Chapter 19

1152 Kata
Sang raja terlihat tak bergeming, “Keputusan ku sudah bulat, bawa orang itu pergi ke penjara bawah tanah.” Takeru memundurkan tubuhnya, ia memang belum melihat ada satu dua orang yang menghampirinya untuk menggusurnya, namun ia tetap mengedarkan tatapannya dalam posisi awas. Namun tiba-tiba ada suara muncul memecah konsntrasi Takeru juga sang yang Mulia Agung. “Tunggu!” seorang gadis muncul, lalu enundukkan kepalanya hormat,  “Yang Mulia Agung,” Keadaan yang cukup itu terpecah saat mereka mendengar suatu suara halu mengalun di telinga mereka. Takeru dan sang raja, menoleh nyaris bersamaan ke arah kanan saat kedua orang itu mendengar suara yang amat sangat mereka kenal. “Kozumi!” ucap Takeru dengan raut wajah sumringah. Takeru sungguh bersyukur sekarang akhirnya Kozumi sadar, dan bahkan ia muncul dengan gagah di saat Takeru sedang membutuhkan bantuan seseorang yang bisa menjelaskan keadaanya. “Kau sepertinya sudha mengisi kembali kekuatan mu, ya?” tanya Sang Raja dengan raut ramah. Takeru hanya bisa menatap kedua orang itu canggung seraya berkali-kali bersyukur di dalam hatinya. “Berkat kebaikan Anda, Yang Mulia.” Ungkap Kozumi menundukkan kepalanya dengan hormat. Sang raja tersenyum tipis lalu manggut-manggut dengan ekspresi khas orang tua—bagi Takeru. “Pendatang baru itu, saya yang menemukannya.” Ujar Kozumi dengan tatapan yang merendah diri, membuatnya terlihat sangat sopan. Namun di lain sisi terlihat aneh bagi Takeru karena sebelum nya gadis itu selalu bersikap bar-bar seperti orang yang terkena chunibyo. “Ah jadi kau yang menemukannya, ia sungguh tidak sopan karena ia tidka mau menjawab pertanyaan yang aku lontarkan padanya?” keluh sang raja membuat Takeru membelalakkan mata. Takeru mengerutan alis merasa sungguh kebingungan. Apakah ia sedang berada dalam suatu permainan di mana ia harus bisa membaca isi pikiran orang tua yang mengaku bahw aia adalah raja di dunia ini? “Pertanyaan? Maaf yang Mulia Agung, bisa kah anda mengulang pertanyaan anda?” “Aku bahkan mengulang pertanyaan itu lebih dari sepuluh kali, dan masin memintaku untuk mengulang pertanyaan ku?” ungkap sang raja yang membuat Takeru mulai merasa geram. “Maaf yang mulia yang katanya Agung, aku tidak mendengar pertanyaan—Urgh!” Gerutuan Takeru tertgantikan hantaman ujung tongkat Kozumi, Kozumi menoyor Takeru dengan tongkatnya dan membuat Takeru terhuyung ke belakang tidak bisa melanjutkan ucapannya. Tapi memang itu tujuan Kozumi, bocah itu hampir saja melakukan hal konyol dan berbahaya yang bisa membuatnya dibenci masyrakat. Kozumi bersyukur karena ia datang di waktu yang tepat. “Apa yang kau lakukan?! Itu sakit!” gerutu Takeru memegangi jidatnya yang sedikit merah karena toyoran dari tongkat Kozumi, namun Kozumi tak sedikit pun menunjukkan ekspresi bersalah, ia terus menunjukan wajah kalemnya yang terlihat bagai topeng di mata Takeru. Takeru mengepalkan tatapannya saat ia melihat sorot netra Kozumi, Si chunibyo itu tidak sedikit pun meminta maaf pada Takeru dan malah menatapnya dengan tatapan remeh. Takeru semakin naik pitam, Kozumi yang menyebalkan, pangeran muda yang jorok dan raja yang juga menyebalkan? Dunia macam apa yang sebenarnya sekarang sedang Takeru terdampar di dalamnya? Kenapa semua makhluk di sini sangat menyebalkan dan tidak ada satu pun yang normal? Di dimensi mana sebenarnya Takeru tersesat? Pada akhirnya Takeru hanya bisa diam seraya melipat tangan di atas perutnya, memang sudah hukum alam bahwa di belahan dunia mana pun, di dunia mana pun dan di dimensi mana pun, orang meneybalkan, dan jorok, lalu orang bernasib s**l sepertinya akan selalu ada. Takeru menghela napas samar, ia kira di universe atau dimensi lain, Takeru bisa mendapatkan keberuntungan. Misal karena sekarang ia berada di dimensi lain di mana orang lain tgidka ada yang mengetahui latar belakangnya, orang-orang akan melihatnya sebagai orang baru tanpa sejarah yang memalukan atau aib, dan mereka akan sedikit menghormati Takeru. Tapi Takeru jelas terlalu berharap berlebihan. Takeru yang semula sedang menatap tidak jelas ke kanan kirinya dan menggerutu dalam hati sehingga ia tidka mendengar pembicaraan antara Kozumi dan sang yang mulia agung, menghentikan tatapannya menatap ke arah kaki Kozumi. Entah ini hanya penglihatannya yang bermasalah karena sedari awal ia memasuki dimensi ini, ia tatapannya terkadang terlihat sangat jelas, namun terkadang buram, atau yang paling parah, terkadang ia tidka melihat satu hal pun selain warna putih. Takeru memperhatikan kaki Kozumi lebih lama, namun detik selanjutnya Takeru merasa pandangannya menggelap, dengan sebuah rasa ngilu menyerang kepalanya. “Dasar m***m! Kau ingin mengintip isi rok ku lagi setelah kau melihatnya tadi?!” gerutu Kozumi, “Dasar mes-“ untungnya Takeru bisa membawa tangannya dnegan cepat untuk menyilang di atas kepala, melindungi dirinya dari pukulan tongkat Hockey Kozumi. “Siapa yang mengintip?! Aku tidka mengintip bahkan saat aku bilang aku mengintip isi rok mu, tapi itu tidak benar-benar mengintip! Aku—” “Lelaki itu, sekalinya mes*um maka akan tetap mes*um—” “Kozumi! Kau salah paham,” “Mana mungkin aku salah paham? Jangan mentang-mentang karena kau tidak melihat apa pun selain cahaya putih, kau pikir di tempat ini tidak ada siapa pun, ya! Lila di sana—” Kozumi melirik ke arah samping Takeru. “Ada Lila yang sedari tadi sedang bertanya pada mu, tapi kau mengabaikannya. Dan Lila mengatakan bahwa kau terus memandangi rok ku, maksud mu apa melihat rok ku seperti itu selain untuk mes*um haa?” tuding Kozumi pada Takeru, namun Takeru membawa tatapannya ke arah di mana tadi Kozumi mengatakan bahwa di sana ada seseorang yang berdiri. Takeru sontak membolakan ata, kalau begitu, jangan bilang bahwa maksud tadi yang mulia raja melontarlan pertanyaan dan Takeru tak bisa menjawabnya, karena Takeru tidak bisa melihat atau mendengar suara siapa pun selain suara Kozumi, lalu Isaac, dan terakhir Yang Mulia agung. “Ini salah paham, aku sungguh tidak mengintip rok mu!” “Ekhem,” perdebatan Kozumi dan Takeru teralihkan seketika karena dehaman dari raja. Kozumi segera membawa tubuhnya untuk kembali menghadap sang raja dalam posisi tegap. “Maafkan ketidak sopanan kami, Yang Mulia Agung.” Ujar Kozumi penuh ketulusan, sementara Takeru tidak meminta maaf dan malah lebih memilih untuk membuang tatapannya. Sedikit besar, ia masih kesal dengan sifat main mutuskan keputusan sang raja padanya. Raja itu adalah seseorang yang harus bisa memberi keamanan, keadilan dan kemakmuran pada rakyatnya. Bukan orang yang semudah itu memasukkan rakyat pendatang masuk pada penjara. “Aku sudah mendnegar dari Kozumi tentang keadaanmu. Jadi dari pertama kali kau datang,l kau tidak bisa melihat apa pun di dunia ini?” tanya Sang Raja hati-hati. Takeru yang semula memalingkan wajah, kini membawa tatapannya kembali pada sang raja, menganggukan kepala. Sang raja terlihat diam tercenung dengan alis berkerut, ekspresinya terlihat masam. “Aku khawatir bahwa kau datang ke sini dalam kondisi khusus yang sulit diobati.” Ungkap sang Raja dengan raut wajah yang masih terlihat masam juga bercampur keraguan dan cemas. Kozumi yang mendengar itu hanya bisa melirik Takeru dengan raut wajah yang juga cemas. “kondisi khusus?” ulang Takeru dengan alis menukik. “Ya, kondisi khusus yang menimpa para pendatang baru. dan itu cukup sulit untuk ditangani.” “kondisi sulit apakah itu?” kali ini Takeru dan Kozumi bersuara bersamaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN