“Selamat pagi Kakak Ipar ...” Suara Ozan langsung dapat didengar Aletta—Kakak Ipar—sekaligus teman di bangku kuliah Ozan saat di Indonesia. Ia menggeleng lemah mendapati pria itu mendatanginya di dapur, lalu mencomot Bratwurst yang baru saja dihidangkan Kakak Iparnya ke dalam piring. Sosis khas Jerman yang dimasak dengan cara dipanggang itu dalam satu tusukan berhasil diambil dua potong oleh Ozan. Ia makan sambil berdiri dan memandang perempuan itu dengan tatapan jahil. Menaik turunkan alisnya tanpa ada raut bersalah. “Kau memang berbeda dengan Kakakmu yang terlihat tegas itu,” cetusnya menatap Ozan dengan sorot datar tanpa ekspresi. Ozan tertawa geli dan tusukan kedua berhasil mendapatkan dua sosis lagi. “Perutku lapar, Kak,” balasnya nyengir lebar sambil mengunyah. Savas datang deng

