“Günaydın ...”
Ozan mengulum senyum mendapati sapaan Berna ketika perempuan itu melangkah masuk ke kamarnya. Pria itu sedang sibuk merapikan dasi dengan pintu kamar terbuka.
“Guten Morgen,” balasnya menyapa dengan bahasa Jerman.
Berna mencebik kesal dan sudah berdiri di depan Ozan dengan kedua tangan terlipat di d**a. “Kau tidak menyapaku dengan benar. Ya, mungkin karena kau memperlihatkanku dengan darah campuran yang kau punya?”
“Kau benar,” balasnya terkekeh pelan.
“Jangan lupakan jika aku pria dengan keturunan Jerman – Turki,” sambungnya mengedipkan sebelah mata.
Berna mengulas senyum manisnya dan semakin mendekat. “Biar aku yang pasangkan,” cetusnya membuat Ozan terdiam.
Ia nyaris menahan napas saat tubuh keduanya nyaris tidak berjarak. Berna yang lebih pendek di bandingkan Ozan, bisa membuat pria itu dengan mudah untuk mendaratkan kecupan di puncak kepala Berna. Ia hanya diam, berusaha dengan tenang menunggu perempuan itu sibuk memasangkan dasi milik Ozan yang memang baru dikalungkan saja.
Ozan masih merasa asing dengan perlakuan Berna.
Dulu ... Ia akan membiarkan Jihan memasangkannya saat perempuan itu singgah beberapa hari di negara ini. Keduanya akan berada dalam satu ranjang yang sama, bercerita hal ringan sebelum beranjak tidur. Besok hari, akan banyak hal yang dilakukan Jihan, termasuk menyiapkan sarapan untuk keduanya dan saat perempuan itu membantunya menyiapkan jas.
Ozan mengumpat dalam hati dan mengeraskan perasaannya. Ia selalu saja kalah oleh pikirannya yang terus memaksa ingatan memuakkan itu.
“Sudah selesai!” serunya setelah memasangkan jas, membiarkan perempuan itu semakin merona melihat tubuh atletis Ozan berbalut jas kerjanya.
Ia mendongak sekilas, memberikan senyum manis dan kembali mengusap kedua lengan Ozan sebelum beranjak mundur.
“Berna,” tahan Ozan memegang tangan kanannya.
“Ya?” tanyanya meskipun sedikit gugup saat tatapan pria itu lekat memandangnya dan jarak yang perlahan Ozan kikis.
Napasnya tercekat. Ia bahkan mulai merasa jantung yang berdetak kuat. Ozan berusaha menepis segala hal yang membuatnya kembali membayangkan Jihan. Dengan perlahan pria itu meraih kepala Berna, menariknya dan dengan lembut mengecup kening perempuan cantik itu.
“Aku akan memulainya sebaik mungkin ...”
“Terutama menghargai keberadaanmu.”
Tubuh Berna berdesir dan jantungnya semakin tidak terkendali saat dirinya direngkuh dalam dekapan Ozan. Ia merasakan kehangatan di dalam sana mengalir dalam tubuhnya. Dengan senyum manis terulas di bibirnya, ia segera membalas dekapan Ozan. “Aku selalu bahagia mendengarnya,” bisik perempuan itu tidak bisa menutupi rasa mendambanya pada Ozan sejak pertemuan kali pertama mereka.
“Kau sudah membuatkan sarapan pagi untuk kita?” tanyanya mengurai pelukan, meskipun tidak melepaskannya.
Berna mendongak dan memberikan anggukannya. Telapak tangan kanannya dengan lembut meraih sisi wajah Ozan, mengusap pipi yang tidak ada bulu halus sepanjang rahangnya. Pria itu sangat merawat wajahnya semenjak di pertemuan pertama mereka. Berna sangat menyukai hal tersebut.
“Apa aku boleh keluar untuk membeli bahan di supermarket setelah kau pergi nanti?”
“Beli kebutuhan apa pun untuk kita. Aku akan mentrasfer uang setelah sampai di perusahaan.”
Berna tampak bahagia dengan perhatian yang diberikan Ozan padanya. Pria itu segera menautkan jemari tangan keduanya dan mengajak Berna keluar kamar, sarapan pagi bersama. Ia pun ingin tahu, bagaimana ketika dua jemari tangan tertaut.
Sejauh ini, Ozan belum merasakan desiran berarti. Masih jelas diingatannya dan begitupula tentang perasaanya saat merasakan dua kulit yang bersinggungan. Desiran halus dan gairah yang terpantik sedikit. Belum ...
Belum ada apa pun yang ia dapatkan dari Berna, sama seperti yang dulu ia rasakan pada Jihan.
**
“Mama dan Papa sangat sedih melihat bagaimana pernikahan itu diliput dengan begitu mewahnya.”
Ozan tersenyum getir. Ia tanpa sadar mengembuskan napas kasar. “Dia tidak mencintaiku, Kak,” ucapnya menatap pria yang duduk tenang di hadapan, bersekatan dengan meja kerja.
Pria bermanik hijau itu tampak memandang sendu Adiknya. “Kau tidak ingin pulang untuk membebaskan rasa sesakmu, Ozan? Bercerita pada kami akan jauh membuatmu tenang. Kita keluaga yang saling mendukung, meskipun Kakak sangat kecewa pada Jihan telah menyakitimu.”
Ozan menggeleng lemah. “Kak Savas bisa kembali pulang ke Berlin. Aku di sini ingin bertahan sementara waktu. Untuk keinginan itu, aku sudah membicarakan pada Mama beberapa hari lalu,” balasnya masih mengingat bagaimana suara sedih itu terdengar dalam indera pendengaran Ozan.
Savas Adskhan. Kakak Ozan itu menilik Adiknya yang sudah genap berusia tiga puluh tahun. Ozan tidak mencerminkan bagaimana ia dan sang Papa menata sebuah rumah tangga sebelum usia pria itu sekarang. Seharusnya, Ozan sudah hidup bahagia bersama istri dan anaknya. Itu yang tercermin di masa-masa Savas dan Papa mereka.
Tapi, mendengar kabar menyedihkan itu membuat mereka sebagai keluarga besar tidak ingin membuat Ozan semakin terpuruk. Lebih memilih untuk menyemangati dan mengingatkan jika pria itu masih memiliki keluarga yang lengkap dan akan menerimanya sepenuh hati.
“Lagipula ... Aku sudah membuka lembaran baru ...” lirihnya menatap Savas dengan ragu.
Saat itu pula ia bisa melihat punggung yang menegak dari Savas, memandang Ozan penuh tanya. Seulas senyum kecil terbit di paras tampan Savas. “Itu terdengar lebih baik, bukan? Siapa perempuan itu?”
Entah kenapa Ozan tidak bisa memilih kalimat yang baik. “Dia perempuan yang pernah membuat Jihan mengkambinghitamkannya. Berna Yildiz.”
“Jihan menuduhku berselingkuh dengannya, sedangkan aku sangat tau jika Berna sudah sangat sopan menjaga hubungan baik denganku selama satu tahun ini,” jelasnya membuat Savas terpaku.
Ozan mengangguk pelan. “Berna mencintaiku dan menjaga perasaannya diam-diam. Dia memilih untuk menganggap semuanya seperti biasa tanpa ingin merusak hubunganku bersama Jihan.”
“Jadi, daripada aku berusaha mengerti perasaan perempuan lain untuk melepaskan cinta yang lama, lebih baik aku belajar mencintai Berna. Karena sejauh ini aku nyaman bersamanya,” tutupnya dengan sorot tenang.
Setelah beberapa saat Savas terdiam, ia pun mengembuskan napas pelan dan mengangguk. “Tidak ada salahnya membuka hati sejak sekarang.”
“Kau tidak akan pernah bisa melupakan Jihan. Tapi, ada baiknya membuka lembaran baru tanpa mengulik apa yang dia lakukan sekarang. Itu tidak baik untuk perasaanmu, terutama bagaimana Berna yang telah mempercayakanmu untuk mengenggamnya balik.”
**
Ozan tersenyum manis, seraya membuka kacamatanya setelah memarkirkan mobil dengan rapi di depan toko bunga. Pintu kaca itu tertutup, sedangkan pembeli sudah bisa diperbolehkan masuk dengan tanda yang ada.
Ia segera melepas sabuk pengaman, keluar dari dalam mobil untuk memasuki toko. “Selamat pagi ... Ada yang bisa dibantu, Tuan?”
“Satu buket bunga mawar. Bisa aku memesannya sekarang?”
“Tentu saja. Tidak sampai lima menit kau akan mendapatkan kelopak mawar itu berada dalam satu genggaman yang cantik,” sahut wanita tua yang menyambut kedatangan Ozan dan membiarkan dua pekerja perempuan muda lainnya menanggapi pembeli yang lain.
Ozan melemparkan senyum hangat yang sama dan mengangguk. Ia pun berjalan sejenak mengitari jenis bunga lainnya yang menarik perhatian Ozan. Pria itu diam di sana. Deretan bunga tulip itu menarik perhatian Ozan.
Bukan hanya identik di Negara Belanda. Di musim semi, bagi warga Berlin adalah waktu yang tepat mengunungi Britzer Garten.
“Tulip berarti cinta yang sempurna.”
“Aku bisa memberikannya setiap hari untukmu.”
Suara tawa kecil itu terdengar menggelitik indera pendengaran Ozan. “Untuk apa? Kau ingin terlihat menyaingi tukang kebun bunga? Atau ingin membawa satu truk untukku?”
“Kau ini tidak paham atau sengaja menggodaku? Jelas saja aku membelinya supaya kau tau ... Jika aku akan selalu membahagiakanmu untuk apa pun yang kau suka, termasuk bunga tulip ini.”
“Aku selalu bahagia jika kau pun bahagia.”
Ozan mendengkus, mengingat kembali percakapan saat mereka berada di taman indah itu. “Sangat manis sekali,” cetusnya tidak percaya telah larut dalam setiap senyum manis dan ucapan memabukkan Jihan.
“Kau bahagia saat melihatku semakin menderita. Itu terdengar lebih nyata saat ini,” timpalnya tersenyum miring, kembali memakai kacamata dan mulai membayar buket bunga tersebut.
Tidak ada waktu untuk kembali mengumpat ataupun memukul dinding sebagai pelampiasan Ozan.
**
Berna terkesiap mendapati Ozan berdiri menjulang di depan pintu unit seraya memperlihatkan satu buket mawar. Senyum manis itu menghiasi paras tampannya.
“Untukmu,” cetusnya mengulurkan bunga tersebut.
Degup jantung Berna kian berpacu cepat. Letupan dan desiran perlahan menyelusup dalam dirinya. Ia berkaca-kaca, menerbitkan senyum kaku; tidak percaya. Tangannya mulai meraih dengan gugup. “Untukku?” tanyanya mengulang dibalas anggukan dan senyum manis yang tidak pudar dari paras tampan Ozan.
Perempuan itu ikut menerbitkan senyum lebar, mengambil dan menghirup aroma menguar dari mawar cantik itu. “Terima kasih. Ini sangat indah, Ozan ...”
Ia berjinjit, memberikan kecupan manis di pipi kiri Ozan yang membuat pria itu menegang. Ozan diam kaku, sedangkan Berna yang sudah menjauhkan diri menatapnya dengan bahagia.
“Kau sangat romantis,” pujinya dengan wajah memerah. Ia sangat merona dengan perlakuan manis Ozan.
Padahal, ia ingin lekas membawa Ozan masuk ke dalam unit untuk makan sore bersama. Ya. Pria itu memutuskan untuk pulang lebih sore, membuat Berna harus lebih bersabar.
Ia pun tidak masuk bekerja hari ini karena dipinta oleh Ozan untuk istirahat sejenak. Sejak tiga hari lalu pekerjaan Berna sangat banyak, terlalu lelah dan Ozan kasihan jika melihat wajah pucat itu terus memaksakan pekerjaannya.
“Aku sudah terbiasa romatis sejak dulu,” cetusnya membuat keduanya tertawa kecil.
“Ayo. Aku sudah membuatkanmu makan siang yang ternyata sangat telat di santap,” balasnya meraih tangan Ozan, masuk ke dalam unit.
“Siang tadi Kakakku datang ke ruang kerjaku.”
“Oh, iya? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku? Bagaimana jika dia melakukan pengecekan pada kinerja pegawainya? Aku belum masuk hari ini.”
Ada raut takut dan sedih yang perempuan itu perlihatkan. Ozan terkekeh kecil dan menggeleng pelan seraya menarik kursi untuk didudukinya, dengan Berna yang berada di seberang Ozan. “Dia hanya ingin tau kabarku secara langsung.”
Berna mengulum senyum hangat. “Keluargamu tetap berada di pihakmu, Ozan.”
“Ya. Mereka akan menerima segala keputusan ini dengan pandangan terbuka.”
“Jadi? Ada yang kau sampaikan kepada Kakakmu?” tanya perempuan itu kembali berdiri, menuangkan beberapa menu untuk di hidangkan di piringnya dan juga Ozan.
Pria itu melirik sejenak Berna sebelum mencoba menarik napas dan mengembuskannya perlahan. “Aku akan mengurus anak cabang perusahaan di sini selama dua tahun ke depan dan tidak akan kembali ke Jerman terlebih dulu.”
Berna terdiam.
Perempuan itu melirik cepat Ozan yang menampilkan raut serius. Jika seperti ini, tidak akan ada yang tahu saat sebenarnya Ozan lebih dikenal sebagai pria dengan selera humor yang cukup baik. Bahkan, ia tidak segan menjahili Berna dan beberapa pegawai di perusahaan jika pria itu sudah mulai kambuh.
Namun, cinta yang perlahan menghilang—kandas. Membuatnya kian terbelenggu pada rasa sepi dan akhirnya menepi untuk tidak terlihat seperti dulu. Berna ingin mengubah kembali menjadi sosok Yozan Adskhan yang kali pertama ditemuinya. Hanya saja itu tidak akan pernah mudah. Ada proses yang harus perempuan itu lalui, terutama bagaimana Ozan menjalani semuanya perlahan ke depan.
“Bukankah itu lebih baik, Berna? Aku bisa fokus mengembangkan perusahaan di sini tanpa harus pulang pergi ke negara Kakakku tinggal. Terutama saat aku memutuskan untuk kembali ke Turki. Itu akan memakan waktu dengan fokusku yang bisa tidak keruan.”
Senyum tipis Berna menghiasi. “Kau tidak akan merindukan orangtuamu?”
Ozan terdiam. Pria itu bisa melihat raut sedih Berna. Perempuan yang sudah tidak memiliki orangtua sejak kecil itu memandang Ozan dengan sesal.
“Kakakku ... Dia pasti akan membawa Mama dan Papa kembali ke sini. Sesekali berkunjung,” jawabnya meskipun sedikit ragu.
“Kita masih bisa kembali ke Turki, jika kau tidak ingin menjejakkan kaki di Jerman. Bukankah pertemuamu bersamanya lebih banyak memiliki momen di sana? Kau harus tetap pulang sebagai anak, Ozan. Jangan pernah melupakan jika kau masih memiliki orangtua yang lengkap.”
Ozan tertegun mendengar nada penuh penekanan di sana. Untuk beberapa saat hening mengisi ruang makan tersebut. Embusan napas berat Ozan terdengar dan sebuah anggukan menerbitkan senyum manis Berna.
“Baiklah. Bulan depan kita harus mengunjungi kediaman Mama dan Papaku. Mereka pun harus mengenal dirimu.”
Senyum Ozan membuat kedua pipi putih Berna merona. Ia salah tingkah mendapati satu kedipan jahil dari pria tampan yang masih duduk nyaman itu. Kedua siku Ozan bertumpu di atas meja dan ia menangkup wajah dengan kedua telapak tangan. “Kau tidak keberatan jika aku memperkenalkanmu sebagai kekasihku yang baru?”
Ozan bisa melihat jika manik hitam itu membeliak sempurna. Kedutan di kedua sudut bibir Ozan ingin sekali terulas, tapi pria itu dengan kuat menahannya. “Atau ... Kau ingin diperkenalkan sebagai calon istriku?”
“Tidak ... Tidak ... Itu terkesan terburu-buru, Ozan,” sahutnya cepat dengan degup jantung bertalu kuat. Pun kedua pipinya sudah semakin memanas. Ia akhirnya sadar jika Ozan tengah mengerjainya, tertawa puas dengan ekspresi dan tingkah laku Berna.
“Ozan? Kau menipuku?”
“Siapa yang menipumu, Sayang?”
Berna terdiam saat panggilan khas itu terdengar menggelitik pendengarannya. Sampai gemuruh dalam dadanya kian terasa kuat. Pria itu tersenyum manis dengan menegakkan bahu melihat Berna masih berdiri tegak, tidak jadi menuangkan minumannya. “Tidak akan keberatan jika aku mulai memanggilmu dengan kata Sayang?”
“Aku ... Aku tidak terbiasa,” balasnya tersipu dengan kepala menunduk. Ia benar-benar salah tingkah.
“... Dan mulai sekarang, kita harus biasakan mengucapkannya.” Ozan berucap dengan senyum manis dan keinginan lebih untuk ke depannya bisa cepat melupakan Jihan. Ia ingin menyingkirkan nama dan posisi perempuan itu di dalam hatinya. Terlebih dua tahun waktu yang harus ia gunakan sebaik mungkin.
Karena sampai kapan pun, Ozan akan tetap kembali ke Jerman. Ia bisa sewaktu-waktu bertemu dengan perempuan itu yang berdomisili di kota yang sama, ditinggali Savas Adskhan; Kakak Ozan.
**