Sang raja terlihat diam tercenung dengan alis berkerut, ekspresinya terlihat masam. “Aku khawatir bahwa kau datang ke sini dalam kondisi khusus yang sulit diobati.” Ungkap sang Raja dengan raut wajah yang masih terlihat masam juga bercampur keraguan dan cemas.
Kozumi yang mendengar itu hanya bisa melirik Takeru dengan raut wajah yang juga cemas.
“kondisi khusus?” ulang Takeru dengan alis menukik.
“Ya, kondisi khusus yang menimpa para pendatang baru. dan itu cukup sulit untuk ditangani.”
“kondisi sulit apakah itu?” kali ini Takeru dan Kozumi bersuara bersamaan. Oculus sang maha agung, terlihat diam untuk sesaat seraya menggaruk area dagunya yang ditumbuhi janggut, “Ini hanya baru pradugaku, kita baru akan mengetahui kebenarannya saat kita melakukan pemeriksaan pada si pendatang baru.”
Kozumi dan Takeru mengangguk, namun seraya menganggukkan kepala, pikiran dua orang itu berseliweran tidak focus, mereka memikirkan maksud dari kondisi khusus yang disebut oleh Oculus.
“Kalau begitu, apa saja yang harus dipersiapkan untuk upacara pemberian kekuatanku?” tanya Takeru sedikit tidak sabar. Kozumi hanya bisa ikut menganggukkan kepala ikut bersemangat untuk segera membuat upacara pemberian kekuatan Reverie pada Takeru, namun sang raja justru menatap mereka dengan tatapan aneh.
“Upacara pemberian kekuatan Reverie? Sekarang?” tanya sang raja diangguki kozumi dan Takeru, lalu keduanya berpencar untuk mempersiapkan diri. Takeru membuka baju, lalu bergaya seolah ia akan mendapatkan kekuatan besar, lalu Kozumi yang sibuk memindahkan setiap barang yang berada di ruangan itu agar menjadi ruangan yang layak untuk melakukan upacara pemberkatan kekuatan visi Reverie.
“Tunggu,” pinta snag raja, namun dua orang itu malah terlihat sibuk. Saat Raja hendak meminta Kozumi untuk berhenti, gadis itu sedang berbicara dengan beberapa petinggi kerajaan untuk membantunya mempersiapkan upacara.
“Saya sedari tadi jadi harus direpotkan pendatang baru itu, dan aku sudah lelah. Anda juga mendnegar sendiri bukan hal yang dikatakan Yang Mulia Agung Oculus bahwa kekuatan saya habis karena saya terus membantunya agar bisa di sini, saya mohon.” Ungkap Kozumi yang tidak dijawab langsung oleh para petinggi, karena tentu saja para petinggi istana akan mengikuti apa yang diperintahkan raja.
“Tolong bantu aku, oke?” Tak menyerah, Kozumi meminta bantuan ke arah petinggi lain, ia terlihat tak segan untuk memohon.
Sang Raja hanya bisa menarik napas, ia lalu menarik napas dan melihat Takeru dalam posisi kuda-kuda seraya menarik dan menghembuskan napas melalui hidungnya. Sang raja menepuk kepalanya lelah lalu ia menepuk tangan meminta pda dua orang itu untuk berhenti. “Apakah kalian tidak bisa mendengarkan ucapanku terlebih dahulu? aku tidak bisa memberi melakukan upacara karena hari ini ada sekitar serratus orang yang harus kembali aku berkati termasuk kau, rangking nomor dua, Kozumi. Kau tahu bahwa saat portal terbuka sebaiknya kau tidak memasuki portal itu. Tapi kau malah memasuki poral itu dan menghabiskan energimu dengan sia-sia.” Ungkap sang Raja menatap Kozumi dengan tatapan tajam. “Untung saja kau masih tetap bisa menghadapi Monster tipe enam meter itu dengan kekuatan yang terbatas. Tapi jangan melakukan lagi hal seperti itu. Kau tidak tahu bahwa monster bisa saja membunuhmu.” Ujar raja menegur salah satu phantasiae hunter terbaik yang dikenalnya.
Kozumi yang semula sibuk sendiri akhirnya terdiam, “Saya memohon maaf, yang mulia agung,” ucap Kozumi tertunduk. Dua tangan berada di depan tubuhnya menunjukkan ekspresi bersalah.
“Dan kau,” kali ini sang raja menatap kea rah Takeru. “Kekuatan ku sementara ini tidak cukup untuk memberimu kekuatan. Setiap hari pemberkatan Reverie, dibatasi sampai maksimum serratus orang, dan hari ini kau menjadi orang ke seratus satu. Datanglah lagi besok jam sepuluh pagi, dan kau akan menjadi orang pertama.” Ungkap sang raja lalu mengalihkan tatapannya dari Takeru untuk tidur. “Sekaran g pulanglah dulu, besok datang lagi.” Ujar sang raja seraya mengibaskan tangan di udara, mengusir dua orang itu secara tidak langsung. Takeru dan Kozumi terdiam dengan tatapan pasrah. Jika raja mengatakan bahw aia sednag di batasnya, maka upacara tidak akan bisa dilakukan, mau berusaha sekuat apa pun. Mau memohon-mohon, bersujud darah pun, percuma karena masalahnya ada di sumber kekuatannya.
“Kami mengerti, kalau begitu kami pamit.” Ungkap Kozumi menundukkan kepalanya memberi sikap hormat, tangan kanannya menarik Takeru yang berdiri tepat di sampingnya, mengajak pemuda itu untuk keluar dari istana ini—eh Kozumi lupa bahwa Takeru mungkin tidak tahu bahwa ia sedang berada di istana.
Namun saat Kozumi berusaha menarik tangan pemuda itu, pemud aitu tidak mau bergeming dan tetap berdiri di sana, mengeraskan diri seperti batu.
“Hei apa yang lakukan?” tanya Kozumi sinis, namun pemuda itu tidak tetap tidak bergeming. Kozumi berdecak seraya membolakan netranya. Ah Kozumi pasti melupakan fakta bahwa Takeru adalah orang yang tidak bisa mengerti ucapan seseorang dalam sekali ucap. Berapa kali Kozumi sudah menjelaskan keadaan yang terjadi, tapi Takeru selalu bertanya ‘ha’ ‘ha’ dengan ekspresi bingungnya meminta Kozumi menjelaskan kembali.
“Saya mohon, tolong berikan saya kekutan—argh! Apa yang kau lakukan, ini sakit uhuk-uhuk.” Takeru terbatuk-batuk saat ia merasakan bahwa ada suatu benda yang mengait lehernya dan menarik lehernya itu dnegan keras hingga membuat Takeru terbatuk-batuk. “A-apa yang kau lakukan—uhuk! Uhuk!” Takeru harus berjalan mengikuti gerak Kozumi saat ia menyadari bahwa rupanya sedari tadi benda yang menarik lehernya itu adalah tongkat hockey Kozumi.
“Kami mohon undur diri.” Ucap Kozumi menganggukkan kepala pada Yang Mulia Raja Oculus, lalu pada deretan petinggi istana yang berdiri di sebelah kanan dan kiri. Setelah selesai mengundurkan diri dan pamit, Kozumi menarik Takeru keluar dari istana.
Takeru melepaskan lehernya dari kaitan tongkat hockey Kozumi, menatap gadis itu dengan tatapan penuh emosi, bahkan napasnya sidah terlihat naik turun karena ia berusaha meredam kekesalannya pada gadis di sampingnya itu. “Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau malah membawaku keluar dari istana saat aku mencoba memohon—”
Kozumi yang semula berada di depan Takeru dan membelakangi pemuda itu, menolehkan kepalanya kea rah Takeru dengan tatapan merendahkan khasnya, “Bagaimana jika raja tetap tidak melakukan upacara?” tanya Kozumi serius. Takeru menarik napas dalam sebelum ia menjawab pertanyaan itu, “Ya, tentu saja aku akan terus memohon. Aku tidak mau terus terlihat seperti orang buta dan bodoh di sini hanya karena aku tidak bisa melihat apa pun yang ada di sini selain warna putih.” Ungkap Takeru dengan tulang wajah tegas menunjukkan bahwa ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
Kozumi menghela napas, lalu kembali memutar bola mata, “Lalu bagaimana jika raja tetap tidak memberikan mu upacara itu?” tanya Kozumi sekali lagi menanyakan pertanyaan yang sama, entah menguji konsistensi ucapan Takeru sebagai pria, atau ia memang hanay mengerjai Takeru.
“Tentu saja aku akan terus memohon! Aku bahkan bisa bersujud jika raja tua itu memintanya.” Takeru menjawab dengan tanpa ragu sedikit pun, dan Kozumi yang mendengar itu, hanya bisa mengela napas untuk kesekian kalinya dengan netra yang terpejam, lelah menghadapi sifat keras kepala seseorang seperti Takeru.
“Kalau begitu, Kau seharusnya berterima kasih padaku karena kau tidak membiarkanmu memohon apalagi sampai bersujud-sujud. Kau hanay akan mempermalukan dirimu sendiri dan kau tidak akan mendapatkan kekuatan itu.” Terang Kozumi membuat Takeru mengernyitkan alis menatap gadis itu aneh.
“Bagaimana kau tahu saat kita tidak mencoba—” Kozumi berdesis dengan luapan emosi yang sudah berkumpul di ubun, terlihat dari Kozumi yang menggigit bibirnya sendiri gemas.
“Apakah kau sungguh bod*oh, otakmu tidak jalan, atau telinga mu itu berfungsi hanya di wkatu-waktu tertentu saja? Kau sudah mendnegar tadi apa yang dikatakan Yang Mulia Agung katakan? Ia berada di batasnya, ia tidak akan bisa melakukan upacara pemberkatan lagi untuk hari ini. yang artinya, mau berusaha sekuat apa pun. Mau memohon-mohon, bersujud, menangis darah pun, percuma karena masalahnya ada di sumber kekuatannya. Masih tidak mengerti?” Tanya Kozumi seraya menarik napas berat, “Singkatnya, ia sendiri kehabisan energi. Karena itu, mau sekuat apa pun, sekeras kepala apa pun kau memohon-mohon, raja tidak akan memberikan kekuatan Reverie padamu, itulah alasan kenapa raja meminta kau datang lagi besok.” Ungkap Kozumi dengan perasaan yang sebenarnya masih sedikit gondok pada Takeru. Ia meras abahwa Takeru benar-benar menghabiskan energi Reverie dan energi tubuhnya.
“Aku? Bukan kah seharusnya kita?” tanya Takeru yang membuat Kozumi seketika memandangnya dengan tatapan rendah.
Kozumi berdecak, menatap Takeru tak habis pikir. “Apa katamu? Kita? Jangan bercanda denganku.”