Bab 9 - Keadaan malam

1068 Kata
Syarat Baca!! Follow Akun ini dan Tap Love ceritanya *** Ayana sempat bingung dan tersesat. Kemana dia harus melangkah dan dimana tempat dia akan mengistirahatkan tubuhnya. Ayana benar-benar merasa asing diantara banyaknya pelayan dan penjaga yang sedang berlalu lalang. Lebih tepatnya merasa seperti anak yang sedang kehilangan arah. Apa yang harus Ayana lakukan sekarang? Haruskah dia mengikuti naluri hatinya. "Hei!" Seseorang membuat langkah Ayana membeku, lebih tepatnya dia tersentak karena ada seseorang yang tiba-tiba menepuk pelan bahunya. Ayana benar-benar takut untuk menoleh kebelakang. "Apa yang sedang kamu lakukan di depan perpustakaan. Cepat kembali bekerja, tempatmu di halaman belakang bersamaku bukan?" Setelah memastikan kalau seseorang yang menepuk bahunya tadi adalah orang yang sama dengan orang yang baru saja Ayana minta tukar tempat, barulah Ayana merasa lega. "Maaf aku tidak begitu hapal dengan daerah yang ada di istana ini. Tempat-tempat ini benar-benar terasa asing bagiku," Ucap Ayana jujur. Karena sekarang dia membutuhkan seseorang yang bisa menjadi tempat untuk dimintai tolong. "Oh, kenapa tidak mengatakannya padaku, aku bisa mengantarmu untuk berkeliling. Ini bukan hari pertama kita kerja, jadi bisa sedikit lebih santai." Ayana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Merasa sedikit tidak enak hati karena harus merepotkan seseorang, daripada nanti Ayana nyasar lebih baik dia segera berkeliling bersama gadis ini. "Baik, terimakasih atas tawarannya." Ayana dan gadis tersebut memutuskan untuk memulai tur mereka dari depan gerbang. Banyak penjaga yang mengawasi gerak-gerik mereka. Gadis tersebut merasa tidak perlu khawatir, mengingat mereka punya tujuan yang baik. Berbeda dengan gadis tersebut, Ayana justru ketar-ketir sendiri. Dia benar-benar merasa tidak aman sekarang. Pikiran buruk selalu menggerogotinya setiap kali tatapan Penjaga itu mengarah padanya. "Hei, tenang saja. Kenapa kamu begitu takut dengan para pengawal disini. Mereka tidak akan berulah jika kita punya niat baik." Ayana merenggut, "Wajah mereka seram-seram. Niatku juga tidak buruk, namun aku tetap saja takut." Gadis itu tertawa kecil kemudian menarik Ayana untuk kembali melanjutkan tur mereka. Ayana yakin gadis ini sepertinya sudah sangat sering berada di istana. Tak heran dia sudah sangat hapal dengan segala wilayah yang ada di istana ini. "Ini adalah ruangan tengah, biasanya para keluarga kerajaan akan berkumpul. Namun Yang Mulia Raja Seungwoo selalu sendiri. Keluarga beliau sudah tiada karena peperangan dua puluh tahun yang lalu." Gadis itu menjelaskan dengan suara berbisik. Seakan takut ketahuan jika meraka sedang membicarakan pemimpin mereka. "Sepertinya kamu sudah sangat mengetahui luar dalam istana ini." Gadis itu tersenyum bangga, "Nenekmu, ibuku, dan sekarang aku. Memang menjadi pelayan turun temurun di istana ini." Ayana mengangguk paham, "Daritadi kita bersama, aku belum tau siapa namamu. Aku bingung harus memanggilmu dengan apa?" "Ah iya, aku juga belum tahu namamu. Kenalkan aku Miran, kau?" "Aya." "Wah nama yang singkat padat dan jelas. Senang bertemu denganmu, Aya." Wanita itu tersenyum. Mereka berdua sepertinya sudah mulai dekat semenjak mulai berkenalan. Miran ternyata gadis yang menyenangkan walau dia terlihat sedikit galak pada awalnya. "Sepertinya semua sudah kita jelajahi, tempat apa yang belum?" Tanya Miran pada Ayana. Memang semua tempat sudah dijelajahi namun itu semua bukan tempat pribadi Seungwoo. Apa jika Aya menanyakannya pada Miran, gadis itu akan memberitahunya tanpa curiga? "Ayana? Mengapa kamu diam saja. Bagaimana, sudah semua yang ingin kita jelajahi?" Ayana menggigit bawah bibirnya dengan ragu, "Kita memang sudah menjelajahi semuanya. Tapi kenapa kita tidak menjelajahi ruangan Seung---Raja Seungwoo?" Miran mengernyit bingung, "Kamu mau kesana? Aku kira kamu tidak ingin, karena disana penjaganya lebih ketat dan akan membuatmu menangis ketakutan. " Ayana segera menggeleng dan menarik tangan Miran, "Ayo tunjukkan padaku, aku sungguh penasaran." Miran mengangguk semangat dan menunjuk beberapa lorong sempit yang membuat Ayana bertanya-tanya. "Jangan tanya kenapa lorong menuju tempat Yang Mulia sesempit ini. Biasanya tidak sesempit ini kok, batunya bisa digeser dan membuat lorong melebar." Oke, untuk fakta yang satu itu Ayana sungguh tercengang. Mereka berdua tiba di depan sebuah kamar dengan ukuran pintu yang besar, tidak hanya tinggi, pintu tersebut juga lebar. "Kenapa pintunya sebesar ini?" Pikir Ayana takjub. "Tidak tau, mungkin saja Yang Mulia sangat malas berubah dan membiarkan bentuknya sebagai manusia serigala lalu masuk." "Mungkin saja." "Oh iya! Kita harus cepat pergi sebelum penjaga menemukan keberadaan kita. Karena kondisi kemarin, istana sedang sensitif dengan penyusup." Ayana mengangguk dan menyusul Miran. Namun sebelum dia benar-benar pergi, dia sempat menoleh ke belakang dan melihat sosok familiar. "Pria itu ... Bukankah dia pria yang sudah membuat Seungwoo pergi dariku," Gumam Ayana lirih. *** Langit mulai gelap, malam pun tiba. Namun keadaan istana tentu tidak segelap diluar sana. Meski disini bisa dibilang dunia fantasi. Namun keadaannya hampir sama dengan dunia manusia yang modern disana. Ayana tinggal di sebuah ruangan yang memiliki tiga orang lagi di dalamnya. Beruntung Ayana kembali bertemu dengan Miran dan sepertinya mereka akan sangat akrab. "Apa yang kau bawa dari rumah? Ah, sepertinya ibuku kembali membawakan ku alat cukur. Terkadang rambut di ketiak ku akan tumbuh sangat panjang." Ayana cukup tercengang, walau begitu dia tetap melanjutkan aktivitasnya mengeluarkan beberapa barang yang harus dia bawa. "Wah ini apa, kenapa aku baru melihatnya Aya?" Tanya Miran begitu melihat Ayana mengeluarkan sebotol body lotion yang merangkap sebagai pengusir nyamuk. Dia tidak tau kenapa benda ini ada di dalam tasnya. Mengingat yang membantunya menyiapkan tas ini adalah hangyul. Kemungkinan besar disini banyak nyamuk, dan kaum serigala pasti tidak bisa merasakan gigitan kecil berbahaya itu. "Ini hanya sunblock, untuk berjaga-jaga agar kulit tidak kering ketika terkena sinar matahari." Mendengar jawaban Ayana, Miran sedikit mengernyit keheranan. Untuk apa serigala memerlukan sunblock, mereka bahkan bisa beraktivitas dibawah teriknya sinar matahari. "Kondisi tubuhku tidak sekuat itu, jadi membutuhkan barang ini." Ayana menarik kembali botol body lotion tersebut dan meletakkannya di dalam tas. Saat semuanya sudah terlelap. Suara lolongan serigala yang bersahutan terdengar mengerikan. Ayana juga sudah terlelap dengan damai, namun siapa yang akan damai jika mendengar suara mengerikan dari lolongan serigala itu. Ayana bangkit dan bersandar pada kepala ranjang single miliknya. Dia menekuk kedua kakinya dan menelungkupkan kepalanya di atas lutut kakinya. "Mungkin disini memang sudah biasa, tapi aku sama sekali tidak terbiasa," Keluhnya. Dia tidak sengaja melihat jendela kamar yang cukup besar. Disana bulan purnama terlihat bersinar terang. Suasana pasti sangat ramai oleh serigala di luar sana. Ayana tidak yakin apa dia bisa bertahan disini atau tidak. Sekedar informasi, kamar yang ditempati para pelayan berada di belakang istana, tepatnya satu meter lebih dulu sebelum kandang sapi luas milik istana. Jarak kamar mereka pun lima meter dan benar-benar kesialan bagi Ayana. Dia tidak bisa berlari dengan kencang karena dia hanya manusia biasa, berbeda dengan mereka yang memang manusia serigala. "Ya Tuhan, Kuatkan aku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN