Bab 11 - Kehidupan yang Baru

1523 Kata
Dua tahun kemudian ...   Dua pria dan satu orang lelaki duduk berdampingan. Menerima beberapa pertanyaan dari wartawan dengan sorot tatapan dan ekspresi masing-masing. Untuk beberapa kali dalam bulan keberuntungan ini, Yozan Adskhan sudah menemukan kejayaan yang selama ini diperjuangkannya. Ia tidak pernah melupakan bagaimana titik awal dirinya merintis karier, meminta kepercayaan dari orangtua supaya memberikan restu untuknya membangun anak cabang perusahaan. Lebih dari lima tahun ia telah dikelilingi orang yang sangat baik dan mampu membuatnya untuk tidak terpuruk dengan sangat lama. Mereka adalah orang-orang yang akan selalu diingat Ozan. Teman-teman, pegawai di perusahaan dan terutama orangtua. Jangan lupakan Kakaknya yang selalu saja mendukungnya, sekali pun dalam percintaan. “Bagaimana dengan perasaan Anda sendiri, Tuan Yozan? Setelah mendapatkan kepercayaan dan membangun anak cabang yang kini bergerak sangat pesat, Anda bisa mengungkapkan perasaan Anda pada kami?” Ozan tersenyum manis. Membiarkan para wartawan mulai mengambil potretnya dan menyorot—meliput—pria berusia tiga puluh dua tahun yang didampingi oleh Tuan Cavero dan Tuan Savas. Keduanya membiarkan Ozan duduk di antara mereka. Ini waktunya jumpa pers. “Tentu,” jawabnya menerbitkan senyum semringah. Ia menatap bergantian pada dua orang yang sangat berarti baginya. Maka, dengan tidak memedulikan apa pun dan hanya ada cinta dan kasih dalam hidupnya untuk mereka. Pria itu memberikan kecupan singkat di pipi Papa dan Kakaknya. Seluruh wartawan dibuat tertawa oleh respons yang sama diciptakan Tuan Adskhan dan Savas, Manik mata yang berbeda itu membeliak sempurna dan menjadikan wartawan sudah mengabadikan beberapa potret yang sangat lucu dan menggemaskan. “Perasaan yang aku rasakan begitu membahagiakan. Mereka adalah orang yang sangat berarti untukku. Orangtua dan Kakak,” ungkapnya menatap keduanya dengan cengiran lebar, tidak memedulikan jika keduanya nyaris tidak berkedip. “Mereka memiliki peran masing-masing dalam pencapaian yang baru saja berada di tahap awal. Setiap pekerjaan tidak akan pernah berhasil tanpa orang-orang terdekat yang selalu mendukung dalam keadaan apa pun.” “Aku menyayangi mereka.” Savas dan Tuan Adskhan mengulas senyum dan berganti para wartawan mulai menanyakan perasaan mereka pada kesuksesan putra dan adik. Tidak akan dengan mudah jumpa pers itu berakhir, jika tidak menyinggung dan mencoba mengulik kehidupan pribadi. Salah seorang pria dari sudut ruangan menunjuk tangan, mengungkapkan pertanyaannya. “Kami mendengar Anda sudah melangsungkan pertunangan secara tertutup, Tuan?” Itu bukanlah hal terburuk yang Ozan dengar. Senyumnya tertarik sempurna dan ia mengangguk semangat. “Kalian bisa mendoakanku untuk pesta pernikahan yang mewah. Bagaimana pun, biarkan hal sederhana kami ciptakan sebelum akhirnya memberikan kebahagiaan yang bisa kalian liput tanpa batas.” Mereka mengangguk dengan senyum hangat. Pria di hadapan mereka tetaplah orang yang sama. Tidak terlalu ingin menjawab dengan hal kaku dan mencoba untuk memberikan pengertian yang lebih sederhana. Bukan tanpa alasan untuk memberitahu seperti ini. Dilakukan supaya apa yang mereka lihat sebagai sosok Yozan Adskhan ... Pria itu tetaplah akan sama di mata orangtuanya. Sangat hangat dan tidak malu untuk berteman pada siapa pun. Ozan tidak pernah diajarkan untuk melupakan kebaikan orang-orang yang sudah mendukungnya. ** “Dia sangat tidak terduga.” Dua suara perempuan yang tertawa geli semakin membuat pria bermanik hijau itu terlihat memicing tidak suka. Itu respons yang tidak pernah diharapkannya. “Aku sangat menyayangimu, Kakak ...” Sekali lagi. Ozan mencium pipi kiri Savas, sekaligus merangkul cepat bahunya supaya tidak berhasil kabur. “Ozan ... Kau m*****i pipiku!” pekik pria itu berusaha melepaskan rangkulannya, tapi Ozan semakin puas dan tetap merangkulnya. Kedua perempuan dengan usia dan status yang berbeda, duduk di sofa yang berada di gazebo taman, semakin puas tertawa. Ini menjadi hiburan yang sebenarnya sangat ditunggu ketika dua pria di hadapan mereka saling bertemu, mencoba mencurahkan kasih sayang dengan cara masing-masing. “Aku kan sayang dengan Kakak,” balasnya polos dan untuk sekali lagi, pria dengan selisih usia enam tahun itu benar-benar membuat pria di sampingnya memekik dengan pandangan jijik. “Itu karena aku dan Papa berusaha tidak mencubit bibirmu!” ketusnya membuat Ozan mencebik. Mereka yang duduk berseberangan dengan para perempuan pun, begitu santai menonton adegan Ozan dan Savas. “Jangan memendam rindu ...” “Aku benar-benar baru kembali ke Berlin setelah dua tahun lamanya berada di sana. Hanya pulang untuk hari raya dan beberapa hari penting di keluarga kita,” jelasnya menampilkan sorot datar dari balik manik coklatnya. Saat itu pula Savas tertawa kecil dan mengacak rambut coklat Adiknya. “Selamat ulang tahun, Adikku tersayang ...” “Aku baru bisa kembali ke sini satu jam sebelum jumpa pers itu berlangsung.” Ia mengulum senyum masih mendapati sorot datar sang Adik. Pria yang masih saja terlihat tampan di usianya yang akan mendekati kepala empat itu, memberikan kedipan di sebelah matanya. “Kau harus paham jika Kakak Iparmu sesekali harus kembali ke tanah airnya. Terutama kedua anakku harus mengenal negara Mamanya sendiri.” Tidak berapa lama senyum Ozan terbit. Ia pun memeluk Savas dengan perasaan bahagia menyusup. Ia merindukan keluarganya. Merindukan menghabiskan waktu bersama. Ia merasa dua tahun adalah waktu yang cukup untuknya menata hati. “Hmmm ... Sepertinya kalian melupakan kami? Tidak sedikit pun kalian menatap ke mari.” Suara sarat akan ketegasan dan nada sinis itu membuat pria bermanik hijau lebih dulu menatap objek di hadapannya. Senyum manisnya terulas sempurna dan sepersekian detik, ia sudah beranjak dari duduk untuk mendekati istri tercinta. Perempuan yang tetap cantik dan seksi, meskipun sudah memiliki dua anak, tetap membuat tubuh Savas berdesir dan b*******h dalam satu waktu. “Dia menciumku. Seharusnya aku bisa mendapatkan ciuman yang sama darimu untuk menghapus jejak yang dia tinggalkan.” Dari tempat duduknya, Ozan mendelik tidak percaya dengan jawaban sang Kakak yang merengek dan menghina rasa sayang yang ia curahkan. Aletta Bert Adskhan. Istri dari Savas Adskhan pun berdiri dan menatap suaminya yang menunjukkan wajah sedihnya. “Sebelah mana dia menciummu?” “Di sini,” tunjuknya dengan wajah sedih. Savas menunjuk pipinya dengan wajah polos nan dibuat sedih. Untung atau buntung bagi yang melihat? Aletta dengan mesra merangkul leher suaminya dan memberikan pagutan mesra, tepat di hadapan Ozan dan Berna yang duduk berseberangan. Bibir Ozan sedikit terbuka dan manik coklat yang membeliak sempurna. Sedangkan Berna yang mencoba tersenyum, meskipun dengan wajah tertunduk. “Di mana anak kita?” bisiknya mesra dan sengaja melepaskan ciuman saat Savas berniat membalasnya. Pria itu mengerling tidak suka. Tapi, Aletta hanya menahannya dengan senyum kecil. “Sudah bersama Mama dan Papa. Mereka pergi ke Mal untuk memanjakan cucu mereka.” “Jadi?” Savas dan Aletta saling berpandangan. Tiba-tiba senyum nakal Savas terbit, melihat senyum manis Aletta yang sangat berbeda. Ia menunduk hanya untuk berbisik, supaya tidak terdengar selain mereka. “Lanjutkan di kamar. Bagaimana?” Aletta pun memberikan senyum nakal dan mengusap sisi bahu suaminya. “Dengan senang hati, Tuan Savas Adskhan.” “KAKAK ....” “INI HARI BAHAGIAKU! AKU SEDANG BERADA DI PUNCAK SUKSES! MEREKA SEMUA MEMBERIKANKU DOA DAN PERHATIAN LEBIH. PUN BERTEPATAN DENGAN HARI ULANG TAHUNKU!” “KENAPA KAU MEMILIH BERMESRAAN DENGAN KAKAK IPAR?! APA KAU TIDAK MERINDUKANKU?! KITA SUDAH LAMA TIDAK MENGHABISKAN WAKTU BERSAMA!” “Urusan ranjang lebih penting.” Sukses. Ozan menganga sempurna karena teriakannya penuh emosi menjadi angin lalu. Dibalas dengan sangat singkat, padat dan jelas. Bahkan, Savas dengan senyum penuh kemenangan melemparkan senyum penuh arti, merangkul mesra pinggang istrinya untuk memasuki Mansion milik Savas. Tempat berkumpul keluarga kecilnya, orangtua dan saudara pria satu-satunya bersama sang tunangan. “Ya ampun ... Dia tidak menyayangiku sama sekali.” Ozan berdecak kesal, membiarkan keduanya berlalu tanpa memanggil lagi atau sekadar menoleh. Pria itu baru tersadar saat suara tawa geli Berna terdengar. Ia menoleh, melihat betapa bahagianya tunangannya hari ini. “Ini hari yang sangat membahagiakan, Ozan.” “Kau seharusnya bisa melihat dari sisi yang lain,” sambungnya membuat pria itu paham dan mengulum senyum. Kepalanya sedikit miring, memberikan kode pada Berna untuk pindah duduk. Perempuan dengan gaun pendek di atas lutut dan memperlihatkan kaki sempurna dibalut tubuhnya yang ramping semakin menarik perhatian Ozan. Tapi, detik selanjutnya senyum manis yang membuat Berna mendekat ternyata penuh maksud dan tujuan. Ia memilih duduk di pangkuan Ozan, menaruh sebelah tangan di bahu dan membiarkan telapak tangan kanannya mengusap pipi Ozan. Ozan mengerling nakal. Kedua tangannya sudah merangkul mesra pinggang Berna. “Kakak bilang, Papa dan Mamaku sedang pergi bersama Keponakanku ya, kan?” Berna berdeham pelan dengan anggukan kecil. Ia nyaman mengusap pipi Ozan dan menatap pria yang hari ini sedang berulang tahun. Tengah malam ia sudah memberikan kejutan bersama orangtua Ozan. Beberapa pelayan mencoba mengambil momen saat pria itu masih dengan wajah kantuk, berusaha untuk tetap melihat jelas betapa keluarganya sangat sayang dan selalu mengingat hari spesialnya. Ozan memberikan kecupan di dagu Berna. Perempuan itu bersemu. “Kamarku atau kamarmu?” tanya perempuan itu dengan senyum penuh arti, memberikan pertanyaan sebelum Ozan yang memulai. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini. Ozan tertawa kecil dan mencoba meraih sisi wajah Berna, membawa bibir ranum itu untuk kembali dipagutnya. Meskipun sudah merasakan bagaimana berulang kali bibir itu memagutnya. Tetap saja Berna tidak bisa menahan detak jantungnya yang begitu kuat. Pun kali ini pria itu memulai dengan sangat lembut. Ia sangat terbuai. Berna sudah belajar banyak hal. Termasuk saat ia mulai bersikap lebih jauh bersama Ozan selama di Rotterdam. “Kamarmu saja,” bisik Ozan membuat senyum keduanya terbit. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN