Chapter 15

1386 Kata
Takeru membawa tatapannya untuk mengekori akar yang meskipun hanya pola-pola di atas tanah, jika diperhatikan, pola-pola itu seolah menggeliat seolah hidup. Dan lagi dibanding nmengatakan bahwa pola itu adalah akar, dalam jarak sedekat ini, Takeru justru meras bahwa benda itu seperti tumpukan ular yang menggeliat membuatnya sedikit merasa ngeri. Pola itu terlihat semakin jelas dan bercahaya saat Takeru membawa tatapannya untuk menyusuri pola itu. Firasatnya mengatakan bahwa ia harus mengikuti pola itu sampai ia berhasil menemukan Oculus, lalu meminta kekuatan Reverie seperti Kozumi jelaskan. Saat Takeru membaw alangkahnya untuk melihat seberapa jauh panjang dari pola itu, rasa kesal memb uat Takeru menggerutu saat ia melihat sebarapa jauh pola ini memanjang, cukup jauh. Bahkan dari tempatnya berdiri saja, ia tidak bisa melihat ujung pola itu. Takeru menoleh ke arah Kozumi untuk sejenak, jika ia menyusuri pola ini artinya ia harus meninggalkan Kozumi yang sedang tidak sadarkan diri sendirian di sini. Ia jadi merasa sedikit bimbang untuk meninggalkan gadis itu atau tidak. Tapi jika ia berdiam di sini dan tidak menyusuri pola itu untuk menemukan Oculus-Oculus itu maka memilih resiko untuk menjadi orang buta. Dan karena keadaan Kozumi yang tidak sadarkan diri, maka ada lebih banyak masalah yang mungkin akan terjadi. Takeru menghela napas, dan memantapkan hatinya untuk mengikuti pola Oculus itu sampai ia mendapatkan kekuatan Reverie. Setelah ia mendapatkan kekuatan Reverie, ia akan kembali dna menolong Kozumi. Dengan tekad yang sudha bulat, pria itu membawa langkahnya untuk mengikuti pola itu, namun sebelum pergi ia berdoa semoga Kozumi baik-baik saja, atau setidkanya gadis itu bisa segera bangun. Takeru melanjutkan langkahnya dengan langkah panjang dan cepat, semakin ceat ia berjalan, maka semakin cepat ia bisa menemui Oculus, dan semakin cepat ia mendapatkan kekuatan, semakin cepat ia bisa kembali ke sini dan membantu Kozumi untuk mendapatkan pertolongan medis. Meskipun gadis itu cukup sombong sebagai orang asingk, tapi Takeru harus mengakui bahwa ia memiliki hutang budi pada Kozumi, tanpa Kozumi ia mungkin tidak akan sanggup melawan zombie-zombie yang merupakan siswa-siswi sekolah nya itu. Takeru merasa bulu kuduk merinding membayangkan jika ratusan siswa itu membunuhnya dengan semua alat yang ada di sekolah. Seraya berjalan mengikuti pola, Takeru mengedarkan tatapannya, dunia ini begitu hening dan semuanya berwarna putih, pada saat pertama kali kedatangannya, ia merasa bahwa tempat ini sempurna untuk dijadikan tempat tidur. Namun perlahan dunia berwarna putih yang membuat Takeru merasa bahwa ia sedang berada di suatu ruangan dengan nuansa putih ini membuat Takeru jadi teringat dengan sebuah berita yang sempat ia baca di kora, berita di suatu negara di asia barat yang berkonflik dan bahkan sampai saat Takeru datang ke tempat ini, negara itu masih berkonflik. Yang membuat berita itu menarik perhatian seorang Takeru Kugisaki yang malas membaca apalagi belajar adalah headline yang ditulis dengan sangat berlebihan bagi Takeru ‘Ruang p********n putih, p********n yang paling keji.’ Saat membaca headline itu Takeru berpikir mungkin di ruangan itu para tahanan disiksa dengan k**i. Tapi ternyata dugaan Takeru salah besar. Nyatanya para tahanan hanya disuruh tinggal di ruangan putih itu dan mereka tetap diberi makanan agar hidup. Tidak ada p********n karena tidak ada interaksi antara tahanan dengan tahanan lainnya, atau tahanan dengan para petugas. Takeru saat itu merasa itu snagat aneh, karena, bukankah tinggal di ruangan putih dan memisahkan para tahanan dari tahanan lain adalah keputusan yang snagat baik dan bijak? Takeru sering mendengar atau bahkan membaca berita dari koran, tentang banyaknya tahanan yang bisa tewas di sel karena satu sel berisi banyak orang. Para tahanan ini akan melakukan perpeloncoan pada tahanan yang baru masuk atau paling lemah, dojadikan b***k dan disiksa, bahkan  mendapat pelecehan meskipun mereka adalah sesama pria. Takeru tak pernah membayangkan bagaimana jika suatu hari ia berada harus di tempat seperti itu. Berada di sekolah dengan keusilan geng Aiba saja sudah membuat hampir setengah hidupnya kacau. Jadi saat berita itu menyatakan bahwa siksaan ruangan putih adalah siksaan paling k**i, Takeru merasa itu sangat berlebihan dan konyol. Ia malah jadi membayangkan dan penasaran bagaimana tinggal di ruangan yang semuanya berwarna putih. Taeru menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidka sedikit pun terasa gatal. Ia tiba-tiba saja teringat berita itu karena sekarang ia berada di ruangan putih yang seperti ruangan putih k**i dalam berita. Takeru tercenung berpikir, apakah karena ucapan itu, ia jadi berada di sini sekarang? Apakah karena ia mengatakan ingin mencoba berada di dunia putih, dewa mengabulkannya dan membawanya ke dimensi ini? “Jika ya, aku mungkin harus berterima kasih dan bersyukur. Setidaknya di sini ia tidak bertemu dengan geng Aiba, tidak ada yang membuliku, tidka perlu bertemu dengan nenek sihir yang memaksakan mimpinya padaku, dan menyuruhku belajar gila-gilaan padahal aku tidka menyukainya. Di sini tidak terlalu buruk, mungkin aku akan betah tinggal di sini.” Ungkap Takeru bermonolog dnegan dirinya sendiri. Angin tiba-tiba berhembus lagi kali dan lagi-lagi angin itu muncul dengan arah yang berlawanan dari posisi Takeru. Takeru mengangkaty satu lengannya, menutup hiudng dan mulutnya dari debu putih yang dibawa oleh angin itu. Seraya terbatuk, Takeru harus memejamkan netranya. Terasa janggal sekali karena sebelumnya di dunia ini tidak ada ada angin. Takeru mengedarkan tatapannya meskipun netranya kesulitan melihat. Dan sat ia membuka mata lagi, angin itu tiba-tiba saja terhenti. “Kalau begitu, syukurlah jika kau betah di sini.” Pemuda dengan tubuh jangkung itu nyaris meloncat dari temannya saat ia mendengar suatu suara menyapa indera pendengarannya dari arah samping. Ia sontak menoleh, dan mendapati bahwa seorang pria dengan pakaian seperti jubah tengah duduk melayang dalam posisi tidur menyamping, satu tangannya ia gunakan untuk menahan kepalanya satunya yang lain tengah menggaruk-garuk perutnya. Menurut penglihatan Takeru, Takeru menduga bahwa pemuda itu mungkin berusia sama dengannya. Pemuda itu berambut cukup panjang untuk ukuran laki-laki, tapi rambutnya itu hanya panjnag di bagian tertentu, yaitu bagian depan yang dekat dengan telinga, sementara bagian belakang dan samping, terlihat cukup keriting dan pendek. Yang paling mencolok membuat Takeru merasa aneh, pria itu memiliki warna rambutg yang sangat unik. Rambut orang itu berwarna putih, bukan blonde tapi putih yang mirip dengan warna butiran pasir yang dilihat Takeru tanpa kekuatan Reverie. “Astaga! Siapa kau?” hentak Takeru ke arah pemuda itu. Bukannya m,en jawab pertanyaa Takeru, pemuda itu malah membawa tangannya untuk mengupil dan mengubek-ubek isi kuping itu dengan ekspresi keenakan yang membuat Takeru merasa geli dan mual. “Siapa aku? Tentu saja aku malaikat. Kau melihat di hadapan mu ada cahaya yang b egitu terang benderang dan suci, alami tanpa menggunakan senter. Tentu saja kau melihat malaikat.” Sahut pemuda itu lalu menoleh ke arah kiri dengan upil yang masih menempel di tangannya. “Ah kau menginkan berkah, tentu saja aku akan memberimu berkah,” ucap pemuda itu masih menghadap ke arah kiri dan terlihat menjulurkan tangan itu seolah ia sedang menempelkan sesuatu di sana. Takeru menghela napas berat, lagi-lagi ia bertemu orang aneh, selain aneh orang ini sangat jorok! Takeru mengakui bahwa ia jorok, tapi ia tidak pernah mengupil dan menggaruk-garuk p****t di hadapan orang lain. “Ini berkahmu, kau akan mendapatkan keberuntungan!” pekik pemuda itu yang seketika membuat Takeru menyadari sesuatu, ia lagi-lagi lupa fakta bahwa apa yang dilihat Takeru dan makhluk yang berada di sini, berbeda. Takeru tidka bisa melihat orang lain, dan hanya bisa melihat orang-orang tertentu, seperti Kozumi. Lalu sekarang ia bisa melihat orang ini—Takeru membawa tatapannya tgutun untuk melihat pola akar yang Kozumi sebut sebagai Oculus Path. Tanda pola itu berhenti tepat di bawah  kaki pemuda itu saat pemuda itu menurunkan kakinya dan berjalan ke sisi berlawanan, “Kau ingin diberi berkah juga? Tentu saja aku akan memberimu.” Ucapnya dengan nada bicara yang sangat lembut, pemuda itu memiliki wajah yang rupawan—tolong jangan memikirkan hal yang seharusnya tidak kalian pikirkan, tapi Takeru menilai pria itu sekarang dari sisi rupawan dan kejujurannya. Tapi ia sungguh jorok karena ia kembali memasukan jarinya pada lubang hidung dan menempelkan hasil dari galian hidungnya pada seseorang dari penghuni dunia ini—menurut Takeru yang meminta berkah. Takeru sontak membolakan matanya dan menatap pemud aitu dengan tatapan kesal. Apakah pemuda aneh itu baru saja menempelkan kotoran hidungnya pada seseorang dan menyebut itu sebagai berkah?! “Berhenti melakukan itu! Kenapa kau memberikan kotoranmu pada orang-orang? Kau tidak tahu sopan santun?” Pemuda yang semula sibuk dengan aktivitas menyebar kotoran hidungnya itu menoleh ke arah Takeru. “Apa yang baru saja kau katakan?” Pemuda itu menatap Takeru dengan mata memicing, sebelum detik selanjutnya ia terlihat tersenyum, “Ah, kau pendatang baru, ya?”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN