Bab 13 - Hasrat Menggebu

1270 Kata
Suara tawa Berna terdengar menggelitik indera pendengaran Ozan. Terlebih paras cantik itu seperti memberikannya ejekan yang menantang, seraya membuka pintu kamar hotel.   Mereka baru saja menghadiri pesta ulang tahun perusahaan rekan bisnis Ozan di Berlin. Pun, setiap orang—tamu undangan—kehormatan, mendapatkan kesempatan yang sama untuk menginap di unit masing-masing.   Karena akan ada acara informal yang diadakan pagi hari, sekaligus acara yang dikhususkan untuk mempererat jalinan kerjasama mereka. Tepat di area golf dan bagian sisi lainnya yang akan digunakan untuk barbeque.   “Jadi, kau tidak percaya jika dari kesepuluh gerombolan perempuan seksi itu ... Empat di antaranya adalah mantan kekasihku?”   “Mereka terlalu cantik untuk melirik pria sepertimu.”   Balasan yang terkesan jahil, serta langkah dari perempuan berbalut gaun malam yang seksi. Bahkan, rambutnya kini tergerai, sedikit menutupi bagian bahu yang terbuka dan memperlihatkan bagian d**a yang selalu mengundang para pria. Tentu saja Ozan tertarik melihatnya. Ia adalah pria normal yang sejak dulu sangat pandai mencari pengganti—partner—yang lebih menggoda.   Kedua tangan Ozan ia taruh di kedua pinggangnya.   Ia berhenti saat Berna nyaris akan sampai ke pinggir ranjang.   Perempuan itu mengulum senyum, sedikit mengangkat dagunya dengan angkuh. Ia tidak lepas menatap pria yang kini telah membuka dua kancing kemeja putih teratas, membiarkan dasi yang tersimpul rapi itu kini tergantung di lehernya.   Benar-benar seksi dan panas dalam satu waktu, bersamaan dengan rambut yang terlihat acakan.   Pesta sudah usai sejak lima belas menit lalu. Mereka terlalu sibuk mengobrol. Lebih tepatnya banyak perempuan muda dan seusia mereka mengajak pria berdarah Jerman – Turki itu memulai percakapan.   “Aku pria setia,” akunya jujur masih berkacak pinggang.   Pria itu memberikan tatapan tidak terima pada tunangannya yang berjarak tidak sampai tiga meter di hadapannya.   “Benarkah?”   “Apa selama di Rotterdam, aku sering keluar masuk klub?”   “Tidak sering ... Tapi, dalam tiap bulan akan tetap masuk ke sana.”   Ozan membalas dengan tawa kecil sebelum berdecak pelan. “Bukan itu maksudku.”   “Lalu?” permukaan bibir perempuan yang malam ini terlihat seksi dengan lipstik merahnya pun, tampak menantang Ozan.   Ia sudah terbiasa dijahili pria itu dan sesekali ia tidak ingin kalah telak selamanya.   Berna melipat kedua tangan di depan dadanya, menunggu jawaban Ozan.   Tapi, belum menjawab dengan cepat, Ozan sudah melangkah dengan seringai penuh arti.   “Hmm .... Baiklah. Itu fakta yang benar.”   Berna tertawa kecil, belum menyadari apa yang sedang menjadi tatapan lain dari sorot manik coklat di hadapannya.   “Bagaimana jika aku katakan ... Bahwa, selama dua tahun terakhir ini ... Hanya kau yang bisa menikmati tubuhku?”   Kedua sudut bibir tunangan Ozan berkedut. Jantungnya berdebar tatkala baru menyadari Ozan terlalu dekat dengannya dan sudah meraih sisi wajah perempuan berparas cantik itu.   Tangannya mengusap dengan lembut, penuh perhatian dan tidak lupa memberikan senyum menawan. “Aku pria setia, kan?”   Nada jahil itu membuat Berna tertawa kecil. Rasa gugup tadi terselip sebuah candaan ringan di antara mereka. Pun, perempuan itu menyambut bagaimana tatapan lain dari manik coklat itu. Ia merangkul mesra kedua tangannya di leher Ozan dan merapatkan tubuh depan mereka.   “Hmm ... Aku tidak tau itu kenyataan atau sekadar omong kosong yang dilakukan seorang pria yang sudah sering mengganti pasangan kencannya terlalu banyak. Dia terkenal tidak akan pernah lebih dari dua bulan menjalin hubungan. Setelah itu, dia akan mudah mendapatkan penggantinya.”   Ozan tertawa mendengarnya.   “Ucapanmu sangat manis dan begitu jujur, Nona Yildiz.” satu kecupan singgah di leher jenjang Berna.   Tubuh perempuan itu berdesir dan ia akan selalu menikmatinya.   Maka, hal terbaik yang sering keduanya lakukan di saat berdua di dalam unit—jauh dari jangkauan siapa pun—termasuk Kakak Iparnya yang terkadang menghasut Berna, tentang ke setiaan seorang Yozan Adskhan, memulai kemesraan mereka.   Berna tidak perlu diajarkan lagi bagaimana saat bibir tipis itu mulai memagutnya lembut. Bagaimana nantinya ketika pagutan itu semakin liar dan menuntutnya untuk menjalin di dalam sana.   Pun, Ozan akan semakin mengirit waktu saat Berna perlahan memundurkan langkahnya. Pria itu mengikuti langkah Berna tanpa melepaskan pagutan mereka satu sama lain. Masih memabukkan dengan menciptakan ritme selaras. Mencoba menyecap dan memagut dengan lembut.   Manik coklat itu sudah memperlihatkan hasratnya. Bahkan, Berna dengan senang hati membiarkan tubuhnya dibaringkan perlahan di atas ranjang, membiarkan dirinya berada dalam kungkungan pria tampan yang terkadang humoris.   Tapi, tidak akan ada satu pun sosok Yozan Adskhan yang sering menganggap suasana serius menjadi sebuah lelucon. Karena jika berada di atas ranjang, maka hanya kepuasan dan desahan yang akan mengisi ruang hening itu.   “Kenapa malam ini kau tampil sangat seksi?” bisik sebuah suara, sarat akan hasrat yang ditahan.   Berna tersenyum menggoda saat jemari tangan Ozan memberikan pola bergaris—turun—dari rahang sampai dagunya. Ozan mengecup di sana.   Ribuan kupu-kupu seolah menggelitik perut Berna.   Jantungnya pun kian berdetak kuat dan sentuhan yang Ozan tawarkan, selalu membuatnya b*******h.   Ozan merasakan telapak tangan Berna mengusap tengkuknya, sebelum beralih mengusap d**a bidang itu dengan s*****l. “Aku ingin mereka melihat ... Jika aku perempuan yang pantas bersanding di sampingmu. Kau tamu kehormatan mereka dan seharusnya, aku bisa mengimbangimu.”   Senyum simpul di dapatkan Berna.   “Terima kasih,” bisik Ozan tepat di telinga Berna, lalu merambat dan menempelkan bibir yang terasa menyengat di kulit tubuhnya.   Ia berada di sana untuk memuja salah satu bagian favoritnya dari tubuh tunangannya.   “Ozan ...”   Desahan itu lolos saat cumbuan Ozan tetap bertahan di sana. Memberikan kecupan seringan bulu, lalu meninggalkan jejak di kedua sisinya. Ia tidak peduli saat esok pagi cara Berna menutupi tanda yang sering pria itu tinggalkan.   Itu hanya suara yang tidak membuat Berna mengelak akan hasrat terpendamnya. Ia membiarkan Ozan sedikit lebih lama di sana, seraya menekan kepala pria itu untuk terus memberikan sentuhan mendebarkan.   Ozan yang merasa cukup bertahan di sana, meninggalkan jejak, beralih semakin turun.   Belahan yang menganggu penglihatannya sejak tadi, ia kecup mesra. Membiarkan Berna merespons dengan suara indahnya.   “Yozan Adskhan,” cicitnya sedikit menggeliat saat telapak tangan itu sudah meremas salah satu bagian dadanya.   “Hmm? Kenapa, Sayang?” tanyanya jahil, tapi tidak menoleh karena terlalu larut dalam sentuhan yang ia berikan.   “Cium aku,” pintanya merengek.   Ia ingin merasakan kembali pagutan pria tampan di atasnya.   Ozan mengulum senyum saat dirinya jauh lebih sadar dan bisa mengendalikan hasrat. Berna terlalu cepat terbuai.   Kecupan justru mendarat singkat di kedua pipi Berna. Sebuah ekspresi kesal terpatri di sana. “Kau selalu bisa menjahiliku, meskipun kita sedang berbagi sentuhan.”   “Biasanya ... Mereka yang meminta lebih padaku,” balasnya dengan raut sombong.   Berna mendelik sebal, tapi tidak lantas melepaskan rangkulannya. Bahkan, jemari lentik itu mengusap rambut belakang Ozan, menampilkan senyum s*****l dan tatapan menggoda.   “Kau menginginkannya?” bisik Ozan mesra, memahami tatapan dari sorot manik hitam di bawahnya.   Pun, sebelah tangannya yang bebas, merambat dari tungkai bawah Berna, naik ke atas untuk semakin dekat dengan tungkai atasnya.   Sebuah kedipan manja dan menggoda itu membuat Ozan tertawa kecil.   “Apa seperti ini?”   Desahan itu lolos begitu saja saat jemari tangan Ozan menyelinap dari balik gaun yang membalut tubuh indah perempuan bernama lengkap Berna Yildiz.   “Ya ... Seperti itu dan aku ... Aku sangat menyukainya.”   Napasnya memburu dan gairah itu membuat kepalanya berdenyut, menginginkan semakin jauh jemari tangan itu memanjakan tubuhnya.   Seringai penuh arti, kian terpatri di paras tampan Ozan. Ia mendekati bibir ranum Berna yang sedikit terbuka, memagut dengan lembut dan memberikan gigitan kecil di sana. “Ozan ...”   “... Ayo, lakukan,” pintanya yang tidak bisa menutupi lagi ketertarikan tubuhnya.   “Dengan senang hati, Nona Yildiz.” sebuah bisikan mesra dan dimulai dari pagutan yang semakin liar; menggebu.   Menjadi pembuka untuk mereka saling berbagi sentuhan malam ini.   **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN