Pagi harinya, semua berkumpul diruang makan. Sambil memakan makanan masing-masing, Riko sesekali mengganggu Haris, dan ia akhirnya kena semprot Papa dan Mamanya.
"Vinka diantar Mas Azhar?" tanya Tante Lita.
"Ah gak usah Ma, Vinka udah janjian sama temen" ucap Vinka.
"Kenapa kok sama temen sih nak? Kan lebih aman sama Mas Azhar?" tanya Ok Sultan.
"Gak apa apa Pa, takut ngerepotin" ucap Vinka, "Ya udah, Vinka berangkat dulu yah".
Vinka melangkah dengan tergesa.
"Bener gak diantar sama Mas Azhar, Kaka Ipar?" teriak Riko.
"Enggak usah Mas Riko" ucap Vinka, tetap berjalan.
Vinka segera meraih ponselnya, namun dari belakang seseorang merebut ponselnya.
"Lo bareng gue" ucap Azhar menarik kasar tangan Vinka.
"Lepasin tangan gue!" pekik Vinka.
"Gue lepas tapi Lo gue antar".
"Gue gak sudi naik mobil Lo kalau cuman buat diturunin dipinggir jalan!".
"Gak lagi" ucap Azhar, "Udah ayo".
Mau gak mau Vinka menuruti ucapan Azhar. Masuk ke mobil lelaki itu.
"Maaf" ucap Azhar.
"Apa?" Vinka menoleh ke arah Azhar yang mulai menyetir mobilnya.
"Maaf soal ucapan gue semalam" ucap Azhar.
"Gak usah minta maaf" ucap Vinka.
"Gue gak harusnya ngomong begitu" ucap Azhar.
"Emang Lo kan memperlakukan gue gak kayak sama cewek lain. Entah apa salah gue, jadi nanggung semua kebencian Lo" ucap Vinka.
"Gue benci takdir. Bukan benci lo".
"Takdir itu gak bakalan Lo benci, kalau Lo menerima dengan lapang d**a, dan Lo syukuri".
"Gue gak bisa terima gitu aja" ucap Azhar.
"Gue juga bisa terima perjodohan kita, tapi Lo kan yang kemarin acc perjodohan ini dilanjutkan?".
"Karena gue berpikir gue bisa mengakhirinya nanti. Makin hari di kerjaan gue makin pusing, dirumah apalagi. Gue takut bikin kecewa semuanya".
"Kalau Lo mau mengakhiri ini semua kita bisa ngomong jujur ke Om dan Tante, dan Papa Mama gue. Kita gak bisa sama sama" ucap Vinka, "Gue dan Lo gak bakalan bisa menyatu. Gue sendiri juga yakin, gak akan ada titik temu kaalupun kita menikah, amit amit jabang bayi kalau sampai nikah, cekcok melulu, gue hamil Lo cerai-in".
"Kalau udah hamil, udah kepalang tanggung. Kalau punya anak tapi gak saling mencintai, dunia pernikahan itu rasanya hambar".
"Ya makanya Lo coba jatuh cinta ke gue duluan deh, siapa tau ntar gue jatuh cinta juga sama Lo" ucap Vinka santai.
"Andai gue bisa, gue udah terlanjur komitmen sama Claudia, 2 tahun dia sama gue backstreet, dan rencananya tahun depan gue baru kenalin dia ke Mama Papa, dan kalau bisa tunangan. Eh gue malah tunangan sama elo, sepupu gue sendiri".
"Jadi Lo maunya gimana? Gue gak bisa juga membebani pikiran Lo terus terusan, sementara gue pun juga mikirin masa depan gue. Gue masih muda, masih banyak jalan buat gue produktif, jadi selebgram kek, youtuber kek, wanita karir kek. Gue mau cari jati diri gue, bukan nikah muda kayak sepupu kita di Banjarmasin sana, nikah 2 tahun, belum punya anak, banyak masalah rumah tangga di dalamnya. Dia gak tahan, dan akhirnya malah bunuh diri".
"Gue gak biarin juga Lo bunuh diri" ucap Azhar santai.
"Gue gak mau bunuh diri hanya karena perjodohan gila ini. Masih banyak cowok yang ngantri buat jadi pacar gue".
Merekapun tiba di kampus Vinka, Vinka merogoh ponsel di tasnya dan menelpon sahabatnya, Vera.
Melihat Vera yang sudah tak jauh dari mobil Azhar, Vinka segera turun dan berlari menghampiri Vera.
Azhar masih memperhatikan sepupunya itu. Badannya mungil dan emang cantik, dia akui itu. Tapi untuk belajar mencintainya, rasanya tidak pernah mungkin terbayangkan dalam pikiran Azhar.
Ketika Vinka dan Vera masih berbincang lelaki yang bernama Bagas datang menghampiri mereka. Terlihat sekali pancaran wajah bahagia terpancar di wajah Bagas. Dan Vinka, ekspresinya bahagia, tapi Azhar tau, Vinka gak mau menyakiti perasaan lelaki bernama Bagas itu.
Terlalu takut untuk membuka hati, sementara ia sendiri harus dihadapkan dengan perjodohan ini.
Bagas mengacak lembut rambut Vinka, Azhar tau lelaki itu memang menyukai Vinka.
Azhar akan ajak Vinka bicara nanti, ia akan membantunya untuk meraih cintanya. Karena dari raut wajah saja, Azhar tau Vinka ingin sekali menerima Bagas jadi pacarnya. Buktinya pelukan kemarin sudah membuktikannya.
Azhar segera berlalu dari sana.
~
"Vinka lagi ngapain?" tanya Tante Lita ketika melihat Vinka sibuk di ruang tamu dengan laptop dan ponselnya.
"Vinka mulai ngerjain Skripsi, Ma" ucap Vinka.
"Mau dibantu Mas Azhar sama Mas Riko gak?" tanya Tante Lita.
"Gak usah Ma, jangan. Vinka ngerepotin mereka malah nantinya".
"Sebentar ya, Mama ambilin cemilan sama minuman buat kamu".
Vinka menggangguk sambil mengucapkan terimakasih.
Tak berapa lama Tante Lita ke dapur, Azhar duduk disamping Vinka yang duduk dibawah sofa.
"Lo bikin skripsi? Sini gue bantuin" ucap Azhar.
"Gak usah, gue bisa kok. Tadi udah dibantu Bagas juga. Tinggal ngerapiin aja cek kalau kalau ada typo" ucap Vinka.
"Coba sini gue lihat" ucap Azhar, sedikit menyenggol tubuh Vinka hingga ia limbung.
"Kasar banget ya Allah nih orang" ucap Vinka.
Azhar memfokuskan matanya pada setiap lembar per lembar halaman.
Sesekali ia mengetik ulang ketikan yang kurang menarik baginya.
"Jangan diganti ganti dong Mas, itu hasil kerjaan gue" ucap Vinka kesal.
"Gue benerin yang kurang kurangnya aja. Gak gue ganti semua. Lo percaya sama gue gak?" tanya Azhar menatap Vinka lebih dekat.
"Apaan sih Lo!" Vinka mendorong tubuh proporsional Azhar.
"Ciye ciyee...." ucap Tante Lita dengan nampan berisi satu teko sirup es jeruk, dan beberapa toples cemilan.
"Ma, Mas Azhar bikin Vinka gak nyaman. Gonta ganti skripsi orang sembarangan" adu Vinka.
"Dibantuin Ma, skripsinya kurang mantap. Mau wisuda gak Lo?" tanya Azhar.
"Mas Azhar itu andalan skripsinya Vin, percaya aja sama calon suamimu ini, dia bisa diandalkan kok" ucap Tante Lita mengusap rambut Vinka lembut.
"Tapi kan Vinka mau ngerjain sendiri, jerih payah sendiri" ucap Vinka, matanya sudah berkaca-kaca.
"Ceilahhh, gue cuman bantuin betulin yang kurang mantep, percaya sama gue, Lo besok di-acc wisudanya" ucap Azhar pede.
"Kalau gak di-acc?".
"Kita gak jadi nikah" ucap Azhar.
"Apa-apaan yang gak jadi, jas kamu udah siap, tinggal gaun Vinka. Vinka kamu mau gaun yang seperti apa nak? Soalnya kamu harus siap siap segalanya duluan juga. Baju buat wisudaan juga nanti kita cari. Biar kamu wisudaan kita semuanya datang. Foto bareng Azhar di Kampus, terus pulangnya foto studio, terus makan bareng Papa Mama kamu Vin" ucap Tante Lita antusias dengan ekspresinya.
"Gak usah Ma, takut ngerepotin Mama Papa kan sibuk, Vinka aja sendirian wisuda juga gak apa apa Ma" ucap Vinka, "Dari dulu juga gitu. Mama Papa Vinka kan sibuk semua".
"Hey, kan ada Papa Sultan, Mama Lita yang datang buat kamu, kita gak sibuk buat kamu bisa Vin, kalau seandainya Papa dan Mama kamu sibuk. Kita semua ada buat kamu sayang" ucap Tante Lita.
"Vinka tuh sebenarnya anak Papa Mama bukan sih Ma?" tanya Vinka.
"Anak kandung sayang, kamu sepupu Mas Azhar, Mas Riko, sama Haris. Kamu bukan anak orang lain. Kamu keponakan Mama Lita yang tercantik dari semuanya" ucap Tante Lita.
"Kalau bukan anak kandung, ngapain lo di sekolahin dengan fasilitas lengkap, bersyukur masih punya orang tua lengkap, bisa kerja, banyak orang diluaran sana yang kurang beruntung, kehilang orang tuanya, gak bisa sekolah dengan fasilitas yang lengkap. Tapi mereka semua saling menyayangi, pikirin baik baik Vin, umur elo udah 20-an bukan bocah ingusan lagi. Ya memang waktu kumpul keluarga Lo buat Lo kurang, tapi Lo gak kekurangan apapun dari kecil" ucap Azhar angkat bicara.
"Gue gak perlu fasilitas mewah, kalau memang takdir gue sekolah sampai SMA pun itu sudah cukup dan aku bersyukur, asal Mama selalu ada di rumah, bukan sibuk kerja, arisan. Gue gak butuh itu semua gue butuh kasih sayang orang tua!".
"Hey Vinka, sudah sudah cukup bahas ini ya. Kerjain skripsinya dulu itu" tegur Tante Lita.
"Kalau bukan karena orang tua Lo yang banting tulang, Lo gak bisa ke Jakarta, gak bisa kuliah mahal, dapet jajan tiap hari makan enak. Dan yang pasti, gak mungkin Lo bakalan bisa bolos seenak jidat" ucap Azhar.
"Kalaupun gue bolos, itu bukan urusan Lo. Berhenti ikut campur dalam hidup gue" ucap Vinka menunjuk muka Azhar.
"Kalau bukan karena Lo sepupu gue, calon istri gue, gak bakalan gue mikirin hidup lo. Toh hidup gue juga dipikirin lebih berat dari Lo. Jangan berpikir Lo orang gak beruntung karena kurang kasih sayang. Masih banyak yang sayang dan perduli sama Lo, tapi Lo gak mensyukuri itu semua".
"Kalau Lo jadi gue, pasti Lo juga akan bilang hal yang sama dengan yang gue bilang tadi. Karena Lo punya segalanya, karir, kasih sayang Orang tua Lo, Lo gak tau gue. Jadi jangan berusaha bilang Lo tau segalanya tentang gue!".
Vinka segera berlari dan masuk ke kamarnya.
"Kenapa kasar gitu sih Mas ngomongnya, Vinka itu masih labil, umurnya juga masih muda, harusnya kamu ngerti posisi dia. Dari kecil dia kurang kasih sayang orang tua. Kamu sendiri ingat kan waktu kamu temenin dia main. Dia senangnya kayak apa?" tanya Tante Lita
Azhar mengingat kenangan itu.
Flashback 12 tahun yang lalu....
Saat umurnya 12 tahun, ia mengunjungi pulau Kalimantan Selatan, tempat Papanya lahir disana. Ia bersama Riko yang saat itu berumur 10 tahun, dan Haris yang masih berumur 4 tahun, dan Mama Papa-nya tinggal di rumah Adik Papanya. Rumah Om Fahri dan Tante Rini.
Disana, ia melihat seorang gadis berumur 9 tahun yang terlihat sibuk bermain sendirian. Sementara Om dan Tantenya sibuk dengan ponsel dan laptop mereka di ruang tamu.
Azhar menghampiri gadis itu, ia tahu gadis itu adalah sepupunya. Vinka namanya. Gadis itu cantik, dengan poni dan rambut panjangnya yang digerai lurus.
"Kamu ngapain sendirian disini?" tanya Azhar memberanikan diri menghampiri gadis yang sibuk bermain dengan bunga bunga cantik warna warni yang mekar.
~BERSAMBUNG~