Senyum manis itu terpatri di paras cantiknya. Meskipun satu jam lalu adalah pukulan telak atas statusnya yang selalu lekat di benak Ibu mertuanya, Jihan tidak peduli. Ia membiarkan sedikit mata sembabnya, memilih berdiri di depan cermin rias, menatap tubuhnya dari pantulan. Ia membiarkan pandangannya luruh ke permukaan perut rata di balik gaun yang dikenakannya. Telapak tangan perempuan itu mengusap di sana dengan sangat lembut. “Kau sudah hadir di sini, Nak? Sejak kapan?” tanyanya dengan sorot sendu, kalimatnya meluncur dengan sangat tulus. “Aku akan memastikan kau telah hadir berapa lama di sini. Bertahanlah. Aku akan selalu memertahankanmu dan melindungimu untuk menjadi janin yang utuh dan semakin bertambah bulan, aku akan selalu melindungimu sampai kau hadir,” ungkapnya dengan perasa

