“Takeru, apakah kau tak mendengar suara atau teriakan panik dan histeris di sini?” tanya Kozumi dengan ekspresi was-was.
Takeru terlihat berpikir sejenak, memasang indera pendengarannya lebar-lebar. “Tidak sama sekali. Aku sudah bilang di sini semuanya berwarna putih dan hening tidka ada suara apa pun? Menurutmu kenapa dari tadi aku terus berpikir bahwa kau sedang berada dalam fase chunibyo? Karena aku tidka melihat, mendengar atau merasakan apa pun. Makannya aku pikir kau pasti sangat gila.” Terang Takeru jujur dengan apa yang ia lihat.
“Mustahil….” Pekik kozumi tidak percaya.
Saat Kozumi memperhatikan bagaimana bocah yang baru ditemuinya beberapa waktu lalu itu berlari, jalanan terlihat mulus bagi Takeru tidak ada batu atau jalan turunan yang jika dilewati orang lain selain Takeru mungkin akan tersandung atau tergelincir. Tapi bocah itu berjalan dnegan lurus begitu saja seolah tidak ada apa-apa di hadapannya. Melihat bagaimana cara Takeru berjalan di keadaan yang sedang genting membuat Kozumi pada akhirnya mau tidak mau percaya bahwa bocah yang tidak sengaja ikut perpindahan dimensi berrsamanya itu memang benar-benar tidak melihat apa pun.
“Ya berlarilah ke sana—whoah!” Kozumi memeiki saat tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang mencengkeram pinggangnya. Cengkeraman itu begitu kuat hingga membuat tulang pinggangnya terasa snagat sakit. Sata Kozumi menoleh, ia mendapati bahwa monster yang berbentuk mirip reptil itu mencengkeram pinggang Kozumi dengan kedua kakinya yang berkuku tajam seperti cengkeraman elang dalam ukurang yang besar.
“Kozumi!” panggil Takeru saat melihat lagi-lagi Kozumi harus terbang di udara tanpa ia bis amleihat hal apa yang membuat gadis itu bisa terbang di sana. Takeru mengedarkan tatapannya, dan ia menemukan tongkat hockey Kozumi tergeletak di atas pasair berwarna putih itu. Tanpa berpikir panjang, Takeru segera membawa langkah kakinya pada tempat di mana tongkat itu tergeletak, dengan gerakan cepat, Takeru memungut tongkat itu. Dan tepat saat Takeru menyentuh ujung tongkat Kozumi, Takeru merasakan tangannya tersengat, sengatakan itu bagai listrik kejut yang membuat tubuhnya sangat terkejut.
Takeru sontak mengalihkan tatapannya pada tongkat hockey Kozumi, untuk sesaat menatap tongkat itu dengan perasaan bingung, sampai tiba-tiba ia mendengar teriakan yang cukup banyak dan saling bersahutan. Tanpa menunggu lebih lama, Takeru membawa tatapannya ke arah sumber suara, dan alangkah terkejutnya ia melihat ada banyak orang sedang berlarian ke sana ke mari. Takeru juga mendapati bahwa pasir yang ia injak adalah pasir putih, namun kini pasir itu memiliki warna, warna yang sama dengan tanah yang seperti di lihatnya setiap pagi saat ia akan berangkat sekolah.
Seolah tak cukup mengejutkan Takeru, Takeru juga kini dapat mendnegar dengan jelas lengkingan suara monster tadi. Dan saat akhirnya ia mencoba mendongak, ia dapat melihat dengan jelas makhluk apa yang sedang mencengkeram pinggang Kozumi, lalu ada beberapa orang yang juga beterbangan di langit dengan sayap dan roket di sekitar monster itu.
Kini akhirnya Takeru dapat melihat semua yang diceritakan Kozumi dengan jelas, artinya selama ini Kozumi tidak berbohong atau mempermainkannya dengan chunibyo-nya. Tapi kenapa selama ini, Takeru tidak bisa melihat apa yang Kozumi lihat?
“Ahhhhhh!” Kozumi berteriak di udara karena makhluk yang Takeru sempat lihat dalam beberapa detik saja, Takeru membawa langkah kakinya kali ini cepat mengikuti titik di mana monster itu membawa Kozumi terbang di kaki-kakinya. Namun karena Takeru yang sebelumnya hanya bisa melihat dataran yang datar dan tidak ada halangan atau batu sandung, membuat Takeru terkejut karena ia tidak mengenali medan yang sekarang menjadi pijakannya. Takeru jelas kesulitan karena beberapa kali ia tersandung oleh jalanan, atau tergelincir karena rumput.
“Kozumi!” panggil Takeru seraya berlari, ia membawa tongkat hockey Kozumi di tangannya, mengabaikan rasa sakit di pundaknya karena luka yang ia dapat dari tusukan bolpoin sebelum ia memasuki dunia yang bernama dimensi Reverie ini.
“Lempar tongkatnya! Aku membutuhkan tongkatnya!” Perintah Kozumi seraya mengulurkan tangannya. Takeru menengadahkan kepalanya memperkirakan jarak Kozumi dengannya, tapi ia tahu bahwa jarak antara dirinya dan Kozumi jelas sangat jauh. Ne;um lagi saat Takeru mengejar Kozumi dan hampir sampai di titik di mana mereka hampir berdekatan, mosnter jelek dan buruk rupa itu justru membawa Kozumi terbang semakin tinggi dna jauh membuatnya harus kembali berlari. Takeru merasa jantungnya hampir meledak, begitu pun paru-parunya karena jarak lari yang sudah jauh. Takeru bahkan yakin jika sekarang jarak lari mereka sudah mengalahkan test fisik masuk kemiliteran
“Gunakan tongkatnya.” Saat napas Takeru hampir habis sepenuhnya, secara tiba-tiba dan tak terduga, ia merasa bahwa ia mendengar suatu suara yang menggema. Langkah Takeru sontak terhenti seketika, di tengah napas yang terengah-engah, Takeru berusaha memfokuskan indera pendengarannya memastikan bahwa yang baru saja ia dengar bukanlah hanay sekedar halusinasinya.
“Gunakan tongkatnya, gunakan kekuatannya."
Takeru kembali mendnegar suara itu, ia jelas ingin bertanya siapa pemilik suara yang memerintahnya itu, namun Takeru tahu bahwa bukan itu yang ia butuhkan sekarang. ia tidak boleh membuang-buang waktu. ia akan mencoba smeua kemungkinan yang bisa ia lakukan.
Takeru menatap tongkat hockey si gadis yang yang anehnya mulai bercahaya. Dan seiring cahaya itu semakin bersinar, Takeru mulai bisa mendengar keadaan yang terjadi di sekitarnya dan juga perlahan bisa melihat apa yang sedang terjadi di atas sana.
Cahaya matahari yang terik, lalu makhluk yang tadi Takeru lihat dalam hitungan detik--monster yang mirip dengan makhluk reptil. Tengah membawa Kozumi terbang semakin tinggi, di sisi lain ia bisa melihat ada seorang pria lain yang juga terbang di langit dengan suatu sayap berwarna hitam sehitam burung gagak.
Takeru kembali memperhatikan monster itu, monster itu mirip naga namun dalam ukuran yang lebih kecil. Bentuk kepalanya benar-benar seperti reptil. Dengan lidah yang sesekali menjulur seperti ular. Takeru membawa langkahnya untuk berlari, mengikuti titik di bawah monster terbang itu. Bagaimana Kozumi tadi bisa terbang? Jika Kozumi bisa terbang di langit maka seharusnya Takeru juga bisa melakukan hal yang sama. Tapi Takeru tidak tahu bagaimana caranya.
Memikirkan bagaimana cara memiliki sayap hanya membuang-buang waktu Takeru saat tahu mantranya. Dengan napas yang terengah-engah Takeru memikirkan cara lain untuk bertarung.
Takeru menatap tongkat Hockey yang berada di genggamannya, ia di otaknya ia tengah berpikir keras bagaimana caranya ia bisa mengaktifkan kekuatan yang berada dalam tongkat hockey itu. Takeru mendongakkan kepala, pertarungan terjadi di atas langit, yang artinya ia membutuhkan sayap untuk bisa mengikuti pertarungan itu. Jika tidak sayap ia membutuhkan roket, atau apa pun yang bisa membawanya terbang ke udara. Tapi lagi-lagi yang menjadi pertanyaan, bagaimana caranya mengaktifkan kekuatan itu? Apakah ada mantra khusus? Jika ada mantra maka apanya? Ia tidka pernah mendengar Kozumi mengatakan sesuatu sepefrti mantra.
Takeru yang masih terus berlari mengikuti arah monster itu tiba-tiba menghentikan langkahnya. Lalu ia teringat sesuatu. Jika diperhatikan, saat Kozumi akan menggunakan tongkatnya ia selalu men gatakan sesuatuj tentang Reverie-Reverie. Dan Kozumi juga pernah memberi tahu sesuatu tentang visi Reverie. Takeru kembali melanjutkan langkahnya, ia mungkin harus menyebut kata Revereis sebagai mantra? Takeru bermonolog dalam hati.
“Reverie! Berikan aku rocket punggung yang bisa membawaku terbang!”
Takeru memantapkan hatinya, ia belum tahu apa pun tentang kekuatan Reverie, ia bahkan masih di ambang percaya tidka percaya bahwa ia sedang tidka bermimpi. Tapi justru jika ia tidka berhasil melakukan penggunaan Reverie seperti yang Kozumi lakukan maka ini adalah kenyataan.
Di sinilah Takeru akan membuktikan apakah ini kenyataan atau hanya mimpinya semata!
“Reverie! Berikan aku rocket punggung yang bisa membawaku terbang!”