Jihan bersemu dengan detak jantung terus saja membuatnya tidak sanggup menatap ke dalam manik coklat di atasnya. Ia mengungkung dan memberikan tatapan yang selalu saja memuja Jihan. Perlahan, ia merasakan napasnya tersengal, ketika jemari ramping itu mulai mengusap pipi mulusnya. Ozan melakukannya sangat lembut, nyaris membuat kelopak mata Jihan tertutup. Hanya untuk merasakannya dengan lebih sempurna. “Jihan ...” Kesadaran Jihan sedikit kembali, menatap sendu pria yang menatapnya dengan sorot lain. Ada raut sendu di sana saat Ozan justru mendekatkan wajahnya, mendaratkan kecupan di keningnya. Desiran dalam tubuh perempuan itu kian menguat. “Maaf,” bisiknya seraya bangkit dari duduk, membawa Jihan ikut dengannya. Manik hazel itu mengerjap, memandang Ozan yang tampaknya sedikit berbed

