“Aku sudah menyiapkan pesta ulang tahun terbaik untuk putra kita.”
Jihan tersenyum manis. Perempuan itu membiarkan Erdem merangkul mesra pinggang ramping Jihan, sedangkan tatapan keduanya tertuju pada putra mereka yang sedang bermain dengan anjing kesayangannya.
Keduanya duduk mengarah ke bagian taman. Di sana ada saudara sepupu Gani, bertamu ke rumah mereka di Frankfurt dan nantinya akan meminta kehadiran mereka membawa Gani ke rumah salah satu sepupu. Mansion Keluarga Daymaz akan didekorasi dengan sangat sempurna.
“Anak kita akan genap berusia tujuh tahun.”
Jihan tidak menyangka ia bisa menjadi Ibu sambung selama dua tahun. Meskipun singkat, terkadang banyak hal yang baru ia pahami dan terutama berada di lingkup baru. Untungnya, keluarga dari Erdem sangat baik dan tidak pernah membahas jika ia dulunya adalah Adik Ipar pria itu.
“Iya dan kau Mama terhebat untuknya. Dia sangat mencintaimu dan aku merasa bahagia jika tenang jika meninggalkan Gani saat berpergian.”
Seharusnya Jihan bahagia saat Erdem menyematkan kecupan singkat di pelipisnya. Tapi, terlalu dalam makna itu diungkapkan pria yang masih menerbitkan senyum hangatnya.
“Komunikasi kita selama ini berjalan lancar jika kau pergi ke luar kota ataupun luar negeri.”
Bukannya menjawab, dengan gemas Erdem meraih sisi wajah Jihan dan mengecup bibirnya sekali lagi.
“Kau sangat cantik setiap hari,” bisiknya membuat rona merah di kedua pipi Jihan.
“Erdem ....” balasnya setengah merengek yang dibalas tawa kecil suaminya.
“Apa selama ini aku tidak baik padamu?”
Jihan mengerjap, memandang lekat pria yang membiarkan bulu halus itu tumbuh sepanjang rahangnya. Erdem Daymaz semakin terlihat dewasa dan sikapnya sebagai ‘Papa’ sungguh terlihat sempurna.
“Aku bahagia bisa bersama kalian berdua dan tidak sedikit pun ada hal yang membuatku kecewa. Dua tahun begitu cepat terjadi. Padahal, seperti baru kemarin saat Gani memanggilku ‘Mama’.”
Pria itu mengulum senyumnya dan membiarkan Jihan menyandarkan kepalanya di bahu Erdem.
Jemari tangan kanan Jihan di genggam lembut suaminya, lalu dibawa ke permukaan bibir untuk dikecup lembut. “Tetaplah menjadi Mama terbaik untuk Gani, Sayang,” bisiknya mengusap puncak kepala Jihan.
“Aku dan Gani sangat bahagia bisa mendapatkan seorang kepala keluarga sepertimu,” bisik Jihan dan melingkarkan kedua tangan di pinggang suaminya.
**
“Dua hari lagi pesta ulang tahun Gani dari anak Tuan Erdem Daymaz akan dilaksanakan di taman belakang Mansion.”
Ozan mengangguk pelan, membiarkan orang kepercayaannya mulai memberikan informasi.
“Khusus acara keluarga terdekat?”
“Benar, Tuan.”
“Mereka akan mengadakan acaranya tepat pagi hari,” sambung pria bertubuh tegap dalam balutan setelan jasnya.
“Baiklah, kau bisa keluar sekarang juga.”
Pria itu menunduk penuh hormat dan berlalu meninggalkan unit apartemen Ozan. Manik coklatnya menelisik dan sekitar apartemen mewah di Kota Frankfurt yang ia sewa.
Senyum sinisnya terbit. “Aku sudah berjanji akan membalasmu, Jihan.”
“Ini waktu yang tepat untuk memulai kembali setelah dua tahun aku mencoba menyembuhkan luka yang kau berikan padaku,” sambungnya mulai berjalan ke arah jendela kaca besar, memperlihatkan keindahan gedung—pencakar langit—kota di mana ia singgah.
Tidak ada urusan pekerjaan di sini. Selain melihat bagaimana dua tahun Ozan sudah cukup menutup telinga dan mata dari bagaimana kehidupan berbeda mereka dilalui. Sekarang, waktu yang tepat untuk memulai apa yang pernah ia janjikan di dalam hati.
Kenangan pahit itu tidak akan Ozan lupakan. Malam terakhir saat seharusnya mereka terus bermesraan sampai di penginapan lain yang Ozan punya di Kota Rotterdam.
Keindahan malam bersama berlayar di atas kapal, saling berciuman dan mengenggam tangan. Sesekali Ozan membuat lelucon kecil hanya untuk menarik perhatian dari Jihan.
Itu bentuk cinta dan rasa sayangnya yang Ozan berikan pada orang terkasih. Ia tidak pernah segan untuk terlihat ‘kekanak-kanakan’. Asalkan mereka semua terhibur. Sayangnya, selera Jihan memang harus pria matang atau ... Duda?
Pria itu mendengkus mengejek dan kembali melirik jam tangan.
Ozan akan segera menghitung waktu untuk datang tepat waktu ke pesta ulang tahun itu.
**
Suasana meriah di taman yang luas itu kini dihadiri oleh keluarga terdekat Erdem, termasuk orangtua Jihan dan suaminya.
Anak-anak—sepermainan—Gani dan yang lebih kecil pun semakin semringah saat banyak balon yang menghiasi taman. Ada kue ulang tahun yang memperlihatkan angka tujuh di sana.
Topi ulang tahun pun dipakai seluruh tamu yang hadir.
“Papa ... Terima kasih untuk kejutannya!” semringah Gani mencium pipi Erdem.
Pria itu memeluk erat anaknya yang baru saja pulang dari rumah saudara pria itu. Ini dilakukan atas kesepakatan bersama hanya untuk memberikan kejutan pada putranya dan Jihan.
“Mama juga ikut membantu Papa, Nak. Kau tidak ingin memberikan ciuman yang sama?” Jihan menunggu anak lelaki itu yang kini tertawa kecil.
“Terima kasih, Mama ... Hari ini begitu membahagiakan. Bahkan, seluruh keluarga kita datang. Ada Nenek dan Kakek juga,” balasnya dengan buncahan bahagia yang tidak bisa disembunyikan.
Beberapa anak kecil berlari di sekitar mereka.
Ini acara kumpul keluarga terbaik dan sangat jarang jika mereka punya waktu bersama untuk berkumpul.
“Semoga Dia selalu melindungimu, Nak. Jadilah anak yang baik dan selalu memahami apa yang sudah kami ajarkan dengan tulus padamu,” ucap Jihan memeluk anaknya.
Gani mengangguk, membiarkan Jihan mengecup puncak kepalanya sebelum berakhir memberikan sentuhan di kedua pipinya.
“Pesta ini jangan berakhir cepat, ya?” pintanya menatap orang dewasa yang lebih tinggi darinya.
Jihan dan Erdem saling berpandangan, memberikan senyum penuh arti mereka.
Pria itu mendekat dan menundukkan wajahnya untuk sejajar dengan putra satu-satunya. “Kami semua sudah menyiapkan pesta saat malam. Kita akan merayakan dengan acara memanggang bersama.”
“Wah ... Itu sangat menyenangkan! Aku tidak sabar menunggunya!” teriak Gani dan mulai berlari mendekati saudaranya yang lain, memberitahu jika pesta tidak akan selesai dengan cepat.
Suami istri itu tertawa dan Jihan membiarkan tangannya digenggam lembut Erdem.
“Dia bahagia.”
Jihan menoleh dan berkata lembut, “Gani akan selalu bahagia dengan bentuk perhatian yang kau berikan. Sekecil dan sesederhana apa pun, dia akan tetap menghargainya.”
“Dia mendapatkan didikan yang baik darimu,” balas Erdem merangkul sejenak bahu Jihan dan memberikan ciuman di permukaan bibir ranum itu.
Dari kejauhan, tepat di mana sisi lain taman yang tersekat tanaman dan ada beberapa pohon tertaman di sana, Ozan berdiri.
Ia bisa melihat acara merih di sana akan segera berlangsung. Pria itu datang tepat waktu dan ternyata harus tetap mendapatkan adegan yang dulu membuatnya sakit hati.
Sekarang? Semua sudah tertutup oleh kebencian dan tidak ada yang harus membuat Ozan mengumpati atau mengetatkan rahang. Ia hanya fokus diam dan menatap dari balik kacamata hitam yang digunakannya.
Tidak berapa lama, taman di Mansion itu mulai terdengar suara ‘lagu ulang tahun’ tepuk tangan dan beberapa orang sedikit menyela diakhir untuk Gani dengan segera meniup lilinnya.
Para keluarga berdiri di sisi pasangan suami istri yang membiarkan anaknya berada di tengah mereka. Ia menyeringai penuh arti, bersiap meniup lilin dan beberapa fotografer sudah berjongkok di depan mereka dengan mengarahkan kamera untuk memotret momen.
“Ayo, Nak ... Ucapkan doa terbaik di dalam hatimu dan setelah itu kau harus meniupnya dengan semangat,” bisik Jihan merangkul hangat bahu putranya.
Gani mengangguk cepat, berdoa dalam hati dengan mata tertutup dan ...
Tiupan lilin itu dilakukan sampai sepersekian detik api kecil mulai padam bersamaan dengan suara yang tidak bisa mereka kendalikan.
DOR!
Riuh gemuruh dan teriakan histeris itu menjadi satu dengan darah yang sudah merembes dari kemeja putih milik Erdem.
Tepat di jantungnya.
**