“Erdem!”
Jihan memangku tubuh yang sudah kaku. Tangisnya pecah. Berulang kali Jihan mengguncang tubuh itu, mata Erdem tidak terbuka. Gaun yang dikenakan Jihan sudah berlumuran darah. Kedua tangannya tidak lagi memperlihatkan warna kulit perempuan yang tidak bisa membendung dukanya.
Pun orang di sana menangis pilu, mencoba membangunkan Erdem, meskipun para pria di sana dengan penuh panik dan air mata mulai menelepon polisi.
Anak-anak di sana pun berusaha di dekap orangtuanya, tidak boleh melihat dan mengingat apa yang terjadi hari ini. Wajah mereka tenggelam dalam pelukan orangtuanya.
“Kau harus bangun, Erdem!” teriak Jihan terus mengguncang tubuh suaminya.
“Cepat bawa ambulance ke mari!” teriak Nyonya Daymaz.
Ia ikut membangunkan putranya yang sudah tidak bergerak. Tangis seluruh orang di sana pecah.
Tangis Gani tidak terbendung lagi. Anak berusia tujuh tahun yang baru saja meniup lilinnya. Menyelipkan doa terbaik untuk orangtuanya, kini rapuh di depan tubuh Erdem.
“Papa ... Bangun, Papa ...”
Sebanyak apa pun para orang dewasa itu menenagkan Gani dan mencoba membawanya masuk ke dalam, anak itu berontak. Ia menjatuhkan kepalanya di atas perut yang tidak lagi memperlihatkan pergerakannya.
Jihan mencium kening itu dan berbisik lirih, terus meminta Erdem membuka matanya, meskipun mustahil saat peluru itu tepat menembus jantungnya.
Gemetar tubuh dan tangan seolah tidak bisa membuatnya berhenti menangis.
Namun, di saat Tuan Daymaz dan beberapa pria lainnya perlahan akan membopong tubuh tak berdaya itu, tangis Jihan dan linangan air matanya tanpa sadar menangkap sosok pria tinggi di ujung taman.
Tubuh yang dikenal dan wajah terlihat samar dari kejauhan, tidak membuatnya salah dalam sekali tatap. Ia mematung.
Yozan Adskhan masih berdiri di sana. Ikut memandangnya dalam diam.
**
Seluruh berita tersebar dengan cepat.
Pengusaha muda bernama lengkap Erdem Daymaz meninggal dunia dalam usia tiga puluh tujuh tahun. Kini, ia meninggalkan istri dan satu anak lelaki.
Pemberitaan meluas.
Kasus yang terjadi pada Erdem tengah diselidiki polisi dan dugaan yang dapat mereka berikan ... Jika tembakan itu bukanlah dilakukan oleh orang sembarangan.
Seorang sniper sudah mengintai di sekitar Mansion itu, sekalipun dari jarak jauh yang tidak akan terlihat oleh CCTV. Ia mencari tempat persembunyian terbaik.
“Papa ...”
Jihan memeluk getir putranya yang tidak sanggup melihat tubuh yang terkubur dalam gundukan tanah, semakin tinggi dengan beberapa saudara lain menguburnya.
Perempuan yang kini berstatus janda, membiarkan angin dari sekitar pemakaman memainkan kerudung hitam yang dipakainya. Ia memilih membiarkan mata sembab dan sorot dari kehampaannya terlihat pilu tanpa memakai kacamata.
Di sisi pakaian mereka tertempel foto Erdem, mengenang pria yang kini berpulang.
“Jihan anakku ...”
Jihan sekuat mungkin menggigit bibir bawah saat rangkulan lemah dari Nyonya Muge berdiri di sampingnya.
Nisan itu sudah bertuliskan nama Erdem. Doa pun mulai terdengar dan mereka dengan segala rasa duka mulai mengirim doa untuk putra, suami dan saudaranya; Erdem Daymaz.
Kedua tangan Jihan yang menengadah, kembali menyusup getaran pilu. Membuatnya kembali menangis mengingat terlalu banyak kenangan selama dua tahun berada di dalam ingatannya.
Bersama Erdem dan Gani, ia menjadi sosok lain di dalam Mansion.
Sosok di mana memiliki status dan peran baru.
Dengan suka cita ia menjalani semuanya dan perlahan menemukan atmosfer baru.
**
Jihan membuka pintu kamar putranya dengan sekuat mungkin tidak meneteskan air matanya. Dengan sorot lurus, untuk kesekian kalinya ia mendapati air mata Gani terus saja mengalir. Putranya duduk di atas ranjang, berulang kali menyeka sudut mata yang akan turun membasahi pipi dan membuat matanya sembab.
Tidak ada makan malam yang hari ini mereka lalui.
Duka tengah menyelimuti anak dan Ibu.
“Gani ...”
Gani terkesiap dan mendapati Jihan tersenyum manis, mencoba memberikan sugesti terbaik dengan langkahnya yang mendekat ke arah ranjang.
Anak lelaki Jihan diam. Tapi ia tahu jika wajah polos itu menyimpan rasa sakit dalam hatinya.
Perempuan itu segera mengusap lembut puncak kepala putranya saat tidak ada kalimat yang dilontarkan Gani.
Ia duduk berhadapan, mengambil tangan kanan Gani dan mengenggamnya erat. “Kita bisa melalui semua ini bersama-sama, Nak,” ucapnya menguatkan dengan senyum manis.
Namun, secepat mungkin Gani menunduk dan bahu itu sudah terlihat bergetar. “Aku merindukan Papa ...”
Tangis anaknya pecah saat sepersekian detik sudah mendekat dan memeluk erat tubuh Jihan.
Ia menangis di sana, menumpahkan segala pilu di dalam hati. Pun air mata Jihan tidak dapat terbendung lagi. “Andai saja ulang tahun itu tidak terjadi. Aku yakin Papa akan bersama kita sampai malam dan seterusnya, Ma ...”
“Aku ingin bertemu Papa ... Aku ingin memeluk dan mengatakan jika aku mencintai kalian berdua, bukan hanya Mama yang kuberikan cinta begitu besar.”
Kedua tangan Jihan gemetar hanya untuk mengusap puncak kepala Gani. “Aku ingin bertemu Papa, Ma ...”
Seluruh anak kecil di sana mengalami trauma dan sedang dalam dampingan Psikolog. Pun, ia sadar jika Gani bisa mengalami hal terburuk—mengingat—semua hal yang terjadi di taman luas belakang Mansion.
Ia mengecup berulang kali puncak kepala putranya dan berkata lirih, berusaha tegar. “Papa akan semakin sedih jika kita seperti ini, Gani. Mama dan dirimu harus mengikhlaskan semuanya. Kita tidak boleh membuat Papa semakin terluka karena dia meninggalkan kita begitu cepat.”
“Apa kau ingin membuat Papa sedih?”
Senyumnya terlukis hangat, mencoba meminta jawaban dari putranya saat kedua telapak tangan Jihan menangkup wajah putranya.
Meskipun keduanya memperlihatkan linangan air mata yang sama, Jihan tetap ingin menanamkan ketegaran di dalam hati putra satu-satunya.
Sebuah gelengan lemah itu diterimanya. “Aku selalu ingin Papa bahagia, Mama ...”
“Jika kau ingin dia bahagia di sana, tetaplah menjalani harimu dan banggakan Papa dengan prestasi yang selama ini membuatnya terharu, Nak.”
“Dia sangat mendukungmu untuk menjadi seorang atlet renang, bukan? Maka, lakukan hal terbaik agar dia semakin bahagia di sana.”
“Selama apa pun kita berduka, dia telah pergi. Kita hanya bisa mengenang semuanya dengan manis dan mencoba memulai kembali berdua dan mewujudkan keinginannya yang berharap besar padamu dan Mama.”
“Kita harus bisa mengikhlaskan semuanya, Nak,” bisiknya meraih kepala Gani dan memberikan kecupan singkat di keningnya.
Gani memeluk Jihan dan memberikan anggukan di dalam dekapannya, meskipun perempuan berusia tiga puluh dua tahun itu bisa merasakan tubuh rapuh Gani.
**