26

1022 Kata
Jangan lupa, komen dan tap love! Selamat membaca! *M a t a h a r i* Ata yang dulu, adalah gadis kecil yang aktif. Selalu berlari paling depan untuk melindungi adik kembarnya-Aya. Ata yang dulu, adalah sosok yang ramah meski gadis itu memang lebih banyak diam ketimbang Aya yang selalu menunjukkan ekspresi sesuai perasaan. Tetapi, Ata juga terkenal manis. Tak seorang pun yang lewat di depan rumah sederhana mereka tak membicarakan betapa manis gadis kecil bermata indah tersebut. Ata tentu pernah melewati masa paling membahagiakan. Baginya hanya ada dua waktu di masa silam yang membuatnya paling bahagia. Saat sore datang membawa cahaya jingga di langit, ayah pulang menenteng sebuah kotak kue bolu untuk dinikmati bersama keluarganya dengan secangkir kopi hitam. Sebab bagi Ata, ayah adalah cinta pertamanya. Sekaligus patah hati terbesar yang membuat Ata merasa kehilangan arah. Kedua kalinya, setelah perpisahan mama dan ayah. Saat-saat membahagiakan itu ada ketika ia bersama dengan Bayu. Cowok yang akan membuatnya melupakan sejenak rasa sakit akibat kehilangan ayah dan saudara kembarnya. Bayu yang senantiasa menguatkan Ata saat gadis kecil itu ketakutan dengan tingkah laku mama. Ata tentu pernah bahagia, pernah tertawa, pernah juga terluka dan melewati segalanya dengan satu orang yang sama. Seseorang yang selalu membuatnya tenang, yang kemudian mengusap air matanya. Seseorang yang selalu menjanjikan kebahagiaan padanya. Ata tersenyum ketika sebuah pita jingga mengikat rambut panjangnya untuk yang pertama kali. Kemudian sebuah lolipop besar berada dalam pangkuan. Ia menatap Bayu, cowok yang sudah membuatnya tersenyum. "Aku tau ini emang egois. Tapi, aku bener-bener nggak bisa pergi. Tolong, kasih satu kesempatan buat aku," suara Bayu membuyarkan lamunan Ata yang sibuk menyelami masa lalu. Cewek itu menghela napas pendek. Ia menatap keluar jendela betapa ramai di luar sana. Tapi, kenapa ia selalu merasa kesepian di semua tempat. Seolah dunia ini tak lagi berpihak padanya. "Kalau aja waktu bisa kembali, aku juga pengen waktu itu tetep bertahan nunggu kamu datang." Ata berucap lirih, "tapi, waktu itu juga, sama sekali nggak ada kabar atau pun sinyal kalau kamu pasti pulang." Sambung Ata tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan. "Waktu itu, aku udah berusaha buat bertahan. Yah, mungkin sebentar lagi, tapi ... ternyata aku kalah juga sama keadaan. Dan aku sadar, kalau seiring berjalannya waktu manusia nggak bisa selalu baik-baik aja." Bayu mematung menatap Ata. Cewek itu terlihat tenang meski wajahnya pucat. "Aku juga pengen balik ke Rumah. Kangen rasanya manggil ayah, penasaran gimana rasanya ke Sekolah bareng sama Aya. Tapi, Yu ...." kalimatnya menggantung. Ata menatap Bayu dengan seluas senyum. "Aku kalah lagi. Kenangan itu nyatanya malah bikin aku semakin benci sama kalian semua." "Ta?" "Aku tau kamu nyesel. Tapi, kamu juga harus tau semua itu nggak akan berubah cuma karena kamu sadar." "Aku pengen nebus semua kesalahanku. Aku pengen kamu bahagia, Ta." "Kalau gitu tinggalin aku, Bayu." Sunyi ruangan itu terasa mencekik Bayu tepat setelah Ata menyelesaikan kalimatnya. Susah payah Bayu menelan salivanya kasar, matanya nyalang mencoba mencari sebuah kebohongan sekecil apa pun pada manik cokelat Ata. Akan tetapi, nihil. Setitik pun tak ia temukan celah kebohongan di sana. Kenyataan itu terlalu menyesakkan d**a Bayu. "Jangan pernah temui aku lagi. Kamu harus bahagia sama hidupmu, dan aku juga akan bahagia tanpa kamu," ujar Ata mengimbuhi. "Kasih tau aku gimana caranya bahagia tanpa kamu, Ta?" bisik Bayu. "Sedangkan selama ini nggak pernah sedetik pun aku berhenti mikirin kamu?" sanggahnya. "Terus gimana caranya aku bisa balik, Bayu?" Ata menimpali dengan cepat. Sepasang matanya memanas, namun masih ia pertahanan agar air mata tak tumpah. "Kalau ngelihat kalian aja udah bikin aku nggak bisa bernapas?" Keduanya diam saling menatap. Tak tau harus menjawab apa. Pun tak mengerti harus bagaimana. Keadaan sudah rumit kini semakin runyam karena perasaan kalut. "Kamu cuma perlu waktu. Buka tangan kamu, karena nggak semuanya bisa kamu genggam sendirian," sambung Ata masih meyakinkan. "Kamu cuma butuh pundak yang baru buat menampung bebanmu." "Nggak ada yang bisa gantiin kamu, Ta." Tanpa aba-aba. Cowok itu membunuh jarak dengan Ata. Ia mendekap tubuh kurus tersebut penuh kerinduan. Menumpahkan tangisnya pada ceruk leher Ata. Jika memang penantian yang selama ini ia tunggu harus berakhir menjadi tragedi, dengan lapang hati Bayu aka menerima. Sebab sekuat apa pun ia berusaha untuk kembali bersama Ata. Sebesar itu juga sesak makin menguasai d**a. Jauh dalam dirinya juga sakit melihat Ata semakin terluka. Matahari yang dulu selalu ia lindungi agar senantiasa bersinar, kini menjadi makin redup saat berada di dekatnya. Bayu tak paham, namun berusaha untuk mengerti bahwa Ata juga sakit. Bahwa kadang yang terbaik dari sebuah penantian adalah tak membuahkan hasil. Karena hal itu mengajarkan kita untuk bersabar dan meyakini bahwa Tuhan maha baik. Hari itu, untuk yang terakhir kali Lembayung Senja menemani Mataharinya kembali ke singgasana. Ata meremat kesepuluh jarinya setelah berpaling dari Bayu. Ia tak lagi ingin kalah setelah melihat cowok itu menangis di sana. Meskipun kebencian itu masih menyulut hatinya seperti lilin dalam kegelapan. Sekali ini saja Ata ingin benar-benar melepaskan diri dari belenggu masa lalu yang terus menyakiti diri. Sebab mulai hari ini, Ata ingin mencoba untuk menikmati sisa hidup yang ia punya bersama orang-orang yang peduli padanya. "Pergi. Aku nggak mau liat kamu datang lagi," ucap Ata mengakhiri pembicaraan hari itu. Langkahnya pelan meninggalkan ruangan sambil mendorong tiang infus keluar dari kamarnya. Batu menatap sosok Ata yang menjauh pergi. Gadis itu benar-benar tak menoleh bak sekali. Bahkan setelah punggung Ata lenyap ditelan pintu kamar, Batu tersedu sejenak. Menyesali segala perbuatan dan kebodohan yang pernah ia lakukan. Kata pergi berarti tak terlihat punggungnya. Menjauh dan meninggalkan segala petilasan kenangan mereka di masa silam. Bayu menghela napas, mengatur emosi. Tepat saat ponselnya berdenting panjang menandakan sebuah panggilan masuk. "Aku ke sana sekarang." *M a t a h a r i * -b e r s a m b u n g! Tbc Jangan lupa tap love ya gais. Sankyuuu. Btw Kok updatenya lama? Iya, author kebanyakan gaya memang begini. Ikut ini, ikut itu banyak sekali:v Yah, tolong kalian sabar menghadapi aku. Kayak Ata yang tegar menjalani hidup tanpa Bayu. Okay? Gitu, aja. Yang baca jangan lupa tap love dan komen. Gratis gais! Kukasih bonus doa, semoga jodoh kalian segera ketemu. Aamiin Dahlah, cape juga banyak cakap. Sankyu dah baca❤
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN