Bab 10 - Menutup Luka

1272 Kata
Suasana makan malam romantis itu kian terasa menakjubkan saat Ozan memerintah untuk menjalankan kapal pesiar milik pribadi.   Berna dan Ozan duduk di dekat jendela kaca yang malam ini memperlihatkan keindahan Kota Rotterdam. Ia terlalu gugup, duduk berhadapan dengan momen romantis biola dari dua pria berseragam yang sama. Mereka berdiri sedikit jauh untuk memberikan privasi pada mereka.   “Jadi, seberapa besar aku bisa membuatmu tersipu malam ini?” tanya Ozan membuat Berna mendongak. Kedua pipinya bersemu, melihat pria itu memasukkan makanan dengan sorot tertuju pada perempuan cantik di hadapannya.   “Cukup ... Besar,” cicitnya merasa degup jantung kian memburu.   Ozan mengulum senyum. “Bukankah kita sedang menikmati kencan?”   Perempuan itu menganguk bersamaan dengan dehaman pelan. “Sayangnya, sesederhana apa pun yang kau lakukan hingga detik ini. Jantungku selalu berdetak kuat. Kau memang pria yang tepat menjadi incaran perempuan lajang lainnya.”   Sebelah alis Ozan terangkat. “Kenapa seperti itu?”   Berna memberikan tatapan sedikit kesal dan menggeleng tidak percaya. Malam ini ada obrolan yang terdengar cukup serius. “Apa kau tidak tau? Jika banyak anak dari rekan kerjamu yang terus saja mencuri perhatianmu? Itu sudah sangat jelas saat kau hadir di pesta perusahaan orangtua mereka dan beberapa potret kerap memperlihatkanmu terlalu nyaman berbicara dengan putri mereka yang cantik dan seksi.”   Ozan tertawa kecil. Ini hampir persis dengan ucapan Asisten Pribadinya dan Berna mengatakan lebih rinci.   “Kau cemburu?”   Perempuan itu mengedik. “Tadinya aku cemburu. Tapi, setelah kau mencoba memilihku dan kita saling mengenal satu sama lain. Kurasa aku lebih menang banyak di bandingkan mereka.” Ia berucap percaya diri dengan seringai sombong.   Ozan berdecak pelan, meskipun ada kedutan di kedua sudut bibirnya tertahan untuk terulas sempurna. “Anda sangat percaya diri, Nona Berna Yildiz.”   Perempuan itu mengedipkan sebelah matanya. “Itu sikap yang tepat supaya mereka paham ... Jika sudah sering bibirku menjadi sasaran pria yang menjadi idola mereka.”   Keduanya tertawa kecil. Terutama Ozan yang merasa terhibur dengan ucapan Berna yang sangat sederhana. Ia tahu maksud dari perempuan itu yang mencoba memasukkan sedikit humor ke dalam makan malam romantis mereka. Bukankah perempuan itu kerap tidak bisa menahan detak jantungnya? Maka, ia ingin membuat ritme detak jantungnya menjadi normal dengan hal seperti ini.   “Kau tidak berniat memuji penampilanku?” jahil Ozan bersikap manis yang dibuat-buat.   Ia memandang lurus perempuan bermanik hitam itu dengan tatapan lembutnya. Ada senyum manis yang kembali membuat desiran halus itu terasa di dalam diri Berna. Kedua pipi putih itu memerah. “Kau ... Selalu tampan, sekali pun hanya memakai kaus biasa.”   Ozan mengetuk dagu dengan jari telunjuknya. “Banyak perempuan lajang ... Mengatakan jika aku akan lebih memesona dan terlihat tampan jika hanya memakai celana renang. Saat itu mereka seolah berimajinasi liar, terutama melihatku keluar dari kolam renang. Itu benar atau salah?”   Pertanyaan yang dibuat polos, tapi terlalu jahil jika Ozan yang menyebut dengan sorot bertanya pada Berna. Perempuan itu salah tingkah dan mencoba memalingkan wajahnya.   Sejak lahir, Ozan memang kerap membawa suasana lebih ringan. Kecuali tentang percintaan. Itu akan tetap berat dalam hidup Ozan.   Kebaikan dan ketulusan cintanya dipermainkan.   “Aku tidak tau,” balasnya dengan suara rendah, menutupi jika Berna pun pernah berpikir hal yang sama.   Padahal, Berna dan beberapa temannya pernah melihat Ozan yang sangat memesona itu di area kolam renang gedung apartemen.   “Baiklah ... Baiklah. Aku memang tidak sepanas Kakakku.”   Saat itupula tawa Berna membuat Ozan tersenyum geli. Perempuan itu pasti mengerti akan maksudnya. “Kalian sama-sama tampan,” cetus perempuan itu mengakui secara jujur.   “Kakakku lebih banyak dilirik perempuan lain. Bahkan, ketika dia sudah menikah dan memiliki dua anak. Tetap saja Kakak Iparku merasa dirinya harus terus waspada dengan orang ketiga.”   Berna menggeleng dengan senyum yang masih terulas. “Apa kau tidak tau tentang kabar yang sangat sering orang sepertiku dengar?”   “Tentang apa?”   Pertanyaan yang sarat akan rasa penasaran dibalas senyum manis Berna. Tanpa sadar alunan musik dari biola itu telah berhenti. Mereka benar-benar menyelipkan hal seperti ini pada pembicaraan makan malam.   “Seorang pria Adskhan sangat mencintai pasangannya.”   Berna bisa melihat jika Ozan sebenarnya cukup terkejut dalam sorot mata yang tidak berkedip. Ia tahu meskipun manik coklat itu tidak membulat sempurna.   Ia sedikit memajukan tubuh dan menatap pria tampan yang selalu membuat nyaman lawan bicaranya. Kaum perempuan dan pria akan tetap menjawab yang sama perihal sifat Ozan. Termasuk jika menyinggung sedikit bagaimana seorang Adskhan dalam menilai cinta.   “Jika kau meragukan ucapanku. Kau bisa memulai bertanya pada pegawai dari divisiku. Dulu, saat kali pertama aku mengenalmu, kami sangat sering membicarakan hal yang terkadang sangat membuat kami iri. Para perempuan yang dicintai seorang pria Adskhan akan membuat kami ingin berada di posisi mereka.”   “Ayahmu ... Cavero Adskhan dan Kakakmu ... Savas Adskhan. Mereka adalah orang yang akan membuatmu tanpa sadar bercermin dari perjalanan cinta mereka. Kau memiliki darah dari seorang Tuan Cavero. Tidak akan pernah menutup kemungkinan dalam pencarian cintamu yang cukup berbeda dari mereka ... Kau sangat menginginkan satu perempuan tetap berada dan selamanya menemanimu hingga tua.”   “Kau sangat menantikan hari itu Ozan. Aku paham apa yang terjadi pada hidupmu sekarang. Dan aku selalu menginginkan kau mendapatkan kebahagiaan itu sangat cepat.”   “Aku akan selalu berusaha menyadarkanmu jika masa lalu itu tidak pantas lagi menghantuimu.”   Ozan terpaku dengan ucapan Berna yang membuatnya selalu menyadari dari tiap alasan dan kesalahan yang dibuatnya selama ini.   Perlahan, senyum manis pria itu terbit. Ia meraih tangan kanan Berna dengan lembut, mengenggam dan membawanya tepat di bibir. Ozan mengecupnya dengan lembut di punggung tangan halus itu.   Detak jantung Berna kembali tidak keruan dengan wajah tersipu saat manik hitamnya bertatap lekat dengan manik coklat pria di hadapannya.   “Kau bersedia berdansa denganku, Nona Yildiz?”   Sebuah anggukan malu-malu itu direspons cepat Berna. “Dengan senang hati, Tuan Adskhan.”   **   Alunan musik kembali menciptakan kemesraan pria dan perempuan yang saling merangkul. Bergerak seirama untuk larut dalam alunan nan romantis, serta dari balik jendela kaca kapal pesiar itu kian memabukkan perasaan masing-masing.   Berna menatap lembut manik coklat di hadapannya. Kedua tangan perempuan itu melingkar di leher Ozan dan kedua tangan Ozan memegang pinggang ramping perempuan dalam balutan gaun malam yang terkesan manis. Tidak begitu seksi, tapi mampu membuat Ozan memujinya.   “Kita akan berlayar semalaman di sini,” bisik Ozan sedikit menunduk, mensejajarkan pandangan keduanya.   Berna terkesiap, meskipun Ozan tetap mengajaknya untuk berdansa. Bergerak seirama bersamaan dengan alunan musik yang semakin menghadirkan atmosfer memabukkan.   Perempuan itu sedikit lebih tinggi dengan bantuan heels dan semakin dekat, nyaris tak berjarak saat Ozan memandangnya. Ia bisa semakin jelas melihat ketampanan pria keturunan Jerman – Turki.   “Kita ... Tidak kembali ke unit?”   “Hari ini tidak akan berakhir dengan cepat, Berna. Kau dan aku harus melihat matahari terbit untuk kali pertama di atas kapal.”   Wajah perempuan itu bersemu dan tanpa sadar ia menjatuhkan wajahnya di d**a bidang pria berbalut jas non formalnya.   Ia memejamkan mata merasakan kecupan singkat diberikan Ozan di atas puncak kepalanya.   “Jadi, kita akan tidur di sini?”   “Ya. Sepertinya pilihan terbaik adalah satu kamar. Bagaimana?”   “Ozan ...”   Pria itu tertawa dan menutup sebuah alunan musik, merapatkan tubuh keduanya dan membawa dagu itu mendongak.   Dua bibir itu saling menempel dan menghadirkan senyum di antara mereka. Berna sudah larut dalam tiap kebahagiaan yang diciptakan Ozan malam ini. Maka, ia memberikan pria itu penghargaan dalam sebuah pagutan lembut yang ia mulai terlebih dulu.   Ozan membiarkan saat tengkuknya ditarik lembut, memperdalam pagutan di antara mereka. Terus berlangsung dengan ritme pelan, mencoba menikmati kemesraan yang lebih dalam di kencan pertama mereka.   “Berna ... Bolehkah aku menjadikanmu sebagai kekasihku mulai malam ini?”   **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN