16

1061 Kata
Pertemuan Dua Senja Sepulang mengantarkan Aya ke Sekolah, Bayu tidak kembali ke rumah. Ia justru mengarahkan motornya untuk singgah ke sebuah tempat yang ingin ia kunjungi. Kafe Matahari Senja yang membuat Bayu jatuh cinta pada kopi pahit sejak kecapan pertama. Seperti biasa Bayu memilih kursi di dekat jendela kaca yang berseberangan langsung dengan jalan raya. Seorang pelayan mendatanginya dengan senyum manis. Rambut panjang hitam dikucir kuda membawa nampan bundar berwarna cokelat di d**a. "Selamat Pagi. Silakan buku menunya Kak." Hangat dan bersahabat suara lembut menyapa indera pendengarnya. Bayu tidak menyentuh buku menu di hadapannya. "Kopi pahit tanpa ampas." pinta Bayu. "Baik, saya ulangi. Kopi pahit tanpa ampas satu." Setelah membungkuk sopan lalu beranjak membuatkan pesanan Bayu. Sembari menunggu pesanan datang Bayu mengeluarkan sebuah pita warna jingga yang ia beli beberapa hari lalu. Suasana kafe yang tadi hanya diisi oleh gumaman kecil dan instrumen-instrumen piano kini berubah dengan sebuah lagu keroncong yang disetel. Lengkap sudah, hawa dingin Surabaya, susana klasik dan alunan keroncong ditambah kopi pahit yang kini terhidang di hadapan Bayu. Komposisi yang membuat pikirannya semakin menggila akan sosok Ata di masa silam. Ia genggam pita jingga dalam tangan. Matanya menatap seorang lelaki yang tadi ia lihat bersama Ata. Bayu yakin, lelaki itulah yang memiliki nama serupa dengannya. Lelaki yang pernah diceritakan oleh Aya. Sepersekian detik yang lewat Bayu menyeruput kopi pesanannya. Membuat rasa pahit mendominasi lidahnya. Sama seperti kepahitan yang ia ciptakan dengan sendirinya. Saat ia pergi meninggalkan Ata sendirian. Di saat-saat gadis itu benar-benar butuh pertolongan. Dalam d**a sesal tidak akan pernah bisa terhapuskan tanpa maaf dari Ata. Di antara banyak hal yang berkecamuk dalam pikiran, pandangan Bayu masih saja tertuju pada Senja di meja kasir. Hingga keduanya saling melempar tatapan saat ini. *** Suatu malam ragaku dibawa melayang. Entah ... tidak begitu kuyakini bahwa kini aku benar-benar terbang. Lalu dijatuhkan perlahan menapaki rumput hijau. Disambut cericit burung damai di telinga. Anak-anak kecil tertawa riang dengan tari dan nyanyian yang mereka ciptakan. Angin berdesir pelan. Kulihat seseorang berdiri diujung bukit. Dia manusia ... Namun memiliki empat sayap pada punggungnya. Kupanggil tiada sahutan lantas kumendekat. Wajahnya tak asing dalam pandangku. Dia senja yang pernah datang. Dia senja yang pernah singgah dalam lukaku. Dia senja yang membiaskan rasa sakitku. Dia senja yang menenggelamkan jinggaku. Dia senja yang meninggalkan matahari dalam pergantian waktu. Sekelompok siswi duduk bergerombol di bawah pohon mangga. Di depan mereka sudah tersedia beberapa jenis makanan ringan juga minuman masing-masing. Seseorang di atap gedung tersenyum sinis. Kedua tangan terlipat sempurna di d**a. Ata yakin perkumpulan-perkumpulan seperti yang ia lihat di bawah sana hanyalah berisi manusia-manusia munafik. Ata juga tahu apa yang sedang di diskusikan oleh sekelompok siswi seusianya di sana. Apalagi jika bukan tentang kekurangan orang-orang disekitar mereka. Tentang aib seorang pentolan sekolah mungkin, atau bahkan membicarakan teman perkumpulan yang sedang tidak ikut berkumpul pada waktu itu. Ata tersenyum lagi, kali ini bahkan tertawa kecil. Perkumpulan manusia selalu saja seperti itu. Siapa yang tidak ada, maka merekalah yang menjadi bahan pembicaraan. Dunia memang tidak pernah berubah. Atau mungkin, manusia saja yang semakin bobrok dengan pola pikir amatiran. Ata menurunkan tangan hingga berada dikedua sisi tubuh melihat siapa yang datang. Ia menjauh dari teralis pembatas roof top untuk menghampiri seseorang yang membuat janji dengannya. Entah sebab apa, sejak kecil insting Ata hampir tidak pernah keliru. Ia mampu membaca pandangan mata orang-orang di sekitarnya. Merasakan kehadiran seseorang yang dengan sengaja menguntitnya. Bahkan terkadang Ata bisa memahami dengan cepat pikiran seseorang dari gestur tubuh. Ata begitu sensitif jika sudah menyangkut tentang perasaan. Entah itu tentang perasaannya sendiri, atau orang-orang yang terasa dekat dengannya. Gadis berkaca mata itu baru saja memijakkan kaki di atap gedung. Tepat pada bagian terakhir anak tangga yang ia daki, langkahnya berhenti. Melihat Ata berjalan mendekat, Keke ragu untuk maju. Apakah keputusannya untuk bicara dengan Ata adalah benar atau malah sebaliknya? "Kenapa?" tanya Ata membuka suara terlebih dulu. Tidak menjawab, Keke mengulum bibir sambil meremas dua kaleng s**u beruang yang sengaja ia bawa. Dalam benak masih ia timbang, kenapa pula ia harus meminta bantuan pada Ata. Yang notabenenya memiliki citra buruk di sekolah? Sesuatu dalam dirinya meneriakkan jawaban atas pertanyaan dalam benak. Karena cuma dia satu-satunya yang mendekatiku saat semua orang nggak peduli denganku. Terus gimana kalau ada motif lain selain pengen dekat dengan dirinya? Pikir Keke masih bimbang. Masa bodoh! Kalau dia bisa bantu aku kenapa enggak? Lamunan lenyap bersama musnahnya pertimbangan bodoh yang dilakukan dalam pikiran. Saat tangan Ata meraih satu kaleng s**u dari tangannya dengan sentakan kecil. "Makasih," ucap Ata mengangkat kaleng s**u yang sudah terbuka lalu meneguk isinya. Keke masih diam. Memainkan kaleng s**u di tangan tanpa berminat untuk meminumnya. Ata sendiri malah berjalan menjauh dan kembali menempatkan diri di pinggir atap. Menopang lengan pada pagar pembatas untuk melihat sekumpulan manusia di bawah sana. "Ngajak ketemuan di atap cuma buat diem-dieman begini? Kangen aku, ya?" Suara itu kembali menyadarkan Keke. Ragu, gadis itu melangkah menghampiri Ata sambil menaikkan kaca mata yang merosot di pangkal hidung. Ia pandangi gadis sebayanya yang asik menikmati s**u sambil mengarahkan pandangan ke lapangan. "Kamu pernah bilang kalau hal yang paling kamu sukai itu..., lari," ucap Keke tanpa keraguan. Ia tatap Ata dari samping dengan mata menyipit karena sialu akan sinar matahari. Gadis berambut pendek yang sedikit lebih tinggi darinya itu mengangguk membalas tatapan matanya. "Ajari aku buat lari." sambung Keke. Mendengar kelanjutan ucapan Keke, Ata memutar tubuh hingga berhadapan dengan Keke. Membuat kilau cahaya matahari yang mengenai wajah Keke sirna tertutup bayangannya. Sepasang iris cokelat muda Ata menelisik iris hitam pekat di hadapannya. Dihalangi lensa, manik hitam sendu itu terlihat jelas menyimpan banyak rahasia. Tentang ketakutan, juga mimpi yang berusaha dipendam. Sebaliknya Keke yang mencoba membaca iris indah di hadapannya hanya mendapatkan asa. Tidak berhasil membaca apa yang sedang dipikirkan Ata dengan wajah setenang demikian. "Maksudnya?" tanya Ata kalem. "Kalau dengan lari kamu bisa bahagia, ajari aku buat lari." Ata tertawa sejenak, sebelum kemudian duduk di salah satu beton yang tergeletak di atap. "Kebahagiaan seseorang itu beda-beda kelasnya, Ke." Ata memainkan kakinya yang menggantung. "Aku suka lari, karena hal itu bisa bikin aku seneng. Tapi, belum tentu kamu bisa ngerasain hal yang sama kayak gitu." Keke menghela napas pendek. Tanpa sadar melangkah mendekati Ata dan duduk di sebelahnya. "Kamu cuma perlu ngelakuin apa yang kamu suka, dengan gitu kebahagiaan juga bakal datang sendiri. Sesimpel itu," Ata masih berdialog sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN