Setelah memberikan antiseptik dan menutup lukanya dengan plester. Miran merasa aneh sendiri dengan luka yang ada di tangan Ayana. Bukankah warnanya harus sedikit lebih gelap. Mengapa warna darahnya sedikit lebih cerah. Aroma darah Ayana sangat manis. Ibarat aroma gula kapas yang baru saja dibuat. Sungguh manis dan menarik. Tapi kenapa aromanya bisa semanis ini? "Miran?" Ayana memanggil. Miran yang melamun sejenak segera menggeleng kecil dan melirik Ayana. Dia bingung, apakah dia harus menanyakan ini pada Ayana. tapi Miran takut melukai hati Ayana. "Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Ayana keheranan. "Tidak ada, bagaimana tanganmu. Tidak sakit atau nyeri kan?" Ayana terkekeh kecil, dia mengambil pisau yang tadi menggores luka di jarinya dan menyimpannya dengan aman agar tidak

