Syarat Baca!
Follow Akun ini dan Tap Love ceritanya.
***
Utara Taewan
"Bantai semua rogue yang melawan. Aku tidak ingin ada satupun berhasil lolos dari siksaan itu," ucap Seungwoo pias.
Sudah cukup para Rogue membuat masalah dengan merampok para pack. Ditambah lagi dia sampai keluar batas dan pergi ke dunia manusia untuk berbuat onar.
Sang pemimpin serigala---seungwoo duduk dengan tatapan datar dan tegas---tidak ada yang bisa membuat Seungwoo tersenyum selama ini.
"Semua sudah beres yang mulia."
Seungwoo diam tak bersuara, matanya yang tajam melirik dan menatap sekitarnya. "Bagaimana dengan para pelayan yang diganti? Apa kau sudah mencari gantinya?"
Seungyoun mengangguk tanpa suara. Hal itu membuat Seungwoo tidak bertanya lagi. Setelah sang asisten pribadi keluar dari ruangan Seungwoo, pria itu terduduk dengan wajah sendu.
Dia membenci kenapa dia memiliki perasaan hampa yang membuatnya tidak tenang. Seolah-olah ada yang hilang, tapi Seungwoo tidak tau itu apa?
Selama ini tidak ada masalah selama masa kepemimpinannya. Namun kenapa dia merasa memiliki ingatan yang hilang?
"Ck, ini pasti karena wanita itu. Seharusnya aku membunuh wanita itu saat hendak pergi. Aku tau ada yang tidak beres dengannya."
Sementara itu jauh di pusat kota sana. Ayana dan Eunha sedang pergi berjalan-jalan menikmati keramaian. Lagipula sudah cukup lelah untuk bekerja seharian, tidak apa-apa jika ingin beristirahat sejenak untuk menyenangkan hati.
Mual-mual Ayana tidak terlalu parah sebenarnya. Ayana mual setiap melihat sayuran, dia benar-benar tidak tahan jika diberikan sebuah benda berwarna hijau itu.
"Kak Ayana, kakak ingin permen kapas tidak?" Tanya Eunha antusias.
Ayana menggeleng, "Kalau kamu mau, silahkan. Kakak takut sakit gigi."
"Ck, gigi kakak baik-baik aja. Ngapain takut sakit gigi, gigi aku aja banyak berlubang."
Mereka berjalan menikmati indahnya kota yang ramai. Ayana ingin puas-puas merasakannya sebelum dia harus terbelenggu di dekat Seungwoo.
Pria yang dia benci setengah mati, pria yang harus dia jauhi, karena sudah memberikannya rasa sakit ini. Namun Ayana tidak berdaya, mengingat si jabang bayi harus dekat dengan Ayahnya.
"Kak Ayana!"
Ayana tersentak mendengar suara cempreng Eunha. "Kakak kenapa diam? Lelah ya, kalau begitu kita duduk dulu," ajak Eunha.
Mereka duduk disebuah kursi panjang yang menghadap langsung kepada jalan raya yang ramai. Ayana sesekali tersenyum dan bersyukur bisa melihat banyak orang bahagia dengan keluarganya.
"Kak Ay, aku perhatikan. Kak Ayana akhir-akhir ini gemukan. Kakak makan banyak ya?" Tanya Eunha dengan raut wajah polosnya.
Ayana menoleh, "Serius? Apa aku terlihat gemukan?"
Eunha mengangguk jujur, entah apa yang membuat Eunha berpikir seperti itu, mungkin pipi chubby disertai badan berisi Ayana.
Wajar saja karena Ayana banyak makan saat ini, dia selalu makan daging. Tidak ada sayur sedikit pun, karena baby wulf sepertinya tidak menyukainya.
"Kak Ayana, aku boleh tanya satu hal?"
Ayana mengangguk tanpa menoleh kearah lawan bicaranya. Matanya masih fokus mencari titik nyaman yang ada.
"Apa hubungan Kak Ayana dengan Hangyul?"
Setelah mendengar pertanyaan Eunha, barulah wanita itu menoleh menghadap lawan bicaranya dengan tatapan mengernyit.
"Untuk apa kamu bertanya hal seperti itu?"
Eunha segera menggeleng, "Tidak ada, aku hanya bertanya saja kak."
Ayana tampak menyipit curiga, kemudian tertawa pelan melihat wajah Eunha yang memerah menahan malu.
Sepertinya Ayana tau dimana letak masalahnya saat ini. "tenang saja, tidak ada hubungan spesial antara aku dan Hangyul. Murni teman dan dia sedang membantuku saat ini."
Terlihat Eunha menahan dirinya untuk tidak tersenyum. Ayana terkekeh dan menggoda gadis itu habis-habisan setelahnya.
***
Hangyul menanti mereka pulang di depan rumah. Ketika melihat Hangyul yang kini berdiri dengan raut wajah serius, Ayana jadi takut sendiri. Berbeda dengan Ayana, Eunha malah bingung dengan tatapan yang dilayangkan Hangyul.
Ketika pria itu mendekat, dia mengatakan, "Ayana, kita harus bicara."
Eunha mengangguk paham ketika Ayana berbalik untuk melihat Eunha. Wanita itu segera pamit undur diri, mengingat malam juga semakin larut.
"Eunha," panggil Hangyul.
"Masuklah dulu kedalam, nanti biar aku mengantarmu pulang."
Eunha segera menggeleng, "Tidak perlu, lagipula tempatku dekat. Jadi kalau memang ada yang menggangguku pasti aku akan berteriak."
Setelah Eunha pergi, Hangyul menarik Ayana untuk masuk kedalam kamar wanita itu. Bukannya ingin kurang ajar, namun ada hal yang harus Hangyul katakan pada Ayana dan ingin wanita itu bersiap.
"Ayana, aku tidak ingin memberikanmu pilihan yang sulit. Tapi kamu benar-benar harus memilih sesuatu yang sulit."
Ayana diam dan menatap Hangyul dengan tatapan cemas. Tangannya refleks mengelus perutnya. Jujur dia takut dengan segala konsekuensinya, tapi Ayana tidak bisa menghindar dari konsekuensi tersebut disaat dia memilih.
"Istana memang membutuhkan beberapa pelayan untuk menggantikan banyak pelayan yang berkhianat. Kabar baiknya, temanku menjadi salah satu orang yang mengurus masalah itu. Kabar buruknya, tidak ada pelayan pribadi yang mulia."
Ayana mengernyit, "Maksudmu?"
Hangyul menghela nafas, "Tidak ada pelayan yang akan dekat dan berada di sisi Raja Seungwoo."
Ayana mendengus, "Kenapa hal itu bisa terjadi?"
Hangyul menggeleng, "Mungkin karena sekarang Raja Seungwoo merasa tidak butuh pelayan. Namun kamu harus segera memilih, apa kamu akan ikut bersamaku untuk pergi menjadi pelayan disana, atau kamu diam disini dan menunggu bayimu mati."
Ayana segera menutup telinganya, "Jahat sekali! Kenapa perkataanmu terdengar kasar?"
Hangyul menunduk merasa bersalah, "Maaf, aku hanya merasa sedikit emosional."
"Tidak apa-apa, lagipula aku sudah memutuskan. Setidaknya berada dekat, tidak harus bersentuhan bukan?"
Hangyul refleks mengangguk.
"Aku hanya akan berada disana sampai waktu yang ditentukan. Intinya aku tidak akan menyerah pada bayiku."
Hangyul tersenyum, "Kamu tenang saja Ayana, aku pasti datang untuk menjengukmu dan jika kamu memerlukan bantuan, jangan ragu untuk memanggil namaku."
Ayana terkekeh, "Lalu, apa kamu akan mendengar suaraku jika nanti aku memanggilmu?"
"Tidak juga, namun aku pasti datang disaat orang tau kalau kamu mengenalku."
"Baiklah, Terimakasih banyak Hangyul."
"Sama-sama, aku akan membantumu sebisa dan semampuku Ayana."
Setelah percakapan singkatnya dengan Hangyul. Ayana duduk termenung meratapi nasib. Dia duduk di depan jendela yang sengaja dibuka lebar untuk melihat bulan sabit yang terang.
Pikirannya kembali menerawang jauh kesana. Berharap kalau semua masih hanyalah mimpi. Ayana yang ditinggalkan Seungwoo, Ayana yang hamil anak Seungwoo, bahkan Ayana yang harus menjadi pelayan Seungwoo.
Ada rasa lelah dan ingin menghindar dari dunia ini. Tapi Ayana tau, kalau hal itu tidak mungkin bisa dia lakukan. Ayana tidak boleh egois, disaat baby wulf membutuhkan energi Ayahnya, Ayana harus menuruti.
"Sabar ya nak, Ibu pasti akan berada didekat ayahmu. Tapi Ibu mohon, jangan sampai membuat Ayahmu tau tentang keberadaanmu. Ibu takut, jika Ayahmu tidak mengharapkanmu dan malah ingin membunuh kita. Tolong bantu ibu, nak," monolognya terdengar sedih.
Air mata jelas jatuh, "Maaf karena kamu harus menderita.