Preview :
“Nah saatnya kau makan siang, kadal.” Ungkap Kozumi dengan senyum percaya diri yang terukir jelas di bibirnya, ia lalu menambah kecepatan dari rocket yang menempel di punggungnya. “Tambah kecepatan!” pinta Kozumi dan entah benda itu memang diciptakan Takeru dengan perintah suara, tapi meskipun bukan Kozumi yang menciptakan bend aitu, benda itu dapat mengerti perintahnya padahal benda yang diciptakan dengan kekuatan Reverie hanya bisa digunakan dan diperintah oleh orang yang menciptakan dengan kekuartan Reverie itu sendiri. Kozumi membolakan mata tiba-tiba seolah ia merasa bodoh. Tunggu, bagaimana Takeru bisa menciptakan benda-benda ini sementara ia belum bertemu Oculus untuk mengaktifkan kekuatan dari Visi Reverie? Kalau begitu dari mana kekuatan Takeru untuk menciptakan benda-benda ini?
Kozumi membawa tubuhnya untuk meluncur di udara tepat ke arah mulut sang monster, dan tepat saat jarak antara Kozumi dan si monster berada dalam jarak yang sangat sempit, Kozumi membawa tubuhnya ke arah atas. Senyum kemenangan penuh rasa puas terukir di bibirnya. Monster itu berhasil menelan benda yang tadi terus menguntitnya dan karena beberapa kali mendapat punch, alias pukulan dari benda yang tadi terus menempel pada Kozumi, makhluk itu menjadi kesal hingga langsung melahap benda itu dengan mulut yang terbuka sangat lebar. Kemenangan telak benar-benar berada di tangan Kozumi.
Tak lama setelah monster itu menelan zat basa berukuran dua ton yang diciptakan Takeru, monster itu terbang dengan sempoyongan tak beraturan dan spat membuat kehebohan karena masyrakat khawatir bahwa monster itu akan oleng dan jatuh tepat di kota atau daerah padat penduduk, Namun untungnya di saat ketakutan itu hampir terjadi di mana monster itu hampir mendarat di kota yang berada di tengah-tengah antara kerajaan dan juga pemukiman warga menengah ke atas, Stadtzentrum.
Kozumi membawa tubuhnya turun dengan roket, dengan sigap segera kembali menyalakan roket di punggungnya, menargetkan target terbangnya menuju Stadtzentrum, kota pusat pemerintahan yang berdampingan dengan kerajaan The Silver Eyes.
"mit Träumerei-Power, nehmen Sie Geschwindigkeit auf!" (Kekuatan Reverie, percepat roket ini!)
Namun belum selesai Kozumi merapalkan mantera reverie-nya, Kozumi yang masih berada di pertengahan antara langit dan tanah, tiba-tiba merasa tubuhnya oleng. Pandangannya perlahan mulai mengabur. Kozumi menggeleng-gelengkan kepalanya segera, berharap dengan menggeleng-gelengkan kepala, ia bisa mendapatkan penglihatan yang jelas. Dan seperti harapan, usaha itu berhasil.
Pandangan Kozumi yang semula kabur kini dapat melihat keadaan dengan jelas. Setelah mendapatkan fokusnya, Kozumi mencoba untuk mengulang mantranya.
"Mit Träumerei-Power, nehmen Sie Geschwindigkeit auf--urgh!"
(Kekuatan Reverie, percepat roket ini--urgh!) Pandangan buram itu kembali menyerangnya bahkan kali ini lebih parah dari sebelumnya karena selain buram, pandangannya perlahan mulai dibingkai cahaya gelap. Cahaya gelap itu bergerak seperti asap hitam tebal yang perlahan melingkupinya. Kozumi berusaha menggelengkan kepala namun usahanya kali ini gagal. Kozumi merasakan tubuhnya perlahan kehilangan kekuatan dan tenaganya, kaki dan tubihnya teras alemas seolah tulangnya mencair. Dan bingkai hitam yang seperti asap itu bergerak menutupi seluruh netranya dengan cepat, berusaha merenggut kesadaran Kozumi.
Menyadari bahwa ia akan kehilangan kesadaran, Kozumi membawa satu tangannya dan membuka telapak tangan.
"Zeig mir, wie viel Träumerei noch übrig ist!"(Tunjukkan berapa banyak kekuatan Reverie yang tersisa!)
Di sisa-sisa kesadaran dan kekuatannya, Kozumi berusaha untuk memeriksa kekuatan Reverie yang tersisa di tubuhnya. Dan juga melirik jam digital yang ada di bagian leher tongkat hockey. Waktu menunjukkan angka Romawi di pukul satu siang. Kozumi mendongak menatap.langit dengan roket yang mulai kehabisan bahan bakar sehingga dayanya melemah.
Ia melirik telapak tangan yang terbuka, menunjukkan sebuah angka seperti teknologi hologram dengan angka dua persen mengambang di atasnya.
Kozumi memejamkan netranya lelah, ah kacau, kepalanya pusing lagi. Ia tidak bisa mempertahankan kesadarannya lebih lama, Kozumi mengumpat menyadari bahwa sepertinya ia berada dalam fase yang berbahaya karena ia kehilangan akan kesadaran, visi Reverie-nya lemah dan ia tidak bisa mengendalikan sisa dari kekuatan Reverie-nya karena ia akan pingsan.
Sebelum itu terjadi, Kozumi harus melakukan sesuatu. "Reverie switj mode,on."
"Die Vision von Träumerei änderte den Modus - in den Schlafmodus, in den Schlafmodus."
(visi reverie beeubah mode-- menjadi sleep, sleep mode.)
"Die Stärke der verbleibenden Träumerei, weniger als zwei Prozent, treffen Sie bitte sofort den ehrwürdigen Oculus."
(Kekuatan dari visi reverie yang tersisa, kurang dari dua persen, tolong segera temui yang mulia Oculus.)
Kozumi memicingkan netranya tak percaya, dua persen? Bagaimana bisa? Ia yakin bahwa beberapa jam lalu sebelum ia bergelut dengan zombie tanpa ekspresi di paralel universe di mana Takeru sebelumnya hidup, kekuatan visi Reverie-nya masih delapan puluh lima persen bagaimana bisa sekarang hanya menjadi dua persen? Dalam posisi terbalik di mana kepala menghadap ke bawah, Kozumi terlihat jatuh di udara seperti meteor jatuh dari langit.
"Notfall erkannt, Notfall erkannt. Reverie's Vision ist erschöpft. Vision der Träumerei erschöpft, wiederholte Vision der Träumerei erschöpft--"
(keadaan darurat terdeteksi, keadaan darurat terdeteksi. visi Reverie berada di status habis. visi reverie habis, diulangi visi reverie habis--)
“Kozumi!” Takeru yang melihat bahwa Kozumi terjatuh di udara dengan kecepatan yang snagat tinggi, sontak membawa langkah kakinya menuju titik di mana Kozumi jatuh. Rupanya memiliki kekuatan Reverie cukup membuat tubuhnya lemah, panas terik matahari, lalu tekanan udara yang terasa cukup berbeda, sedikit berat, membuat tubuhnya benar-benar sulit dikendalikan.
Takeru menyipitkan netranya saat perlahan ia melihat bahwa pandangannya memburam. Seraya berlari Takeru mengucek kedua bola matanya, namun bukannya mengurangi buram, netranya justru semakin buram, jalanan yang smeula bisa ia lihat, perlahan terlihat memudar, Takeru membawa tatapannya ke arah lain dan ia menemukan bahwa tidka hanya tanah dan jalanan yang memudar, namun bangunan-bangunan, gunung, langit, semuanya berubah memudar.
Takeru menghentikan langkahnya sejenak dan kini semua yang ia lihat benar-benar memudar, lalu menghilang sepenuhnya dan hanya menampilkan pemandangan berwarna putih di mana-mana seolah ia terjebak di ruangan dengan nuansa putih di mana-mana. Takeru mendengus. Ini keadaan yang sama dengan saat ia pertama kali datang. Ia tidak melihat apa yang Kozumi lihat selain pemandnagan putih di mana.
Takeru memutuskan untuk mengabaikan fakta itu dan memikirkannya nanti, ia terus membawa kakinya untuk berlari ke titik di mana Takeru memperkirakan bahwa Kozumi akan jatuh. Dan tepat saat Kozumi akan jatuh di atas tubuhnya, Takeru membuka kedua tangannya namun Kozumi tidak jatuh di atasnya.
Takeru merasa de ja vu, ini kejadian yang sama dengan saat Kozumi jatuh karena serangan dari monster yang baru saja mereka kalahkan. Ia mengangkat satu tangannya di atas udara hendak menyentuh bagian atas kepalanya memastikan apakah ada penghalang yang menahan Kozumi, namun belum sempat jari telunjuknya, Takeru merasakan kelibatan angin yang sangat kuat, terbang melewatinya. Takeru refleks mengangkat kepalanya penasaran untuk memeriksa, apa yang baru saja melewatinya, namun tepast saat angin itu melewatinya, ia mendengar sorakan dari banyak orang yang bersorak-sorai seolah menyambut seseorang, dan di saat bersamaan Takeru dapat melihat ada tanda merah di bawah kakinya yang muncul di atas tanah memb uat pola seperti akar, seiring dengan angin itu yang cepat berlalu.
“Oculus Path?” gumam Takeru berusaha mengingat penjelasan Kozumi tentang apa yang dimaksud dengan Oculus Path tadi. Dan sepertinya dugaannya tak salah. Takeru tercenung, apakah artinya sang raja sekarang sedang berada di dekatnya dan hendak mengalahkan monster yang baru saja menyerang mereka?