Jihan memandang keluar jendela taksi dengan tatapan sendu. Pandangannya memang teralihkan pada kendaraan yang hilir mudik dan beberapa gedung yang berjejer. Tapi, ingatannya terlalu lekat akan pertemuan kembali dengan Ozan. Senyum getir terpatri di paras cantiknya. “Aku sudah mengubahmu menjadi pria asing yang tidak kukenal sama sekali, Ozan,” lirihnya, menaikkan telapak tangan kanan yang tadi merasakan telapak tangan Ozan. Napasnya terembus berat dengan gemuruh dalam dadanya terus mengusik ketenangan. “Tadinya, aku berpikir akan ada percakapan lebih panjang yang kita ciptakan. Meskipun kau sudah memaafkanku, seolah kau tetap melihat perempuan yang kau benci dua tahun terakhir ini.” “Maaf, Nyonya. Kita akan ke mana setelah ini?” Jihan terkesiap dan menegakkan punggungnya sa

