Tidak satupun berita yang terlewati oleh Ozan. Tangannya menggulir ke bawah layar ponsel yang menampilkan berita pengusaha muda di Frankfurt. Banyak sekali dugaan yang diulas di dalam berita tersebut, termasuk pandangan mereka mengenai sosok yang selama ini dikenal sebagai pria yang sangat menyayangi keluarganya.
Senyum miring terpatri di paras tampan Ozan. Sejak lima menit lalu, ia masih duduk di ruang kerjanya yang berada di apartemen yang masih dirinya tinggali. Kota ini ... Media sosial Ozan penuh dengan kabar seorang Erdem Daymaz yang sudah meninggalkan seorang istri dan anak.
“Sekarang kau harus merasakan menjadi seorang janda, Jihan ...”
Ada rasa puas di dalam hati Ozan mendapati status baru yang melekat dalam diri perempuan berusia tiga puluh dua tahun itu.
Ia juga tidak akan melihat bagaimana kemesraan Keluarga Daymaz di majalah dan sorotan dari wartawan mengenai keluarga bahagia tersebut.
Rahang Ozan mengetat, mengingat banyak sekali sorotan mengenai keluarga terpandang itu. Bahkan, tidak sedikit yang mendoakan keluarga tersebut untuk tetap saling melengkapi, mencurahkan segala bentuk cinta dan sayang.
Erdem Daymaz adalah sosok pria yang sempurna.
“Mataku tidak akan sengaja menangkap sosok keluarga kecil di majalah bisnis yang sering k****a. Semua sudah selesai dan memang begitulah akhirnya. Terlalu muak aku melihat foto bahagia kalian terlihat di majalah bisnis.”
Ya. Sesekali Ozan meluangkan waktu untuk melihat bagaimana media mencetak dari hasil liputan dan wawancara yang mereka dapatkan. Dalam beberapa bulan sekali, Ozan selalu merasa sial untuk mendapati kabar terbaru mengenai pasangan tersebut. Kini, semua hanya tinggal nama dan kenangan saja.
Ia mengembuskan napas pelan, menyunggingkan senyum dan bersandar tenang di sandaran kursi. Tangannya masih memegang ponsel, tidak bisa menutupi kebahagiaannya yang perlahan hadir.
“Berengsek! Jangan halangi jalanku!”
Ozan kembali menegakkan punggungnya saat melihat seorang perempuan semampai memasuki unitnya—ruang kerja—tanpa tahu sopan santun.
Manik coklatnya mengerjap mendapati Jihan berada di ambang pintu, memaksa masuk saat anak buah Ozan menghalanginya.
“Maaf, Nyonya, tapi kau tidak bisa—“
“Aku tidak peduli!”
Sekuat tenaga Jihan segera menerobos masuk ke dalam dan dalam langkah lebar yang membuatnya berhenti cepat, ia sudah mematung, melihat kehadiran Ozan berdiri saling berhadapan.
“Tuan. Maaf—“
“—Silakan tutup pintu dan tinggalkan kami berdua.”
Pernyataan tegas itu sesaat membuat tubuh Jihan bergetar. Ia berusaha mengendalikan napas yang memburu, membiarkan Ozan menatapnya datar dan dirinya penuh dengan sorot tajam.
“Katakan apa maumu sampai mengetahui keberadaanku.”
Tidak ada lagi tatapan sendu yang Ozan perlihatkan. Kebencian sudah masuk ke dalam dirinya, membaur bersama luka yang entah sampai kapan mengering. Tidak mudah baginya menjalani lima tahun lebih hubungan bersama perempuan yang tidak bisa menghargai cintanya.
“Katakan jika para sniper itu ... Kau yang membayarnya.”
Hening menyelimuti ruang kerja Ozan yang cukup besar.
Manik berbeda itu saling berpandangan, menampilkan wajah datar dan penuh ketidakinginan untuk menatap satu sama lain.
“Jadi, kau datang ke sini untuk memastikan semuanya?”
Kedua tangan Jihan terkepal kuat. Dadanya sesak mendapati pertanyaan santai itu terlontar dari pria masa lalunya. Mata perempuan itu memanas, meskipun ia berusaha terlihat angkuh dan tegar dalam rahang yang mengetat.
“Apa Erdem memiliki salah padamu, Ozan? Bahkan, aku tidak percaya kau tega melakukannya.”
Ada rasa sakit menghunus dalam diri Ozan. Manik coklat itu mengkilat, mengepalkan kedua tangan di sisi tubuh dan ia berusaha mengendalikan diri saat manik di hadapannya tampak rapuh dan memberikan pernyataan tidak berperasaannya.
“Hari itu ...”
“Hari itu kau berada di sana di saat kami bersedih atas apa yang dilakukan sniper itu menembak tepat di jantung Erdem.”
Bulir air mata turun saat Jihan masih mengingat jelas bagaimana duka itu terjadi. Ia tidak lepas memandang pria dalam balutan turtleneck berwarna coklat dan celana panjang selaras. Pria itu tampak lebih dewasa setelah perpisahan mereka.
Kharismanya tidak pernah hilang. Justru semakin terpancar sempurna. Hanya saja hati seorang Yozan Adskhan sudah penuh kebencian yang tidak bisa membuatnya sadar.
“Kau ingin Erdem mati dan membuatku kehilangannya, kan?”
Lagi. Rasa sakit menghentak relung hati Ozan.
Ia masih diam kaku, tidak berucap sepatah kata pun, sekalipun ia bisa melihat air mata itu semakin turun dengan deras. Jihan menangis untuk pria yang sudah mengisi harinya selama dua tahun.
Lantas, bagaimana dengan kenangan mereka yang lebih lama pernah hadir dalam hidup Jihan?
Ia mengetatkan rahangnya.
“Kau jahat, Ozan! Kau membiarkan putraku tidak mendapatkan kasih sayang seorang Papa lagi! Setiap malam dia menangis! Dia terus mengigau untuk terus bisa merasakan dekapan dari orang terkasihnya! Kau terlalu besar memiliki dendam sampai apa yang selama ini menjadi sifatmu, kau tutupi!”
“Kau bukanlah seorang Yozan Adskhan yang memiliki hati ...” lirihnya dan tidak bisa menyembunyikan rasa sakit hatinya.
Tangis itu mengisi ruangan dan Ozan mencoba bertahan dalam luka yang kembali ditorehkan Jihan. Perempuan itu terus saja mencaci maki dirinya yang mendapatkan sorotan kebencian dari Jihan.
Senyum getirnya terpatri di paras cantik yang sangat redup itu. “Apa kau sudah bahagia aku menjadi seorang janda?”
Bukannya diam. Kali ini Ozan menarik sudut bibirnya. Tubuh Jihan membeku dengan sorot yang sangat berbeda. “Bahagia yang sangat membuatku merasa nyaman dalam menjalani kehidupan ini. Tidak ada sandiwara yang kau ciptakan bersama keluarga kecilmu di depan media.”
Jihan membeliak sempurna dengan tubuh kaku. Ia membungkam mulut dengan telapak tangan kanan, menyadari jika Ozan sangat keterlaluan menghinanya.
“Kenapa kau berubah, Ozan? Jika kau membenciku, maka lakukan hal terburuk pada hidupku! Bukan dengan orang-orang yang sudah memberikan aku arti dari hidup yang baru!” pekiknya mengeluarkan segala bentuk emosi.
Tidak ada pukulan bertubi-tubi yang dilayangkan Jihan pada bahunya. Tidak. Perempuan itu terlalu lemah untuk melangkah dan melampiaskan semuanya.
Ia sudah cukup banyak mengeluarkan segala bentuk emosi dari kepergian Erdem.
Tangan itu semakin terkepal sampai buku jarinya terlihat memutih. Sorot tajam manik coklat Ozan kian menghunus relung hati Jihan.
Ia terpaku untuk sorot yang tidak pernah sekalipun Ozan tunjukkan saat mereka masih bersama. Pria itu selalu memberikan tatapan memuja dan sangat lembut dalam memperlakukan Jihan.
Sekarang semua telah berbeda.
Ozan tertawa mengejek. “Lakukan hal terburuk pada hidupmu? Untuk apa? Aku sudah bahagia dengan hidupku yang sekarang dan terlalu banyak membuang waktu hanya untuk membuatmu menderita.”
Napas Jihan tercekat.
Gemuruh dalam dadanya kian terasa kuat saat Ozan memberikan tatapan mengejek. Ia mencampakan ucapan yang dibalas dan terkesan menjatuhkan harga diri Jihan.
“Berna perempuan yang sempurna dan telah berhasil menghapus namamu dalam hidupku.”
Ribuan jarum menusuk relung hati Jihan. Pelupuk mata perempuan itu berair dengan kedua tangan bergetar. Ozan memandangnya dengan tidak berminat. “Membuangku di masa lalu, artinya urusan kita sampai sekarang telah selesai.”
“Berhenti mencariku hanya untuk melampiaskan rasa frustrasimu yang telah menjadi seorang janda.”
“Kau bisa mengurus kehidupanmu yang sekarang ... Penuh dengan tangis menyesakkan.”
“Karena itulah yang pernah kurasakan dulu saat kau meninggalkanku untuk menikah dengan pria lain, Jihan Muge Daymaz.”
Senyum miring itu membuat tubuh Jihan membeku.
Pria ini ...
Bukanlah seorang Yozan Adskhan yang sangat dekat dengannya dan tidak terlihat seperti pria masa lalunya. Dua tahun ... Sudah mampu mengubah sifat baiknya.
**