Syarat Baca!!
FOLLOW AKUN INI DAN TAPI LOVE CERITANYA!
***
Rasa-rasanya tubuh Ayana remuk dan tidak berdaya. Dia tidak mengerti kenapa akan sangat lelah. Hari ini dia akan pergi ke Hutan, bertemu lagi dengan pria yang seharusnya dia lupakan.
Terkadang takdir sungguh tidak bisa ditebak. Orang yang ingin kita jauhi justru akan membuat kita mendekat lagi. Ayana tersenyum miris, kemudian bangkit mengenakan gaun kuning cerah bermotif bunga.
Tidak ada alasan lain yang membuatnya mengenakan gaun itu. Mengingat dia harus pergi dahulu menemui teman Hangyul.
"Ayana, kamu pasti bisa! Perjalanan kamu akan dimulai saat ini juga," gumamnya pada diri sendiri.
Ayana melangkah menuruni tangga. Dia melihat Hangyul sudah duduk dan menemani Nenek Kim di ruang makan. Pria itu datang sangat pagi karena akan mengantar Ayana pada gerbang penderitaan. Begitulah pikiran Ayana pada awalnya.
"Sarapan bersama, Ayana?" Tawar Hangyul begitu melihat Ayana turun dengan tatapan sendunya.
Ayana mengangguk kecil dan mendekat kearah mereka. Ayana mengambil satu roti untuk dia makan, pagi ini tidak ada daging. Biasanya Nenek Kim hanya akan membuatkan Ayana toast.
"Hangyul, Ayana, kalian akan pergi kemana? Mengapa kalian berdua terlihat rapi." Tanya Nenek Kim.
Tatapan wanita tua baya itu menggerling curiga, disertai tatapan menggoda. Seakan-akan dua sejoli yang ada di hadapannya ini adalah sepasang kekasih yang hendak pergi berkencan.
"Hangyul mengantarku pergi ke bandara Nek, aku sudah bilang pada Nenek kalau aku akan pergi keluar negeri untuk bertemu keluargaku?"
Nenek Kim mengangguk, tatapannya berubah sedih dan tidak rela, "Kenapa kamu pergi begitu mendadak. Tapi ... Tenang saja, aku tidak akan membuat seseorang menyewa kamarmu itu dengan cepat."
Ayana mengangguk dan tersenyum, kemudian mendekat untuk memeluk wanita tua baya itu. Berharap dia diberi umur panjang untuk melihat Baby Wulf kelak. Mau bagaimanapun Nenek Kim adalah satu-satunya orang yang membantunya dan bertindak seperti keluarga bagi Ayana.
"Bagaimana perasaanmu setelah pamit tadi?" Tanya Hangyul begitu membantu mendorong koper milik Ayana.
"Sedih, tentu saja! Sekarang aku harus berpamitan pada Eunha. Gadis itu pasti akan berdrama."
Hangyul tertawa mendengar ucapan Ayana tentang Eunha. Walau dalam hati dia membenarkan ucapan Ayana tadi.
"Oh ya!" Ayana menghentikan langkah untuk berbalik menatap Hangyul.
"Selama aku tidak disini, aku mohon padamu. Jaga Eunha, kondisi dia tidak jauh berbeda denganku."
Hangyul mengangguk dengan mantap, kemudian masuk kedalam toko roti kecil milik Ayana. Disana sudah ada Eunha yang sedang bersih-bersih seperti biasa.
"Kak Ayana!" Pekik Eunha begitu melihat Ayana datang dengan senyumnya.
"Pagi, Eunha."
"Kak Ayana, kakak mau kemana?" Gadis itu baru sadar kalau saat ini Ayana datang dengan Hangyul. Keduanya bahkan terlihat rapi disaat yang bersamaan.
Eunha sedikit curiga ketika mata Hangyul berhasil menangkap tatapannya tadi.
"Aku akan pergi Ke Luar Negeri untuk sementara. Aku ingin kamu tetap membuka toko ini, dan tenang saja. Akan ada Hangyul yang membantumu."
Eunha tentu terkejut, wajahnya yang polos dan lugu ketika terkejut membuat siapa saja pasti gemas padanya.
"Kenapa mendadak?! OH ASTAGA, KENAPA KAK AYANA BARU MENGATAKANNYA?" Pekik Eunha yang membuat Ayana mau tidak mau menutup kedua telinganya.
Hangyul berdecak, telinganya hampir saja pengang mendengar pekikan gadis di hadapannya ini. "Hei, santai saja. Jangan terlalu terkejut, dia pergi untuk sementara bukan selamanya."
"DIAM!"
"Aku tidak butuh komentarmu Hangyul."
Ayana malah terkekeh, kemudian merasakan Eunha memeluknya secara tiba-tiba. Gadis ini benar-benar membuatnya tidak habis pikir, sementara itu Hangyul memutar bola matanya malas.
"Cepat, kita harus segera pergi," ucap Hangyul mengintrupsi perpisahan mendadak antara Kakak dan Adik itu.
Eunha melepaskan pelukannya sejenak, kemudian melirik Hangyul tajam, "Diamlah! Jangan banyak bicara."
Hangyul segera menutup mulutnya rapat-rapat dan berbalik. Membiarkan mereka berdua menghabiskan waktu untuk berpisah.
"Eunha terlalu banyak drama. Kenapa gadis itu sangat tidak lembut saat menegurku," gerutu Hangyul.
Ayana terkekeh, "Kejar jika kamu memang suka. Dia adalah gadis yang baik."
Hangyul terdiam tanpa suara.
***
"Naiklah!"
Ayana melongo tidak percaya melihat Hangyul yang mendadak berubah menjadi seekor serigala bertubuh besar. Berbulu cokelat muda dan sangat tebal.
"Aku tau kamu pasti lelah saat berjalan, bayi wulf itu pasti tidak akan membiarkanmu bahagia."
Tok!
"Jangan berbicara sembarangan terhadap bayiku!" Tukas Ayana kesal setengah mati.
Hangyul menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kemudian mengajak Ayana untuk masuk kedalam sebuah portal aneh.
Sebelum Ayana benar-benar masuk kedalam, matanya bisa menangkap dengan jelas kalau ada sebuah pijar cahaya yang mengelilingi lingkaran portal tersebut.
"Ketika manusia melangkah masuk kedalam portal ini. Maka dia akan merasa sakit untuk pertama kalinya. Tapi saat kamu masuk dan membawa bayi wulf, kemungkinan besar kamu tidak merasakan sakitnya."
Ayana mengernyit tak paham, masalahnya dia sudah berada di tempat yang kini Hangyul katakan sebagai kumpulan dari makhluk seperti mereka.
"Aku tidak merasakan apapun."
Hangyul terkekeh, bayi wulf sangat melindungi induknya. Kemudian mengajak Ayana untuk mengikutinya setelah berubah menjadi bentukan manusia.
"Pijar cahaya tadi adalah sebuah perangkap yang membuat manusia kesakitan ketika hendak mengganggu kehidupan kami. Tapi aku benar-benar takjub ketika kamu melewatinya begitu saja. Bayi wulf sangat menyayangi ibunya."
Ayana terkekeh kecil, "Tentu saja, itu benar-benar luar biasa bukan. Aku selalu memberikannya cinta untuk membuatnya merasakan kenyamanan."
Ayana terkagum-kagum melihat pepohonan lebat namun tidak menutup cahaya dan terasa rindang. Bukan panas membara, apalagi sampai merasa tersengat oleh panasnya.
Ayana masih penasaran kemana Hangyul akan membawanya. Daritadi Ayana tidak melihat ada satu tempat untuk dihuni. Bahkan Ayana yakin dia berasa tidak berada di bumi lagi.
Hingga pada akhirnya mereka berdua berhenti di sebuah gubuk indah. Gubuk itu memang kecil, namun terlihat seperti rumah kurcaci walau tidak sekecil kurcaci.
"Hangyul!"
Seseorang memanggil nama Hangyul, seorang lelaki yang sebaya dengan Hangyul. Ayana menoleh dan menutup matanya malu karena melihat lelaki yang mendekat menghampiri mereka tanpa pakaian atas.
"Jungwoo bagaimana dengan ramuan pesanan ku? Apa sudah dibuat dengan baik?"
Lelaki itu---Jungwoo Namanya, teman akrab Hangyul dan mereka sama-sama bekerja menjaga perbatasan. Hanya saja Jungwoo aktif di istana---Lelaki itu mengangguk paham.
"Masuk lah, aku tidak tau kalau sepupumu sangat cantik." Kerlingan menggoda dari Jungwoo membuat Ayana bergidik ngeri.
"Serius lah, dia sedang hamil, tidak bisa kau tandai sebagai milikmu."
Jungwoo tampak kecewa, walau begitu dia kembali mempersilahkan kedua tamunya masuk.
"Kenalkan, dia adalah Jungwoo. Temanku yang sama-sama berjaga di perbatasan, namun dia lebih sering menghadap Yang mulia raja untuk memberikan laporan. Dia akan membantumu masuk kesana sebagai pelayan."
Ayana mengangguk paham. Hanya saja dia sedikit bingung ketika Jungwoo kembali membawakannya segelas air berwarna ungu tinta.
"Minuman ini aman untuk dikonsumsi oleh orang hamil bukan?"
"Tenang saja Hangyul, ini hanya akan melunturkan aroma manusianya. Lagipula, kenapa kamu bisa sampai punya saudara manusia? Bukankah itu sangat mustahil?" Jungwoo bertanya-tanya keheranan.
"Tidak ada. Terimakasih banyak ya, kamu tidak usah penasaran, tolong besok antarkan dia ke istana."
Awalnya Ayana menolak untuk minum ketika mencium aromanya. Namun karena ucapan Hangyul tentang bayinya, Ayana memberanikan diri untuk meminum ramuan itu dengan cepat.
Setelah pulang dari gubuk Jungwoo, barulah Hangyul mengajaknya jalan-jalan. Ternyata Ayana belum benar-benar masuk ke dunia mereka.
"Nah Ayana, selamat datang di Hutan fantasi."