“Ya benar, bunuh saja, pecahkan kepalanya!” Kozumi menarik napas kembali, cukup dalam mengisi rongga di paru-parunya. Hari masih pagi, tapi ia sudah merasa energi tubuhnya terkuras sekali. Kozumi merenggangkan tubuhnya lalu menoleh ke arah Takeru yang sedang asyik mengupil, sementara masyarakat kota yang memang sedang mengerumuni Takeru masih berada di sana, perhatian mereka terfokus pada Takeru, yang artinya mereka menontoni seorang bocah yang sedang mengupil. Kozumi kembali menepuk wajahnya, seraya mengumpat. “Si bod*oh itu!” Kozumi segera menarik Takeru dengan kasar dari posisinya yang sedang berjongkok. Dengan langkah terburu-buru dan cepat, Kozumi membawa langkahnya untuk berjalan menggusur bocah itu bersamanya.seraya melangkah, Kozumi menggerutu di dalam hatinya. Apakah Takeru boc

