Berna membuka pintu ruang kerja Ozan dengan perlahan. Tatapannya lekat, memandang lurus pria yang sibuk berkutat, membawa jemari rampingnya di atas keyboard laptop. Meskipun jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Ozan belum juga beranjak ke kamar mereka. Perempuan cantik itu memutuskan mendekati Ozan, berdiri di sampingnya seraya membawa sebelah tangan untuk merangkul bahu tegap itu. Ia mengusap sejenak dan menunduk untuk mengecup pipi kiri Ozan. “Kau belum mengantuk?” tanya perempuan berbalut camisole hitam. Pakaian tidurnya semakin memperlihatkan kulit putih dan tubuh ramping serta postur yang tidak terlalu tinggi itu sangat sempurna. Tidak terlihat ada yang kurang dalam diri Berna dan tentu saja fisiknya yang sangat mudah dilirik pria. “Aku masih ada beberapa pekerjaan yang belum

