15

2076 Kata
Lintang dan Sinarnya Kejora, dialah bintang fajar. Bintang yang bersinar paling terang saat fajar datang. Mengalahkan sirius yang sinarnya terang namun hilang dengan cepat. Kejora yang datang saat semua bintang hampir tidak nampak. Menemani rembulan yang masih bertahan sendirian menanti datangnya matahari. Sunyi dalam kegelapan malam. Bersama melewati fajar yang mengundang elegi untuk datang dan datang lagi. Lalu, dua benda langit itu akan kembali tak terlihat saat matahari mulai muncul dari ufuk timur. Dengan kemegahannya, kehangatannya, keagungan dan keindahan sinar bintang raksasa itu. Matahari terlihat begitu tangguh menyinari seluruh jagat raya dengan sinar hangatnya. Meski sesekali terik terasa membakar. Fajar menyingsing. Suara adzan diiringi kokokan ayam jantan terdengar bersahutan. Dengan mata terpejam dan keringat yang timbul sebesar biji jagung mengantarkan gadis itu pada elegi yang selalu datang saat perubahan hari. Di mana kegelapan akan lenyap ditelan cahaya terang. Ia tersentak dalam kejatuhan yang membuatnya tersungkur tidak karuan. Ata bangun, napas memburu beriringan dengan keringat dingin yang mengucur dari dahi. Dalam mimpinya barusan elegi menghancurkan segala tawa. Mengaburkan bayangan mama dan keluarga kecilnya yang pernah bahagia. Di sampingnya Senja terlelap dengan posisi kepala yang rebahan di atas ranjang. Menggenggam tangannya erat. Lelaki itu jelas tidak pernah meninggalkannya. Tidak seperti Senja yang pernah memberi janji, namun pada akhirnya mengingkari. Ata tersenyum samar. Mengucap syukur dalam hati. Setidaknya, Senja masih setia menemani. Sementara itu Cahaya Bulan masih meringkuk di atas kasur. Menenggelamkan diri dalam balutan selimut tebal. Gemercik gerimis terdengar menghantam tanah basah. Menerbangkan memorinya kembali pada percakapannya bersama Ata. Luka di d**a mungkin kembali menganga saat ia teringat bahwa Ata tidak akan kembali lagi bersamanya. Ketukan pintu kamar terdengar tanpa jeda. Suara lelaki yang sejak semalam membujuknya untuk membuka pintu akhirnya menggerakkan kaki Aya untuk melangkah. Gadis itu berjalan mendekati pintu dan membukanya, menampakkan Bayu yang berdiri tegak di sana. Tanpa bertanya 'kenapa' Bayu memeluk Aya dalam dekapan. "Aku nggak tau dia kenapa. Dia benci sama aku," ucap Aya terisak. Bayu mengangguk paham. Lelaki itu mengusap punggung Aya lembut. "It's oke. Semuanya pasti baik-baik, aja, Ay!" hiburnya. Kedua insan yang sejujurnya sama-sama terluka itu bukanlah satu-satunya yang terluka. Ada jiwa lain yang membutuhkan pertolongan. Ada jiwa lain yang kesepian butuh seseorang untuk mengungkapkan kemarahannya. Menjadi siswi teladan yang memiliki prestasi luar biasa bukanlah keinginannya. Keke belajar bukan karena menyukainya, ia suka membacaa, namun entah sejak kapan ia merasa muak. Seperti remaja SMA pada umumnya ia memiliki mimpi yang ingin diraih. Namun, seseorang yang seharusnya mendukung, justru menghancurkannya. Keke ingin seperti papa, seorang seniman yang memiliki kelebihan di bidang menulis. Papanya adalah penulis buku, penulis puisi, penyair. Keke ingin seperti papa. Namun, mimpi itu hanya bisa ia bunuh pelan-pelan karena Keke yakin mama tidak akan mengijinkan. "Jadi Penulis itu bukan mimpi. Kamu cuma jadi manusia yang nggak punya masa depan cerah. Nggak bisa makan, hidup dengan layak. Itu yang kamu mau? Kamu mau bunuh Mama, sama seperti yang Papa kamu lakukan?" Keke tertunduk mendengar bentakan mama. Kertas-kertas yang sudah penuh dengan tulisan tangannya di robek sedemikian rupa oleh mama. Menyisakan serpihan kecil yang tidak mampu lagi disatukan. "Belajar Ke. Mama nggak akan biarin kamu jatuh jadi orang yang nggak dihargai. Mama nggak akan biarin kamu jadi seperti Papamu. Mama nggak akan biarin kamu jadi Penulis yang nggak akan membuat hidup kamu jadi lebih baik!" tegas mama. Semenjak saat itu, Keke menyembunyikan semua tulisan terakhir yang pernah ia rangkai menjadi kalimat indah. Serapat mungkin tanpa bisa ditemukan oleh mama, tanpa bisa ia lanjutkan kembali. Mama adalah orang yang keras tidak mungkin bagi Keke untuk membantah. Mama yang memilih untuk menceraikan papa karena papa yang bersikeras tidak ingin meninggalkan dunia sastra hanya karena tidak dihargai dalam negerinya sendiri. Meski waktu itu papa adalah seorang karyawan swasta yang masih bertanggung jawab dengan anak dan istrinya, namun mama terlalu sulit menerima penghasilan papa. Tepat ketika Keke menduduki kelas sepuluh, papa dan mamanya resmi berpisah secara hukum. Satu hal yang sempat Keke simpan serapat mungkin. Buku peninggalan papa sebelum pergi ke Perancis demi mengembangkan bakatnya agar diakui oleh dunia. Sebuah buku yang belum sempat ia baca bak sebaris kata. "Jadi Penulis itu bukan hanya tentang menuliskan kata-kata indah. Kamu bisa menuliskan kisah hidupmu, atau orang-orang di sekitarmu dalam bentuk buku, supaya nanti ada orang lain yang mengenalmu lewat buku itu. Menulis itu terapi diri, biarpun jarang ada yang menghargai, tapi dengan menulis kamu bisa menyembuhkan luka di hati. Keke paham maksud Papa, 'kan?" ucap papa suatu sore sambil menikmati kue lapis dan secangkir wedang jahe. Keke mengangguk memeluk buku pemberian Papa dengan senyum. "Papa nggak maksa kamu buat jadi Penulis kere seperti Papa. Papa cuma mau kamu tahu, kalau menulis nggak seburuk yang orang lain bayangkan." "Keke mau jadi penulis kayak Papa," ujar Keke waktu itu. Dalam kamar bercat biru muda itu Keke merebahkan kepala di atas meja belajar. Menatap segelas s**u dan potongan kue yang di sediakan mama. Ia berpikir bahwa mama memberinya sayap sekaligus mematahkan kedua kakinya secara bersamaan. Sama saja ... omong kosong. *** Setelah turun dari mobil langkah Keke tidak segera menuju ke sekolah. Di depan gerbang sekolah ia melihat gadis yang kemarin menariknya dari maut. Dari pikiran bodoh yang membuatnya ingin mengakhiri hidup. Gadis itu tertawa dengan lelaki yang duduk di atas motor matik. Gadis itu selalu diam dan sendirian seperti dirinya. Namun, ia..., Ata masih bisa tertawa lepas dengan orang lain. Sementara dirinya? Bisakah dia tertawa lagi seperti sebelumnya. Seperti Ata yang tidak pernah memiliki luka. Keke membuang pandangan begitu menyadari Ata membalas tatapannya. Ia membetulkan kaca matanya yang melorot dan bergegas masuk melewati gerbang. Ata menepuk punggung Senja kencang membuat lelaki itu mengaduh keras. "Anjrit!" eluh Senja menggeliat. Dibalas dengan senyum jahil di bibir Ata. Gadis itu berlari kecil memasuki gerbang. Mengabaikan lambaian tangan Senja yang tidak mendapat respon. "Nanti aku jemput!" teriak Senja berharap Ata mendengar. Di koridor utama ia melihat Ata mengacungkan jempol tanpa berbalik menatapnya untuk persetujuan atas ucapannya. Senja menggeleng, berdecak seperti biasa. "Kamu terlalu cepat berubah. Aku, bahkan belum lihat apa yang sebenarnya terjadi sama kamu, Ta." gumam Senja lirih. Ia memutar kunci motor lalu melajukan motor matik itu di tengah keramaian kota pahlawan. Bayu sengaja memperlambat laju motornya saat melihat Senja dan Ata yang bercakap di depan gerbang. Selain tidak mungkin bertemu Ata dengan Aya yang berada di boncengannya. Bayu pun mengkhawatirkan Aya. Tentang apa yang kemarin Aya ceritakan, hingga membuat gadis itu menangis sesenggukan. "Dia bisa dekat dengan orang lain, tapi nggak denganku. Dia benci aku." "Udah, dong jangan manyun terus. Nanti kita cari waktu buat ngobrol lagi sama dia," hibur Bayu menepuk pelan bahu Aya. Cahaya Bulan mengangguk paham. Lalu bergegas masuk setelah Bayu melambaikan tangan terlebih dahulu. Membuntuti dua orang manusia yang berada tidak jauh di depannya. Aya semakin mempercepat langkah untuk memastikan bahwa yang dilihatnya adalah Ata. "Ada apa?" tanya Ata sambil terus melangkah. Gadis itu gugup karena tertangkap basah. Ia tidak langsung menjawab melainkan menelan saliva dengan kasar, sialan tenggorokannya kering sekali! "Hei, aku ngomong sama kamu, loh. Malah diam," ucap Ata membenarkan letak tas yang hanya tersampir pada sebelah pundaknya. "Ada apa?" ulangnya. "Nggak!" jawab Keke cepat. "Kok ngeliatin aku gitu? Pasti ada apa-apa, 'kan?" Langkahnya berhenti membuat Ata melakukan hal serupa. Di depannya ada bu Fatma guru matematika yang memberikan kode untuk mengikutinya. Keke mengangguk mengerti, namun tidak segera bergerak. Tangannya meraih sticky notes yang berada di salah satu kantong tas dan pulpen yang kebetulan berada di sana pula. "Istirahat pertama, di atap!" Secarik notes berwarna merah jambu itu ia letakkan di tangan Ata lalu berlari kecil untuk menyusul bu Fatma. Ata menyatukan alis menatap kepergian gadis berkaca mata itu. Namun, segaris senyum terlihat nyata menghiasi bibirnya. Ia buat ekspresi senang itu sedikit berlebihan saat mengetahui bahwa Aya ternyata berdiri di belakangnya. Kembarannya yang keras kepala. Tidak tahukah Aya, bahwa Ata menghindar agar ia dan dirinya tidak sama-sama terluka. Lewat jendela, kaca matanya mengikuti dua orang yang berjalan berjauhan. Namun, sebentar kemudian ia segera duduk begitu mendengar deheman keras dari bu Fatma. "Ibu sudah melihat semua daftar nilai-nilai kamu. Jadi, Ibu dan kepala sekolah sudah sepakat untuk mengajukan kamu sebagai wakil dari Sekolah kita untuk Olimpiade MIPA tingkat Provinsi dua minggu lagi," ucap bu Fatma tanpa basa-basi. Kedua alis Keke kontan terangkat sempurna. Menurutnya ini sangat-sangat terlalu dadakan. Bagaimana bisa dua minggu ia mempersiapkan diri untuk mengikuti apa tadi? Olimpiade? Meski ia sudah mendapatkan banyak kisi-kisi dari tutornya, Keke benar-benar tidak berminat untuk mengikuti olimpiade tersebut. Lagipula sejak jauh-jauh hari Keke tahu bahwa sudah ada calon sebelum dirinya. "Maaf, saya nggak bisa Bu," tolak Keke halus. "Kamu tidak punya hak untuk menolak Ke. Ini keputusan mutlak yang sudah diputuskan oleh seluruh pihak yang bersangkutan di Sekolah ini." "Tapi, Bu bukannya Vela yang seharusnya mewakili Sekolah? Lagi pula, dua minggu? Apa yang bisa saya persiapkan dalam waktu dua minggu untuk lomba tingkat tinggi itu?" "Semuanya sudah dipertimbangkan Ke. Kami memilih kamu karena kami yakin kamu mampu, walau kamu cuma punya waktu singkat untuk persiapan. Tadinya, ibu pikir selain anak ketua yayasan yang cerdas, Vela mampu mengikuti lomba ini dan membawa kemenangan untuk sekolah kita. Tapi, setelah melihat nilai kamu. Ibu sangat yakin kalau kamu bisa memenangkan Olimpiade MIPA tahun ini," jelas bu Fatma panjang lebar. "Kalau memang begitu, dibandingkan dengan saya, kenapa bukan Ata yang selalu jadi juara satu pararel di sekolah ini Bu?" "Kamu tau sendiri dia seperti apa, 'kan? Kalau dia yang maju, sudah pasti banyak yang tidak setuju." Keke menggigit bibir bawahnya kesal. Hal menyedihkan apa lagi yang ia terima hari ini. Ia sudah menderita untuk terus belajar dan belajar. Berkutat dengan buku-buku sialan yang memecahkan kepalanya. Dan sekarang? "Sekali lagi saya mohon maaf Bu. Saya nggak bisa, menurut saya ini terlalu mendadak. Permisi," ucap Keke berdiri dari kursi. Keluarnya Keke dari ruangan guru disambut dengan seseorang yang berdiri di dekat pintu menyandarkan pundak. Tanpa permisi tangan Keke ditarik paksa entah akan dibawa ke mana. Sampai melewati koridor yang sepi, Keke menyentak tangannya kuat hingga terlepas. Tanpa bicara juga Keke berbalik arah. Ia memegangi pergelangan tangannya yang merah karena ulah Aya. Iya, Aya. Cahaya Bulan yang menarik tangan Keke dengan kuat. Baru beberapa langkah berbalik, pundaknya kembali disentak hingga Keke kembali berhadap-hadapan dengan Aya. Dua gadis yang tingginya sejajar itu saling lempar pandang. Keke dengan ketidak mengertian serta kekesalannya, dan Aya dengan penuh kemarahan juga banyak tanda tanya. "Aku mau ngomong sama kamu." "Maaf, aku sibuk!" balas Keke singkat. Ia hendak berbalik, namun lagi-lagi Aya menahan lengan Keke membuatnya tetap diam di tempat. "Ada hubungan apa kamu sama Ata?" Dengan gerakan perlahan Keke menyingkirkan tangan Aya yang masih memegangi lengannya kasar. Ia tidak akan mengusik jika tidak ada yang mengusiknya. Ia tidak akan melukai jika tidak ada yang melukainya. Ia tidak akan menyakiti jika tidak ada yang menyakitinya lebih dulu. Prinsip Keke seperti itu. Memang benar ia adalah seorang pendiam, namun ia tidak segan melukai jika ada yang membuatnya tidak nyaman. Keke maju selangkah menelan jarak yang ada di antara dirinya dan Aya. "Apa pun itu bukan urusan kamu." Enam kata yang diucapkan penuh penekanan itu menciptakan kabut bening di mata Aya. Keke beranjak pergi meninggalkan Aya yang menjatuhkan setetes demi setetes air mata. Cukup sudah kekesalan untuk hari ini yang membuatnya ingin mengeluarkan amarah. Di balik pilar tidak jauh dari tempat Keke dan Aya. Ata berdiri di sana. Ada ngilu tak tertahan ketika melihat kembarannya itu terduduk sendiri menangis di koridor yang sepi. Tapi, kebencian itu kembali membuat Ata teguh pada pendiriannya untuk tidak peduli. Langkah Ata lebar mendekati Aya sambil menahan kedua lengan untuk tetap bersedekap angkuh agar tidak merengkuh saudaranya dalam pelukan. Sesampainya di dekat Aya, gadis berambut panjang itu mendongak. Menatap Ata dengan sendu. "Sial!" Batin Ata mengumpat tidak karuan melihat mata Aya yang sembab. Ia sangat yakin bahwa semalaman Aya pasti menangis tanpa jeda. Ia letakkan sapu tangan berwarna monokrom tepat di tangan Aya yang berkeringat. Saat itu juga, hanya sebentar Aya mendapat kesempatan menahan tangan Ata dalam genggamannya sebelum Ata melepaskan tangan secara paksa dan pergi. Aya terisak lagi. Bahkan lebih kencang saat ini. "Kita bukan siapa-siapa." ucap Ata saat memberikan sapu tangannya pada Aya. Rasa sakit memang sering kali tidak nampak pada kulit. Namun, kesakitan yang tidak nampak justru menyisakan pedih yang tidak terkira pula. Seseorang bisa saja bertahan selama yang ia mau, menjadi angkuh untuk menutupi ketakutan. Menjadi diam untuk menutupi kelemahan. Menjadi periang untuk menutupi luka. Namun, hati adalah perasaan yang tidak pernah bisa untuk didustai. . . . . B e r s a m b u n g!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN