28

1707 Kata
Elegi Esok Pagi. Suka nggak suka, sebelum baca cerita ini. Kalian wajib tap love. Terima kasih ^^ *M a t a h a r i* "Ata ...." Masih teringat jelas dalam benak Bayu saat wanita paruh baya yang menggunakan masker oksigen tersebut berusaha menggenggam tangannya erat sambil berkata lirih. Tak banyak, hanya sepotong nama yang dengan cepat dapat Bayu kenali. Entah kenapa, Anna begitu ingin menemui Ata dalam kondisinya yang seperti ini. Padahal, sudah jelas bahwa gadis itu sangat membencinya. Meskipun Bayu tak menyalahkan Ata, tetapi mestinya gadis itu juga paham bahwa tak akan pernah ada pernikahan jika ayahnya tak menginginkan hal tersebut. Dalam hal seperti ini, Anna tak bisa dijadikan satu-satunya tersangka dalam pembunuhan batin Ata. Satu jam sudah Bayu terduduk di sisi dipan. Kamar yang gelap sengaja tak ia nyalakan lampunya, sebab Bayu benar-benar ingin menjadi tak terlihat untuk detik ini saja. Bayu ingin melepaskan sesak di d**a yang setengah mati ia tahan sejak berada di rumah sakit. Selepas mama sadar dan kondisinya mulai stabil, Bayu memutuskan untuk pulang menemani Aya. Adik sekaligus saudara kembar Ata yang begitu dekat dengannya itu besok masih harus sekolah. "Maafin aku, Ta." Bayu masih saja bergumam lirih. Tangannya meremas foto, kenangan antara dirinya dan Ata yang tersisa. Hanya itu, sebab pita jingga yang pernah mengikat bayangan mereka pun telah pudar tak memiliki arti lagi. Sama seperti keinginan Bayu untuk bersama dengan Ata. Mustahil. Di balik daun pintu yang sedikit terbuka itu, Aya berdiri di sana. Menatap punggung Bayu yang naik turun sesenggukan. Gadis yang sejak tadi merasa ada yang berbeda dari kakaknya tersebut, akhirnya memberanikan diri untuk menyeruak masuk ke dalam kamar Bayu. Membuat segaris cahaya lampu dari ruangan masuk melalui celah pintu yang dibuat oleh Aya. Gadis itu perlahan mendekati Bayu, hingga bersimpuh di sebelah kakak lelakinya. Ditatap lelaki itu dengan iba, sebab selama tujuh belas tahun hidup mengenal Bayu. Baru kali ini Aya melihat lelaki itu menangis sesakit itu. "Mas Bayu udah tau semuanya?" batin Aya. Tak ada sahutan, hanya sesenggukan cowok itu yang sampai ke telinga Aya. Gadis itu tak banyak lagi bersuara, ia bergegas menarik kepala Bayu dalam dekapan. Lelaki yang selama ini membuatnya merasa aman dan tak lagi kesepian. Satu satunya saudara selain Ata yang ia punya. "Mas Bayu nggak sendirian. Aya di sini kok, nggak akan pergi kayak Ata," ucap Aya mencoba menghibur. Namun, tak ada respon. Dalam tangisnya Bayu pun tak paham hal apa yang membuat Aya tak mengerti bahwa mereka bukanlah saudara kandung. Sejak dulu, sejak pernikahan mama dan ayah, Aya tak pernah tau bahwa ia memiliki mama selain Anna. Tetapi sepertinya, Aya tak pernah mengingat hal tersebut. "Ay?" panggil Bayu. Cowok itu melepaskan diri dari pelukan adiknya. Gadis itu menaikkan kedua alisnya, menatap Bayu dengan tanya. "Mas Bayu mau dibuatin apa? Teh?" tanya Aya seperti biasa. Gadis itu terlalu polos dan lugu. Sehingga Bayu selalu mengurungkan niat untuk bertanya pada Aya. Tetapi, malam ini juga, Bayu harus mengetahui semuanya. Setidaknya apa yang Aya pikirkan tentang Ata dan masa lalu cewek itu. "Siapa mama kamu?" tanya Bayu gamblang. Kedua manik tersebut saling menatap lurus. Aya berkedip dalam sedetik, membuat Bayu gamang untuk sekedar meyakinkan diri bahwa yang ia lihat di depannya kini benar-benar sosok Aya. Pasalnya kedua gadis kembar ini memiliki iris mata yang serupa. Cokelat muda, sepasang manik mata yang diturunkan almarhum ibu Ata dan Aya. "Kok nanya gitu? Mama Anna, 'kan? Emang siapa lagi?" "Aya beneran nggak inget apa-apa selain mama Anna?" Bayu masih menyoroti sepasang mata Aya dengan tegas. Membuat gadis itu menciut takut dengan apa yang sedang ingin Bayu sampaikan. "Maksudnya apa? Mas Bayu lagi bercanda?" tanya Aya masih tak mengerti. "Aya punya mama lain selain mama Anna, Aya inget, 'kan? Mama Aya sama Ata." Ucapan Bayu sukses membuat Aya jatuh terduduk lunglai di depan cowok itu. Aya menatap Bayu nyalang, meminta penjelasan bahwa ia sungguh tak mengerti dengan arah pembicaraan ini. "Nggak punya, Mama Anna itu mamanya Aya, Ata sama Mas Bayu. Nggak ada yang lain!" tegas cewek itu. Bayu menggeleng cepat, ia mendekati Aya. Menyentuh kedua bahu gadis itu agar terus menatapnya. Sebab hal yang Bayu takutnya ternyata menjadi sebuah kenyataan. Bahwa Aya kehilangan memori masa kecilnya dengan mama kandungnya sendiri. "Mama kamu sama Ata, itu beda sama mamaku, Aya harus inget." Namun demikian, gadis itu terus menggeleng. Menolak fakta yang diucapkan Bayu sebab ia tak pernah ingat mama kandung yang dimaksud oleh kakaknya tersebut. "Ayah kamu ninggalin mama kandung kamu buat nikah sama mamaku, mama Anna, Ay. Itu yang bikin Ata nggak pernah mau pulang," jelas Bayu lagi. Di remas kedua pundak Aya untuk memberikan energi pada gadis yang diyakini Bayu saat ini sedang sangat amat rapuh tersebut. "Mas Bayu cuma mau jelasin semuanya, biar nggak ada lagi kesalah pahaman di antara kita. Karena apa pun yang terjadi, Mas tetep akan jadi kakak yang baik buat kamu." Bayu menegaskan hal tersebut. Dipeluk Aya, diusap pundak dan rambutnya dengan hangat supaya gadis yang tengah diserang shock ringan itu merasa tenang. Setidaknya Bayu sudah mengungkapkan semuanya. Setidaknya, Aya tidak akan jadi seseorang yang tak mengerti apa-apa. Dengan begitu, setidaknya pula Aya bisa memiliki hubungan yang baik dengan Ata. "Meskipun sakit, tapi kebenaran ini yang harus kamu tau, Aya," bisik Bayu lirih. *M a t a h a r i* "Ata itu dulu paling deket sama mama, tapi nggak pernah sejauh ini sama ayah," ucap Aya masih senantiasa menatap rintik hujan yang turun dengan derasnya. Membasuh bumi yang kering kerontang. Bak tangan yang dengan lapang menerima pertolongan dari Tuhan. Aya tersenyum tipis, hujan dan pertanyaan dari Senja membuat ia kembali diantarkan ke pada kenangan di masa silam. Di mana Ata selalu ada untuk melindunginya, Ata selalu menyayanginya, dan memberikan apa pun lebih banyak pada dirinya. Jujur saja, Aya benar-benar rindu pada saudara perempuannya tersebut. Sayang, kini sosok Ata telah menjadi sosok yang makin jauh tak tergapai. Gadis itu memutuskan untuk menjadi asing dari keluarganya sendiri. Sedangkan Aya tak sedikit pun mengerti titik masalahnya apa. "Cuma itu?" tanya Senja lagi. Aya menoleh, "Banyak. Tapi, aku bingung mau mulai dari mana." "Dari mana aja, yang penting poin-poin tentang Ata." Senja menyahut cepat. Cowok itu sudah memutar posisi duduk hingga menghadap Aya. Jaket denim miliknya sudah berpindah di pundak Aya, pasalnya cewek itu menggigil kedinginan di depan Senja sambil menunggu jemputan. "Eum ... apa? Tanya yang spesifik dong, saking banyaknya aku bingung mau mulai dari mana?" Senja berdecak pelan. Ia menghela napas menatap cewek di depannya yang pura pura lugu atau memang menyebalkan. "Lagian, Kakak deket sama Ata. Kenapa nggak tanya sendiri?" potong Aya. Senja memutar tubuh kembali ke depan. Menatap rintik yang ramai berlomba untuk turun lebuh awal. Hujan memang anugerah paling indah sekaligus hal yang paling tepat untuk dijadikan pelajaran. Saat semua orang sibuk berjuang untuk lebih dulu naik, hujan tak demikian. Ia ikhlas mengikuti takdir Tuhan untuk tetap turun. Karena sesungguhnya takdir tak pernah salah berkisah, takdir tak pernah menuju pada jalan yang salah. "Dia nggak akan jawab," ucap Senja, "lagian, nggak tega aku nanya langsung ke Ata." "Kenapa? Ata sendiri yang milih buat pergi dari rumah. Kenapa sekarang dia seolah-olah jadi orang yang paling menderita?" Aya menyahut cepat. Reflek membuat Senja juga menoleh, ia bahkan memutar tubuh memberikan atensi pada Aya sepenuhnya. Cowok itu memicingkan mata, tak suka dengan cara bicara Aya. "Mama sama ayah, mereka juga pengen Ata balik ke rumah. Bukan cuma aku, tapi Ata keras kepala. Dia malah bilang, nggak mau satu atap sama orang yang udah bikin mama meninggal?" Aya menoleh, menatap Senja protes. Tampaknya gadis itu tengah menumpahkan amarahnya pada Senja. "Munafik." Senja berdiri, menarik jaket miliknya dari pundak Aya dan memutuskan untuk pergi. Menanyai hal seperti ini pada Aya sepertinya bukan ide yang bagus. Ia justru panas sendiri mendengar keluhan cewek manja itu. "Eh, mau ke mana?" Senja berbalik menarik tangannya yang dicekal oleh Aya. "Balik. Lagian jemputan lo juga udah dateng," balas Senja, "oh iya ... baiknya lo nggak perlu ngatain Ata munafik atau apa pun itu." Senja mundur selangkah saat tangan Bayu menarik pundaknya dari belakang. Kedua cowok itu saling pandang dengan dingin. Membuat Aya tak mengerti masih menatap Senja yang menyoroti tajam pada Bayu. "Kalian itu nggak tau apa-apa tentang Ata." Senja mengenakan kembali jaketnya. Cowok itu menerobos hujan membiarkan Bayu dan Aya tertinggal di halte dekat sekolah. Percakapan itu masih jelas tersimpan di benak Senja. Yang menurut pandangan cowok itu, Aya tak tau apa pun soal kejadian yang dihadapi oleh Ata. Sebab seperti yang diceritakan oleh bunda, Ata sendirian di sana. Di saat-saat Ata melihat mamanya dipukul dan segala pertengkaran kedua orang tuanya. Bahkan, cara mama Ata mangakhiri hidup di depan bocah berusia tujuh tahun. Sudah pasti jiwa Ata tergoncang saat itu. Cowok itu menghela napas, menatap Ata yang sibuk menghirup aroma kopi hitam yang baru saja ia beli dari kantin. Senja mendelik sambil mengulurkan tangan menahan gelas sterofoam yang hampir saja menempel di bibir Ata. "No!" tegas Senja. Ata menoleh, menatap Senja dengan protes. "Dikiiit," pinta Ata. "Nggak boleh dan nggak usah keras kepala, ya." Gelas sterofoam berisi kopi hitam sedang, yang tidak terlalu manis atau pun pahit itu berhasil diamankan oleh Senja. Karena untuk sementara waktu, Ata tidak diizinkan minum kopi. Gadis itu hanya ingin menghirup aroma kopi hitam meski tak senikmat aroma kopi buatannya sendiri. "Kejam banget sih, jadi manusia. Seteguk doang, Dit." Senja berdecak malas, "Pengen sembuh nggak, sih? Setelah kamu pulang dari sini, mau minum kopi satu galon juga aku kasih izin, Ta." "Yang penting sembuh dulu, nggak usah ngeyel." Senja dongkol sendiri. Ata melipat tangan di depan d**a. Malas dengan sifat Senja yang mendadak tak asik. Bibir tipis merah jambu itu cemberut membuat Senja malah gemas pada cewek tersebut. Tangan Senja terulur membekap bibir Ata, berhasil membuat cewek itu memberontak sambil berusaha mengeplaki dirinya. "Sialan! Rese!" Tak ada perlawanan dari Senja. Cowok itu malah memberikan punggungnya sebagai sasaran empuk untuk ditampar oleh Ata. Kekehan dari bibir Senja justru membuat Ata semakin kesal. Ia melanjutkan aksinya memukuli Senja sebelum kemudian ikut tertawa saat Senja membalas dengan mengelitik perutnya. "Kalau bisa detik ini juga, aku pengen waktu berhenti. Supaya bisa lihat senyum kamu terus, Matahari." *M a t a h a r i* -b e r s a m b u n g! Terima kasih sudah baca. Jangan lupa tekan love, gratis yakan :v Lafyuuu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN