Ozan merebahkan tubuh di atas ranjang lebar miliknya. Tatapannya tertuju pada langit kamar, membiarkan tubuhnya masih berbalut kemeja dan celana panjang. Sedangkan ia sudah menaruh jas di sofa kamarnya. Pria itu cukup lelah seharian ini mengurusi proyek terbarunya. Ozan datang hanya untuk pekerjaan. Bahkan, ia tidak membawa Berna ke mari. “Kalimat sederhana itu terlalu sering singgah dipikiranku,” lirihnya dengan pandangan kosong. Mengingat kembali ucapan Jihan yang terkesan tulus, mampu membuat dadanya kembali sesak dan mata yang memanas tanpa sadar. “Kau memang tidak bisa mengembalikan semuanya dengan utuh, Ozan,” lanjutnya memejamkan kedua kelopak mata. Ingin sekali Ozan tertidur sekarang juga. Tapi, ia tidak bisa mengingat belum terlalu malam dan ia masih belum bisa

