Takeru merasa de ja vu, ini kejadian yang sama dengan saat Kozumi jatuh karena serangan dari monster yang baru saja mereka kalahkan. Ia mengangkat satu tangannya di atas udara hendak menyentuh bagian atas kepalanya memastikan apakah ada penghalang yang menahan Kozumi, namun belum sempat jari telunjuknya, Takeru merasakan kelibatan angin yang sangat kuat, terbang melewatinya. Takeru refleks mengangkat kepalanya penasaran untuk memeriksa, apa yang baru saja melewatinya, namun tepast saat angin itu melewatinya, ia mendengar sorakan dari banyak orang yang bersorak-sorai seolah menyambut seseorang, dan di saat bersamaan Takeru dapat melihat ada tanda merah di bawah kakinya yang muncul di atas tanah membuat pola seperti akar yang terus bergerak maju membuat pola seolah akar itu benar-benar hidup, pola itu terus terbentuk seiring dengan angin yang bergerak dengan cepat berlalu.
“Apakah, itu Oculus Path?” gumam Takeru berusaha mengingat penjelasan Kozumi tentang apa yang dimaksud dengan Oculus Path tadi. Dan sepertinya dugaannya tak salah. Takeru tercenung, apakah artinya sang raja sekarang sedang berada di dekatnya dan hendak mengalahkan monster yang baru saja menyerang mereka? Takeru hendak mengikuti akar itu berpikir abhwa mungkin gambaran akar di atas tanah, atau yang Kozumi sebut Oculus path ini adalah suatu penunjuk kemana Takeru harus pergi. Namun Takeru mengurungkan niatnya saat melihat Kozumi yang masih belum sadarkan diri.
“Kozumi! Kozumi?” Takeru berusaha memanggil Kozumi dengan memanggil-manggil nama gadis itu, tapi Kozumi tidka bergeming dari posisinya yang sedang terbaring di atas suatu penahan yang transparan, dan Takeru tidka tahu benda apa itu. Menatap gadis itu, Takeru terlihat menarik napas berat. Kini ia sudah kembali buta dan tidak melihat apa pun seperti pemukiman, atau pasar yang tadi ia lihat di sini.
Takeru menatap Kozumi sekali lagi, dengan tatapan penuh ke-khawatiran, sekarang, apa yang harus ia lakukan? Ia tidka tahu kemana tujuannya selanjutnya, Kozumi lah yang berjanji akan mengantarkannya. Dan lagi ia merasa terombang ambing sekarang karena ia tidak tahu harus kemana pergi dan harus kemana ia membawa Kozumi dalam keadaan tidak sadarkan diri. Meskipun sebenarnya dengan kelemahannya yang tidak memiliki kekuatan Reverie-Reverie seperti Kozumi, keadaan ini cukup menguntungkan karena sejauh ini ia tidak perlu merasakan panas, kedinginan atau hal-hal lain seperti yang ia rasakan saat ia mendapatkan sedikit kekuatan Reverie dari tongkat hockey Kozumi. Tapi sepertinya keadaannya justru akan berbanding terbalik dengan keadaan Kozumi. Bis ajadi Kozumi akan merasakan kepanasan dna kedinginan jika ia berada di luaran seperti ini.
Takeru menoleh ke arah tongkat Hockey Kozumi menyadari bahwa ia hampir melupakan tongkat itu. Saat Takeru menyentuh bend aitu, ia berpikir bahwa ia mungkin bisa mendapatkan kekuatan itu kembali. Dengan pemikiran sederhana itu, Takeru membawa tangannya untuk menggenggam tongkat Hockey Kozumi. Ia menatap tongkat itu beberapa saat lalu detik selanjutnya ia memejamkan netranya, meneggelamkan dirinya berusaha untu fokus, meskipun sebenarnya jika boleh jujur ia meras ageli sendiri dengan posisi yang ia lakukan sekarang. Beberapa waktu lalu ia meledek KOzumi sebagai gadis chunibyo, dan sekarang ia sendiri membawa tubuhnya dalam posisi seolah-olah ia sedang menunggu kekuatan muncul dari tongkat hockey Kozumi. Takeru menghela napas, inilah yang disebut Ironi.
Takeru menggelengkan kepalanya kuat, menyadari bahwa karena perasaan asing, canggung dan tidak nyaman, membuat Takeru malah jadi tidak bisa fokus, ia harus fokus untuk mendapatkan kembali kekuatan Reverie. Jika ia tidak bisa mendapatkan kekuatan Reverie itu maka ia dan Kozumi akan terus terluntang-lantung tidak jelas.
“Fokus, fokus. Dapatkan kembali kekuatan seperti tadi.” Takerumemejamkan netranya, bahkan ia membawa kakinya untuk dalam posisi kuda-kuda, berharap dengan keseriusan dan fokusnya akan membuat dirinya bisa mendapatkan momen untuk memiliki kekuatan Reverie tgadi jadi ia bisa melihat keadaan yang sebenarnya, bukan pemandangan seolah ia berada di ruangan yang serba berwarna putih ini. ruangan ini sebenarnya sangat menakutikan dnegan keheningan dan kesunyian. Tidka ada suara, tidak ada cahaya dan tidak ada juga bayangan, membat Takeru merasa bahwa ia benar-benar di dunia yang asing dan berbeda. Dan terasa seolah ia sendirian.
Takeru tersadar dari lamunannya, dengan cepat ia segera menggelengkan kepala, apa yang baru saja di pikirkannya? ia berkata pada dirinya sneidir bahw aia inginfokus tapi ia malah memikirkan banyak hal. Pikirannya terpecah-pecah dan itu amat sangat mengganggu.
Takeru kembali berusaha membawa dirinya untuk fokus, kali ini harus sangat fokus agar ia bisa melihat apa yang terjadi di sini, “Ayolah fokus! Fokus! Kosongkan pikiran, jangan memikirkan apa pun dan buat dirimu untuk hanya fokus dengan kekuatan Reverie yang berada di tongkat Kozumi. Oksigen teras amengalir di dalam pembuluh darahnya dengan tenang seperti sungai yang bergerak dnegan tenang, tidka deras namun juga tidak tersumbat. Bergerak mulus dengan tenang namun pasti. Takeru dapat merasakan ketenangan merayap di hatinya. Sepertinya kali ini ia berhasil untuk benar-benar fokus. Untuk menyempurnakan fokusnya, Takeru berusaha mengatur dan mengendalikan napasnya dengan baik di mana ia menarik oksigen dnegan hidung dan mengeluarkannya menggunakna mulut dengan hati-hati.
“Monsternya berhasil dikalahkan?”
Takeru yang sedang memejamkan netranya merasakan bahwa ia mendengar samar-samar suara seorang wanita yang mungkin merupakan wnaita paruh baya tengah berbicara. Dalam posisi netra yang terpejam, Takeru merasakan perasaan tida tenang, apakah ia salah mendengar? Apakah ini halusinasinya, atau ia berhasil mendapatkan kembali kekuatan Reverie itu?
Entah yang mana, namun Takeru memutuskan untuk lebih dahulu membuktikan apakah hal yang dindengarnya adalah kebenaran. Denga posisi tertunduk, Takeru melebarkan telinganya untuk menyimak.
“Apakah ada korban jiwa?”
“Katanya monster itu mengeluarkan zat asam dari tubuhnya yang bisa melelehkan kita. Kalau, mereka berkelahi di atas kita tadi, kita pasti sudah tewas.”
“Hii seram sekali. Untung saja para alien itu berhasil mengalahkannya.”
“Ahh untung sekali mereka tahu di mana mereka harus berkelahi.”
“Ah itu Yang Mulia Isaac!”
“Yang Mulia!”
Takeru mengerungkan alisnya. Semakin yakin kalau ia tidak salah mendengar atau suara-suara ini bukan lah halusinasinya semata. Saat Takeru membawa tatapannya ke arah bawah, ia juga melihat bahwa pola akar yang sebelumnya tidka terlalu jelas, kini terlihat snagat jelas berwana merah menyala, bahkan pola itu bercahaya.
“Polanya bercahaya?”
Takeru membawa tatapannya untuk mengekori akar yang meskipun hanya pola-pola di atas tanah, jika diperhatikan, pola-pola itu seolah menggeliat seolah hidup. Dan lagi dibanding nmengatakan bahwa pola itu adalah akar, dalam jarak sedekat ini, Takeru justru meras bahwa benda itu seperti tumpukan ular yang menggeliat membuatnya sedikit merasa ngeri. Pola itu terlihat semakin jelas dan bercahaya saat Takeru membawa tatapannya untuk menyusuri pola itu. Firasatnya mengatakan bahwa ia harus mengikuti pola itu sampai ia berhasil menemukan Oculus, lalu meminta kekuatan Reverie seperti Kozumi jelaskan.
“Ah, kau pendatang baru, ya?”