“Kalau begitu, aku akan mengantarmu menemui Yang Mulia Agung Oculus, ayahku, untuk memberimu visi Reverie, sebagai bentuk kebaikanku, naiklah.” Ajak pria itu lalu menunjuk ke arah kirinya di mana saat Takeru mengikuti arah pandang pemuda itu ia tidka melihat apa-apa.
“Jadi, kau bukan Oculus?” Tanya Takeru dengan tatapan ragu namun juga penasaran. Pemuda berambut putih itu menatap Takeru dengan tatapan seribu makna lalu tersenyum, “Namaku Isaac, aku adalah pewaris dari Oculus.” Ungkapnya dengan nada yang sangat tenag, namun Takeru dapat melihat ekspresi serius tergurat di wajahnya yang rupawan.
“A-ah, begitu, ya.” jawab takeru sekenanya. “Baik lah, bisa kita ke tempat Oculus—” Takeru menghentikan ucapannay sejenak saat ia meras ada aura dan tekanan tidak enak yang seolah menekannya dengan tak kasat mata. Takeru mendongak, mengedarkan tatapannya ke kanan dan ke kiri mencari tahu asal, bagaimana bisa ia tiba-tiba merasakan tekanan yang begitu kuat. dan saat ia kembali menatap anak bernama Isaac tadi, ia juga tengah melakukan hal yang sama yaitu mengedarkan tatapannya ke kanan dan kiri. Jadi ini bukan hanya perasaan Takeru.
“Tenang, Tenang, anak ini hanyalah makhluk asing yang tersesat di sini, wajar ia tidka tahu peraturan di sini bahwa ia harus memanggil Yang Mulia Agung dengan panggilan hormat.” Ujarnya menenangkan.
Takeru yang semula hanya bisa celingukan tidka mengerti dengan situasi yang sekarang sedang terjadi, mulai memahami keadaan, jadi orang-orang ini tidak suka jika Takeru tidka memanggil yang mulia Oculus dengan embel-embel yang mulia. Tak sulit bagi Takeru untuk segera menyadari di mana kesalahannya. Ia teringat pepatah, di mana bumi di pijak, di sana langit dijunjung. Pepatah yang dikatakan Bu Miyo saat Takeru berhadapan dengan wali kelas baru yang terus berusaha mengatur Takeru bahkan tak segan untuk terus-terusan menjadikan Takeru sebagai kambing hitam jika salah satu geng melakukan kesalahan. dan Takeru membenci guru itu. SEharusnya sebagai guru, orang itu bisa memberi contoh baik, membela mana yang salah, bukannya membiarkan kasus bullying terjadi dan saat ada seseorang yang ingin menghentikan pembulian itu, bukannya mendukung Takeru, orang itu malah menuduh justru Takeru lah biang keributan. Pada akhirnya Takeru kembali dihukum dan harus masuk kembali keruang guru untuk konsultasi. Takeru jelas tidak masalah jika ia harus menghadapi Bu Miyo berkali-kali, ia bisa berdiskusi apa pun dengan Bu Miyo bahkan ia bisa menceritakan mimpinya pada Bu Miyo tanpa malu-malu, Bu Miyo selalu mendukungnya dan bahkan tidak segan untuk memberi tahu tips, trik dan deretan universitas yang memiliki jurusan yang berkorelasi dengan mimpi Takeru. Namun yang jadi masalah adalah saat menemui Bu Miyo, maka ibunya harus ikut ke ruangan konseling, terutama jika itu tentang Takeru yang harus menemui BU Miyo karena Takeru berkelahi. Ibunay akan memakinya sebagai anak penuh masalah, pembawa s**l dan serentetan kata lain yang tidak mengenakkan bahkan membuat Takeru mempertanyakan apa artinya ia lahir dan hidup di dunia ini, lalu ia akan di paksa untuk minta maaf atas apa yang telah ia lakukan pada siswa yang berkelahi dengannya padahal Takeru tidka bersalah, ia justru berusaha menegakkan keadilan, karena menurut Takeru para Guru di sana tidka bisa mewujudkannya.
Namun Bu Miyo memberi nasihat itu, Ia teringat pepatah, di mana bumi di pijak, di sana langit dijunjung, ia mengatakan terkadang di kasus tertentu sesuatu yang dijunjung memang bukan lah sesuatu yang selalu baik. Manusia itu tidak ada yang benar-benar baik, atau benar-benar jahat. Manusia itu abu-abu. Jadi di mana pun Takeru berada, ia harus menjunjung langit yang ada di sana meskipun terkadang yang dijunjung tidak sesuai dengan apa yang kita bayangkan, atau bahkan sangat tidak kita sukai. Takeru merasa aneh mendengar itu, karena bukan kah seharusnya hal baik dan kebajikan yang dijunjung? Ia bertanya pada Bu Miyo kenapa, dan saat itu Takerumengingat dengan jelas ucapan Bu Miyo, “Maafkan aku membuatmu berpikir seperti itu, tapi kau akan mengerti saat kau sudah keluar dari sini, dan menjadi dewasa. Kau akan mengerti bahwa sebaiknya bersifat bungkam, tidka peduli dan tak acuh dapat menjadi hal yang sangat kau butuhkan, saat kau dewasa.”
“Kau melamun, kau pasti banyak memiliki tekanan hidup, ya?” tanya Isaac yang menatapnya dnegan tatapan miris. Takeru terpecah dari lamunannya lalu segera mendongakkan kepala menatap pemuda itu, “Memangnya ada ornag yang tidak punya tekanan atau masalah hidup?” tanya Takeru yang membuat si pemuda kembali menatap Takeru dengan tatapan seribu makna.
“Kau benar. Kita bisa merasakan kehidupan karena kita memiliki tujuan hidup, tekanan hidup dan masalah hidup. Dunia pasti akan sangat membosankan jika kita hidup dengan tanpa masalah.” Pemuda berambut putih bernama Isaac itu seolah sedang berangan-angan dengan senyum miring yang tersungging di bibir tipisnya, seolah ia pernah berada di dunia itu.
“Ah ya, jika kau mengenal Kozumi, bisakah kau membantuku untuk membawa Kozumi ke rumah sakit? Ia tidak sadarkan diri setelah bertarung melawan monster tadi.” Jelas Takeru diangguki Isaac.
“Onyakopong sudah membawanya ke istana, ia kehabisan kekuatan Reverie. Itu hal yang mengejutkan karena aku tahu bahwa Kozumi tidka pernah berada di situasi di mana ia kehabisan kekuatan Reverie.” Isaac terlihat sedang berpikir sejenak, “Aku akan mencari tahu penyebab kenapa ia bisa kehabisan kekuatan Reverie secepat itu. Nah karena Kozumi juga sudah di sana, sebaiknya kita menyusul. Ayo cepat naik, kau bisa menaiki yang mana pun,” Ajaknya lagi, namun Takeru lagi-lagi terlihat kebingungan apa yang harus ia lakukan karena ia tidak melihat apa pun selain pemandangan kosong dan Isaac yang sedang mengambang di udara.
“Maaf tapi aku tidak bisa melihat apa pun di sini.” Takeru berbicara jujur. Isaac kembali menoleh ke arahnya, “Tidka bisa melihat apa pun?” ulang Isaac dnegan raut wajah bingung. Takeru menghela napas, menyadari sepertinya ia benar-benar menjadi satu-satunya yang tidak bisa melihat apa pun di sini.
“Ya, apa pun. Tidak ada yang bisa aku lihat.” Takeru menjelaskan kembali keadaannya. Isaac terlihat bingung, “Itu cukup aneh karena meskipun di sini memang dimensi Reverie dan kau bukan bagian dari dimensi ini, seharusnya kau tetap bisa melihat meskipun sama-samar. Apakah di dunia sebelumnya mata mu tidak bisa melihat—”
“Di dunia ku aku memiliki mata yang sangat normal dan tajam, tidak ada masalah, satu pun.” Takeru memotong ucapan Isaac dengan nada bicara yang sedikit jengkel karena ia tahu bahwa pertanyaan seperti ini akan muncul, Kozumi sebelumnya menanyakan hal yang serupa.
“Aneh sekali, tapi ini kasus langka, kalau begitu, ke sini, kau di belakang ku saja, aku akan memberimu tumpangan sampai kau bisa bertemu ayahku.