25

1900 Kata
Jangan lupa tap love! ^^ Selamat membaca, guys *M a t a h a r i* Setiap detak dari detik jarum jam itu seolah memukul gedang telinga Senja untuk tetap terjaga. Cowok itu masih mempertahankan matanya untuk tidak tidur meski kantuk menyerang. Tangannya menggenggam jemari Ata yang dingin, sedangkan kini. Gadis itu terlelap di sebuah ruangan rumah sakit. Sejak kemarin malam ia membawa gadis itu ke rumah sakit, Ata hanya sekali terbangun menatap Senja sekilas. Kemudian gadis itu tertidur lagi sampai hari ini. Dokter bilang, Ata kelelahan. Dari segi fisik juga mental. Ata terlalu banyak memendam, bahkan diam-diam tanpa sepengetahuan Senja dan bunda, gadis itu masih rutin mengonsumsi obat penenang. Cowok itu menghela napas berat, sesak semakin mencekiknya tanpa ampun saat baru saja mengetahui bahwa Ata memiliki luka yang sangat parah. Ata mengidap skizofrenia akut, yang membuat karakter Ata selalu sulit ditebak. Gadis itu terlalu banyak memendam sesuatu yang ingin ia sampaikan. Ata tak cukup berani untuk mengungkapkan perasaannya. Perasaan takut ditolak, ditinggalkan, dan tidak diinginkan itu menjadikannya sosok yang dingin dan kaku. Ata juga masih sering mengalami mimpi buruk, halusinasi dan mendengar suara-suara sumbang dari masa silam. Sesuatu yang amat ia benci dan ingin ia lenyapkan detik itu juga. Tapi, justru semakin muncul ke permukaan seolah ingin menumbangkan Ata tanpa jeda. "Maafin aku, Ta." Cowok itu bergumam pelan. Wajahnya sayu menatap raut pucat yang terlelap dengan damai. Kenapa Ata terlihat sangat tenang dalam tidurnya? Gadis itu terlihat sangat manis tanpa beban dan segala topeng kepalsuan. Senja menggenggam tangan Ata kuat dengan kedua tangannya. Dengan seluruh dosa-dosanya, Senja akan bertaubat dan memohon pada Tuhan agar Ata segera membuka mata. Senja juga akan belajar untuk tidak mengucapkan umpatan, jika Ata bangun nanti. Cowok itu melirik pintu yang berderit pelan. Bunda muncul dari sana membawa tas berisi pakaian ganti untuknya. Ini sudah dua hari sejak Senja tak pernah ingin beranjak dari sisi Ata. Wanita paruh baya itu menyentuh pundak putranya lembut. Matanya menatap Senja nanar, kemudian beralih pada Ata. Seseorang yang asing, tetapi sepenuhnya bunda kasihi dengan cinta yang ia miliki. Ata, anak gadisnya yang menyimpan banyak luka. Sebagai ibu yang meskipun tak pernah menyimpan Ata dalam kepompongnya, bunda merasa berdosa pada Ata. Telah membiarkan gadis itu kesepian dalam kepedihan. "Kamu istirahat dulu, biar Bunda yang jagain Ata." Senja diam tak merespon. Ia seperti patung yang bernapas. Matanya bahkan tak berpaling sedikitpun dari Ata. "Ata pasti baik-baik, aja. Dia itu kuat 'kan kamu sendiri yang bilang gitu sama Bunda," ucap wanita itu berusaha menghibur. Akan tetapi, Senja tetap diam tak bergeming. Setelah ia mendengar segala cerita tentang Ata, sampai matanya melihat sendiri Ata yang tergeletak tak sadarkan diri di kamarnya. Semua itu masih membuat Senja merasa waspada. Jujur saja, cowok itu sedang dikuasai rasa bersalah sepenuhnya. "Dit ..." "Aku nggak apa-apa, Nda. Aku mau lihat Ata bangun dulu," sahut Senja singkat. Bunda menghela napas pendek. Ia mengangguk singkat, paham betul bahwa anak lelakinya sedang dalam mode keras kepala. Wanita itu kemudian menepuk-nepuk bahu Senja pelan. "Yaudah. Bunda beliin sarapan sebentar, kamu belum makan dari kemarin." Diusap pelan rambut hitam Senja dengan sayang sebelum kemudian wanita itu kembali meninggalkan ruangan. Menyisakan Senja yang masih menanti Mataharinya untuk bangun dan bersinar lagi. Cowok itu tertunduk menahan perasaan yang ia sendiri tak bisa mengerti. Antara takut, juga kalut. Rentetan cerita yang ia dengar dari Aya dan Bunda seolah membuat Senja melihat luka-luka tak kasat mata yang Ata miliki. "Bego," umpat Senja, "harusnya gue paham." Lagi-lagi helaan napas berat berembus dari bibir Senja. Hanya berselang beberapa detik setelah Bunda pergi. Pintu berwarna biru langit itu kembali terbuka, menampakkan seseorang yang menyulut bara dalam diri Senja detik itu juga. Sama seperti Senja yang duduk di sebelah Ata, cowok yang kini berdiri mematung di dekat pintu menatap Ata dengan nanar. Dadanya turut sesak menyaksikan seseorang yang sekian lama ia cari, kini ia temui dalam keadaan memilukan. "Berhenti!" Baru selangkah Bayu mendekat, suara bariton Senja memperingati dengan tajam. Cowok itu patuh, pandangannya beralih pada Senja yang masih menggenggam jemari Ata. Namun, hal itu hanya berlangsung beberapa detik. Sebab sedetik kemudian Bayu kembali bergerak memangkas jarak antara dirinya dan Ata. Ia ingin berada di dekat Ata, memberikan kekuatan pada Mataharinya seperti dulu. Tapi, Bayu lupa satu hal. Bahwa selama kurun waktu yang berlalu. Ada Senja baru yang tak pernah menjauh dari Matahari. "Gue bilang berhenti b******k!" ucap Senja pelan, tetapi jelas penuh penekanan. Kini keduanya saling berhadapan. Senja lebih dulu memangkas langkah Bayu, cowok itu sudah menyudutkan Bayu pada dinding rumah sakit yang dingin. Meski pandangan Bayu hanya tertuju pada Ata. Sedikitpun tak ia hiraukan Senja yang menatapnya seperti hendak menghabisinya. Hampir saja Bayu menyentuh tangan Ata, Senja sudah lebih dulu menarik kerah jaket yang dikenakan Bayu. Tak ada perlawanan, untuk sesaat Bayu masih terkesiap melihat kondisi Ata yang terbaring pucat. "Pergi lo dari sini!" usir Senja menghempaskan tubuh Bayu hingga membentur tembok di belakangnya. Bayu menghela napas, kemudian menepis kasar tangan Senja yang masih menarik kerah jaketnya. Cowok yang lebih tinggi dari Senja itu menatap sekeliling dengan pandangan yang tak bisa dimengerti. Kemudian beralih menatap Senja yang masih setia menikamnya dengan sorot mata setajam elang pemangsa. "Sebentar, aja. Gue janji, nggak akan lama," lirih suara Bayu tak juga membuat Senja luluh. Cowok itu bungkam. Ia sudah matang dengan tekadnya untuk tak membiarkan siapa pun mendekati Ata. Selain dirinya dan bunda. Terlebih orang-orang berengsek yang sudah membuat Ata sekarat seperti sekarang ini. "Lo pikir dengan tampang kayak gitu, gue bakalan kasih izin? Lupa siapa yang bikin Ata sampai kayak gini?" geram Senja mengepalkan tinju di sisi tubuh. Sekuat tenaga Senja menahan diri untuk tidak memukul Bayu. Namun, ia juga masih jelas mengingat sedingin apa Ata yang tergeletak di lantai rumahnya sendiri. Senja juga tau pertemuan Ata dengan Bayu juga keluarganya. Hal-hal yang membuat Matahari tumbang seketika. Senja menyaksikan semuanya meski tak terlihat oleh mereka. Karena itu, kali ini tak akan ia biarkan Ata menerima luka yang sama. Cowok itu mengadu rahang kuat. Matanya terpejam erat, dengan napas yang mendera ia melayangkan satu tinjauan kuat tepat di pipi Bayu. Sehingga tak ayal membuat Bayu limbung ke lantai. "Pergi dari sini sebelum kesebaran gue habis!" desis Senja memeringati. Keduanya tak lagi bersipandang. Senja mengibaskan tangannya yang terasa nyeri pula sambil berusaha menekan kemarahannya agar mereda. Cowok itu berbalik enggan menatap Bayu yang mengusap darah dari sudut bibirnya yang robek. Perlahan ia bangkit bersandar pada tembok. Harus Bayu akui bahwa pukulan Senja cukup membuat kepalanya pening. Beberapa detik dibebat sunyi, Bayu menegakkan tubuh menatap punggung Senja. "Jangan sok berkuasa atas Ata. Lo nggak berhak nglarang gue buat ketemu sama dia." Seperti biasa. Suaranya tetap tenang, raut wajahnya tetap datar. Bayu terlalu pintar menyimpan perasaan pun ekspresinya. Namun, hal itu justru membuat amarah Senja naik kembali ke permukaan. Seperti sumbu yang disulut nyala api. Senja berkobar mendengar ucapan Bayu. Lantas tawanya menyembur prihatin. Kedua tangannya masuk ke dalam saku jaket agar tak lagi lepas kontrol menghantam wajah Bayu. Lagi "Yang sok itu gue atau elo?" balas Senja sarkas. "Setelah lo ninggalin Ata waktu dia bener-bener butuh temen, sekarang lo balik dan mohon supaya kalian kembali kayak dulu lagi? Lucu g****k!" Perang dingin itu masih terus berlanjut. Bayu menatap Senja dengan kilatan marah. Tapi, bibirnya masih bungkam. Sedangkan Senja masih konsisten menunjukkan betapa ia muak dengan keberadaan Bayu dan sikapnya yang egois. Suaranya benar-benar dibuat selirih mungkin, karena Senja sadar bahwa mereka tengah di rumah sakit. Akan tetapi, siapa pun yang mendengar ucapan cowok itu jelas sudah paham bahwa dalam setiap kata yang keluar dari bibirnya terselip sebuah belati yang siap mengoyak. "Jangan egois. Otak lo mikir nggak? Selama apa Ata nungguin lo?" sentak Senja masih belum puas memaki Bayu. "Tujuh tahun kehilangan mamanya, dan Bokapnya ... gue emang nggak tau tentang kisah kampret lo itu, tapi bokap kalian itu bener-bener nggak punya hati. Dia nikah lagi setelah istrinya meninggal dan biarin anak perempuannya terlantar? Kurang b******k apa sih keluarga lo?" "Jaga omongan lo!" "Kalau lo bisa jaga sikap, gue nggak akan sampai sejauh ini." Senja kembali mengintimidasi Bayu. Keduanya kini saling melempar tatapan tajam. Bayu tak suka pada siapa pun mereka yang berani mengatai keluarganya. Namun sialan, ucapan Senja lagi-lagi ada benarnya. "Sayangnya, kalian semua udah mengusik Ata terlalu jauh. Dia itu udah retak di mana-mana, jadi selembut apa pun lo coba sentuh dia ...." Senja menghela napasnya berat. ",... Ata pasti hancur," imbuhnya pelan. Nyalang. Pandangan Bayu pada Senja melemah. Ia benci mengakui bahwa apa yang baru saja diucapkan oleh Senja adalah sepenuhnya benar. Selama ini ia memang terlalu egois, berusaha mendapatkan Ata yang sudah terlalu jauh untuk digapai. Tanpa sadar, Bayu membuat Ata harus kembali menyelami luka yang tercipta karenanya. Namun, Bayu rindu. Matanya sudah tertutup kabut menginginkan sebuah pertemuan, sehingga melupakan perihal luka. Ia terlalu jatuh dan cinta pada sosok Ata. Kepergiannya waktu itu juga karena sebuah paksaan. Sedangkan waktu itu, Bayu tak bisa berbuat banyak. Mama mendadak mengirim Bayu ke luar negeri untuk belajar, ia masih dua belas tahun. Tak banyak yang bisa Bayu lakukan selain menenangkan Ata dengan sebuah janji yang sebenarnya tak ingin ia ingkari. "Sekali aja. Kasih kesempatan buat gue ketemu sama Ata. Kalau emang setelah itu, Ata nggak mau lagi ketemu sama gue ...," ucapan Bayu berhenti sebentar. Cowok itu menghela napas berat, "gue bakalan pergi, Dit. Tolong." "Ngasih kesempatan elo, sama aja ngasih kesempatan Ata buat terluka. Jadi, nggak usah banyak omong lagi, mending lo pergi. Sebelum mood gue makin ancur," tandas Senja. Sialnya, Bayu masih kukuh pada pendirian untuk menemui Ata meskipun cewek itu sekarang sedang dalam keadaan tidak sadar. Melihat gelagat perlawanan dari Bayu, Senja makin mengokohkan brikade. Ia akan menjadi tembok paling tangguh untuk melindungi Ata. Sekalipun ia harus hancur nantinya. "b******k, gue bilang pergi!" "Cukup Dit." Kepalan tangan Senja yang sudah melayang itu tertahan karena sebuah suara lirih. Sehingga kedua cowok yang ada di sana spontan menoleh ke arah sumber suara. Ata berdiri pucat di ambang pintu menatap dua orang di sana. "Tolong tinggalin aku sama Bayu," lirih suara Ata tanpa menatap Senja. Sepasang mata cokelat yang kini memiliki lingkaran hitam itu terang-terangan membalas pandangan Bayu. Cekalan tangan Senja pada kerah jaket Bayu ia hempaskan dengan kesal. Cowok itu mendekati Ata lalu menyentuh kedua bahunya. Membuat wajah pucat itu kini beralih menatapnya tepat pada manik mata. Untuk sesaat Senja mencoba mencari celah kebohongan bahwa Ata benar-benar memintanya pergi. Kenyataannya Ata justru menganggur, berusaha meyakinkan Senja bahwa ia akan baik-baik saja. "Ta?" pinta Senja memohon. Agar cewek itu tahu bahwa Senja hanya ingin melindunginya agar ia tak lagi terluka. "Kalau kamu nggak mau, biar aku yang pergi." Senja masih mempertahankan posisi supaya ia Ata tetap berada di depannya. Cowok itu meremas kedua pundak Ata meminta sebuah keyakinan. "Masih banyak, ya? Rahasia yang nggak boleh aku tau? Kamu anggep aku apa selama ini? Orang asing, Ta?" Rahang Senja mengeras, berusaha tidak berteriak saat itu. Namun, hatinya semakin sakit saat tangan Ata menepis kedua tangannya. "Pergi, Dit." Dua patah itu menciptakan tawa untuk Senja. Ia menatap Ata tak percaya berbarengan dengan kakinya yang mundur selangkah. Lantas Senja mengangguk paham, mungkin memang sejauh ini ia hanya orang asing bagi Ata. Sebelum benar-benar meninggalkan keduanya, Senja sempat menatap Bayu dengan pandangan yang masih sama. Tatapan memperingati agar cowok itu tak lagi melukai Matahari. *M a t a h a r i* B e r s a m b u n g! Hayoo, jangan lupa tekan love temen temen. Makasii, banyak, banyak, banyak. Wkwk
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN