Senyum getir Jihan terulas dengan sangat menyedihkan. Ia bisa melihat sorot kaget dari pria bermanik coklat di hadapannya. Ozan pasti menyesal telah melakukan sesuatu di batas kemampuannya dan Jihan memang telah datang dengan tidak tahu dirinya. Ia menyeka kasar air mata, memertahankan kedua tumpuan di atas trotoar yang ia pijaki, sekalipun terasa sangat lemah. “Aku tidak pernah berpikir untuk meminta tanggung jawab darimu, Ozan.” “Karena dipikiranku sejak awal, aku hanya ingin membagikan kebahagiaan yang tidak bisa aku bendung sendirian. Aku ingin Papanya tau, jika anaknya akan lahir dalam sembilan bulan kedepan, memberitahu untuk berbagi luapan buncahan perasaan berdebar ini.” Jihan tertawa pilu, membuat Ozan kian merasakan sesak yang tidak dapat dikendalikannya. “Sayangnya, sejak awal

