Syarat Baca!
Follow akunnya dan Tapi Love ceritanya!
BTW MAAF ERORR GUYS HIKSS
***
Wanita itu berjalan melenggang dengan santainya. Fajar belum benar-benar menyapa. Aneh tapi nyata, Ayana begitu suka dengan pakaian pelayan yang sekarang menempel ditubuhnya.
Menurut Ayana, pakaian ini sudah seperti mini dress yang memiliki banyak kembaran dengan pakaian dari pelayan lain. Berwarna putih tulang, dan juga ada renda hitam kecil di bawahnya.
"Baju pelayan di sini sudah seperti baju dress disana,"
Paginya Ayana mengerjakan tugas dengan khidmat. Dia punya tugas untuk membersihkan Halaman belakang istana yang luasnya bisa membuat orang mengelus diri. Beruntung Ayana tidak sendiri, karena ada Miran---si teman baru yang lumayan akrab dengan Ayana---mereka berdua tampak ceria dan sesekali melempar candaan.
Mungkin karena ini adalah awal Ayana bekerja. Dia tidak pernah melihat Seungwoo lewat, sekalipun dia berjalan sengaja mendekati area peristirahatan Seungwoo, namun pria itu tidak pernah bisa di temukan.
Ayana melirik Miran yang sedang fokus menyapu sembari bersenandung kecil. Terkadang, wanita itu akan menendang kerikil kecil dibawah kakinya, hanya untuk iseng semata.
"Miran menurutmu, kenapa Yang Mulia Seungwoo tidak pernah terlihat?"
Miran memberhentikan pergerakan tangannya, kemudian berbalik untuk menatap Ayana dengan pandangan mengernyit heran.
"Sejak kapan kamu begitu peduli pada urusan Yang mulia? Oh tidak! Jangan-jangan kamu tertarik dengan Yang mulia ya?" Tebak Miran menggerling nakal kearah Ayana.
Wanita itu refleks menggeleng dan melirik kesana-kemari, mengigit bawah bibirnya karena ragu harus mencari alasan apa lagi agar Miran tidak curiga.
"Ti-tidak ada, memangnya kenapa? Aku hanya ingin bertanya, apa itu tidak boleh?"
Miran menggeleng dengan bibir melempem datar, seakan meremehkan apa yang menjadi protesan Ayana tadi. Mereka berdua menepi karena beberapa pengawal berlalu lalang.
"Jangan bahas beliau disini, nanti pengawal dengar. Kita bisa di hukum cambuk," Miran berbisik dengan suara lirih.
Ayana bergidik ngeri, sejak kapan ada peraturan seperti itu. Benar-benar melanggar moralitas dan ketentuan Hak asasi manusia. Namun setelah memikirkannya, Ayana rasa dia salah besar. Buktinya dia bukan sedang bersama manusia sekarang, melainkan manusia serigala.
"Dengar, Yang mulia Raja saat ini sedang membahas perdamaian di negeri seberang. Huh, sangat disayangkan, kenapa negeri seberang terlalu lemah dan tidak menerima ajakan perang dari negeri kita."
Ayana yang tidak paham hanya manggut-manggut dan kembali mendengarkan Miran dengan seksama. Seakan saat ini dia sedang mendengarkan kultum guru di sekolah.
"Semoga tidak ada aliansi pernikahan karena embel-embel perdamaian. Yang mulia Raja Seungwoo tidak cocok dengan para Pack serakah disana. Mereka mungkin hanya mengincar wilayah negeri ini."
"Tapi aku benar-benar tidak paham, kenapa kamu malah ingin negeri kita perang dengan negeri sebelah?"
"Cukup simpel sebenarnya, melihat Raja seungwoo sendirian terus, bisa dibuat bahan untuk berimajinasi."
Miran terkikik geli, sementara Ayana merinding mendengar ucapan Miran. Imajinasi apa yang dimaksud? Kenapa firasat Ayana malah imajinasi yang tidak-tidak.
"Ekhem! Dasar penggosip kembalilah bekerja!"
Mereka berdua terlonjak ketika mendengar suara berat yang tiba-tiba mengintrupsi. Jangan tanya apa yang mereka lakukan, selain berlari dan kembali melaksanakan tugas.
Ayana sedikit merasa aneh ketika melihat makan siang yang tersaji di depannya saat ini. ada iga sapi setengah matang yang di berikan saus.
"Kenapa Ayana, kamu tidak suka makanannya?"
Ayana segera menggeleng, "Su-suka kok, tapi kenapa iganya setengah matang?"
Miran mendengus, "Kalau mentah pun belum tentu enak, ketika kita masih berbentuk seperti manusia, makanan mentah tidak enak. Lain cerita ketika kita berubah menjadi serigala. Lain kali kamu harus coba berubah bentuk deh," Jawab Miran.
Ayana menarik kedua sudut bibirnya dengan canggung. Heol! Mana mungkin Ayana melakukan itu. Berubah menjadi serigala katanya, dia saja manusia tulen. Katakan pada Ayana bagaimana caranya manusia tulen berubah bentuk menjadi manusia serigala?
Ketika Ayana mencoba satu gigitan pada iga sapi tersebut, matanya terbelalak dan merasa kalau masakan kali ini sungguh enak.
"Wah! Aku gak menyangka, masakan ini sungguh enak."
Miran hanya menggeleng melihat kelakuan teman barunya. Sungguh terlihat norak seakan baru pertama kali makan makanan seperti ini.
***
Ayana tidak bohong kalau sekarang dirinya lelah. Melihat sekelilingnya yang sudah sedikit sepi, dia segera melempar sapu yang menjadi temannya seharian ini.
"Hah! Kenapa aku malah lupa tujuanku kesini?" Ungkapnya yang sekarang duduk sembari meluruskan kakinya.
Ayana duduk dibalik semak-semak karena takut saja, ada yang berhasil melihat dirinya sedang bermalas-malasan. Miran entah kemana, mungkin dia punya banyak tugas yang harus dikerjakan dengan segera.
"Bagaimana kabar Eunha ya, apa dia kewalahan menjaga toko roti? Nenek kim juga apa kabar, apa dia masih terus membuat kue eksperimen.".
Ayana merasa heran sendiri, ini baru satu hari dia meninggalkan dunia manusia. Tapi rasanya seperti satu bulan dia tidak berada disana.
Entah kapan dia harus berada disini, yang jelas Ayana tidak harus berlama-lama dan harus terus menyembunyikan identitas dirinya yang asli.
"Raja Seungwoo akan kembali sebentar lagi. Siapkan pesta penyambutan yang meriah, aku tidak mau semuanya berjalan kacau dan membuat Raja Seungwoo memotong leher kita."
Samar-samar Ayana mendengar seseorang sedang membicarakan Seungwoo. Dia bingung, kenapa seungwoo kembali saja, semua harus membuatkannya pesta penyambutan.
"Ck," Decak Ayana yang segera bangkit setelah membersihkan seragamnya kemudian kembali bekerja seperti semula.
"Apa Hangyul akan kesini juga? Aku ingin bertemu dengannya. Semua disini terasa sangat asing sekarang," Ayana menghela nafas.
Baru saja dia ingin kembali ke tempat istirahat. Seorang wanita paruh baya, yang Ayana ketahui sebagai kepala pelayan datang dan mendekat kearahnya.
"Hei kamu! Saat ini istana sedang sangat sibuk mempersiapkan pesta penyambutan. Apa yang kamu kerjakan sekarang, sepertinya kamu sedang senggang?" Tanya Wanita paruh baya berbadan gempal dengan riasan sedikit menor.
Ayana menganggukan kepalanya, "Memang tidak ada yang bisa saya kerjakan, karena tugas saya sudah selesai."
Wanita paruh baya itu berkacak pinggang dengan ekspresi tak enak. Dia menarik tangan Ayana dengan kasar, membuat Ayana sedikit meringis namun tetap mengikuti langkah dari wanita paruh baya itu.
"Semua pelayan sedang di fokuskan untuk pesta penyambutan, sementara mereka melupakan tugas utama membersihkan ruangan pribadi yang mulia. Aku ingin, kamu membersihkan ruangan ini sekarang juga!" Perintah wanita paruh baya tersebut.
"Jangan berharap meninggalkan ruangan ini sebelum kamu selesai mengerjakan tugasmu!" Tambahnya lagi lalu pergi meninggalkan Ayana sendiri.
Wanita itu menghela nafas pelan. astaga waktu istirahatnya akan terganggu. Perutnya bahkan terasa sedikit kencang sekarang.
"Lucu ya wulf, kita harus membersihkan kamar Ayahmu. Bantu Bunda untuk tetap kuat dan jangan rewel," Ucap Ayana lirih seraya mengelus pelan perutnya yang terlihat sedikit membuncit, walau belum terlalu nampak.
Oke Ayana mari mulai menjelajahi ruangan mantan pacarmu ini, batinnya sekali lagi.