“Terima kasih atas pengertianmu, Berna. Aku sedang berada di apartemen Asisten Pribadiku dan besok pagi aku akan segera pulang.” “Selamat malam.” Jihan mengembuskan napas pelan dari tempatnya duduk. Perempuan itu meluruskan kaki, menyelimut hingga pinggang dengan bersandar nyaman di kepala ranjang. Benar yang dikatakan Ozan mengenai lelahnya. Perempuan itu tidak berhenti atau mengistirahatkan diri setelah tiba di bandara. Ia bergegas dan terlalu menggebu untuk mengatakan kabar membahagiakan ini, sampai lupa dengan keadaannya sendiri. Perempuan di seberang sana pun mengiakan dan menerima dengan baik kebohongan Ozan. Ia menyeret nama Asisten Pribadinya karena memang sebelumnya pria itu mendapatkan panggilan telepon dari tangan kanannya. Itu yang sempat dibicarakan Ozan, sampai akhirnya ia

