Tepuk tangan meriah dan ucapan selamat mulai diterima Jihan Muge Daymaz.
Peresmian cabang kafe keluarganya pun terlaksanakan. Ini adalah kafe kedua puluh yang sudah tersebar di beberapa kota di Jerman. Pun, ia kembali ke Berlin sebagai perwakilan dari orangtuanya yang sekarang berada di Amerika. Salah satu saudara terdekat mereka meninggal dunia.
Jadi, ia yang turun langsung dan kembali ke kota asal. Hari ini peresmian berlangsung ditemani suami dan anaknya.
“Selamat atas pembukaan kafe barunya, Nyonya Daymaz. Bahkan, cita rasa beberapa menu termasuk kue sangat khas. Tidak pernah ada yang berubah sejak Anda berada di bangku kuliah. Anda sudah membantu usaha orangtuamu dengan sangat sempurna.”
Sebuah salam dan jabat tangan itu diterima perempuan yang semakin cantik yang belum genap berusia tiga puluh dua tahun. Tidak seperti terlihat semakin bertambah tua. Perempuan itu masih sangat pantas jika berada di antara sepupu muda lainnya yang baru berusia dua puluh tahun awal.
“Terima kasih Nyonya Chadrick. Anda adalah pelanggan tetap keluargaku hingga detik ini,” balasnya memeluk sejenak wanita yang baru genap berusia lima puluh tahun.
Wanita itu tertawa pelan dan mengangguk, seraya menepuk hangat lengan atas Jihan. “Aku tidak pernah salah telah berlangganan lama dan kebetulan, cabang ini sangat dekat dengan rumahku. Akhirnya harapan kecilku terkabul dan tidak perlu menaiki kendaraan jika hanya berkunjung untuk membeli.”
Jihan dan Nyonya Chadrick tertawa kecil, saling mengilas balik sejenak kafe Jihan yang dulu belum banyak memiliki koneksi. Sekarang, usaha keluarga yang ia pegang semakin pesat dan luar biasa menjadi kesan terbaik bagi setiap pengunjung yang datang.
Minuman dan makanan terbaik mereka selalu menjadi hal wajib yang harus dicoba. Ada beberapa menu andalan dan itu dari resep keluarga perempuan Ibu satu anak.
“Selamat atas usahamu yang semakin berkembang, Sayang,” ucap Erdem menarik lembut kepala belakang istrinya dan memberikan kecupan di keningnya.
Jihan tersenyum manis dan mengangguk.
Seluruh tamu dan beberapa wartawan lokal sudah selesai berdatangan dan ia pun berada di ruang keluarga bersama suaminya di dalam kafe.
Erdem Daymaz memiliki banyak koneksi dan beberapa wartawan pun ingin meliput usaha yang dimiliki istri pria sukses berusia tiga puluh tujuh tahun itu. Sosok istri Erdem memang sangat mencolok dan paras cantiknya semakin berseri kala orang tahu jika Jihan adalah perempuan mandiri.
“Kau sangat membantuku,” bisiknya tersenyum manis dan membiarkan Erdem mengusap rambutnya dengan penuh sayang.
“Mama ....”
Gani. Anak lelaki Erdem dan Jihan masuk ke dalam ruangan khusus untuk keluarga kecilnya bersantai.
Anak itu tampak bahagia dan Erdem langsung menggendong Gani.
Cup!
Anak lelakinya memberikan kecupan di pipi kanan Jihan. “Selamat atas pembukaan kafe barunya, Mama,” ucapnya dengan senyum semringah, memberikan ucapan yang sebenarnya sudah diucapkannya saat mereka akan berkunjung ke kafe.
Jihan tertawa kecil dan mengangguk.
Ia mengusap penuh sayang paras tampan anaknya.
“Bagaimana kita menghabiskan waktu sepanjang hari ini?” tanya anak itu dengan tatapan polos.
Kedua orang dewasa yang berdiri berhadapan, saling melemparkan tatapan tanya dan mencoba berpikir. “Bagaimana jika anak Mama memberikan kebaikannya untuk saling membantu? Kita bisa membantu pelayan lainnya untuk mengantarkan makanan dan minuman?”
Manik hitam Gani berbinar. “Apa itu boleh, Mama?”
“Tentu, Sayang,” sahutnya cepat memberikan kecupan di kedua pipi Gani.
Gani bersorak bahagia. “Tapi ... Kau tidak boleh membawa minuman panas, ya?” pesan Erdem menatap anaknya dalam gendongan.
“Jadi, aku tidak boleh mengantar minuman?” tanyanya polos dan membuat pria yang pernah berstatus duda itu tertawa kecil.
Ia mencubit gemas pipi anaknya. “Boleh. Asalkan jangan minuman panas yang berisiko melukai tubuhmu, Nak. Membawa minuman dingin saja. Bagaimana?”
“Iya ... Aku tetap senang mendengarnya. Ayo kita bantu Mama sekarang, Papa!” seru anaknya menatap keduanya bergantian dengan binar dan senyum semringah yang tidak bisa ditutupinya.
“Apa kau mau menerima anak kecil sepertinya membantumu, Sayang?” tanya Erdem sedikit menggoda Jihan.
Perempuan itu mengulum senyum. “Dia membantu Mamanya. Itu perilaku yang sangat baik.”
Ia meraih sisi wajah Gani dan mencium keningnya. “Mama mencintaimu, Sayang.”
“Aku jauh lebih mencintai Mama.”
“Bagaimana dengan Papamu sendiri, Nak?”
“Aku lebih sayang sama Mama,” tekannya yang membuat pria itu menatapnya dengan sorot sedih; terlalu dibuat-buat dan menghadirkan tawa dari Jihan dan Gani.
“Jadi, siapa nama lengkapmu?”
Anak lelaki itu menjawab dengan bangga, “Gani Daymaz ...”
“Anak lelaki satu-satunya dari Mamaku yang bernama Jihan Muge Daymaz dan Papaku, Erdem Daymaz.”
Orangtua Gani segera mencium kedua pipinya secara bersamaan dan membuat anak itu merasa nyaman dan penuh kebahagiaan mendapatkan perhatian dan cinta dari keduanya.
**
Jihan duduk di ruang kerjanya sendirian. Tempat yang jelas saja berbeda dari ruang keluarga miliknya. Pun, ia membiarkan anak lelakinya bermain dengan sepupu kecil lainnya yang datang dan tadi sudah memberikan ucapan selamat.
Sedangkan Erdem harus pergi menemui koleganya di Berlin. Ya, mereka sampai detik ini Jihan sudah terbiasa pulang pergi dari kota asalnya menuju kota di mana Erdem tinggal. Atau sebaliknya jika memang terjadi.
Ia tidak mungkin bisa untuk bertahan di sana tanpa mengunjungi orangtuanya. Jika pun pindah, itu tidak mungkin mengingat Erdem sebagai pengusaha terkenal di kotanya. Jihan ingin menjalankan status dan perannya sebagai istri dan Ibu dengan baik.
Tangannya berhenti saat melihat ada berita yang singgah di sosial media miliknya.
Kabar tentang kesuksesan Ozan selama di Rotterdam yang membuahkan hasil.
Terutama ...
Saat hari peresmian kafenya, bertepatan dengan hari ulang tahun Ozan.
Ia tersenyum getir dan merasakan sesak yang menghantam dadanya. Jihan tidak bisa mengembuskan napas dengan lebih baik, selain ada yang menahan di sana.
Mungkin ... Dalam bentuk duka berkepanjangan?
“Aku bahkan sudah tau jika kau telah menjadikan Berna sebagai tunanganmu, Ozan,” lirihnya dengan senyum getir, memandang pria yang duduk di ara jumpa pers, berdampingan dengan Kakak dan Papanya.
Jihan mendengkus pelan. Mengejek dirinya sendiri di masa lalu. “Di saat aku menuduhmu berselingkuh, kau bersikukuh mengatakan kejujuran. Mungkin, karena kebohongan ini ... Semua ucapanku perlahan menjadi nyata.”
“Kau memiliki hubungan spesial bersama Berna Yildiz. Nyaris dua tahun ini.”
Matanya memanas.
Ia merasa perih mulai menjalar di dalam tubuhnya.
“Terima kasih telah memberikan kesan berarti di dalam hidupku tentang cinta yang kau berikan.”
“Sekarang, sudah saatnya kau bahagia atas pilihanmu dan melupakan aku selama-lamanya.”
Ucapan itu terasa berat dan menyakitkan saat dilontarkan Jihan.
Ozan yang dulu hanya berbagi pelukan—sentuhan memabukkan—kini sudah membagi dan melupakannya. Pria itu telah dimiliki perempuan lain dan Jihan mengakuinya, jika perempuan itu sangat beruntung telah mendapatkan kesempatan terbaik yang diinginkan Ozan.
Melepas cinta yang lama dan menyambut cinta yang baru.
**