“Berhenti melakukan itu! Kenapa kau memberikan kotoranmu pada orang-orang? Kau tidak tahu sopan santun?”
Pemuda yang semula sibuk dengan aktivitas menyebar kotoran hidungnya itu menoleh ke arah Takeru.
“Apa yang baru saja kau katakan?” Pemuda itu menatap Takeru dengan mata memicing, sebelum detik selanjutnya ia terlihat menyeringai tersenyum, “Ah, kau pendatang baru, ya?” ucap pemuda berambut putih itu seraya berjalan menghampiri Takeru, saat Takeru mendongakkan kepala, ia menemukan bahwa netra pria itu berwarna abu-abu seperti kristal yang berkilauan.
“A-apakah kau bisa memberiku kekuatan Reverie?” tanya Takeru yang membuat pemuda berambut putih itu membolakan mata.
“Ah maksud mu, Visi Reverie?” tanyanya memastikan apa yang diinginkan Takeru darinya, Takeru mengangguk. “Ya, aku membutuhkan kekuatan itu untuk bisa hidup di dunia ini. itulah yang dikatakan orang yang menolongku.” Takeru menjelaskan situasinya dengan nada yang terdengar tenang, meskipun dalam hati sebenarnya ia sedang membayangkan tingkah laku jorok apa yang akan ditujukan pria itu padanya saat nanti akan memberinya visi reverie itu. Semoga saja orang itu tidak memberinya kotoran hidung seperti yang ia berikan pada rakyat Reverie lain. Takeru jadi merasa miris karena ia pikir orang-orang yang menganggap visi Reverie sebagai berkah bernasib sangat malang karena mereka tidak tahu fakta sebenarnya keberkahan yang mereka agung-agungkan itu.
“Jadi kau ke sini bersama seseorang? Siapa?” tanya orang itu membawa langkahnya mendekat pada Takeru.
“Kozumi, kau mengenalnya?” tanya Takeru dengan raut penuh harapan. Alis pemuda berambut putih itu bertaut, “Kozumi? Kozumi yang menempati rangking dua itu?” tanyanya denganraut penasaran.
Takeru yang tentu saja tidak tahu apa yang dimaksud Rangking yang dibicarakan pemud aitu hanya bisa menatapnya bingung. ia baru datang ke sini, ia bahkan tidka tahu bagaimana bisa ia di sini, dan orang itu bertanya rangking?
“Aku tidak tahu rangking apa yang kau maksud, aku baru saja sampai di sini, dan mungkin aku ti9dka beruntung karena aku menghadapi banyak kejadian aneh di sini.” Jelas Takeru membawa stau tangannya menggaruk alis, seraya mengingat rentetan kejadian konyol yang terjadi. Tertidur di gudang, gempa bumi yang kuat, sekolah kosong, bertemu gadis chunibyo, menghadapi zombie tanpa ekspresi, lalu sekarang saat ia berpindah dimensi pun ia langsung mendapati bahwa dirinya harus me;lawan monster itu. Takeru penasaran apakah di sini ada orang yang juga sesial dirinya, atau memang hanya ia satu-satunya yang bernasib sangat s**l?
“Rangkin orang-orang paling kuat yang hidup di sini. Jika Kozumi yang kau maksud Kozumi berambut pendek, menggunakan seragam olah raga dengan rok, membawa-bawa tongkat hockey, sifatnya bar-bar dan galak, maka kemungkinan besar kita sedang membicarakan orang yang sama.” Jelas orang itu yang diangguki Tkaeru di setiap kata tenang ciri-ciri dari Kozumi. It8u adalah ciri yang sama dengan Kozumi yang dikenalnya.
“Kau sudha menjelaskannya dengan snagat detail, dan itu sama persis.” Takeru menyahut dna itu membuat orang itu tertawa seketika.
“Jadi, bisakah kau memberiku kekuatan Reverie?” tanya Takeru tak ingin terlalu basa-basi. Ia memang seornag pengecut dan penakut dengan pria yang lebih kuat darinya, atau bermain keroyokan, tapi ia tidka akan meninggalkan seorang gadis seperti Kozumi dalam keadaan tidka sadar begitu saja. Setidaknya Takeru harus bisa membawa gadis itu ke rumah sakit. Atau ke tempat yang layak bagunya untuk beristirahat.
“Kau meminta Reverie padaku? “ tanyanya dengan ekspresi yang terlihat begitu terkejut ia bahkan men unjuk dirinya sendiri dengan telunjuknya terlihat sedikit konyol. Takeru mengangguk. “Kata Kozumi aku harus menemuimu, eh tunggu, kau Oculus, kan?” tanya Takeru memastikan bahwa ia tidka salah melihat karena melihat ekspresi dari pemuda sebaya dengan penampilan yang mencolok itu sangat terkejut.
“Ahahaha, kenapa kau bisa mengira aku sebagai Oculus?” tanyanya dengan tawa terbahak-bahak tak bis amenyembunyikan perasaan geli mendnegar bahwa ia dikira sebagai Oculus Agung, yang menjadi raja dari segala raja di dunia ini. ia tertawa nyaring, seraya memegangi perutnya. Baju-bajunya yang terlihat cukup rumitg bagi Takeru karena berbentu jubah, terdapat banyak bordir berwarna silver yang berkilau gemerlapan saat tersorot cahaya matahari, lalu ornavel yang sepertinya memang terbuat dari perak, membuat langkahnya terlihat menganggu. Penampilannya aneh sekali dan menggeligak, bagi Takeru yang di bumi terbiasa menggunakan kaus dan celana pendek sehingga ia tidka kepanasan dan kerepotan menarik-narik bajuny—tentu saja, Takeru bukan lah seorang wnaita sehingga ia tidak pernah menggunkan pakaian aneh-anehd an panjang seperti yang pemud aitu gunakan. Takeru memandang miris pemuda itu, terutama sat pemuda itu berjalan ke arah di mana tadi ia muncul dengan bagian jubah yang menjuntai. Saat ia memutar tubuhnya, jubah panjang itu terlihat membelit kakinya dan beberapa kali membuat bocah itu-pandnagan Takeru tentang si pemuda yang sebaya dnegannya itu menurun. Kini Takeru malah merasa bahwa ia sedang melihat bocah yang dipakaikan Hakama, dan Hakama itu kepanjangan hingga membuat langkahnya kesulitan.
”Apa yang kau tertawakan?”
Takeru tersadar dari tawanya dan segera membawa ekspresinya untuk tenang dan lebih serius. Jika orang ini benar-benar oculus, untuk mendapatkan kekuatan dengan mudha, maka Takeru harus memberi kesan yang baik atau bahkan lebih bagus jika ia bisa membuat orang itu berpikri bahwa Takeru adalah orang yang baik. Karena kekuatan itu pasti hanya diberikan pada orang-orang yang baik untuk menjadi pahlawan.
“Maaf, aku pikir aku hanya tak bisa menahan tawa mendengar bagaimana kau mendeskripsikan Kozumi. Kau menyebutnya bar-bar pemarah dan lain sebagainya. Aku sedang membayangan bagaimana ekspresi Kozumi saat mendengarmu mengatkan itu.” Ungkap Takeru yang seketika membuat ekspresi pria itu kembali biasa. Namun kali ini pemuda itu menatap Takeru dengan tatapan datar dan dingin. Saat Takeru menyipitkan netrannya memastikan ia tidak salah melihat, ia justru melihat bibir pemuda itu sedang bergumam sesuatu. Takeru terdiam, ia tidka bisa dengan jelas melihat apa yang digumamkan pemuda itu. Takeru pada akhirnya memilih men yerah dan mngalihkan perhatiannya untuk tidak memperhatikan lagi pemuda itu.
“ahahaha….” Pemuda itu terlihat tertawa hambar, “Ia pasti akan membunuhku.” Ucapnya dengan tangan yang menahan dagu, tatapannya memicing, tapi bukan memicing tajam, melainkan memicing terlihat miris. Konyolnya, Takeru pun menunjukkan ekspresi yang sama seolah mereka sudah mendiga, tahu dan bahkan membayangkan bagaimana reaksi Kozumi.
“Hahaha … mengerikan.”
Setelah kalimat itu keluar, Takeru dan pemuda itu saling bertukar pandang kaget. Mereka memiliki pemikiran yang sama tentang Kozumi dan sekarang mereka merespon dengan reaksi yang sama, bahkan bukan hanya kalimat yang sama, kata-kata yang dipilih bahkan hingga nada bicara keduanya terdengar sama. Keduanya terlihat terkejut lalu saling mengalihkan tatapan. Mereka merasakan perasaan geli sendiri.
“Kalau begitu, aku akan mengantarmu menemui Yang Mulia Agung Oculus, ayahku untuk memberimu visi Reverie, sebagai bentuk kebaikanku, naiklah.”