29

842 Kata
Selamat membaca! *M a t a h a r i* Di dunia ini nggak ada tawa yang abadi, pun dengan rasa sakitnya. Karena semua sudah punya porsi masing-masing. Baik itu tentang waktu atau kejadian yang akan dilewati manusia, ini hanya tinggal menunggu. Hal baiknya adalah, Tuhan sudah pasti tak pernah memberikan keburukan di setiap jalan yang dilewati manusia. Karena takdir Tuhan itu mutlak menjurus pada kebaikan. Maka sekalipun ada kerikil yang menjadi batu sandungan pada jalan yang dilalui, semua itu tetap saja ada hikmahnya, bukan? Iya, sudah pasti. Tak perlu dibantah lagi. Namun tak jarang, manusia saja yang kurang bersyukur atas segala pemberian dari Tuhan yang baik. Satu atau dua halangan yang mereka lewati selalu dijadikan tolak ukur keadilan Sang maha kuasa. Padahal kalau ditimbang-timbang, kebaikan dari Tuhan sudah tak terkira nilainya. Tak tahu diri memang. Sudah diberi lebih masih ingin yang lebih pula. Memang pantas jika manusia mendapatkan gelar makhluk paling serakah. Keke setuju, sangat setuju dengan petikan kalimat yang ia baca pada sebuah kertas usang yang tak lagi berbentuk. Sebuah kertas yang berhasil ia satukan setelah mama merobeknya tanpa ampun, setelah mama melakukan genosida terhadap semua yang berbau papa. Yap, beberapa lembar kertas usang yang isinya abstrak, tetapi sangat berarti bagi Keke ini. Adalah hasil dari tulisan tangan papa. Setiap kali gadis itu rindu akan sosok papa, Keke akan membuka kertas yang ia sembunyikan secara rapat itu diam-diam. Sebab jika mama tau sudah pasti tak akan ada lagi yang tersisa. Tak peduli jika putrinya setengah mati menahan rindu akan sosok papa. Tak peduli jika putrinya adalah korban atas keegoisan mama. "Papa di mana? Keke pengen ketemu sama Papa," bisik gadis itu. Tubuhnya bersandar pada pinggiran tempat tidur. Duduk di atas karpet berbulu, di depannya sebuah meja lipat penuh dengan buku yang berserakan. Keke menghela napas pendek, keinginannya untuk menekuni seni, sama seperti papa jelas ditentang mama sampai mati. Sedangkan selama ini hidupnya sudah seperti burung yang dikurung dalam sangkar. Tak pernah merasakan kebebasan apa lagi kebahagiaan. Ia tak pernah menyangka keluarganya yang dulu baik-baik saja menjadi hal paling melukai untuknya. Setidaknya, jika memang perpisahan tak bisa dielakkan, apakah tidak bisa Keke merasakan kebahagiaan? Memiliki hak atas apa yang menjadi pilihannya? Sebagai anak, Keke sama sekali tak mendapatkan hak tersebut. Dipaksa menjalani apa yang tak pernah ia sukai, melakukan apa yang bukan dari hati kenyataannya membuat Keke sesak. Seperti dipaksa menelan racun setiap hari tanpa harus mati. Suara pintu yang terbuka membuat Keke bergegas mendorong kertas-kertas dalam genggamannya ke kolong tempat tidur. Dengan cepat tangannya menyentuh pensil dan membuat coretan yang membuat wanita paruh baya itu percaya bahwa Keke sedang belajar. "Camilannya, Ke." Mama meletakkan nampan berisi jus wortel dan beberapa potong kue lapis. Keke tak menjawab, ia hanya melirik nampan sekilas sebelum kemudian kembali fokus pada buku di depannya. Ralat, berpura-pura fokus. "Setengah jam lagi, Tutor bahasa matematika kamu dateng," ucap mama membelai rambut panjang Keke. Gadis itu menghela napas panjang setelah melirik jam di atas nakas yang tak jauh dari posisi duduknya. "Ma, ini udah jam sembilan malem. Besok Keke masih harus ke sekolah." Gadis itu mengucapkan protesnya. "Nggak ada penolakan Sayang. Kamu tau 'kan, olimpiade juga udah deket. Apa pun yang terjadi, kamu harus jadi pemenangnya. Keke harus jadi yang nomer satu," tegas mama tersenyum di depan Keke. "Nggak bisa. Kandidat utama peserta olimpiade udah diganti sama Vella. Keke nggak mau cari masalah," kata Keke, "aku capek, Ma. Capek setiap hari sibuk sama buku, aku nggak pernah punya waktu buat istirahat dan nikmati hidup. Aku bosen bela—." "Stop!" bentak mama memotong ucapan Keke. Gadis itu diam, menelan bulat-bulat semua kekecewaan yang ia pendam untuk mama. Sedangkan wanita paruh baya yang menjadi perantara kelahirannya di bumi yang busuk ini, sudah melotot membanting beberapa buku di depan Keke. "Kamu pikir Mama nggak capek? Mati-matikan Mama kerja keras biar kamu punya kehidupan yang lebih baik, biar kamu jadi orang yang bener, biar kamu jadi orang yang lebih sukses dari Mama. Kamu bilang capek?" kilatan marah jelas tergambar jelas pada sepasang mata mama. Keke terdiam, menunduk sambil meremas kesepuluh jarinya sendiri. Keke sudah hapal jika hal seperti ini akan terjadi saat ia mencoba mengatakan apa keinginannya. Sebab itu, Keke tak pernah punya kesempatan untuk memilih. Bagi Keke dunia tak adil padanya, dunia bukan tempat di mana seharusnya ia berada. Mungkin memang sudah semestinya ia pergi dari dunia yang fana agar beban dan segala tekanan yang ia rasakan lenyap seketika. Mama menyentuh kedua bahu anak gadisnya. Digoncangkan tubuh Keke dengan pelan, tetapi penuh penekanan sehingga tangis Keke pecah juga detik itu. "Nggak ada penolakan. Kamu harus ikut olimpiade MIPA di sekolah!" tegas mama. Tak ada sahutan, Keke melepaskan kacamatanya, menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Sedangkan mama sudah melangkah menuju pintu keluar kamar Keke. Wanita itu berhenti sejenak, ia menoleh pada anak semata wayangnya yang sedang sesenggukan. "Cepet siap-siap. Bentar lagi Tutor kamu datang," titah mama. *M a t a h a r i* B e r s a m b u n g! Jangan lupa tap love dan komen gais. Sekian dan maksiih :*
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN