Chapter 18

1194 Kata
Takeru mengikuti orang berambut putih bernama Isaac itu, tanpa banyak bertanya meskipun sebenarnya dalam hatinya tentu masih banyak pertanyaan yang berputar-putar tentang Reverie. Entah mengapa rasanya lebih nyaman bertanya pada Kozumi dari pada Isaac. sepertinya Takeru merasa demikian karena ia telah melewati pertarungan dengan Kozumi. “Kita sudah sampai,” ucap Isaac dengan raut wajah yang ramah dan hangat. Takeru mendongak namun sayang sekali, ia masih tidak bisa melihat apa pun. “Oh ya, tadi siapa nama mu? Aku memerlukan nama untuk menulis nama mu di papan rangking nanti sebagai Phantasiae Hunter, dengan gelar itu, orang-orang akan menghormatimu.” ujar pemuda bernama Isaac itu. “Ah itu, Takeru. Namaku Takeru.” Ucap Takeru segera diangguki oleh Isaac. “Nama yang cukup sulit diingat. Tapi baik, aku akan menuliskan nama mu nanti.” Ucap pemuda yang melangkah beberapa langkah jauh di depan Takeru. “Terima kasih,” ucap Takeru tulus, tapi pemuda itu tak menyahutinya. “Apakah Kozumi memberi tahu mu tentang Oculus Path?” tanya Isaac yang membuat Takeru refleks menundukkan kepala untuk melihat Oculus Path yang dimaksud. Namun kali ini Takeru harus mengerutkan keningnya bingung karena sekarang ada dua Oculus Path. Satu berwarna silver yang mengarah entah ke mana, dan satu lagi berwarna merah, seperti yang sebelumnya Takeru lihat. Oculus Path berwarna merah berda tepat di bawah kaki Isaac, seolah mengikuti pemuda berambut putih itu. “Ya aku melihatnya,” “Nah itulah yang akan membimbing mu menuju Oculus. Ikuti saja Oculus Path dan kau akan menemukan di mana ayahku. Aku harus melakukan persiapan acara pemurnian pada Phantasiae, monster yang tadi dikalahkan Kozumi.” Ungkap Isaac diangguki Takeru meskipun Takeru jelas tidak tahu apa lagi istilah 'pemurnian' yang diucapkan oleh Isaac. Ia hanya manggut-manggut berpura-pura sok mengerti. Takeru pikir, ia akan bertanya lebih jelas tentang upacara pemurnian pada Kozumi saja. Takeru membawa langkahnya mengikuti pola berwarna perak, dengan cahaya perak yang mengarah menuju sisi lain dari dunia yang berwarna serba putih di indera penglihatan Takeru ini. Namun seraya berjalan otak Takeru terus berpikir, jika ia tidak bisa melihat banyak hal bagaimana ia bisa melihat Isaac? Bukankah seharusnya ia juga tidak bisa melihat Isaac? Takeru mengangkat kepalanya saat ia melihat pola dengan cahaya silver itu—Oculus Path kedua yang baru Takeru lihat saat bersama Isaac, perlahan naik dan naik seolah pola itu membentuk tangga. Saat Takeru mendongak ia melihat ada seorang pria dewasa yang sepertinya berusia kepala lima, melihat dari janggut dan tingkat keriput pria itu. Lalu melihat dari pakaian mewah yang dikenakannya, sepertinya ia lah yang disebut-sebut sebagai yang mulia agung Oculus. Penampilan pria paruh baya itu bisa dibilang mirip dengan penampilan Isaac. Menggunakan pakaian serba putih dan jubah putih dengan aksen dan bordir benang berwarna perak. Takeru cukup yakin bahwa orang itu adalah Oculus yang Kozumi dan Isaac maksud. Takeru memutar otak, kebingungan memilih kata apa yang tepat untuk ia ucapkan pertama kali sebagai bentuk sapaan dan hormat. “S-selamat siang, yang Mulia Agung Oculus, s-saya ingin meminta kekuatan Reverie untuk bertahan hidup di sini—“ Raja yang bergelar yang mulia agung itu menoleh.ia juga mempunyai rambut putih yang sama seperti anak muda bernama Isaac tadi, bahkan orang tua itu memiliki warna bola mata yang sama, membuat Takeru yakin bahwa orang itu adalah ayah dari Isaac, yang artinya itu adalah Yang Mulia Agung Oculus. “Yang Mulia Agung,” Takeru kembali menyapa dan menundukkan kepalanya menunjukkan sikap hormatnya pada sang raja. Sikap hormat dan sopan Takeru berhasil mencuri atensi sang raja. Hingga sang raja menoleh dan tersenyum miring meliriknya, “Ah pendatang baru, ya?” tanya sang yang mulia, dan Takeru tidka menjawabnya karena ia merasa sang raja sudah mengetahuinya tanpa perlu ia menjawab. “Lila, catat nama anak ini.” sang raja yang sedang duduk berpangku pada kursinya—Takeru mencoba membayangkan karena sebenarnya di visi nya ia melihat orang tua dengan janggut panjang itu duduk melayang. Tubuhnya terlihat cukup kurus, pakaian keagungannya yang berbentuk jubah terlihat sedikit melorot. Setelah memanggil seseornag bernama Lila itu, sang raja tidka lagi bersuara, ia diam masih dengan dagunya yang ditahan menggunakan tangan, menjadikan sikut nya yang kurus sebagai tumpuan. Takeru hanya bisa berdiri canggung, menunggu apa yang akan dilakukan sang raja unt7uk memulai proses pemberian kekuatan Reverie seraya memegangi ujung seragamnya, melipat-lipatnya dengan perasaan sedikit was-was dan tegang. Penasaran bagaimana proses yang akan terjadi, lalu juga merasa resah, takut-takut jika ia salah dalam bersikap sehingga sang raja mendiamkannya sekarang. Satu menit, dua menit, hingga sekitar sepuluh menit, Takeru beridir dengan tangan yang saling bertaut di depan tubuh bagian depannya. Takeru membawa ujung netranya untuk mencuri pandang pada sang raja, Takeru terbelalak, mengetahui bahwa sang Raja juga tengah melakukan hal yang sama. Secepat kedipan Takeru membawa tatapannya untuk menunduk, di dalam otaknya kini ia dikerubungi pertanyaan apakah yang mulia itu memergoki bahwa Takeru dengan meliriknya dengan ujung mata? Apakah itu tindakan yang sopan? Jangan-jangan raja tidak menyukai sikap Takeru sehingga ia tidka kunjung memulai proses pemberian kekuatan Reverie itu padanya? Takeru menelan ludah, itu bukan hal yang Takeru harapkan, jika ia benar-benar tidak diberi kekuatan Reverie, bagaimana ia bisa hidupnya di sini? “Kenapa kau diam saja?” Takeru mendongakkan kepalanya tatkala ia mendengar sang raja bertanya padanya. Takeru menatap sang raja bingung, pupilnya bahkan terlihat bergerak-gerak dengan tidak fokus, tangannya saling bertaut dan saling mengusap-ngusap seperti seorang pencuri yang ketahuan mencuri dan sedang memohon untuk keringanan hukuman. Tapi Takeru lebih parah dari itu, karena ia bahkan tidak tahu apa maksud dari pertanyaan sang raja. “M-maaf?” ujar Takeru dengan ekspresi kebingungan yang sangat jelas terlihat di sorot matanya. “Kau sedang mempermainkan ku? Kenapa kau tidka mau menjawab pertanyaan yang aku lontarkan pada mu?” tanya sang raja dengan suara yang naik membuat Takeru semakin panik, Takeru ingin mengatakan bahwa ia tidak mengerti dengan pertanyaan sang raja, tapi melihat ekspresi si raja, Takeru jadi mengurungkannya. Tapi memangnya pertanyaan apa yang orang tua itu tanyakan? Takeru tidak merasa bahwa ia tadi mendengar pertanyaan sang Raja, Takeru yakin bahwa selama tadi ia mencuri pandang pasa sang raja, ia tidka mendengar pertanyaan apa pun dna tidak melihat bahwa bibir sang raja bergerak untuk bertanya. “Baik lah, karena ia mencurigakan, langsung bawa saja ke penjara. Kita lakukan Investigasi dan validasi data terlebih dahulu. kita belum tahu dari mana asalnya makhluk asing itu. Dan karena gelagatnya aneh, bisa saja anak muda ini adalah Phantasiae tipe khusus yang sudah berevolusi dan memiliki kecerdasan yang setara dengan kaum kita, tapi ia masih belum sempurna sehingga ia memiliki gelagat aneh.” Yang Mulia agung kembali menatap Takeru sekilas dari ujung kepala hingga kaki, lalu detik slenajutnya ia seolah memberi kode pada seseorang untuk membawa pergi Takeru. Takeru menggelengkan kepalanya, “Anda salah paham. Saya sungguh adalah manusia, sama seperti anda. Saya kesini untuk meminta kekuatan agar saya bisa hidup di sini!” Takeru berusaha memberi pembelaan atas dirinya sendiri. Namun sang raja terlihat tak bergeming, “Keputusan ku sudah bulat, bawa orang itu pergi ke penjara bawah tanah.” Takeru memundurkan tubuhnya, ia memang belum melihat ada satu dua orang yang menghampirinya untuk menggusurnya, namun ia tetap mengedarkan tatapannya dalam posisi awas. Namun tiba-tiba ada suara muncul memecah konsntrasi Takeru juga sang yang Mulia Agung. “Tunggu!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN