Bab 6 - Bersentuhan Kali Pertama

2179 Kata
Seorang anak lelaki berusia lima tahun berlari kecil menuju gazebo di taman yang terlihat kokoh dengan beberapa pilar penyangga di sana. “Mama ....”   Perempuan dalam balutan dress pendek sebatas lutut dan sengaja menyampirkan helaian rambut panjang di bahu kirinya, menyambut dengan senyum semringah anak sambungnya. “Hai, Sayang ... Ke sini, Nak,” cetusnya masih setia duduk ditemani majalah fesyen.   Angin di pagi hari kian menyejukkan keheningan yang Jihan ciptakan. Ia melihat betapa bahagianya anak dari mendiang saudari kandung Jihan. Gani Daymaz. Rambut hitam dan manik hitam serta paras tampan, perpaduan yang sangat terlihat jelas di antara mendiang saudari dan Kakak Ipar yang sekarang menjadi suaminya.   Senyum getir itu sempat terulas di paras cantik perempuan berdarah Jerman itu. Jihan Muge Daymaz. Nama yang tersemat padanya sejak beberapa waktu lalu resmi menjadi istri dari pria berusia tiga puluh lima tahun yang bekerja di Kota Frankfurt. Sedangkan dirinya hari ini membawa sang anak ke rumahnya yang berada di Berlin, menginap sekaligus mengunjungi Kakek dan Nenek anak lelaki itu.   “Lihatlah, Ma. Aku dibelikan oleh Kakek robot ini. Sangat bagus, kan?” tanyanya dengan binaran bahagia, menunjukkan kotak sedang, mengeluarkan robot miliknya.   Jihan menyunggikan senyum semringah, ikut bertanya pada putra kecilnya. Kedua tangan perempuan berusia tiga puluh tahun itu meraih bahu kecil Gani. Ia membawa putranya lebih dekat. “Kapan Kakek membelikanmu? Bukankah tidak ada toko yang buka di pagi hari ini?”   “Kakek mengatakan jika dia membelikannya sudah sejak kemarin, Ma ... Saat aku menghubunginya untuk datang dan menginap di sini.”   Sebuah anggukan Jihan diberikan pada Gani. Ia hanya bertanya, meskipun sangat tahu jika orangtua Jihan sangat antusias menyambut kedatangan cucu mereka. Maklum. Gani Daymaz adalah cucu pertama dan satu-satunya bagi orangtua Jihan. Ia tersenyum miris, menyadari jika hanya dirinya saja yang belum menikah di penghujung kepala tiga.   Kemudian takdir tidak bisa membuat Jihan mengelak. Ia mendesah pelan, berusaha menampik semua hal yang membuatnya kian terpuruk.   “Mama tidak suka jika Kakek membelikanku mainan?” tanya dari manik hitam itu terlihat polos.   Jihan tertawa kecil dan menangkup paras tampan Gani dengan kedua telapak tangannya. “Siapa yang mengatakan jika Mama tidak suka kau dibelikan mainan oleh Kakek?”   “Mama tidak tersenyum cukup lama,” balasnya polos dan membuat Jihan tertawa kecil.   Ia segera meraih kepala belakang Gani dan mendaratkan kecupan manis di kening putranya. “Kau salah, Nak ... Mama sangat bahagia jika banyak orang-orang yang menyayangi dan memberikanmu banyak hadiah,” jelasnya mendekap erat tubuh kecil Gani.   Anak lelaki Jihan itu menyunggingkan senyum manis dan balas mendekap erat Mamanya. “Aku sangat menyayangimu, Mama ...”   Jihan bergetar mendengar bisikan penuh sayang itu. “Mama sangat menyayangimu dan akan selalu memberikan cinta dan kasih untukmu tanpa batas.”   Ia membiarkan anak lelakinya memeluk leher Jihan dan memberikan kecupan singkat di kedua pipi perempuan itu. Keduanya tersenyum kecil sebelum akhirnya kembali berpelukan penuh rasa nyaman dengan ikatan yang sudah berjalan ini. Jihan sangat menyukai perannya sebagai orangtua.   “Kapan Papa akan pulang?” tanya anak lelaki itu yang sekarang duduk di samping Jihan, mengalihkan pandangan dari mainan game yang anak itu bawa kembali dari dalam rumah.   Banyak sekali hadiah yang sudah disiapkan Kakek Gani. Ia pun tidak segan menunjukkannya pada Jihan, meminta pendapat perempuan itu untuknya boleh atau tidak memainkan semua benda tersebut.   Tangan Jihan mengusap puncak kepala putranya, sedangkan satu lagi merangkul bahu kecil itu, mendekat untuk di dekapnya dari samping. “Dia akan menjemput kita besok,” balasnya membuat Gani mendongak, menatap Jihan dengan sorot bahagia.   “Aku tidak bisa jauh dari Papa dan Mama. Aku ingin kalian berdua bisa menemaniku di akhir pekan,” jelasnya membuat Jihan menipiskan senyumnya mendengar bagaimana keinginan anaknya.   Ia mencium puncak kepala Gani dan mengangguk pelan, tanpa kata terucap sempurna.   “Jihan?”   Keduanya mendongak mendapati wanita tua. Nyonya Muge itu tersenyum manis pada putri dan cucu kesayangannya.   “Nenek ...”   “Lihatlah, Nek! Kakek memberikanku banyak mainan. Ada di kamar dan aku membawa satu game ini,” cetusnya menunjukkan layaknya joystick tersebut.   “Wah ... Bagus sekali, Sayang.”   Gani mengangguk dan membiarkan wanita tua itu mengusap puncak kepalanya. “Lihat, Nek ... Permainannya sangat bagus. Dari tadi aku bermain di samping Mama dan sesekali mengajaknya untuk ikut mencoba,” jelasnya antusias yang membuat Jihan mengulum senyum.   Ia ikut berdiri, mendekati keduanya. “Mama dari mana saja?”   “Mengunjungi kafe,” balasnya memberitahu.   Jihan tampak meringis pelan. “Maaf, Ma. Sepertinya aku tidak bisa mengunjungi kafe hari ini. Liburan akhir pekan di sini, aku sudah berjanji pada Gani untuk mengajaknya berkeliling Kota Berlin,” ungkapnya membuat wanita yang tetap awet muda dalam raut cantiknya itu mengangguk, memberikan senyum hangatnya.   “Tidak apa-apa. Besok kau pun harus kembali ke rumah suamimu, kan?”   Jihan mengangguk. “Tapi, tiga hari lagi aku akan kembali ke sini dan mengecek semua hal yang terjadi di kafe.”   “Kau tidak perlu khawatir, Nak. Fokus saja dengan kafe yang akan kau bangun di sana. Jadi, di sini biarkan aku yang mengurusnya. Kau jangan terlalu letih dan urusi saja keluarga kecilmu.”   Wanita itu bisa menangkap raut sedih yang sempat terlintas di paras cantik Jihan. Namun, segera diperlihatkannya senyum manis yang tidak sempurna itu. Ya. Senyum manis dan kebahagiaan itu sudah luput pergi dengan keegoisan yang mereka semua ciptakan.   Keluarga Jihan turut andil, begitupula keputusan yang Jihan ambil. Perempuan itu tidak bisa meneruskan hubungannya bersama Ozan, memilih menjadi Ibu sambung untuk Gani Daymaz. Anak lelaki berusia lima tahun yang sebelumnya menjadi Keponakan Jihan.   **   Perempuan dengan tinggi 174 senti itu diam di depan sebuah gudang miliknya. Ya. Hanya milik Jihan karena berisi semua hal yang ia punya bersama Ozan. Sebuah ruang yang sudah terisi, berada di atas rooftop paling atas rumahnya dan jarang ada orang yang datang ke mari. Tangannya dengan perlahan menaruh kunci gudang yang lebih berupa ruang lukisan di dalam saku celananya. Semua tertata rapi, mulai dari foto dirinya bersama Ozan, barang pemberian Ozan. Khas pasangan kekasih yang sudah melalui banyak hal bersama.   Jihan menyimpan semua potret perayaan yang sudah mereka lewati selama beberapa tahun. Senyum getirnya terpatri perlahan. Jemari lentik itu mengusap figura di malam tahun baru bersama Ozan di Kota New York. “Aku hanya memindahkan semuanya ke tempat yang tidak akan terlihat Erdem dan Gani,” lirihnya yang biasa menaruh dan menyimpan di kamar Jihan.   Pandangannya luruh pada potret mesra mereka lainnya. Bahkan, ada pose di mana ciuman mereka terjalin mesra; hari valentine.   “Bagaimana denganmu, Ozan? Aku berharap kau tidak akan membuang kenangan kita.”   Egois.   Itu yang selalu tersemat di dalam pikiran Jihan. Ia sudah memanfaatkan kesalahan yang sebenarnya tidak sepenuhnya berakhir buruk. Pria itu memang seorang playboy di masa lalu. Tapi, selama beberapa tahun menjalani kisah asmara bersama dirinya, pria itu selalu berusaha menjadi yang terbaik di mata Jihan. Bahkan, ia sangat mengenali jika Ozan tidak akan pernah menaruh hati pada Berna saat malam perpisahan mereka.   Pria itu berkata jujur dan Jihan yang telah merusak kepercayaan yang sudah dipertahankan Ozan. Ketulusan cinta pria itu ia buang dengan sangat menyakitkan   “Maafkan aku, Ozan ...” satu bulir air mata itu turun membasahi pipi perempuan berparas cantik.   Ia tampak enggan menatap deretan foto lain yang sudah dipajangnya, datang kembali setelah beberapa minggu resmi menjadi istri Erdem. Ini kali pertama ia kembali ke Berlin karena akan lebih sering pulang dan tinggal di rumah suaminya.   “Kau boleh membenciku ... Tapi aku tidak kuat jika akhirnya akan tau ... Kau bisa hidup lebih baik tanpaku setelah ini,” lirihnya nyaris bergetar, menggigit bibir bawah supaya isak tangis itu tidak terdengar.   Napasnya tercekat. Ia tidak sanggup untuk mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya. “Aku mengecewakanmu, Ozan. Maafkan aku,” sambungnya dan memilih berlalu cepat dari dalam gudang, meraih kunci tersebut dan menutup pintu dengan kasar.   Tidak akan ada yang boleh masuk ke ruangan ini selain dirinya. Hanya Jihan yang boleh melihat isi dari kenangan yang akan selalu tersimpan untuknya bersama Ozan.   Tadinya, Jihan akan melangkah menuruni anak tangga, menuju ke lantai dua rumahnya. Namun, ia terkesiap mendapati di undakan paling atas itu ada Nyonya Muge. Ia melihat betapa hancur dan sedihnya paras cantik putrinya.   Air mata itu terus mengalir dan saat ia berada di lantai tiga tersebut, Jihan memeluk wanita itu. Ia terisak, membiarkan wanita itu membalas pelukannya dengan bingung. “Aku bahagia dengan pilihanku, Mama,” bisiknya bergetar, meskipun dengan air mata mengalir deras.   Ia mengatakan untuk menguatkan hati, tapi tidak tampak jika hal itu membuat Nyonya Muge bisa percaya. Tangan wanita itu dengan pelan mengusap punggung Jihan. “Nak ...”   “Aku bahagia menjadi istri Erdem dan menjadi seorang Mama untuk Gani,” ungkapnya mengeratkan pelukan.   Wajah perempuan itu sudah memerah. Suaranya semakin bergetar, hanya berusaha menguatkan diri dengan pernyataan yang ia ciptakan untuk membuat pikiran dan hatinya tenang.   “Semua bisa kau lalui perlahan. Ini hanya tentang waktu dan semua akan kau lalui dengan perasaan bahagia,” ungkap wanita itu mengeratkan pelukannya.   Jihan mengangguk cepat, percaya jika dirinya bisa melalui semua ini perlahan dan membiarkan masa lalu tidak terseret pada kehidupannya sekarang. “Aku bahagia memiliki Erdem dan Gani,” ucapnya meyakinkan diri.   **   Seluruh pasang mata tidak lepas menatap ke arah Direktur Operasional mereka yang terlihat merangkul mesra pinggang dari salah satu pegawai Adskhan Corp. Berna Yildiz adalah orang yang dikenal dekat dengan Atasan mereka. Sebagai sahabat dan teman terbaik dari Yozan Adskhan. Tapi, hari ini mereka tampak jauh lebih mesra.   “Sampai jumpa,” bisik Ozan dan merapatkan tubuh mereka untuk mengecup kening Berna.   Mulut menganga dan manik yang membeliak seketika didapatkan oleh pegawai yang berada di sekitar. Berna tersipu dengan perlakuan Ozan, membiarkan pria itu memasuki lift menuju lantai ruangannya yang sudah ditunggu oleh Sekretaris Ozan.   Detik itu pula, teman yang berada satu divisi dengan Berna, mulai mendekati perempuan itu, memberikan rentetan pertanyaan.   “Berna? Apa ada hubungan baru di antara kau dan Direktur kita?!”   “Astaga! Bukankah selama ini kau hanya menjadi teman dekat Tuan Adskhan?”   “Tunggu! Entah kenapa aku pernah mendengar jika Direktur kita sudah memiliki tunangan. Mana yang benar?!”   Bergilir pertanyaan yang hanya dibalas kekehan pelan Berna dan senyum jahilnya. Perempuan itu mengedik, memberikan kedipan di sebelah matanya dan menjawab sebagai penutup, “Ini rahasia di antara aku dan Atasan kita.”   Di dalam ruangannya, Ozan tersenyum kecil mengingat banyak sekali hal yang dibicarakan Berna saat menuju perusahaan miliknya. Perempuan itu tetap sama, bisa membuatnya nyaman dengan pembicaraannya. Ozan merasa kedekatan di antara mereka semakin terjalin dan itu sudah menjadi hal yang paling baik.   Ketukan di pintu ruangannya membuat Ozan menoleh. Berna berada di sana dalam balutan blazer dan rok pendeknya, tersenyum manis seraya memegang sebuah ponsel. Ia menggoyangkannya. “Ponselmu lupa aku kembalikan,” cetusnya nyengir lebar.   Ozan tertawa kecil, mengingat perempuan itu terlalu nyaman memainkan ponselnya untuk melepas jenuh. Itu bukan ponsel pribadi Ozan, melainkan ponsel kedua yang ia gunakan untuk dipakai santai saja.   Berna masuk dan meletakkan ponsel Ozan. “Maaf jika aku menganggumu,” balasnya dengan raut bersalah.   “Aku baru duduk di sini dan baru saja memikirkan hal yang terjadi di mobil besamamu.”   Saat itu pula Ozan melihat rona merah di kedua pipi putih Berna.   Berna terkesiap dan merasakan desiran dalam tubuhnya saat tangan Ozan mengenggam pergelangan tangannya. Ia sedikit menegang tatkala Ozan menarik pinggang Berna, membawa perempuan itu duduk di pangkuannya. “O-zan ...”   Gugup melanda Berna. Ia nyaris menggigit bibir bawah, merasa untuk kali pertama begitu intim dengan Ozan. Ia duduk di pangkuan pria itu dan membiarkan Ozan melingkarkan kedua tangannya di perut Berna.   “Kau gugup, ya?” jahil Ozan melihat betapa tegang dan raut wajah dari paras cantik itu sangat berbeda.   Berna berdeham, bingung mengatakan sesuatu sampai tawa kecil Ozan terdengar di telinga Berna. “Perlahan kau harus terbiasa,” cetusnya dan sepersekian detik memberikan ciuman di pipi kanan Berna.   “Hmm ... Ozan ... Bukan seperti itu hanya saja ...”   Ozan mengulum senyum. “... Belum terbiasa dengan keadaan seperti ini?” tebaknya dan mendapatkan anggukan kaku Berna.   Pria itu sangat gemas melihat Berna yang belum meresponsnya. Ia pun memilih merapatkan pelukannya dan memberikan kecupan ringan di lengan atas Berna. “Aku hanya ingin bertanya sesuatu.”   “Ber-tanya a-pa?” tanya perempuan itu berusaha menoleh ke arah Ozan.   Ozan mengulas senyum hangat. “Bagaimana caranya aku bisa jatuh cinta denganmu?”   Desiran halus dan letupan dari dalam dirinya menyelusup kehangatan. Berna mengulum senyum dan perlahan duduk miring, supaya bisa melihat Ozan lebih dekat. Jemari tangan perempuan itu perlahan mengusap sisi bahu Ozan berbalut jas mahalnya. Ozan membiarkan apa yang dilakukan Berna, memberikan kesempatan perempuan itu untuk menunjukkan sisi lainnya.   “Mungkin ... Kencan terdengar menarik?”   “Ide yang bagus,” sahut Ozan cepat membuat keduanya tersenyum manis.   Manik coklat itu beralih menatap turun ke arah permukaan bibir merah itu. Ia terdiam sesaat, sebelum akhirnya melakukan satu hal yang dulu sering dirinya lakukan, bukan hanya bertahan hanya pada satu perempuan.   Salah satu tangan Ozan yang bebas, merambat ke belakang leher Berna. Ia memegang tengkuk perempuan itu dan sepersekian detik, ia memajukan sedikit wajah lalu menempelkan bibir di atas permukaan bibir ranum Berna.   Manik hitam itu membeliak sempurna.   **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN