27

1523 Kata
Selamat membaca! Jangan pelit love ya! *M a t a h a r i* "Kamu cuma butuh pundak baru buat menampung bebanmu." Tangannya kembali mengacak rambut yang mulai memanjang. Di ruang tunggu yang dinginnya tak biasa, aroma antiseptik menyeruak hidung Bayu. Lelaki itu masih menahan sesak yang tak kunjung terurai mengingat perkataan Ata, yang lebih tepat disebut sebagai salam perpisahan. Bayu menghela napas pendek untuk yang keberkiankalinya. Ia sandarkan punggung pada tembok bercat putih di belakangnya. Matanya beralih menatap Aya yang terlelap di pundak ayah. Mereka tampak khawatir karena kondisi Anna—mama Bayu mendadak down. Wanita itu sedang berada di ruangan ICU ditemani para dokter spesialis jantung. Hal seperti ini bukan lagi kali pertama, penyakit jantung lemah yang dimiliki Anna memang kerap kali kambuh, tetapi kali ini terlalu mendadak. Entah sebab apa yang membuat Anna kembali jatuh dan kambuh. Karena sampai detik ini mereka belum berhasil menemukan pendonor jantung untuk kelangsungan hidup Anna. Sebab itu, wanita paruh baya yang memiliki paras ayu tersebut tak bisa melakukan banyak aktifitas berat. Sebab itu juga Anna menikahi suami orang lain karena di masa lalu ia tak pernah mendapatkan perhatian yang ia dapat dari ayah Ata. "Berengsek!" umpat Bayu pelan. Ia meremas rambut. Tak habis pikir mengapa kisah hidupnya bisa menjadi sedramatis ini hanya karena pernikahan mamanya yang tak pernah ia ketahui. Kenapa juga seseorang yang dinikahi Anna harus ayah Ata dan Aya? Bayu adalah seorang lelaki sejati, tetapi entah, semua perihal tentang Ata adalah hal-hal paling menyesakkan d**a. Ata adalah degub jantung yang selama ini ia jaga. Ata adalah waktu yang selalu ingin ia kembalikan pada masanya. Ata adalah pusat dari segala penantian selama ini. Bayu menghela napas sesak. Setelah mendapatkan penolakan berulang kali, hari ini adalah puncaknya. Rindu itu berakhir dengan terbalas oleh perpisahan pilu. Bertahan-tahun penantian itu akhirnya berujung pada patahan luka yang baru. Cowok itu beranjak dari kursi membuat atensi ayah tertuju padanya. "Ke mana, Yu?" Bayu berhenti sejenak meski tak sedikitpun menoleh. "Aku cari makan buat Aya dulu," balas cowok itu singkat. Sebelum kemudian beranjak melanjutkan langkahnya untuk pergi menenangkan diri. Mengabaikan ayah yang masih menatap punggung anak lelakinya pergi semakin menjauh. *M a t a h a r i* Sepasang mata sendu nyalang menatap mentari yang terang bersinar. Hangat sinar bintang raksasa itu, nyatanya tak mampu menenangkan hati yang penuh dengan kemelut asa. Helaan napas berat terus berulang entah yang keberapa kali, meski demikian tak juga melenyapkan sesak yang menekan d**a. Lembayung Senja kini sudah benar-benar pergi, sehingga Ata makin gamang. Apakah langkah yang kini telah ia pijak adalah pilihan tepat? Atau, justru akan membawanya kembali ke jurang lebih curam. Padahal di balik semua itu keinginan Ata hanya satu. Cewek itu ingin bahagia dengan kehidupan normalnya. Angin berembus kencang, menerbangkan anak rambut sepundak milik Ata. Iris cokelat itu menyipit perlahan turun mengalah pada sang surya. Setitik air mata yang tertahan sejak kepergian Bayu akhirnya jatuh juga. Cahaya Matahari meredup di bawah benda langit yang menjadi bagian dari namanya. Lutut gadis itu jatuh ditarik gravitasi, ia tertunduk membiarkan rambut sepundak jatuh menutupi wajah yang sudah basah dengan air mata. Gadis itu berteriak di sana, melepaskan segala luka yang selama ini ia pendam untuk tetap diam. Membiarkan seluruh perihnya muncul ke permukaan. Ata menarik tangan yang sejak tadi terkepal dalam saku pakaian rawat. Ia tatap sebuah benda yang mengikat bayangannya bersama Bayu di masa lalu. Kisah yang ia mulai tanpa sengaja menciptakan memori dari masa silam, terus berputar seperti proyektor film usang. Sesak, dadanya semakin terasa terhimpit. Ata sesenggukan di sana sendirian, pikirnya tak akan ada satupun orang yang melihat kejatuhan Matahari di roof top rumah sakit. Namun, ia jelas salah. Kenyataannya, Senja memang tak pernah benar-benar beranjak pergi meninggalkan Matahari seorang diri. Cowok yang sedari tadi membuntuti Ata, bahkan memperhatikan gerak-geriknya itu melangkah lebih dekat. Memangsa jarak yang sempat tercipta selama beberapa hari yang lalu. Sebab kini Senja telah mendengar semua kisah perih tentang Ata. Tentang bagaimana seorang Cahaya Matahari menjadi matahari paling dingin yang pernah ia jumpai. Senja berasimpuh di sana. Matanya turut mengelam menatap Matahari yang makin meredup. Sedetik kemudian, cowok itu menarik Ata dalam pelukan. Tangannya mengusap punggung Ata yang bergetar hebat. Tidak ada penolakan seperti biasanya, justru kini Ata yang balik memeluk Senja dengan erat. Keduanya membisu di bawah sinar matahari yang hangat. Membiarkan angin berhembus kuat membawa serta luka lama yang makin memudar karena penawar luka telah ditemukan. Untuk sesaat mereka di serang kebisuan, saling menenangkan lewat bahasa tubuh untuk menguatkan. "Aku cuma pengen bahagia, Dit." Ata meremas pita jingga yang ada di tangannya. Cowok itu reflek mengangguk pelan, tangannya masih setiap mengusap punggung Ata supaya tangis gadis itu mereda. "Semuanya udah selesai, Ta. Kamu juga berhak bahagia." Tangan Senja bergerak mengusap surai hitam milik Ata. Sebanyak apa pun ia kecewa pada sosok di depannya, tetapi semua itu tak pernah bertahan lama. Kenyataan bahwa kepedulian Senja terlalu besar pada sosok Ata, gadis yang membuatnya tak dapat mengalihkan diri pada sosok lain. Sebab Senja benar-benar sudah terlalu dalam jatuh ke dalam pelukan Matahari. "Nggak apa-apa, Ta. Ada aku di sini," bisik Senja mengeratkan pelukannya kepada Ata. Sedetik kemudian Ata melepaskan rangkulannya pada punggung Senja. Kepalanya masih tertunduk, punggungnya naik turun sesenggukan. Kedua tangan Senja terulur menarik dagu Ata untuk melihat wajah pucat gadis itu. Disuguhkan pada mataharinya sebuah senyum hangat dari Senja. Cowok itu mengusap sisa air mata di pipi Ata. "Mulai sekarang, aku janji ... nggak akan ada yang bisa nyakitin kamu lagi, Ta." Dalam kebisuan, hanya deru angin yang terdengar. Keduanya diam dibebat sunyi saling bersipandang. "Maaf," ucap Ata penuh sesal. Senja menggeleng dengan cepat, "Nggak. Aku yang minta maaf, udah ninggalin kamu sendirian." "Harusnya aku jadi orang yang lebih ngertiin kamu, bukan malah pergi gitu aja," kata Senja, "maafin aku, Ta." Tangan senja mengusap pundak Ata pelan. Tetapi Ata masih tak menunjukkan ekspresi apa pun pada Senja. Cewek itu justru duduk di melipat kakinya secara bersila. Membiarkan sinar hangat matahari sore itu membelai wajahnya. "Sepuluh tahun yang lalu aku udah jadi orang yang paling beruntung karena ketemu sama bunda," ujar Ata menatap lurus ke depan. Hamparan gedung yang berjejer secara abstrak serta langit sore yang mulai meredup membuat Ata ingin kembali sekali saja ke masa lalu. Sebab ia ingin membagi lukanya hanya dengan Senja yang baru. "Aku sering mikir ... gimana jadinya kalau hari itu, bunda nggak datang nyamperin aku. Tadinya, aku pikir kehidupanku udah selesai saat mama memilih buat mengakhiri hidupnya di depan mata kepalaku sendiri ... tapi, ternyata enggak." Gadis itu menghela napas sejenak sebelum kemudian menoleh pada Senja. "Rencana Tuhan emang nggak pernah bisa ditebak. Aku beruntung bisa ketemu kamu sama bunda, Dit." "Aku juga ...," balas Senja nyengir memamerkan tawanya. Gadis itu dibuat menoleh dengan kekehan kecil dari Senja. "Juga apa?" "Seneng sekaligus menderita ketemu sama cewek abnormal kayak kamu." Ata melengos, berdecih memainkan kesepuluh jarinya sendiri setelah cukup kesal dengan ucapan Senja. Melihat gelagat itu, Senja segera memutar posisi duduknya hingga saling berhadapan dengan Ata. Cowok itu menggenggam tangan Ata erat dan mengusap dengan ibu jarinya perlahan. "Karena meskipun galak dan punya emosi yang labil, punya banyak rahasia yang nggak pernah mau kamu bagi sama aku ... aku sayang sama kamu, kok, Ta." Senja berucap sungguh-sungguh. "Makasih banget buat mama kamu, udah lahirin cewek macan yang kuat dan galak, jadi hidupku nggak kesepian lagi," kekeh Senja mengacak rambut Ata gemas. Cewek itu mendelik sambil menangis lengan Senja, tetapi siapa sangka Senja justru menangkap tangan Ata dan menguncinya di udara. Hal itu membuat kedua pasang mata mereka saling bertemu dalam dimensi garis lurus yang tak terlihat. "Serius, Ta. Mulai sekarang, aku nggak akan biarin kamu terluka lagi." Senja membunuh jarak di antara keduanya. Membuat degub jantung Ata berdetak tak keruan. *M a t a h a r i* "Salahku, Ta." Parau suara isaknya tertahan malam itu. Selembar foto dari masa silam, itulah satu-satunya yang bisa ia genggam sampai detik ini. Di mana ia tetap tersenyum bersama Ata yang mengikat tangannya dengan pita jingga. "Salahku pergi waktu itu. Salahku nggak bisa jagain kamu, Ata!" Semakin erat tangannya menggenggam foto tersebut. Sama rasanya seperti d**a yang makin sesak seperti diremas kuat. Lembayung Senja benar-benar sudah meredup malam itu. Pintu kamar terbuka, menciptakan celah kecil yang membuat cayaha dari luar kamar masuk tanpa seizinya. Bayu bergeming di tempat. Di balik pintu perlahan Aya menutup kembali ruangan itu sehingga semuanya kembali gelap. Perlahan langkahnya mendekati Bayu yang tertunduk di lantai bersandar pada pinggiran kasur. Lelaki yang selama ini menjadikan hidupnya tidak sepenuhnya kelabu sedang berada dalam titik kejatuhan terdalam. Selepas pertemuan di kafe hari itu, Aya tau semuanya. Bahwa Bayu pernah bertemu Ata jauh sebelum dengannya. Bahwa pernikahan ayah dan mama adalah hal yang membuat Ata menjadi seseorang yang tak pernah bisa ia gapai. Bahwa kebahagiaan keluarga yang selama ini ia banggakan adalah luka-luka yang Ata simpan. Aya melipat lututnya di sebelah Bayu. Menatap cowok itu dengan mata yang sudah berkaca-kaca, lantas memeluknya. "Kenapa nggak cerita dari awal? Nggak seharusnya Mas Bayu simpen semua itu sendirian." Keduanya sama-sama menaruh sesal dan sesak. Perasaan bersalah, terluka, kecewa itu datang bersamaan. B e r s a m b u n g! Jangan lupa klik love dan komen. Terima kasih!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN