Berna menatap Ozan yang sibuk berada di atas ranjang, bersama laptop di hadapannya. Sorot matanya memang terlihat serius, memeriksa pekerjaan. Sayangnya, perempuan itu tahu jika ada yang berbeda setelah kepulangan keduanya dari hotel, kemarin.
Kebetulan mereka berdua tidak tinggal di Mansion saudara laki-laki Ozan. Pria itu memutuskan untuk mengajak Berna ke penthouse milik Ozan.
“Ada yang berubah darimu sejak kemarin,” cetus Berna mengambil duduk di sisi lain Ozan.
Perempuan yang menggunakan tank top dan celana trainingnya, mendapatkan atensi dari Ozan. Ia mengulas senyum kecil, lalu mengedik.
“Apa yang terjadi padamu?” tanyanya merangkul mesra leher Ozan.
Berna memberikan satu kecupan lembut di pipi dan sudut bibir Ozan.
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ini hanya tentang pekerjaan,” balasnya meraih pinggang Berna, sedangkan satu tangan yang bebas mulai menyimpan file yang tadi Ozan periksa dan perbaiki.
Berna mendengkus dan memperlihatkan bibir mencebik. “Cukup dua tahun kita tinggal satu atap dan aku bisa memahami suasana hatimu, Yozan Adskhan ...”
Ada nada gemas dan setengah kesal di sana. Ozan nyengir lebar, menyingkirkan laptop setelah ia selesai mematikannya. Kedua tangan pria itu melingkar di pinggang ramping Berna, memberikan sentuhan manis di bahu dan ceruk lehernya.
“Pintar sekali kau menebak suasana hatiku,” ucap pria yang malam ini mengenakan kaus lengan pendek dan celana trainingnya.
“Aku tunanganmu. Seharusnya aku memang sudah paham semua yang kau rasakan.”
Jemari tangan Ozan menyisir helaian rambut panjang dari perempuan bermanik hitam itu. “Aku takut kau merasa sedih.”
Manik hitam itu mengerjap. Berna sedikit menjauhkan wajahnya, meskipun kedua tangan itu tetap melingkar di leher Ozan. “Katakan,” balasnya dengan tenang.
Ozan menatap manik di hadapannya. Ia pun berbicara, “Aku harus pergi keluar kota selama satu minggu untuk mengurus pekerjaanku. Akan ada rapat bersama untuk membahas proyek,” jelasnya memberikan tatapan bersalah pada Berna.
Namun, perempuan itu menyunggingkan senyum manis dan menepuk hangat bahu Ozan. “Sayang ... Aku berpikir, kau akan mengatakan sesuatu hal yang sangat membuatku sedih dan kecewa. Itu bukanlah hal serius.”
“Tapi, kau akan di sini sendirian selama satu minggu.”
“Tidak masalah,” balasnya cepat masih memertahankan senyum manisnya.
“Apa aku harus membawamu kembali ke Mansion Kakakku saja?”
Berna tertawa kecil dan menggeleng tegas. “Aku perhatikan. Mereka selalu saja memanfaatkan peluang yang ada di saat anak mereka tidak ada. Keduanya pasangan yang serasi dan selalu saja saling membutuhkan. Kakakmu pria yang setia dan mencintai istrinya begitu besar.”
Ozan tidak dapat menutup senyum manisnya. Ia mengangguk semangat. “Kau sangat benar,” balas Ozan.
“Sekarang Papa dan Mamaku telah kembali ke Istanbul dan kemesraan mereka mungkin hanya bisa dilakukan saat anak-anak mereka tidur saat malam.”
Berna mendengkus geli.
Ia mengusap tengkuk Ozan dan menjatukan kembali satu kecupan di bibir tipis tunangannya. “Lakukan saja sesuai tanggung jawabmu. Aku mengerti tentang semuanya dan banyak hal yang bisa aku lakukan di sini,” jelas Berna meyakinkan Ozan.
Pria itu segera memeluk tunangannya dengan tangan yang mengusap punggungnya. “Terima kasih,” bisik Ozan yang sebenarnya mengandung makna tersirat.
Ia tidak pergi untuk urusan pekerjaan.
**
“Gani ... Kau mengerjai Mama?”
Suara sedih sekaligus berpura-pura terlihat kesal ditunjukan oleh Jihan. Ia berdiri di hadapan anaknya yang masih memperlihatkan kedua tangan berisi tepung.
Jika Jihan bercermin, maka perempuan itu bisa melihat ujung hidung dan pipi kanannya terlihat bekas tepung.
“Mama terlihat cantik,” balas anak lelakinya nyengir lebar, sudah menghindari kejaran dari Jihan.
Keduanya sempat sibuk memasak kue di dapur dan saat suasana sedang serius, anak lelaki Jihan mulai menjahilinya. Alhasil, Jihan harus mengejar anak pintar itu sampai berada di ruang tengah.
Pun, beberapa pelayan di rumah besar Erdem terlihat sangat terhibur dengan kedekatan keduanya.
Jihan berkacak pinggang, memperlihatkan tatapan tajam yang dibuatnya sedemikian rupa. “Kau harus membersihkannya, Nak,” pinta Jihan mengetuk sisi pipinya dengan jemari telunjuknya.
“Jangan ... Sebentar lagi Papa pulang dan dia harus melihat wajahmu, Mama.”
Jihan mendengkus geli untuk sesaat dan sepersekian detik, ia sudah membuat Gani menjerit ketakutan. Ia berlari mengelilingi sofa panjang untuk menghindari kejaran Jihan.
“Mama ... Maafkan aku ...” pekik anak lelaki Jihan masih saja diburu oleh Mamanya.
“Kau tidak akan lepas sebelum Mama mendapatkanmu, Nak ...”
Gani menjerit dan ia berlari sampai sudut matanya sudah mendapatkan seseorang berjalan masuk dari pintu menjulang tinggi itu.
‘Papa ... Selamatkan aku dari Mama ...”
Dengan sigap, Erdem meraih tubuh Gani dan membawanya ke dalam gendongan saat anaknya merentangkan tangan sambil berlari mendekatinya. Wajah itu penuh ketakutan meskipun Jihan akhirnya tertawa.
“Apa yang terjadi dengan wajah cantikmu, Sayang?” nada usil itu di dapatkan Jihan.
Ia berdecak kesal saat berhasil berdiri di depan suami dan anaknya.
“Gani Daymaz anak yang jahil pada Mamanya.”
Gani tertawa geli dan menaikkan simbol permintaan maaf dengan membentuknya pada jemari tangan kanan. “Bukankah Mama terlihat cantik, Papa?” Ia meminta pembelaan dengan nada polos.
Erdem mengulum senyum dan mengangguk.
Saat itu pula pria berusia tiga puluh tujuh tahun itu mendapati Jihan mendelik sebal. Ia pasti kaget saat tidak ada pembelaan dari suaminya dan kini berada di tim anaknya.
“Kau sangat cantik sore ini.”
Cup!
Gani menyeringai melihat Erdem mengecup pipi dengan bagian tepung itu. “Biarkan aku menghapusnya, menggantikan Gani yang harus bertanggungjawab, bagaimana?”
“Kalian berdua ...” ucapnya dengan mencebik, meskipun rona merah sudah terpatri di paras cantiknya.
Kedua pria dengan usia berbeda itu tertawa melihat wajah tersipu dari perempuan yang sangat mereka cintai.
“Aku sayang Papa ... Dan sangat sangat menyayangi Mama ...” ucapnya membuat Jihan tertawa saat Erdem menatap anaknya dengan sorot kecewa.
“Kau selalu menyayangi Mama di bandingkan Papamu sendiri, Nak,” sahutnya terlihat sedih.
Anak lelaki mereka menyunggingkan senyum lebar dan memeluk leher Erdem. “Mama adalah segalanya untukku, Papa. Tapi, Papa juga memiliki tempat terbaik di dalam hatiku juga.”
Jihan dan Erdem saling mengulas senyum untuk anak mereka.
Perempuan itu mendekat dan mengusap puncak kepala anaknya. “Terima kasih sudah mencintai dan menyayangi Mama, Nak.”
“Sama-sama, Mama ...” balasnya semangat dan menoleh ke arah Erdem.
“Papa tidak ingin mencium pipi kiri Mama? Kenapa harus bagian kanan saja?”
Erdem menoleh ke arah Jihan yang sudah bersemu. Ia pun mendekat dan memberikan perlakuan yang sama seperti yang diharapkan putranya.
Cup!
Cup!
“Ya ampun ... Aku tidak sengaja melihatnya!” pekik anak itu menutup kedua matanya dengan telapak tangan.
Erdem tertawa sedangkan Jihan sudah mendelik sebal, meskipun detak jantungnya perlahan tidak keruan.
“Kau selalu saja melakukannya di saat ada anakku, Erdem.”
Cengiran tanpa rasa bersalah itu diberikan pada Jihan. Ia menunduk, tepat di telinga istrinya dan berbisik di sana, “Kita bisa melanjutkannya saat di kamar, bukan?”
Tubuh perempuan itu menegang bersama tatapan jahil yang Erdem berikan. Perempuan itu bersemu hanya mendengar ajakan pria yang sudah menjadi suaminya selama dua tahun.
**