Bab 15 - Takdir

1632 Kata
Ozan duduk bersama beberapa rekan bisnis yang lebih tua darinya. Meja persegi panjang itu memang di d******i lelaki yang telah berada di atas usia lima puluh tahun. Sedangkan hanya tersisa empat termasuk Ozan, rekan bisnis seusianya.   Mereka baru saja menikmati bermain golf bersama. Duduk menikmati hidangan ringan ditemani minuman pesanan mereka di restoran hotel.   “Setelah ini, apa Anda akan kembali atau justru menetap di Rotterdam, Tuan Yozan?”   “Aku akan tetap ke sana meskipun tidak menetap lagi.”   Beberapa dari mereka menimpali dengan pernyataan baik.   “Ah, iya. Kurasa Anda sudah telanjur merindukan keluarga terdekat. Hidup di kota yang berbeda saja, cukup kuat menciptakan rindu di dalam hati kita,” cetus lelaki dengan rambut yang sudah memutih, tapi tidak melunturkan kharismanya.   Tubuh itu masih sangat kuat.   Ozan tersenyum semringah dan mengangguk semangat. “Anda benar, Tuan. Karena merindukan keluargaku, apa pun akan kuusahakan untuk selesai lebih cepat.”   “Jika karier sudah menunjang. Saatnya memutuskan tanggal pernikahan.”   Ucapan itu sukses membuat seluruh orang yang di meja tertawa, termasuk Ozan dan beberapa pria lainnya yang memang masih lajang. Para lelaki tua itu memang pandai menggoda pria sepertinya yang belum memiliki keluarga kecil.   “Bukankah kita akan menyebarkan undangan di hari dan tanggal yang sama, Tuan?” tanya pria di sampingnya yang membuat Ozan terkekeh pelan.   Ia mengacungkan ibu jari kanan, membenarkan. “Itu jawaban yang sangat membuatku semangat, Tuan,” cengirnya lebar mendapatkan tatapan lucu dari mereka.   Mereka benar-benar duduk santai dengan setelan pakaian bermain golf.   Ia membiarkan Berna menikmati fasilitas yang ada di hotel, termasuk spa.   Tidak sengaja tatapan Ozan teralihkan pada satu objek. Seorang anak kecil celingukan entah mencari siapa. Manik coklatnya segera menyisir keadaan sekitar dan tidak mendapati orang yang bisa menghubungkan dengan anak lelaki berambut hitam itu.   “Aku permisi sebentar,” ucap Ozan menginterupsi keadaan dengan beranjak berdiri dari kursinya.   “Silakan, Tuan,” balas lelaki yang lebih tua di antara gerombolan itu melemparkan senyumnya.   Ozan berlalu hanya untuk mendekati seorang anak kecil yang berdiri tidak jauh dari meja tempatnya berada.   Anak lelaki yang ia perkirakan tidak lebih berusia dari sepuluh tahun dengan kacamata bulatnya, menoleh. Ia mengerjap mendapati Ozan berjalan mendekatinya.   “Hai, Nak.”   “Apa aku bisa membantumu? Kurasa kau sedang kebingungan.”   Anak lelaki dengan manik hitamnya di balik kacamata bulat itu mengigit bibir bawahnya, bingung.   Ozan mengulas senyum hangat, mensugesti jika dirinya bukanlah orang jahat.   “Sebenarnya ... Aku lupa di mana unit tempat tinggalku,” ucapnya dengan lirih dan terkesan polos.   Sesaat, Ozan mendengkus geli, merasa lucu dengan jawabannya.   “Tapi, aku ingin mencari toilet terlebih dahulu. Aku ingin membuang air kecil.”   “Ya Tuhan ... Kenapa kau tidak meminta tolong pada mereka yang lewat, Nak?” tanyanya tidak habis pikir.   Manik keduanya bersitatap dan sesaat Ozan merasa kenal dengan wajah itu. Tapi, ia hanya beberapa detik memicingkan mata, memastikan dengan daya ingatnya. Namun, tidak membuahkan hasil.   “Aku ... Aku takut meminta tolong pada mereka dan merasa toilet itu masih cukup besar. Sangat mengerikan jika aku berada di sana sendirian.”   Ozan sukses tertawa dan menepuk pelan puncak kepalanya. “Kau seorang anak lelaki. Tidak pantas untuk takut akan sesuatu.”   “Semalam aku baru saja selesai menonton film horor bersama sepupuku, Paman.”   Ozan terkekeh pelan dan mengangguk, lalu meraih bahu kecil itu. “Mari kuantar ke toilet.”   Senyum semringah terbit dan ia segera saja menerima tawaran dari pria dewasa berusia tiga puluh dua tahun itu.   **   “Jadi, siapa namamu, Nak?”   “Namaku Gani, Paman.”   “Nama yang sangat bagus,” puji Ozan berjalan berdampingan dengan anak lelaki berusia tujuh tahun itu.   Ia baru saja pamit dengan orang-orang yang berada satu meja dengannya. Pria itu memilih mengantar ke unit di mana Gani berada. Anak itu mengaku jika ia cukup mengingat nomor unit, meskipun sedikit lupa angka terakhirnya.   Setidaknya cukup bagus bagi Ozan untuk mengantarnya ke lantai unit berada setelah ia berhasil meminta lantai unit dengan nomor yang sudah disebutkan pada resepsionis. Pria itu menelepon tanpa berniat ke lantai dasar. Pun, Gani tidak membawa ponsel, sebab itulah ia belum bisa bertemu dengan orangtuanya.   “Apa kacamata bulat itu memang harus kau pakai setiap hari, Gani?” tanya Ozan mulai membiasakan memanggil namanya.   Gani menoleh, mendongak untuk menatap pria dengan tinggi 187 sentimeter itu. Cengiran lebar memperlihatkan deretan gigi rapi. Ia menggeleng cepat, “Aku memakainya supaya terlihat semakin tampan,” jawabnya membenarkan letak kacamata.   Ozan kembali dibuat tertawa oleh anak kecil berusia tujuh tahun itu. Mereka berdiri berdampingan di depan lift. Ozan mulai menatapnya dengan tangan terlipat di depan d**a. “Jika aku boleh jujur, kau sangat tampan baik memakai kacamata atau tidak sama sekali.”   “Paman ... Di sekolah, aku sangat sulit mendekati perempuan yang menarik mataku,” balasnya setengah merengek.   Ozan menatapnya cukup tidak percaya. Tapi, melihat lift itu telah terbuka, ia membawa Gani masuk terlebih dahulu.   “Boleh kukatakan sesuatu padamu?”   “Ya, silakan.”   Anak lelaki itu tertarik menatapnya yang seolah sangat serius.   Senyum manis terpatri di paras tampan Ozan. “Aku seolah melihat sosok Papaku di masa muda dalam dirimu.”   Manik hitam itu membulat sempurna. “Kenapa seperti itu?”   Ozan menepuk hangat bahunya. “Karena dia pernah menyukai teman perempuannya dan merasa malu karena hanya anak kutu buku yang tidak pantas untuk mengutarakan isi hatinya.”   “Dia anak lelaki berkacamata yang menyukai anak perempuan populer di sekolahnya.”   “Apa Paman tidak bertanya bagaimana usaha Papa Paman untuk mendapatkan hati perempuan itu?”   Ozan terkekeh pelan. “Sebaiknya kau harus rajin belajar terlebih dahulu. Jadikan dia teman terbaikmu dan saat sudah besar, kau akan mengerti segalanya. Karena Papa tidak pernah menjalin hubungan saat masih sekolah. Hal terbaik yang harus kau pahami, sebaiknya tetap menjaga pertemananmu dan kau akan sadar secara perlahan bagaimana mendekatinya saat kau sudah sukses nantinya.”   Ozan menunduk dengan menaruh kedua telapak tangan di atas tempurung lutut. Pria itu berbisik tepat di depan wajah Gani. “Karena saat hari itu datang ... Seluruh perempuan akan mendekatimu saat kau sukses. Itu hal terbaik dari pria tampan dan mapan.”   Gani tertawa kecil dan mengangguk. “Baiklah, Paman. Aku memang harus fokus belajar seperti yang kau bilang. Karena Mamaku juga mengatakan hal yang sama. Usiaku hanya sebatas untuk mengagumi, belum boleh bersikap yang di luar usiaku.”   “Terima kasih atas masukkannya!” seru anak lelaki itu membuat Ozan cukup kagum.   “Mamamu pasti sangat berpengalaman di masa lalu. Pasti banyak pria tampan yang dulu mendekatinya, kan?”   Gani tertawa dan membiarkan Ozan meraih tangannya, mengenggam untuk keluar dari lift. “Sekarang pria yang beruntung adalah Papaku sendiri. Paman tidak boleh sekali pun menyukai Mamaku, ya?”   Ozan tergelak. “Aku akan menuruti permintaanmu, bocah kecil yang tampan.”   Anak lelaki itu tersipu dan sangat nyaman bisa mengenal Ozan.   “653 ... Atau 654? Aku lupa, Paman,” cetusnya dengan nada putus asa, berada di tengah-tengah pintu unit hotel.   “Tunggu sebentar. Biar Paman yang menekan bel,” balasnya langsung mencari keberadaan penghuni di unit 653.   “Maaf, Tuan. Aku tidak mengenalnya,” balas pria yang lebih tua lima tahun dari Ozan, menatap Gani dengan sopan.   “Terima kasih Tuan. Maaf menganggu waktu Anda.”   “Tidak masalah, selamat siang.”   Gani langsung mengusap tengkuknya saat memang tidak ada satu pun dari dua angka terakhir itu bukan orang yang dikenalnya.   “Jadi, berapa nomornya?” tanya Ozan mengulas senyum manis, tidak ingin membuat Gani bersalah.   “Paman ... Aku sebenarnya hanya mengingat dua angka di depannya. Tapi, percayalah, itu sudah jawaban yang jujur kukatakan.”   Ozan terkekeh pelan dan mengangguk.   Namun, saat ia akan membawa Gani ke pintu lainnya, panggilan telepon itu menginterupsi keadaan. “Gani ... Tunggu sebentar, ya? Aku harus mengangkat panggilan telepon. Kau jangan pergi ke mana pun.”   “Iya, Paman. Aku mengerti,” balasnya sopan dan membiarkan Ozan memunggunginya, mengangkat telepon dari Sekretarisnya yang berada di Rotterdam.   Pintu unit 657 itu terbuka. Tepat di saat Gani tidak sengaja mendengar suara pintu tersebut dan manik hitamnya membeliak sempurna. “Mama!”   “Ya Tuhan, Gani ... Mama khawatir tidak mendapatimu berada di unit, Sayang ...”   Keduanya berpelukan dan Gani membiarkan kecupan itu singgah berulang kali penuh sayang di puncak kepalanya.   “Maaf, Mama ... Aku berniat untuk keluar sebentar dan tidak sengaja ingin mengikuti Papa yang pergi bersama temannya.”   “Lain kali kau harus menunggu Mama, ya? Jangan ceroboh.”   “Baik, Mama ...”   “Gani, kau sudah bertemu dengan—“   Deg!   Detak jantung dari dua pasang manik mata yang berbeda itu menciptakan ritme sangat cepat. Desiran halus kian terasa membuat mereka masuk dalam belenggu masa lalu. Kilasan balik akan dua tahun lalu pun terlintas sangat cepat, mengantarkan kuatnya rasa sakit; luka dan duka dalam diri keduanya kian terasa menyesakkan.   Tadinya ... Ozan berpikir anak lelaki itu sudah bertemu Ibunya, mendengar teriakannya dan Ozan belum bisa berbalik karena ada hal penting yang indera pendengarannya harus tangkap. Ucapan Sekretarisnya lebih mendominasi fokus Ozan saat itu.   Namun, ia tidak tahu jika perempuan berparas cantik yang berjongkok di unit yang tidak sampai lima meter, memperlihatkan sosok perempuan yang dulu selalu ingin Ozan bahagiakan dengan segenap jiwanya.   “Mama ... Dia Paman yang membawaku ke mari.”   Jihan berkaca-kaca, nyaris bergetar hanya untuk bergumam satu nama. “Ozan?”   Rahang pria itu mengetat dan detik selanjutnya, ia berbalik badan, melangkah cepat menuju lift dan tidak ingin bertemu dengan Jihan.   Gemuruh dalam d**a Jihan kian terasa kuat setelah tubuh kaku itu membelenggunya.   “Kenapa Paman baik itu pergi?” tanya Gani yang seolah menjadi angin lalu, tidak digubris Jihan yang kini menitikan air matanya.   Akhirnya ... Setelah dua tahun perpisahan itu, ia bisa bertemu kembali dengan Ozan. Di dalam hidupnya, ia sangat takut memimpikan hal ini.   Sekejap. Jihan mendekap erat tubuh Gani dan menangis di bahu anak lelakinya.   **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN