Hangyul suka sama kakak?" Ayana segera menggeleng, "Tidak ada perasaan lebih diantara kami, kamu jangan punya spekulasi dulu." Setelah pulang dari acara jalan-jalan tadi, Ayana mendadak mual dan segera berlari menuju wastafel. Mengeluarkan cairan bening yang mengganjal. Nenek kim yang mendengar suara itu, segera memastikan apa Ayana baik-baik saja. Dilihat wanita itu sedang terduduk lemas di kursi kayu jati. "Ayana, kamu baik-baik saja?" Tanya Nenek Kim. Ayana mengangguk lemah, "Tidak apa-apa Nek, aku baik-baik saja kok. Nenek tenang saja," ungkap Azlyn yang memaksakan senyumnya. Nenek Kim menggeleng tak percaya, "Lihatlah, bibir kamu pucat dan badan kamu tidak bisa berbohong dengan reaksinya lemas lunglai seperti itu." Ayana tersenyum tipis kemudian mencoba untuk bangkit. Dia benar-benar kewalahan dengan kehamilan seperti ini. Tidak lama Hangyul datang dan membawakan Ayana steak sapi setengah matang. Ayana tidak tau, kenapa tubuhnya bereaksi dan berubah bugar kembali. Seketika dia baru mengingat bayi apa yang sebenarnya dia kandung. Hangyul meliriknya sekilas, kemudian menahan tawa karena respon Ayana yang cengo dengan perubahan tubuhnya. "Hangyul, kenapa kamu membelikan Ayana makanan setengah matang seperti ini?" Tanya Nenek Kim. Wanita tua baya itu tampak tak setuju, "Dia sedang mual, bukannya nanti dia enek dengan makanan diatas meja ini?" Ayana segera menggeleng, justru dia mendadak lapar melihat daging setengah matang itu. Matanya berbinar dan liurnya tertahan. "Bagaimana Ayana, apa kamu suka makanan ini?" Tanya Nenek Kim, beliau hendak membuang namun Ayana menahan. Nenek Kim menghela nafas, "Kamu sudah seperti orang mengidam saja." Malam semakin larut dan Ayana baru saja selesai menuntaskan makan malamnya. Dia duduk di teras rumah sembari menatap bulan sabit yang terlihat terang. "Sedang memikirkan apa?" Suara Nenek Kim membuyarkan lamunan Ayana. Wanita itu berbalik untuk melihat wanita paruh baya di belakangnya. "Tidak ada hal yang bisa di pikirkan." Nenek Kim tertawa mendengar ucapan Ayana, "Kamu tidak bisa berbohong Ayana, jelas raut wajahmu sudah mengatakan semuanya." "Baiklah, aku menyerah." Nenek Kim menggeleng, kemudian menepuk pelan bahu Ayana, "Percaya saja, semua akan indah ketika kamu mau percaya dan bertahan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN