“Ozan! Kembalikan ponselku!” teriak Berna terus mengejar dan menggapai ponselnya dalam genggaman Ozan.
Sayangnya, pria itu tertawa puas dan terus mengangkat setinggi mungkin supaya perempuan itu tidak bisa menjangkaunya. Ia bahkan menghindar, tidak ingin Berna dengan mudah mengambil kembali benda milik perempuan itu. Ozan bahagia sekaligus menjadi hiburan tersendiri melihat wajah panik Berna.
“Ozan!” pekiknya menghentakan kaki, tidak bisa menjangkau atau sekadar menarik lengan Ozan.
Pria itu kembali tertawa. Ia berhenti cukup jauh, menjaga jarak takut kalah strategi dengan perempuan berparas cantik yang malam ini mengenakan sweater berwarna putih. Ozan dan Berna sama-sama menarik napas dan mengembuskannya dengan tersengal. Mereka sejak di ruang keluarga sudah memulai aksi kejar-kejaran layaknya tom and jerry.
“Kembalikan ponselku, Yozan Adskhan ... Kau membuatku malu,” ucapnya menutup cepat wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Ia ingin menyembunyikan wajah memerah yang bisa memicu lebih lama tawa geli Ozan terhadap apa yang dipegangnya. Ponsel itu menyimpan sesuatu yang sangat pantas menjadi hiburan bagi Ozan.
“Ini foto menarik, Berna ...” balasnya sedikit jahil, menyeringai penuh arti.
Perempuan itu menurunkan kedua telapak tangannya dan memberikan tatapan tajam yang dibuat supaya Ozan mengembalikan ponsel itu padanya. “Itu foto terburuk yang masih kusimpan sampai sekarang!” kesalnya dan kembali membuat Ozan tertawa, membalikkan ponsel tersebut ke hadapan Berna dan memperlihatkannya dari jarak jauh.
Senyum jahil Ozan terpatri sempurna di paras tampannya. “Foto terburuk? Menurutku sangat bagus saat ekspresi takut sekaligus kaget saat kau mendapatkan ciuman dari gajah.”
“Ozan ... Itu sangat memalukan! Ekpresiku sangat tidak keruan,” sahutnya cepat dan kedua pipi putih itu sangat kentara dengan rona merahnya.
Pria itu kembali dengan senang hati, melirik dan melihat saksama foto anak perempuan yang tampaknya tidak lebih berusia dari sepuluh tahun. Mata itu membeliak dan bibirnya terulas ketakutan. Bahkan, kedua tangan Berna tampak menegang; khas anak yang ketakutan mendapatkan belalai gajah itu singgah di pipinya.
Hanya gajah kecil yang ternyata mendapatkan pose terbaik dari sang pemotret. “Bagus ... Sangat lucu dan menarik untuk kembali ditanya seputar perasaanmu,” cengirnya lebar mendapatkan delikan tajam Berna.
“... Dan kau bilang, belum pernah berciuman, kan? Lalu, ini tidak bisa disebut sebagai ciuman pertamamu?” tanyanya semakin gencar menggoda Berna yang sontak membuat perempuan itu memekik, kembali semangat untuk mengejar Ozan dan mengambil ponsel sebagai tujuan utama.
Keinginan kuat Berna semakin membuat Ozan ikut ketakutan juga. Perempuan itu bahkan sangat semangat hanya untuk mengitari sofa yang berada di ruang tengah untuk mengejar Ozan.
“Hei ... Hentikan Berna,” pinta pria itu saat melihat semangat dan seringai Berna muncul.
“Tidak, tidak! Aku tidak akan berhenti sebelum dapat membalaskan rasa maluku, Yozan!”
Ozan tidak mungkin menjerit. Ia hanya bisa terus menghindar dan mengandalkan putaran sofa, meskipun napasnya sudah sangat tersengal. Berna sangat semangat untuk mengejarnya dan sampai perempuan itu berhasil meraih lengan Ozan, pria itu tidak sengaja tersantuk dekat pinggiran lengan sofa dan membuatnya terjatuh, pinggangnya beralaskan lengan sofa.
Berna pun ikut terjatuh saat keseimbangannya tidak terkendali dan ... Cup!
Manik hitam itu membeliak, kembali mendaratkan kecupan tidak sengaja di permukaan bibir Ozan.
“Aku mendapatkan keuntungan?”
Seringai jahil karena tersadar akan hal terjadi di antara mereka pun, memulai aksinya. Sedangkan paras cantik itu sudah memerah dan Berna ingin cepat beranjak dari sana.
Srettt!
Usahanya tidak berhasil ketika pria itu sudah menahan pinggangnya dan kali ini Berna spontan menaruh kedua tangan di sisi kepala Ozan, menahan supaya bibir keduanya atau bahkan wajah mereka tidak bersentuhan.
“Kenapa masih gugup?” tanyanya setengah jahil.
Rona merah itu terpatri di sana. “Kembalikan ponselku, Ozan!”
Pria itu mengerjap dan menyadari sesuatu. Ia menoleh ke arah meja dan tidak sengaja melihat benda dari ponsel itu sedikit terlihat di karpet yang mengalaskan sofa dan meja mereka. Ia nyengir lebar, “Terjatuh ... Sedikit terlempar dan sepertinya tidak hancur.”
Manik hitam itu membeliak dan saat akan berteriak kesal, pria itu kembali memberikan kecupan cepat. Berna mematung.
“Hmmm ... Sekarang aku semakin tau, bagaimana caranya menenangkanmu jika mengamuk, ya?”
“Ozan ... Kau membuatku malu,” rengeknya tanpa sadar menjatuhkan wajah di ceruk leher Ozan, menyembunyikan wajahnya di sana. Ia terlalu malu dengan hal yang terjadi.
Pria itu mengulum senyum dan membawa telapak tangan kanan untuk mengusap punggung Berna. “Bagaimana dengan kencan yang sudah kita sepakati?”
“Malam ini belum menjadi hari terbaik. Besok kau ada rapat dan seharusnya sepuluh menit lalu kau mengerjakan pekerjaanmu yang ternyata memilih bertingkah seperti anak kecil, bersamaku,” jelasnya membuat Ozan terkekeh pelan.
“Berna, kau tidak ingin menatapku? Kenapa terlalu nyaman di sana dan membuat embusan napas panasmu menganggu kulit leherku?”
Perempuan itu terkesiap dan menegakkan kepalanya, sejajar dengan Ozan yang menyeringai penuh arti. Ah, iya! Pria itu selalu saja mengerjai dan menggoda dirinya. Bahkan, akan lebih sering ketika mereka dulu berteman. Bedanya, hubungan mesra seperti ini kerap terselip di antara hari mereka.
Manik hitamnya mengerjap, lalu turun memandang lamat-lamat bibir tipis berwarna kemerahan itu. Ozan mengulum senyum saat kedutan di kedua sudut bibirnya kian terasa ingin terulas sempurna.
Ia berdeham pelan. “Kau ingin melakukannya lebih dulu?” Ozan kembali menggodanya.
“Apa aku bisa membuat getaran itu hadir?” tanyanya dengan sorot lekat.
Ozan menerbitkan senyum manis dan menyisir helaian rambut Berna, menyelipkan di belakang telinga. “Aku merasakannya sedikit demi sedikit,” akunya jujur, tanpa membohongi pertanyaan Berna.
Perempuan itu ikut menerbitkan senyum semringah dan sedikit mengikis jarak. Embusan napas perempuan itu menerpa permukaan wajah Ozan. “Bisa tutup matamu?”
Ozan mendengkus geli. “Aku ingin melihat wajah gugupmu saat memulainya,” balasnya mendapatkan pukulan ringan di bahunya.
“Tapi aku memang tidak bisa melakukannya saat kau menatapku sangat lekat. Itu ... Terlihat aneh karena status kita yang dulu hanya sekadar teman.”
“Maka lakukanlah semuanya dengan sangat baik,” sahut pria itu cepat, menyemangati keinginan dari sisi lain Berna.
Perempuan itu memberanikan diri untuk menatap lekat Ozan, sebelum akhirnya memajukan wajahnya, mengikis jarak permukaan wajah mereka sampai Ozan tersenyum kecil. Ia kembali merasakan tekstur lembut menempel di permukaan miliknya.
“Siapa yang memagut duluan?” bisik Ozan menciptakan degup jantung Berna kian terasa kuat.
“A-ku ...”
“Aku akan memulainya,” cicitnya gugup, tidak bisa mengendalikan dirinya.
“Baiklah. Aku akan menunggumu,” balasnya terlihat pasrah dan hal itu membuat tawa kecil Berna terdengar Ozan.
Dengan menepis rasa gugup dan detak jantung yang terus membuatnya bingung dan dilema, ia akhirnya kembali menempelkan permukaan itu dan mengulum bibir bawah Ozan. Perempuan itu merasakan Ozan mengeratkan rangkulannya. Pria itu pun ikut menyambut pagutan yang masih terasa kaku. “Lakukan sesuai yang kau inginkan. Aku akan menerimanya dengan senang hati,” bisik pria itu tersenyum di antara pagutan mereka.
Berna bersemu dan memilih berdeham pelan sebagai jawaban. Ozan membiarkan saat perempuan itu kembali memulai sampai napas mereka tersengal. Keduanya memberi jeda dengan bersitatap, menyampaikan sorot gairah masing-masing.
Senyum keduanya terulas sempurna.
Cup!
Berna menempelkan cukup lama di permukaan tipis yang mulai menjadi candunya. Setelah itu, ia dengan sekilas memberikan sentuhan di kedua pipi Ozan dan mengusap kepalanya, menyugarnya dengan jemari lentik perempuan itu. “Aku sudah berada di tahap dasar, kan?” godanya balik.
Ozan tertawa kecil dan mengangguk.
Ia membiarkan Berna lebih dulu bangkit dan disusul Ozan yang dibantu—menarik tangan pria itu—dan membawa keduanya berdiri. Tangan Berna melingkar di pinggang Ozan, mendongak untuk menatap lekat manik coklat dari pria keturunan Jerman – Turki.
“Apa yang kau rasakan?” tanya perempuan itu.
“Kebahagiaan yang menyusup perlahan,” balasnya.
Berna merasakan degupan jantung dan buncahan bahagia itu juga kembali menyusup. Ia berjinjit bersama kedua lengan melingkar di leher Ozan. Satu sentuhan hadir di permukaan tipisnya.
“Gadis pintar ...” jahilnya menepuk pelan puncak kepala Berna.
“Ya ... Dan kau pria dewasa berusia tiga puluh tahun yang mulai mengajarkan gadis pintar menjadi menunjukkan sisi lainnya.”
Ozan terkekeh pelan dan mencubit gemas ujung hidung mancung Berna. Keduanya berpelukan hanya untuk menyamankan perasaan malam ini. Setidaknya, sebelum tumpukan pekerjaan mereka menjadi pengantar tidur yang baik.
**
Keduanya duduk berdampingan dengan peralatan—pekerjaan—mereka masing-masing, termasuk dua laptop di atas meja yang sama.
“Bagaimana dengan beberapa pekerjaan yang pernah kuberikan padamu?”
“Kurasa aku pernah memintamu untuk merekap seluruh data dan keuangan yang ada, bukan?”
Berna mengangguk cepat, mengambil tumpukan berkas dan membuka lembaran yang dituju. Keduanya sangat bagus dalam hal kerja sama. Itu sebabnya Ozan tidak pernah merasa risih sedikit pun saat berteman dan membiarkan Berna ada di unit yang sama dengannya.
Tapi masa lalu tetaplah tidak akan membuat seseorang mundur untuk mengubahnya. Lagipula, Jihan yang mengkambinghitamkan Berna dan keputusan yang Ozan ambil untuk membuat perempuan itu memiliki kesempatan menikah dengan Erdem. Pria Daymaz itulah menjadi seseorang yang akhirnya mengambil hati dan seluruhnya yang dimiliki perempuan itu.
“Ozan? Kau mendengar ucapanku?”
Pria itu terkesiap.
Ia mengerjap dan memandang Berna bingung.
Perempuan itu pun mendesah pelan. “Kau melamun, ya?” tanyanya tepat sasaran.
Ozan berdeham salah tingkah. “Maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi,” balas pria itu penuh sesal.
“Apa yang sedang kau pikirkan?”
Ozan mengedik. “Terlalu sulit untuk menepis secara cepat.” pernyataan singkat itu sudah mampu membuat Berna memahami apa yang tengah dirasakan Ozan.
Perempuan berparas cantik dengan manik hitamnya itu memberikan pandangan teduh, sangat lembut. Tangannya ditaruh di atas punggung tangan Ozan. “Tidak mudah menepis semuanya. Kesedihan yang kau rasakan turut aku rasakan, meskipun ini dalam konteks yang berbeda.”
Ozan menatap lekat Berna yang mengulas senyum hangat. “Setiap orang tidak bisa melupakan masa lalunya. Itu yang terjadi, baik dalam percintaan ataupun kehidupan dalam keluarga yang membuatmu merasakan separuh hidupmu telah pergi.”
“Aku menjadi sebatang kara sudah lama dan ketika aku tau hidupku harus terus berlanjut, aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk memenuhi kebutuhan hidupku setelah orangtuaku meninggal. Kau tau? Lebih menyakitkan saat kau harus kehilangan orangtua dan kenangan itu sempat menyiksamu bertubi-tubi. Kesedihan itu jauh lebih besar di bandingkan saat kau kehilangan perempuan yang kau cintai.”
Ia menepuk pelan punggung tangan Ozan di atas lututnya. “Jadi, menurutku tetap simpan kenangan itu tanpa mencoba menghapusnya dan berdamai pada keadaan. Setidaknya, kau bisa memosisikan dirimu saat ini. Karena sesedih apa pun yang kau alami dalam hal percintaan, itu semua akan tergantikan dan rentang waktu yang tinggal kau sendiri dapatkan.”
“Cepat atau lambat merasakan atmosfer baru, itu semua berada dalam keputusan ... Keinginan terdalam di hatimu.”
“Karena setiap orang yang patah hati, harus bisa memahami sisi lain dalam kehidupan. Kau hanya akan sedih dan seolah mati perlahan tanpa ada keinginan untuk menjalani kehidupan.”
Seluruh pernyataan itu masuk ke dalam pikiran dan menyentuh perasaan Ozan. Perempuan ini ... Ia sangat dewasa di balik parasnya yang cantik dan tubuh ramping dengan tinggi 168 sentimeter.
Berna mengerjap saat menyadari Ozan menaruh lengan kirinya di kepala sofa, tepat membelakangi tubuhnya. Tatapan pria itu pun sangat lekat memandang parasnya. Ia bertanya, “Kenapa dengan matamu? Apa yang kau lihat? Apa di permukaan wajahku ada yang aneh?” tanyanya mulai memastikan sesuatu di permukaan tersebut. Ia meraba sekaligus memutus kontak mata dengan pria tampan yang hanya membuat degup jantungnya tidak keruan.
Ozan tidak mengubah posisi duduknya. “Berapa usiamu?”
“Ha?” Perempuan itu nyaris tidak berkedip dan mendapatkan senyuman tipis dari Ozan.
“Apa kau sudah lupa jika usia kita sama?”
Pria itu mengedik. “Tidak sama sekali.”
“Lalu?” tanyanya penasaran.
Tatapan pria itu lekat memandang manik hitam yang kini sejajar dengan manik coklatnya. “Kau sangat dewasa dalam memahami perasaanku dan memberikan banyak pengertian hingga kini,” ucapnya tulus membuat semburat merah itu kian terpatri perlahan.
Desiran halus dalam dirinya kian terasa. Ia menunduk malu, enggan menatap Ozan yang terkekeh pelan. Ia membiarkan saat pria itu meraih dagu, meminta Berna supaya menatapnya tanpa beralih. “Aku terlalu sulit bersikap dewasa dan kau mampu mengimbangi diriku.”
“Tapi, aku tidak akan mungkin bisa mengimbangi untuk menggodamu,” balasnya ikut jahil dan hal itu membuat keduanya tertawa geli.
“Kau ini ... Sudah semakin pintar menggodaku,” cetus Ozan menepuk pelan puncak kepala Berna.
Perempuan itu ikut menaruh lengannya di sandaran sofa, menatap lebih lekat Ozan. Senyumnya sangat manis. “Aku harus bisa mempelajari semua yang kau ajarkan padaku.”
Sebelah alis Ozan terangkat, ingin ikut masuk dalam permainan Berna; menggodanya. “Supaya?”
“Supaya kau akan bisa semakin cepat mencintaiku dan memahami ... Jika aku sangat tulus mencintaimu,” balasnya mantap menghadirkan rasa hangat dalam diri Ozan.
Pria itu memberikan kecupan singkat di kedua pipi Berna. “Mari kita lanjutkan pekerjaan ini sebelum beranjak tidur di kamar masing-masing.”
“Tapi, mungkin akan terdengar lebih baik saat kau tidur di kamarku saja. Bagaimana?”
“Ozan!”
Pria itu tergelak mendapati rona merah karena sebuah kekesalan bercampur rasa malu dari perempuan berdarah Turki tersebut.
**