Syarat Baca
Follow akun ini dan Tapi Love ceritanya!!
MAKSA Nih
***
Ayana cukup tercengang mihat banyaknya warga yang terlihat tidak jauh berbeda dengan manusia diluar sana. Mereka melakukan aktivitas perdagangan, bekerja, dan sebagainya.
Hangyul mengajaknya wisata untuk melihat-lihat bagaimana keramaian yang ada disini. Ayana cukup takjub, dia sampai tidak bisa berkedip karena warganya ramah-ramah.
Hangyul mendekat untuk berbisik, "Mereka sebenarnya sangat peka dengan aroma manusia, beruntung kamu sudah meminum ramuan tersebut."
Ayana bergidik ngeri, "Memangnya apa yang akan terjadi jika aku tidak meminumnya? Apa mereka akan bertindak gila dan membunuhku?"
"Tentu saja tidak, namun kamu harus keluar dari tempat ini. Karena makhluk seperti kami merasa terancam jika bersama dengan manusia," Balas Hangyul.
Ayana menggeleng dengan mulut berdecak, "Apa yang kalian takutkan dengan bumil sepertiku. Aku bahkan tidak bisa melawan jika kalian akan membunuhku," Gerutu Ayana.
Hangyul tertawa kecil kemudian mengajak Ayana untuk membeli salah satu permen. Mirip tanghulu hanya saja mereka menggunakan kismis yang banyak.
"Mau tidak?" Tanya Hangyul pada Ayana.
Ayana menggeleng dengan cepat, dia agak tidak suka makanan dengan kismis. Menurutnya kismis terlihat seperti anak kecoa.
"Ini enak Ayana, tidak jauh berbeda dengan permen kapas di duniamu."
Ayana tetap menggeleng, Hangyul tentu tidak menyerah dia memasukan satu permen kismis tersebut ke dalam mulut Ayana, hal tersebut membuat Ayana hampir tersedak dan menatap tajam kearah Hangyul.
"Apa yang kamu lakukan?" Tukas Ayana dengan ekspresi kesalnya.
Hangyul tidak mengatakan apapun selain tertawa. Mereka cukup lelah berada di jalan raya yang ramai. Ayana bahkan sudah mengeluh sakit pinggang, mau tidak mau Hangyul harus mengantar Ayana pulang.
"Kemana kita akan pulang?"
"Rumahku," Jawab Hangyul santai.
Ayana mengangguk tanpa suara. Kembali Hangyul mengajak Ayana untuk singgah di sebuah gubuk indah yang tidak jauh berbeda dengan milik Jungwoo tadi.
"Rumah kalian rata-rata seperti ini kah?"
Hangyul mengangguk membenarkan, dia kemudian membukakan pintu untuk Ayana masuk dan beristirahat. Hangyul harus menginformasikan dulu dengan Jungwoo terkait Ayana yang akan menjadi pelayan istana.
"Tiga hari lagi malam bulan purnama Ayana. Itu artinya Bayi Wulf harus segera berada dekat dengan Ayahnya. Mengingat bayi kalian sudah berusia hampir tiga bulan."
Inilah kekhawatiran Hangyul yang tidak tampak. Hangyul berharap Ayana segera masuk kedalam istana dan berada di dekat Raja Seungwoo.
Ayana menunduk dengan ekspresi sedih. Dia benar-benar merasa takut sekarang. Tidak ada yang lebih penting daripada bayi wulf karena hanya dia yang Ayana punya.
"Aku sedikit khawatir, mungkin saja mereka akan membunuhku jika sampai tau anak siapa yang sebenarnya aku kandung."
Wanita itu tampak lesu dan bingung dengan hatinya sendiri. Masih tidak ingin pergi kepada pria yang menjadi ayah dari bayinya. Terlalu banyak keadaan berbahaya yang mungkin terjadi.
Hangyul menghela nafas, kemudian menarik Ayana untuk memeluknya. Wanita itu butuh pelukan, tenang saja hati Hangyul mungkin tidak terpengaruh.
"Ayana yang aku kenal adalah wanita yang kuat. Ingat Ayana, ini semua demi bayimu. Jika waktunya telah tiba, kamu bisa kembali ke dunia manusia dan merawat bayimu."
Ayana tersenyum, "Kamu benar, aku harus kuat demi anakku. Terimakasih banyak Hangyul karena mau membantuku. Aku tidak tau, apa yang akan dilakukan seungwoo jika dia mengetahui masalah ini. Aku harap kamu baik-baik saja."
"Tenang saja Ayana, aku adalah orang yang kuat dan tidak akan mudah mati. Aku bisa kabur ke dunia manusia jika memang di usir dari sini."
Ayana menggeleng takut, "Tidak! Jangan sampai hal itu terjadi. Aku mungkin tidak akan memaafkan diriku jika hal itu benar-benar terjadi."
***
Hangyul kembali mendatangi kediaman temannya, Jungwoo. Dia ingin memastikan kapan Ayana bisa berada di istana.
"Santai saja, besok dia sudah bisa masuk ke istana dan menjadi pelayan disana. Kenapa kamu begitu buru-buru, seharusnya kamu sedih karena akan ditinggalkan olehnya."
Hangyul akhirnya bisa menghela nafas lega begitu mendengar jawaban dari Jungwoo. Dia takut kalau Ayana mungkin saja tidak berdekatan dengan Seungwoo lalu hal itu akan menjadi malapetaka untuknya.
"Dia harus segera mendapatkan uang. Keluarganya yang ada di dunia manusia membutuhkan hal itu."
"Ck, kau bisa pinjamkan dia. Jangan pelit pada keluarga sendiri Hangyul," Ujar Jungwoo yang kini mengambil tempat di samping Hangyul.
"Ah iya, bagaimana masalah dengan para rogue. Mereka tertangkap saat hendak kabur, kamu sendiri yang mengatakannya padaku kemarin."
Jungwoo mengangguk membenarkan, "Memang, dia hendak kabur namun berhasil ditangkap. Tidaklah aneh menurutmu mengingat mereka seharusnya kabur ke negeri seberang, bukannya ke dunia manusia, bukankah mereka malah akan menjadi malapetaka untuk mereka."
Hangyul terkekeh, "Kamu belum mengetahui bagaimana rasanya berada di dunia manusia. Justru sangat menyenangkan. Kapan-kapan kamu bisa kesana."
Jungwoo bergidik, "Tidak, aku tidak akan kesana. Manusia lebih kejam dari apapun."
"Oh iya, siapa nama sepupumu yang cantik itu, aku belum mencatatnya dan menyerahkannya kepada Chang bin."
"Astaga, bagaimana bisa kamu melupakan hal sepenting itu, jadi setelah aku memberitahumu sekarang apa Aya akan tetap menjadi pelayan."
Jungwoo mengangguk, "tentu saja, kenapa tidak? Dan oh! Namanya Aya ya?"
Hangyul mengangguk ragu, walau pada akhirnya dia mengangguk membenarkan. Semoga tidak terjadi apapun terhadap Ayana dengan nama ini.
"Nasib menjadi serigala penjaga, mau kencan saja susah," Curhat Jungwoo.
"Wanita terus yang kamu pikirkan, kerjakan saja tugasmu dengan cepat."
Keesokan paginya Ayana dan Hangyul berjalan bersama menuju istana. Daritadi jantung Ayana tidak berhenti untuk bergemuruh. Dia bahkan sempat ragu ingin masuk atau tidak, tapi dia harus segera masuk.
"Hangyul, apa jika jarak ku dengan Seungwoo dalam radius lima meter, itu termasuk berdekatan."
Hangyul menggeleng, "Aku tidak tau Ayana, biasanya jika bayi wulf berdekatan dengan ayahnya dia akan bergerak agresif."
"Tapi Bayi wulf baru akan masuk tiga bulan, apa dia bisa bergerak?"
Hangyul mengendikan bahunya, dia benar-benar tidak tahu masalah kehamilan. Beruntung dia tau mengenai bayi serigala.
"Mungkin jika perutmu merasa keram atau nyeri dia sedang senang dan agresif."
"Mungkin kamu benar. Tapi aku---"
"Ah, cepat Ayana kamu harus masuk sebelum para penjaga mengabsen kalian satu persatu."
Ayana berdecak sebal, walau begitu dia meneguhkan hati dan segera melangkah masuk kedalam bangunan yang terlihat seperti bangunan medieval tersebut.
"Tenang saja Ayana, jika kamu butuh bantuan aku pasti datang."
Ayana berdiri di paling belakang dan paling ujung. Mengingat dia adalah orang yang terakhir datang dan harus ikut berbaris bersama dengan mereka.
"Aya."
Ayana mengernyit mendengar nama yang seperti namanya. Mengingat dia adalah orang terakhir yang belum disebut namanya daritadi, kemungkinan besar dia pemilik nama tersebut.
Ayana cukup mengangkat tangannya keatas dan terlihat oleh penjaga. Setelah acara absen mengabsen, Ayana mendapat bagian untuk membersihkan area belakang.
Sungguh jauh dari dugaan Ayana, karena wanita itu berharap mendapat bagian membersihkan kamar Seungwoo. Dia ingin bertukar tempat, apakah hal itu bisa terjadi?
Ayana tentu belum tau jika dia tidak mencoba untuk bertukar tempat. Dia menarik salah satu wanita yang terlihat lebih muda darinya.
"Hai, permisi. Apa aku boleh bertukar tempat denganmu?"
Wanita itu mengernyit, "Aku bertugas di halaman belakang juga. Lagipula, mereka tidak akan membiarkanmu bertukar tempat. Karena mereka banyak mengincar daerah yang dekat dengan Raja Seungwoo."
Sial!