“Guten Morgen ...”
Ozan mengerjap, meskipun senyumnya terulas perlahan mendapatkan kecupan di bibirnya, singkat. “Selamat pagi, Sayang.” ucapan itu terdengar malas. Tapi, Berna menyukai saat suara itu terkesan seksi.
“Sekarang jam berapa?”
“Jam enam tepat.”
“Semalam, acara akan dimulai pukul berapa?”
“Satu setengah jam lagi, kita harus segera berkumpul di sisi taman.”
Berna tertawa kecil melihat Ozan semakin malas untuk mendudukkan diri. Ia memilih menenggelamkan parasnya dalam selipan guling yang nyaman pria itu dekap.
“Guling itu lebih nyaman di bandingkan tubuhku?”
Detik selanjutnya, Berna sekuat mungkin menahan tawa ketika pria yang tidak membuka matanya sama sekali, melempar asal guling tersebut, lalu menarik cepat pinggangnya. “Sekarang kau tidak cemburu pada guling itu yang mendapatkan pelukanku, bukan?” tanya Ozan tanpa membuka kelopak mata.
Berna tidak bisa menyembunyikan tawanya lebih lama. Perempuan yang sudah satu menit memandang paras tampan yang terlelap, tidur menyamping dengan menyangga sisi kepalanya itu, kini semakin puas melihat wajah Ozan sangat dekat.
“Tidak. Karena semalam ... dia tidak kita pedulikan.”
Berna menyeringai saat kedua kelopak mata itu terbuka, memperlihatkan manik coklat indah itu.
“Gadis pintar ... Semakin hari, kau sudah cukup banyak belajar menggodaku.”
Perempuan itu tergelak saat tangan Ozan singgah di puncak kepalanya, menepuk dengan hangat, layaknya memberikan pujiannya.
Namun, tidak berapa lama manik coklat itu mengerjap, menyesuaikan penglihatannya mendapati kemeja miliknya sudah membalut tubuh Berna.
“Bukankah semalam ... Aku sudah melempar jauh gaun dan penutup terakhir di tubuh atasmu?”
“Ozan ... Ini terlalu pagi untuk membahas hal semalam ...”
Kini, ganti pria itu yang tergelak dan ia pun memilih mendudukkan diri, mengumpulkan kembali seluruh fokusnya ke dunia nyata. Mimpinya baik-baik saja selama dua tahun ini. Berna membawa banyak perubahan di dalam hidupnya.
Wajah perempuan itu bersemu tatkala melihat d**a bidang itu tercetak sempurna dan ia dengan jelas melihat bagaimana perut liat itu di sana. Ya Tuhan ... Bahkan, Berna masih ingat jika Ozan masih menyisakan boksernya di bawah selimut tebal yang membungkus sesuatu di sana.
“Hmmm ... Berhentilah berpikir kotor.”
Skakmat!
Interupsi Ozan dan bagaimana pria itu mengatakannya santai tanpa menatap Berna. Bahkan, terkesan memunggunginya sudah memberikan pernyataan telak bagi perempuan yang kini mematung dengan rona merah di kedua pipinya.
Ozan menoleh, memberikan seringai jahilnya, “Tebakanku tepat sasaran,” balasnya mengedip nakal dan diiringi tawa puas.
Berna berdecak kesal. Pun, ia yang tidak terima kini ganti membuat Ozan terkesiap.
Perempuan itu sudah berhasil mendudukkan tubuhnya di atas kedua tungkai Ozan yang meluruskan kakinya, setelah berhasil menyibak selimut tebal itu menjauh.
Sebelah alis Ozan terangkat saat ia bisa merasakan bagaimana padatnya bongkahan seksi yang menimpa tungkainya. Ia menarik kedua sudut bibir saat menyadari kemeja putih itu transparan dan sangat yakin, jika Berna tidak mengenakan bra, kecuali celana dalamnya.
Kedua tangan Ozan ikut memegang pinggang ramping Berna, membiarkan perempuan itu merangkul mesra lehernya.
Tatapan keduanya menyiratkan hasrat yang sama.
“Sepertinya kau sengaja menggoda balik, ya, kan? Kau sudah kalah telak dengan pernyataanku barusan.”
Tawa kecil yang berbanding terbalik dengan respons Berna yang mencebik. “Kau sangat cerdas memahami apa yang sedang terlintas dipikiranku,” balasnya setengah merengek frustrasi. Ia berpikir bisa mengerjai Ozan juga.
Pria itu terkekeh pelan dan mencubit ujung hidung mancung Berna. “Aku sudah mengenalmu selama tiga tahun. Cukup banyak aku mengenalmu,” balasnya membuat perempuan itu tidak bisa menyembunyikan senyum manisnya.
“Menurutmu, apa satu setengah jam waktu yang terlalu singkat untuk kita berdua?”
Pertanyaan yang terkesan serius itu membuat Berna mengernyit. Ia belum paham arah pembicaraan maupun tatapan Ozan.
Seringai penuh arti kembali terulas di bibir tipis Ozan. Jemari tangannya memainkan kancing kedua yang terlepas di kemeja milik Ozan. Itu kemeja yang ia gunakan semalam dan jika para perempuan yang memakainya ... Ozan tidak akan menampik jika mereka akan sangat terlihat seksi berkali lipat.
Berna mengerjap saat menyadari hal yang dimaksud Ozan. “Kenapa kau lebih banyak memulai, di bandingkan memberikan kesempatan untukku memulai semuanya?”
“Karena kau terlalu berharga dan lebih pantas aku yang memulainya ... Membiarkan aku memuja tubuhmu, selain bagaimana kau sangat tegar berada di sampingku. Semua ucapanmu di masa lalu adalah hal terbaik yang hingga kini kau pertahankan.”
Berna begitu tersanjung dengan ucapan Ozan yang sangat tulus. Manik hitamnya berkaca-kaca dan ia dengan cepat meraih wajah Ozan, memberikan pagutan singkat di sana. “Tapi, aku belum bisa seagresif yang kau inginkan,” bisiknya mesra, menciptakan tawa di antara atmosfer mesra mereka.
“Cukup baik ... Ya, sekitar tujuh puluh lima persen,” balasnya membuat Berna memukul gemas bahu kiri Ozan.
“Hanya tujuh puluh lima persen?”
“Hmm ...”
“Bagaimana aku mendapatkan sisa dari persentase itu?”
Kedua sudut bibir Ozan tertarik dan ia mendekatkan wajahnya pada sisi wajah Berna. Ia berbisik tepat di telinganya, “Dengan cara ...”
“... Woman on top.”
Blush ...
Perlahan tapi pasti. Ozan kembali merebahkan tubuhnya dan tanpa sadar, posisi Berna memang duduk di atas tungkai Ozan. “Lebih naik sedikit,” pintanya menghadirkan degup jantung di dalam diri Berna.
“Ozan ... Kita ... Kita bisa terlambat,” cicitnya dengan nada gugup, sekaligus merasakan debaran kuat.
“Tenang saja,” balasnya mengulum senyum dan sepersekian detik, Ozan sudah meraih pinggang Berna, menariknya semakin mendekat dan duduk di atas perutnya.
Namun, melihat tatapan jahil dan gairah dari manik coklat itu membuat Berna terdiam.
Ozan ... Pria itu selalu mengerti dirinya selama ini. Memujanya dan bertahan tanpa pernah ingin melirik perempuan lain. Semua yang dikatakan Ozan adalah kebenaran di saat banyak perempuan lain menggoda tunangannya.
Yozan Adskhan bukanlah pria dengan sorot yang sangat tegas seperti Kakaknya—Savas Adskhan. Tapi, kedua pria itu memang memiliki daya tarik berbeda dan Ozan ... Pria itu mampu memberikan kenyamanan pada siapa pun yang dekat dengannya.
Kedua tangan Berna berada di sisi tubuh Ozan dan dalam sekejap, belahan d**a nan seksi itu sudah menjadi suguhan di pagi hari. Ozan dengan mudah menaruk kedua telapak tangannya di balik kemeja miliknya.
“Ozan ... Seharusnya aku yang memulai duluan,” ucapnya sedikit tersendat dan melenguh ketika kedua telapak tangan itu meremas secara bersamaan.
Ozan mendengkus geli dan mengedipkan sebelah matanya. “Baiklah. Aku menunggu dengan manis.”
Berna mengulum senyum dan ia tidak pernah ingin membuat tunangannya kecewa.
Perlahan ia menunduk hanya untuk mengecup sekilas bibir yang sudah menjadi candunya.
Ia kembali menegakkan punggung, menatap pria yang berada di bawahnya, menatap lekat. Debaran di jantungnya bertalu kuat, tapi ia abaikan dan menjalankan kedua telapak tangan untuk mengusap d**a bidang Ozan dan merambat ke bahu tunangannya. Ia mengusap s*****l di sana, menampilkan senyum menggodanya.
“Jangan salahkan aku jika kau terlambat untuk berkumpul dengan mereka, Sayang.”
“Dengan senang hati aku akan meminta maaf atas kesalahanku pada mereka yang lebih tua dariku.” balasan itu membuat keduanya melemparkan senyum yang sama.
Maka, sepersekian detik selanjutnya, Berna sudah berani membuka kancing terakhir dari kemeja putih yang digunakannya.
Kilatan gairah itu terpancar jelas di manik coklat Ozan.
“Kau ingin minum terlebih dulu, kan?” goda perempuan yang sudah tidak memakai atasan lagi, melemparnya sembarangan. Kini ia memberikan tatapan nakal seraya mengusap sisi wajah Ozan begitu lembut.
“Tentu, Sayang,” bisiknya mesra dan sudah membawa punggung itu untuk turun, meminta kedua bibir itu kembali menyatu sebelum akhirnya ia akan menikmati minuman di pagi harinya.
**