Bab 9 - Kencan Bersama

1294 Kata
Senyum manis Ozan terpatri di paras tampannya. Ia mengalihkan sejenak pandangan ke luar jendela mobil, membiarkan hari ini Asisten Pribadinya yang mengemudi menuju perusahaan anak cabang Adskhan Corp. “Mama jangan mengkhawatirkan apa pun. Aku baik-baik saja di sini.” Ia tertawa kecil mendengar rentetan suara di seberang sana. Pria itu mengembuskan napas pelan, sudah sangat merindukan wanita dan lelaki yang ia sebut sebagai orangtua. Mereka tetap saja merasa nyaman tinggal di kediaman peninggalan yang penuh sejarah. “Iya ... Aku pasti akan pulang secepatnya. Tapi, hanya ke Istanbul saja, ya? Mama pasti sangat tau alasannya.” “Aku sudah memberitahu Kakak untuk menyusul nantinya ke sana. Karena aku hanya beberapa hari di Mansion dan setelah itu akan kembali ke sini. Aku sudah berjanji pada Papa untuk sukses di anak cabang dan membesarkan nama di sini.” “Itu sudah menjadi kewajibanku,” sambungnya. “Baiklah, sampai jumpa. Aku menyayangi Mama,” tutupnya mematikan sambungan telepon. “Maaf, Tuan. Permintaan Anda semalam sudah saya penuhi. Hari ini semua sudah tersusun rapi dan Anda bisa pergi ke dermaga nanti malam.” Ozan menatap Asisten Pribadinya yang menyatakan hal yang sempat terlupa olehnya. Ia mengangguk pelan, menghentikan sejenak saat tadi ia ingin membuka tablet. “Kau sudah menyuruh Sekretarisku membeli gaunnya, kan?” Pria yang sedikit lebih muda dari Ozan, mengangguk pelan. Ia berucap, “Anda tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Semua sudah kami persiapkan.” “Iya, ini kencan perdanaku,” cetusnya terlihat polos dan hal itu membuat Asisten Pribadinya mengulum senyum. “Bagaimana dengan para anak pemilik pengusaha lainnya yang mencoba melirik Anda, Tuan?” Ozan langsung salah tingkah. Pria di depannya sudah menjadi temannya sendiri dan sesekali di luar dari pembahasan pekerjaan, mereka akan saling menimpali untuk hal yang lebih ringan atau sekadar hubungan kasmaran. “Beberapa anak dari pengusaha lain sering bertanya padaku tentang status Anda, Tuan. Aku sampai bingung harus menjawabnya atau tidak.” “Sekarang katakan pada mereka, aku sudah memiliki kekasih. Mereka tidak bergerak cepat saat hari lajangku.” Tawa kecil pria berusia dua puluh enam tahun itu terdengar oleh Ozan. “Karena Anda sudah akan memiliki Nona Berna malam ini.” Ozan hanya mengulum senyum mendapati pernyataan yang terkadang terus bertanya dalam hati. Apa ia sudah siap untuk benar-benar menjadikan Berna bagian dari hidupnya? Karena sampai kapan pun, ia tidak akan pernah bisa kembali ke masa lalu. Di saat perempuan tersebut memang tidak ditakdirkan untuknya. Napas Ozan terembus berat dan ia memilih memeriksa email dari tablet-nya. ** “Nona ... Anda bisa ikut denganku hari ini?” Beberapa teman dekat Berna dari meja kerjanya masing-masing, menoleh ke arah Sekretaris muda seorang Yozan Adskhan. Perempuan cantik berusia dua puluh lima tahun itu melemparkan senyum hangat pada Berna yang sibuk dengan tumpukan berkas yang harus ia kerjakan. “Tuan Yozan memanggilku?” tanyanya masih tidak mengerti dengan perempuan semampai di sampingnya. “Tidak, Nona. Hari ini Tuan Adskhan sedang mengikuti rapat di perusahaan koleganya.” Benar yang dikatakan Sekretaris pria itu. Ia bahkan memilih pergi duluan di saat Ozan tidak berangkat bersama dengannya. Pria itu pun mengatakan akan pulang sore dan tidak akan berada di perusahaan selama jam kerja. Ia yakin, tidak ada orang di dalam ruangannya, sekali pun hari masih menunjukkan hampir jam makan siang. “Pergi sekarang?” “Saat jam makan siang, aku akan menjemput Anda.” Berna mengangguk dan membiarkan perempuan cantik itu berlalu menuju lift untuk naik ke lantai ia bekerja. Perempuan itu baru saja keluar dari ruangan Kepala Divisi untuk menyerahkan beberapa berkas penting dan sekaligus menemui kekasih Atasannya. “Jadi, berita itu benar, ya? Kau menjalin hubungan dengan Atasan kita? Sejak kemarin tidak ada sedikit pun rahasia yang kau bongkar pada kita,” celetuk sebuah suara perempuan di samping meja kerjanya. “Iya! Berna juga memiliki rahasia ampuh untuk meluluhkan pria tampan yang menjadi idola kita selama ini. Wah ... Dia jahat, tidak memberikan tips mudah untuk kita mendapatkan perhatian dari Atasan,” timpal perempuan lainnya dan beberapa rekan kerja yang membuat Berna tertawa geli. Raut wajah mereka yang serius dan juga kesal karena tidak mendapatkan jawaban pasti dari perempuan berdarah Turki itu pun, tetap akan gencar bertanya sampai mendapatkan jawaban yang pasti. “Hatiku dan beberapa teman yang lain hancur, Berna ...” Para perempuan menoleh ke arah sumber suara. Pria berdarah Belanda dan beberapa pria lainnya mengangguk, menimpali. “Kami tidak jadi bersaing untuk mendapatkanmu,” cetus yang lain dan sontak membuat para perempuan yang didominasi warga negara setempat tertawa. Berna mengibaskan tangannya. “Sudahlah. Kalian ada-ada saja dalam berbicara. Sekarang kerjakan apa yang belum selesai dan sempat tertunda. Sebentar lagi jam makan siang, bukan?” Mereka semua mengangguk dan kembali bekerja. ** Berna mengerjap saat dirinya disuguhkan oleh beberapa gaun malam yang begitu indah. Ia tidak menyangka jika tujan mereka adalah Mal terbesar di kota ini hanya untuk singgah dan memilah gaun yang pantas untuknya. Perempuan itu menatap bingung Sekretaris Ozan yang sedang mensejajarkan terlebih dulu gaun seksi tersebut. “Kenapa kau mengajakku ke sini? Aku berpikir jika kita akan membahas pekerjaan dan lain halnya yang lebih sesuai.” Sekretaris Ozan itu tertawa kecil, sangat manis dengan paras cantiknya. Ia menatap perempuan bermanik hitam di hadapannya dengan senyum penuh arti. “Tuan Adskhan memintaku untuk menemani Anda memilih gaun, heels dan beberapa perhiasan lainnya untuk malam ini, Nona.” Manik hitam perempuan yang hari ini menguncir kuda rambutnya membeliak sempurna. “Apa akan ada pesta ulang tahun rekan bisnisnya?” Perempuan itu mengedip jahil, sedikit menyeringai dan mendekati Berna. Ia berucap menggoda, “Apakah Tuan Adskhan tidak memberitahu Anda untuk kencan malam ini, Nona?” “Bahkan, setelah ini kita akan pergi ke tempat perawatan dan terutama memanjakan Anda untuk nanti malam supaya bertemu Tuan semakin terlihat memesona.” Wajah putih perempuan yang tidak lebih tinggi dari Sekretaris Ozan itu bersemu. Ia merasakan kedua pipinya memanas, terutama degup jantung yang berdetak tidak keruan. Ia menggigit bibir bawah, berusaha menahan rasa salah tingkah. Sebab perempuan itu memang gencar menggodanya. “Tuan Yozan mungkin hanya mengajak makan malam biasa,” sahutnya gugup dan hal itu membuat perempuan muda di hadapannya menyeringai. “Tenanglah Nona ... Hari ini, aku akan membantumu untuk terlihat semakin cantik dan membuat Atasan kita jatuh cinta berkali-kali pada Anda.” Berna tidak bisa menyembunyikan semburat merahnya lebih lama lagi. ** Berulang kali Berna menormalkan detak jantungnya. Tapi, selama beberapa kali itu pun degup jantungnya tidak kunjung usai, berhenti. Ia tetap saja gugup dan menelan saliva susah payah, merasa tenggorokannya kering. Tangannya bahkan sedikit dingin. Entah diciptakan oleh angin dari keindahan area dermaga yang indah atau karena khawatir akan penampilan yang tidak maksimal, sesuai harapan Ozan? Termasuk membayangkan bagaimana malam ini kencan mereka akan terlaksanakan. Ia mengulum senyum. Memerhatikan deretan kapal kecil dan kapal pesiar yang malam ini melintas di sisi kirinya. Perempuan itu masih berjalan ke sepanjang dermaga hanya untuk mencari keberadaan Ozan yang sudah menunggunya. Semakin ia melangkah dari balik heels yang membungkas kaki jenjangnya. Perempuan itu sudah melihat pria tampan dalam balutan jas yang malam ini digunakannya. Jantungnya bertalu kuat hanya untuk melangkah semakin dekat dengan pria tinggi dengan tubuh atletisnya. Senyum manis itu tersungging di sana, tetap menunggunya mendekat. Setelah sampai dan hanya berjarak tidak sampai dua meter. Kedua manik itu saling bersitatap dengan pancaran lain. Berna tersipu dan ingin sekali menunduk malu. “Apa kau terlalu lama menungguku?” tanyanya tidak enak hati. Ozan mendekat, membiarkan perempuan itu menghindari tatapannya. “Iya, terlalu lama sampai membuatku bosan.” Perempuan itu sontak mendongak, menatapnya penuh rasa bersalah dan ketika bibirnya akan terbuka mengucapkan kata maaaf, Ozan meraih cepat pinggang itu, memeluknya mesra. “Setimpal saat malam ini aku melihatmu sangat cantik,” bisiknya mesra, menunduk dan memberikan kecupan seringan bulu di pipi kanan Berna. Tubuh Berna membeku mendapatkan perlakuan lembut dari Ozan. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN